
Setelah ketua BT dan juga tangan kanannya tewas, Adira pun menemui empat gadis yang tengah menangis ketakutan di pojok ranjang dengan tubuh polos tanpa busana.
"Pakai baju kalian,"titah Adira sembari menyerahkan beberapa lembar pakaian kepada keempat gadis itu.
Mereka pun buru-buru memakainya, setelah itu Adira menggiring mereka keluar bersama dengan Aderald yang menenteng kepala ketua BT.
Bughhh.
Aderald melemparkan kepala ketua BT pada kerumunan anggota yang tengah bertarung dengan sengit.
"KETUA KALIAN SUDAH TEWAS. BERGABUNG ATAU MATI?"teriak Aderald begitu lantang.
"BERGABUNG, KING."teriak para anggota BT yang masih tersisa.
"BAGUS, KUMPULKAN HARTA BLACK TAURUS DAN SEMUA SENJATANYA DALAM WAKTU LIMA BELAS MENIT, BAWA SEMUANYA KE MOBIL PARA ANGGOTA, BBD."teriak Aderald kemudian dia melangkah pergi keluar dari dalam markas itu bersama dengan Adira dan para anggota BBD yang membawa keempat gadis tadi.
Lima belas menit kemudian semua anggota sudah berada di mobil termasuk para anggota BT yang tersisa dan telah bergabung dengan BBD.
"JALAN."ucap Aderald.
Mobil mereka pun berjalan beriringan meninggalkan markas BT.
DUARRRR,
Markas BT meledak setelah mereka mulai menjauh darisana, ya, Aderald telah menaruh bom waktu di dalam markas itu, bom yang akan menghancurkan markas itu sehingga rata dengan tanah, dengan begitu tidak akan ada bukti yang tersisa atas hancurnya markas BT dan juga kematian ketua BT, tangan kanan dan juga para anggotanya yang dapat terendus polisi.
*****************
"Huff, lelah sekali hari ini."Adira merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk setelah dia membersihkan diri.
Karna rasa lelah dan kantuk yang mendera Adira pun langsung tepar menuju kealam mimpinya.
__ADS_1
KEESOKAN HARINYA.
Adira kini tengah berada di restoran dia sedang berbincang dengan Revan. Mereka baru saja selesai meeting dan kini mereka sedang mengobrol santai.
"Bu Lika, nanti malam ada acara tidak?"tanya Revan.
"Tidak, memangnya kenapa pak Revan?"Adira menatap Revan sekilas.
"Saya mau mengajak bu Lika jalan. Apa bu Lika mau?"ujar Revan penuh harap.
"Boleh saja, jam berapa?"
"Jam tujuh malam, nanti saya jemput."
"Ok, saya tunggu."
"Tapi alamat ibu dimana ya? saya nanti menjemputnya kemana?"
"Pak Revan bisa jemput saya di dekat taman kota saja."
"Baiklah, kalau begitu saya pergi dulu Revan."ujar Adira sembari melangkah pergi.
"Hati-hati Lika dan sampai ketemu nanti malam."
**********
Adira sudah sampai di kantor cabang, rupanya Aderald sudah menunggunya disana.
"Ekhem, yang habis ketemu suami seneng banget nih kayaknya."ucap Aderald saat Adira memasuki ruangannya.
"Ah, kamu tumben jam segini udah disini aja Rald."Adira menundukan dirinya di sopa di samping Aderald.
__ADS_1
"Kenapa memangnya? tidak boleh?"Aderald menatap lekat manik mata Adira.
"Boleh dong, inikan kantor kamu. Jadi kamu bisa bebas datang kapan saja."ucap Adira dengan tersenyum begitu manis.
"Beda yah, yang abis ketemu suami senyum-senyum melulu."ledek Aderald.
"Apaan sih Rald, siapa juga yang senyum-senyum melulu."sangkal Adira.
"Kamu lah, masa setan."cebik Aderald.
"Sensi banget sih, kenapa cemburu ya?"goda Adira.
Aderald tidak menjawab, dia hanya memandang Adira dengan perasaan tak karuan. Benarkah dirinya cemburu? berati dia mencintai Adira, tapi ini salah. Adira masih sah istri dari Revan, dia harus menahan perasaannya untuk saat ini.
"Kamu mau ikut gak memantau proyek Wisata?"ucap Aderald mengalihkan pembicaraan.
"Kamu mau membuat wisata baru ya Rald?"tanya Adira.
"Iya, pembangunannya sudah lima puluh persen. Rencananya hari ini aku ingin memantaunya."ujar Aderald.
"Ya sudah sekarang saja yuk, aku mau ikut sambil jalan-jalan nyari jajanan tradisional."ucap Adira.
"Ok."
Mereka pun berjalan keluar dari ruangan Adira menuju ke mobil Aderald, karna mereka akan menggunakan mobil Aderald untuk menuju ke proyek itu.
Sepanjang perjalanan Adira terus saja bercerita tentang kedua anaknya yang pintar lucu dan juga menggemaskan. Adira juga bercerita jika mereka sering membela dirinya saat dia di tindas oleh para bedebah itu.
"Sayang, aku belum sempat bertemu dengan mereka."ucap Aderald sembari melirik Adira sekilas karna dirinya sedang fokus menyetir.
"Mereka pasti senang sekali jika bertemu dengan mu. Tapi sayang mereka harus pergi terlebih dahulu."ujar Adira sedih.
__ADS_1
"Jangan sedih, mereka pasti tidak mau melihat mu sedih."Aderald menggenggam sebelah tangan Adira.
Adira menatap manik mata Aderald, dia merasa nyaman saat berada di dekat pria itu. Hatinya yang dingin kini mulai menghangat kembali.