I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)

I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)
32


__ADS_3

Byuurr,


Adira menyiram kedua wanita yang tengah tak sadarkan diri itu sehingga kedua orang itu perlahan-lahan membuka matanya, mereka mengerejap dengan kepala yang pusing dan juga berdenyut sakit.


"Akhh. Dimana ini? siapa kau?"Renata membuka matanya dia melihat sekelilingnya tempat ini begitu asing kemudian dia melihat wanita yang tengah berdiri di hadapannya dengan menggunakan jubah juga topeng.


"Sehht, sakit sekali kepalaku. Aww."Tamara juga ikut membuka mata.


"Ibu."Renata menatap seseorang yang berada di sebelahnya.


"Nata, kita dimana ini?"bingung Tamara.


"Aku tidak tau bu."


"Hey kau siapa? mengapa kamu membawa kami kesini?"Renata mengingat-ngingat kejadian sebelum dirinya tidak sadarkan diri.


"Adira, ya wanita sialan itu. Aku yakin wanita sialan itu yang telah meyewa orang untuk menculik kita bu."ucap Renata emosi.


"Ck ck ck, untuk apa aku menyuruh orang jika aku bisa melakukannya sendiri. Hahaha."tawa Adira begitu menggelegar.


"Adira?"


"Ya, ini aku. Bagaimana kejutannya? sangat menyenangkan bukan?"Adira membuka topengnya.

__ADS_1


"DASAR WANITA SIALAN, WANITA KEPARAT, GILA. LEPASKAN KAMI."teriak Tamara.


"Ututu, tidak semudah itu. Kalian harus merasakan neraka dunia dahulu sebelum....Em, sebelum mati tentunya. Hahaha. Bersiaplah neraka dunia kalian akan segera tiba."ucap Adira menyeringai.


"LEPAS BEDEBAH, KAU YANG HARUS MATI. BUKAN KAMI. KAU WANITA PEMBAWA SIAL."teriak Renata murka.


"Kalian lah yang harus mati, karna kalian harus membayar mahal kematian kedua anaku. NYAWA DI BAYAR NYAWA. Kalian akan segera mati di tangan ku."Adira berjalan mendekat kepada mereka berdua.


"MAU APA KAU?? PERRGGII."teriak Renata saat melihat Adira menghampiri mereka dengan membawa sebuah pisau lipat yang begitu runcing dan tajam di tangannya.


"Aku hanya ingin bermain dengan kalian."Adira tersenyum mengerikan.


"PERGI KAU, PERGI."Renata dan juga Tamara berontak saat Adira mulai mendekat karna posisi mereka tengah terikat di sebuah kursi besi.


Adira tidak perduli dengan teriakan mereka berdua, dia terus saja mendekat kemudian dia mengangkat tangannya dan menyayat pipi sebelah kiri Renata dengan pisaunya. Dia meenyayat pipi itu dengan begitu dalam sehingga teriakan Renata begitu menggema di ruangan itu. Tak hanya sampai disitu, dia juga meenyayat pipi bagian kiri Renata, dia memberikan masing-masing pipi tiga sayatan besar.


"CUKUP WANITA IBLIS, LEPASKAN ANAKU."teriak Tamara.


"Aku menjadi iblis karna belajar dari kalian dulu, bukankah kalian juga kejam dan tak berprikemanusiaan sehingga kalian tega membunuh kedua anak yang tidak berdosa dengan sengaja."Adira mencengkram dagu kedua wanita itu.


Kemudian dia melepaskannya dengan kasar, dilanjut lagi dengan menyaayat kedua tangan mulus Renata dengat beberapa sayatan miring. Sehingga darah segar mengalir begitu deras dari wajah dan juga tangan Renata. Teriakan Renata terdengar bak nyanyian bagi Adira dia begitu menikmati setiap teriakan pilu kesakitan Renata. Tak puas bermain dengan Renata, dia pun beralih kepada Tamara yang melihat Adira dengan tatapan takut. Dia tidak menyangka Adira yang sering di tindasnya dulu kini telah berubah menjadi sosok iblis berwujud manusia yang begitu mengerikan.


"Enaknya aku apakan ya?"Adira terlihat berpikir.

__ADS_1


"Jangan sakiti aku, pergi kau iblis."Tamara begitu ketakutan.


"AKHHH, jangan sakiti ibuku, Akh."rintih Renata.


"Cih, iblis teriak iblis."ucap Adira mencebik.


Dia pun mengarahkan pisaunya pada kulit tangan Tamara yang mulai keriput, dia tidak peduli bahwa Tamara adalah mertuanya, pikiran Adira sudah di penuhi dendam yang mendarah daging. Adira menguliti tangan keriput Tamara dengan pisau tajamnya seperti menguliti kambing saja, darah segar bercucuran seiring teriakan lirih Tamara. Kini kedua tangan Tamara telah di penuhi darah segar, begiti juga dengan Renata. Bau anyir begitu menyeruak di ruangan itu.


"Dave, bawakan air itu kesini."ucap Adira pada David yang tengah berdiri di ambang pintu.


David pun pergi membawa air pesanan Adira.


"Ini Quin airnya."David menyeragkan satu ember air garam yang telah di campur dengan jeruk mipis itu kepada Adira.


"Thank Dave."Adira mengambil air itu.


"Ini dia pelengkap neraka dunia kalian hari ini."Adira tersenyum semirik.


Byurrr.


Adira menyiramkan air itu kepada mereka berdua, teriakan kesakitan dan juga rintihan pilu begitu menggema. Tapi Adira begitu menikmatinya dia begitu senang dengan teriakan kesakitan itu bau anyir darah terasa wangi baginya.


"Hahaha, rasakan itu iblis. Itu adalah balasan untuk kematian kedua anaku."

__ADS_1


Teriakan terus menggema, bayangkan saja betapa sakit dan perihnya luka yang begitu dalam dan juga banyak tersiram air garam dan juga jeruk mipis. Pasti sakitnya begitu menyayat hati sanubari.


"Tunggu saja kejutan selanjutnya."ucap Adira menyeringai kemudian dia melangkah pergi dari ruangan itu meninggalkan kedua orang yang tengah berteriak kesakitan.


__ADS_2