
"Sayang makan dulu yuk, kamu pasti sudah lapar kan?"tanya Revan kepada Adira, kini mereka sedang berada di taman belakang rumah Revan.
"Sebentar lagi, aku belum merasa lapar."Jawab Adira.
Dia merasa sangat geli sekali kala Revan memangginya sayang, dulu saat dia menjadi Adira istri Revan dia tidak pernah di panggil sayang oleh Revan. Dulu dia ingin sekali di panggil sayang oleh suaminya, tapi sekarang rasanya ingin sekali muntah. Apalagi dirinya kini bukan sebagai Adira istri Revan tapi Lika kekasih Revan.
Tangan Revan merangkul bahu Adira, kemudian dia menyandarkan kepala Adira di bahunya. Revan mengelus pelan tangan Adira, kemudian dia menatap kebawah untuk melihat wajah Adira, Revan begitu tergoda dengan bibir ranum Adira, dia hendak mencium bibir ranum itu....
"Aku kebelet, boleh aku numpang ke kamar mandi."Adira lekas berdiri sebelum bibir Revan mendarat di bibirnya.
"Boleh sekali, tapi kamar mandi yang ada di kamar ku saja ya."ujar Revan.
"Tapi disana ada istrimu."
"Aku akan mengusirnya dari kamar, aku tidak sudi lagi sekamar dengan wanita itu."ucap Revan.
"Benarkah?"tanya Adira berbinar.
"Tentu saja, aku akan mengusir wanita itu sekarang juga."Revan menggenggam tangan Adira kemudian dia membawanya untuk pergi ke kamar.
Sesampainya disana Revan langsung saja masuk dengan membawa Adira, terlihat disana Maudy tengah bersandar di kepala ranjang dengan mata yang sembab. Dia langsung marah saat Revan datang ke kamar dengan membawa Adira, tapi Revan tidak mendengarnya dia malah sibuk mengeluarkan semua barang-barang Maudy dari kamar itu kemudian dia menyeret Maudy yang tengah memaki Adira keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Brakk.
Brakk,
Brakk,
"REVAN BUKA."teriak Maudy dari luar sembari menggedor pintu kamar.
"Wanita itu sudah aku usir, sekarang kamar ini milikmu."Revan berjalan mendekati Adira dan hendak kembali mencium bibirnya.
"Kamar mandinya dimana? apa kau lupa aku sedang kebelet."ucap Adira cepat.
"Disana, cepat ya jangan lama-lama."Revan menunjuk sebuah pintu.
Disana Adira menghela nafas kasar sembari menatap pantulan dirinya di cermin.
"Wanita itu sudah merasakan bagaimana rasanya di usir dari kamar sendiri demi wanita lain, dia pasti sakit hati saat ini. Tapi itu adalah karma dari apa yang telah dia perbuat padaku dulu."gumam Adira dengan tersenyum puas.
"Aku harus segera mencari surat-surat penting itu, malam ini juga aku harus mendapatkannya. Aku sudah muak harus berpura-pura menjadi pacar lelaki bajingan itu, apalagi dia beberapa kali ingin menyentuhku. Sungguh aku tidak sudi."ucap Adira.
Dia memutuskan untuk menggeledah rumah ini malam ini saja, supaya harta peninggalan orang tuanya secepetnya beralih ke tangannya. Dia harus segera menghancurkan keluarga Revanga dan juga membalaskan dendamnya.
__ADS_1
"Nyawa di bayar nyawa, darah di bayar darah. Kalian harus mati dengan cara yang sama seperti anaku, tapi aku akan membuat kalian mati dengan cara yang lebih sadis lagi."
Adira pun mencuci wajahnya, setelah itu dia keluar dari kamar mandi. Disana terlihat Revan yang sudah bertelanjang dada dengan celana pendek hitam di atas lutut.
"Sudah selesai sayang?"Revan segera menghampiri Adira.
"Sudah."ucap Adira dingin.
Revan pun semakin mendekati Adira kemudian dia memeluk erat tubuh seksi dan berisi Adira, dia hendak menciumi leher putih mulus Adira tapi kalah cepat dengan yang punya tubuh. Dia sudah terlebih dahulu menotok punggung Revan sehingga membuatnya pingsan dan tergeletak di lantai.
"Dia sudah tidak sadarkan diri. Sekarang saatnya aku beraksi."
Adira berjalan mendekati lemari besar yang ada di kamar itu, kemudian dia membukanya dan mengubrak-ngabrik isi lemari mencari berkas-berkas penting. Tapi ternyata tidak ada, Revan tidak menyimpannya disana.
"Ruang kerja."gumam Adira, dia teringat dulu Revan tidak pernah mengijinkan siapapun untuk masuk kedalam sana.
Adira pun mengubrak-ngabrik laci kecil dia mencari kunci ruang kerja Revan, setelah dia menemukannya dia pun segera berjalan keluar. Tak lupa juga dia mengunci kamar itu.
Adira berjalan dengan mengendap-ngendap, takutnya orang-orang disana belum tidur. Tapi ternyata rumah itu sudah sepi mungkin mereka sudah berada di dalam kamar masing-masing. Tidak memakan waktu lama dia pun sudah berada di depan pintu ruang kerja Revan yang di kunci dia pun segera membukanya kemudian menutupnya kembali.
"Aku harus segera menemukan berkas-berkas pentingnya."gumam Adira.
__ADS_1
Dia pun membuka seluruh lemari yang ada di ruang kerja Revan tapi nihil, tidak ada. Pandangan Adira pun tertuju pada sebuah berangkas, kemungkinan besar berkas-berkas penting itu ada disana.