I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)

I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)
45


__ADS_3

Dua bulan sudah berlalu, kini tibalah saatnya di hari yang di tunggu-tunggu oleh kedua pasangan itu, dimana mereka akan mengucap ikrar janji suci pernikahan.


Di gedung mewah Laleigh Company, acara pernikahan mereka di gelar dengan sangat mewah dan juga besar-besaran. Semua kolega bisnis Aderald di dalam maupun di luar negri turut mereka undang, tak lupa juga para karyawan cabang maupun pusat turut di undang semua, berbagai hidangan mewah tersaji dengan begitu banyak. Makanan itu melimpah ruah karna Aderald tidak ingin para tamu undangan kecewa. Jangan lupakan para anggota BBD yang turut serta hadir dalam acara itu, mereka ada yang menjadi tamu undangan, pelayan dan juga penjaga.


Adira begitu cantik dalam balutan gaun putih berhiaskan berlian mewah menjuntai kebawah, rambut di cepol atas dengan sebuah mahkota kecil bertabur berlian hinggap di atas kepalanya. Riasan wajahnya cukup natural karna Adira tidak suka terlalu menor.


Begitu juga dengan Aderald, dia begitu tampan, gagah dan juga berwibawa dalam balutan jas serba putih yang senada dengan yang Adira kenakan. Senyuman bahagia tak pernah redup dari wajah tampannya. Aderald sangat bahagia, dia sangat bahagia karna pada akhirnya dia bisa menikah dengan orang yang teramat dia cintai dan ia berjanji akan melindungi Adira dengan segenap jiwa dan raganya.


"Capek hm?" Aderald memandangi wajah Adira yang tengah berdiri disampingnya.


Mereka kini berada di pelaminan tengah menyambut ucapan selamat dari para undangan, mereka memang telah resmi menjadi pasangan suami istri setelah sesi ikrar janji pernikahan terucap pagi tadi.


"Kamu ngundang orang banyak banget sih Rald, kaki ku sampe pegel dari tadi nyambutin mereka."ucap Adira kesal.


" Entahlah, mungkin seribu, atau lebih."ujar Aderald enteng.


"Astaga, pantes aja betis ku udah berasa kayak talas bogor." cebik Adira.


"Kalau kamu pegal duduk aja ya." Aderald menuntun Adira untuk duduk di kursi pelaminan.


"Tapi tamu undangannya masih banyak Rald." Adira melirik segerombolan orang yang hendak menghampiri mereka.


"Sambil duduk aja nyambutnya." Aderald ikut mendudukan diri disamping Adira.


"Selamat ya pak Li." ucap seorang pria paruh baya yang menyalami Aderald.


"Terimakasih pak Mat," Aderald tersenyum tipis.


"Selamat ya bu Lika," pak Mat beralih menyalami Adira.


"Terimakasih." Adira tersenyum tulus.

__ADS_1


Setelah pak Mat pergi, di lanjut lagi dengan para tamu undangan lain yang mengucapkan selamat dan juga memberi bingkisan. Berbagai sesi acara telah di gelar, kini tibalah saatnya para penyanyi terkenal memeriahkan acara dengan suara indahnya. Musik mengalun diiringi suara indah para penyanyi, Adira begitu menghayati setiap ba'it lagu yang di nyanyikan. Dia tidak menyangka pesta pernikahannya akan semeriah ini, sangat jauh sekali dengan pernikahannya dulu dengan Revan yang serba sederhana.


Saat sedang asik mendengarkan lagu, datanglah seseorang yang begitu ia benci. Orang itu datang dengan wajah kusam, badan kurus dengan rambut halus tumbuh di wajahnya, sangat jauh berbeda sekali dengan dirinya yang terakhir bertemu Adira.


"Selamat ya Dir, semoga kamu bahagia." Revan mengulurkan tangan ringkihnya, ya dia adalah Revan.


"Terimakasih sudah datang." Aderald menyambut uluran tangan itu katna Adira hanya diam saja.


"Maafkan aku Dir, semoga semua luka yang aku torehkan akan di ganti dengan kebahagiaan oleh Aderald."ucap Revan lirih.


" Kemana istrimu?"Adira buka suara.


"Dia telah pergi dengan pria lain, karna aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Anak kami juga sudah tiada, tuhan mengambilnya kembali, mungkin karna aku tidak pantas untuk menjadi seorang ayah. Ini karma untuku." Revan menitikan airmata.


"Kami turut berduka cita, semoga kamu dapat menemukan kebahagiaan mu kembali dan kamu tenang saja, istriku pasti sudah memaafkan mu, sekarang kamu bisa hidup tenang menata lembaran baru. Ingat jangan ulangi kesalahan yang sama." ucap Aderald dengan tersenyum tulus.


"Terimakasih Rald, kalau begitu aku pamit." Revan hendak melangkah pergi.


"Terimakasih Adira, terimakasih. Sekarang hidupku sudah tenang, karna kamu sudah memaafkah ku. Kalau begitu aku pamit." Revan membungkuk kemudian dia melangkah pergi dari pelataran gedung.


"Saling memaafkan ternyata jauh lebih indah dan membuat hati tentram, daripada menyimpan dendam yang membuatku terbelenggu dalam kebencian." ucap Adira.


"Sekarang tiada lagi beban dalam hatimu, kini saatnya kamu bahagia." Aderald menggenggam erat tangan Adira.


Merekapun kembali duduk di pelaminan dengan bergandengan tangan, mereka kembali menyaksikan acara yang tengah berlangsung.


*****************************


Revan Erlangga, pria yang dulunya hidup bergelimang harta dengan paras yang tampan sehingga membuat wanita tergila-gila padanya. Tapi kini semuanya berubah dalam sekejap, kini dia hidup dengan sederhana bahkan serba kekurangan, dia tinggal di sebuah kontrakan kecil dan juga kumuh, kerja serabutan dengan badan kurus, kering juga ringkih. Penampilannya kumel, tak terurus, sangan jauh sekali dengan Revan yang dulu.


"Syukurlah, sekarang Adira sudah memaafkan ku. Jadi aku bisa hidup dengan tenang." gumam Revan yang tengah bersandar dinding kontrakannya.

__ADS_1


"Aku sekarang hidup ssebtang kara, tidak punya siapa-siapa. Mungkin ini karma dari tuhan untuku, karna dulu, aku telah menyia-nyiakan orang yang begitu menyayangiku dengan tulus. Bahkan aku tidak menganggap darah dagingku sendiri, maafkan Papa Nak, maaf."lirih Revan sembari memeluk lututnya.


Penyesalan selalu datang belakangan, karna yang di awal adalah pendaftaran. Andai Revan bisa kembali memutar waktu, dia tidak akan menyia-nyiakan Adira dan juga kedua anaknya. Dia akan menjaga harta yang telah titipkan dengan sepenuh hati, tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa Revan lakukan, dia hanya bisa pasrah merati nasib malangnya dalam kesunyian, kesepian seorang diri.


*******************


"Ahh, lelah sekali." Adira melemparkan tubuhnya di ranjang empuk hotel yang telah di taburi bunga mawar merah berbentuk love.


"Mandi dulu, Baby." Aderald membuka jasnya kemudian ia lemparkan ke sopa.


"Nanti aja Rald, badanku lemes banget." melas Adira..


"Bagaimana kalau kita olahraga, biar tidak lemas." saran Aderld.


"Olahraga? jam segini? ini udah malem Rald." ucap Adira, karna memang hari sudah gelap dan pesta pernikahan mereka baru saja usai.


"Memang malam waktu yang sangat pas untuk olahraga ini." ujar Aderald dengan tersenyum nakal.


"Memangnya kamu mau olahraga apa?" Adira menatap kearah Aderald yang tengah membuka kancing kemeja putihnya satu-persatu.


"Olahraga ranjang,"Aderald yang sudah bertelanjang dada pun mendekat pada Adira dengan mata bergairah.


" Rald, jangan sekarang ya. Capek banget ih, badanku juga pegal semua."ceberut Dira.


"Kan capeknya biar sekalian, Baby. Aku sudah tidak sabar ingin menjelahah gua kenikmatan mu, aku sangat bosan menembak di gunung terus, aku ingin menembak di dalam gua juga, Baby." ucap Aderald memelas.


Karna kasihan, Adira pun menggangguk samar.


"Jadi?" Adira menggangguk lagi.


"Yes, gua I'm coming." seru Aderald.

__ADS_1


__ADS_2