
"Derald,"Adira menepuk bahu Aderald dengan sedikit kuat.
"Ah, iya. Kenapa tadi?"Aderald tersadar dari lamunannya.
"Ck, sebernarna kamu kenapa sih melamun begitu?"tanya Adira.
"Em itu, aku hanya kaget saja."Jawab Aderald dengan tersenyum canggung.
"Kau pasti kaget karna aku tidak sengaja mencium mu ya? maaf ya Rald, aku tadi benar-benar tidak sengaja."Adira merasa tidak enak hati.
"Tidak papa, lagian aku juga yang salah karna telah membangunkan mu dengan cara seperti itu."ucap Aderald.
"Ayok lekas mandi, habis itu turun kita makan malam."sambungnya setelah itu dia melangkah keluar dari kamar Adira.
Setelah Aderald keluar, Adira pun segera bergegas menuju ke dalam kamar mandi, dia membersihkan diri dengan secepat mungkin karna dia takut Aderald terlalu lama menunggunya.
Setelah selesai mandi dan juga berpakaian, Adira pun segera turun untuk menuju meja makan. Disana dia melihat Aderald yang tengah duduk menunggunya seorang diri.
"Yang lain kemana Rald?"tanya Adira sembari menundukan dirinya di kursi yang berada di hadapan Aderald.
"Mereka sudah makan terlebih dahulu."Jawab Aderald.
"Pasti karna mereka kelamaan menunggu ku."ucap Adira.
"Tidak, aku memang sengaja menyuruh mereka untuk makan terlebih dahulu."ujar Aderald.
"Ayok cepat makan, habis itu istirahat kembali, kau harus bersiap untuk menyambut hari esok."sambungnya.
Adira pun mengangguk pelan, mereka pun makan malam dengan tenang tanpa di selingi obrolan apapun.
Setelah selesai makan malam Adira pun kembali ke dalam kamar, dia harus mempersiapkan diri untuk menyambut hari esok, jadi dia harus beristirahat dengan cukup, karna esok dia harus menahan emosi saat bertemu revan. Bukan kah menahan emosi juga butuh tenaga?
Begitu juga dengan Aderald, dia telah menuju ke dalam kamarnya, tapi bukannya tidur, dia malah merenung di balkon kamarnya. Entah apa yang pria itu pikirkan.
************
Keesokan harinya.
Adira sudah bersiap dengan pakaian kerjanya, dia mengenakan setelan kerja kemeja putih yang di lapisi dengan jas berwarna navy dan juga rok selutut dengan warna yang senada dengan jas yang ia pakai. Rambutnya di cepol tinggi hingga memperlihatkan leher putih mulusnya, tak lupa dia juga mengaplikasikan make up tipis di wajah cantiknya sehingga membuat kadar kecantikannya semakin bertambah.
__ADS_1
"Sempurna, aku yakin bedebah itu tidak akan mengenaliku. Yang ada dia akan jatuh cinta terhadap ku."Adira menatap pantulan dirinya di cermin, lekukan tubuhnya begitu indah di pandang. Apalagi tonjolan padat di area tertentu menambah daya tarik bagi seorang Adira.
Setelah puas bercermin, dia pun mengambil sebuah heels yang berwarna navy juga dan tas bermerek yang berwarna putih. kemudian dia pun memakai heels itu lalu turun kebawah untuk sarapan.
"Hai Rald, bagaimana penampilan ku?"ucap Adira dengan berputar-putar di hadapan Aderald yang tengah menyeruput kopi.
Sejenak Aderald terpaku dengan kecantikan Adira, hari ini dia terlihat lebih cantik, seksi dan juga elegan.
"Cantik,"satu kata yang keluar dari mulut Aderald.
"Benarkah?"
"A-pa?"
"Barusan kau bilang aku cantik."
"Ah, iya. Kau memang cantik, sangat cantik. Ayok cepat sarapan, bukan kah jadwal meeting nya pagi?"ujar Aderald.
"Ah, iya. Aku harus cepat, inikan pertama kali aku meting."ucap Adira.
"Tak usah tergesa juga, santai saja. Lagian masih satu jam lagi kan meeting dengan Revan."Aderald melirik Adira sekilas lalu dia kembali menyeruput kopinya.
"Iya, sih."cengir Adira sembari memakan sarapan kesukaannya, apalagi kalau bukan nasi goreng.
"Pagi bu Lika,"sapa para karyawan yang di lewati oleh Adira.
"Pagi juga."Adira membalas sapaan mereka dengan ramah.
Lika, adalah panggilan dirinya di kantor. Supaya rencana yang ia susun berhasil, jadi Revan tidak akan curiga bahwa dirinya adalah Adira, sampai batas waktu yang Adira tentukan.
"Pak Li dan juga bu Lika sangat cocok ya, jika mereka menjadi pasangan."bisik seorang karyawan yang masih terdengar oleh Dira.
"Hus, jangan gibah. Sana balik kerja."ucap karyawan yang satunya lagi.
"Iya, iya."
Adira hanya tersenyum tipis saja, mendengar pembicaraan mereka sembari terus melangkah.
"Chyra, apa pemilik Revanga group sudah datang?'tanya Adira kepada sekretarisnya.
__ADS_1
"Sudah bu, beliau sudah menunggu ibu di ruang meting."Jawab Chyra.
"Ah, baiklah. Ayok kita kesana, kamu sudah mempersiapkan berkas-berkasnya bukan?"Adira melirik kearah Chyra.
"Sudah bu, semuanya sudah beres."
Adira pun mengangguk kemudian dia melangkah menuju ke ruang meeting dengan berlenggak-lenggok bak seorang model.
"Selamat pagi."ucap Adira dengan berwibawa saat dirinya sudah memasuki ruang meeting yang sudah ada Revan dan juga seorang wanita, sepertinya dia adalah sekretaris Revan yang baru.
"Pagi bu Lika."Revan langsung berdiri dari duduknya kemudian dia membungkuk hormat.
"Silahkan duduk pak Revan."ujar Adira.
"Baik bu Lika."Revan pun duduk kembali begitu juga dengan Adira dan juga Chyra.
"Baiklah pak Revan, apa meetingnya sudah bisa kita mulai."ucap Adira pada Revan yang terus saja memandangi dirinya.
"Ah, silahkan bu Lika."Revan tersadar bahwa sedari tadi dirinya terus memandangi rekan bisnisnya yang begitu cantik dan juga seksi.
Adira pun mulai menjelaskan dengan begitu pasih juga berwibawa. Setiap kata yang keluar dari mulutnya sangat mudah untuk di pahami.
"Apa ada yang anda tidak mengerti pak Revan?"tanya Adira setelah dia menjelaskan tentang kerja sama yang akan mereka jalani begitu juga dengan point-point pentingnya.
"Sepertinya tidak ada, penjelasan bu Lika sangat mudah sekali untuk di cerna."Jawab Revan dengan mata yang masih terfokus pada wajah cantik Adira.
Setelah berbagai penjelasan dan juga kesepakatan akhirnya mereka resmi untuk bekerja sama dan tentunya setelah ini Adira akan sering bertemu dengan Revan.
Setelah meeting selesai dan Revan pergi Adira pun melangkah menuju ke dalam ruangannya.
"Kehancuran mu akan segera tiba, Revan, aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliku."gumam Adira dengan menyeringai.
"Rupanya kau benar-benar tidak mengenaliku, tapi baguslah, ini akan mempermudah aku untuk menghancurkan dirimu, suamiku."
********
"Cantik sekali pemimpin kantor cabang Laleigh group."ucap Revan yang sedang menyeruput kopi di sebuah kafe seorang diri.
"Aku harus bisa mendapatkannya, aku yakin dia juga pasti tertarik padaku."sambungnya dengan tersenyum bangga.
__ADS_1
"Tapi mengapa wajahnya seperti mirip.. Ah, tidak mungkin, mana ada dia mirip wanita buluk itu."Revan menjadi teringat pada Adira.
"Mungkin wanita itu sudah mati gantung diri sekarang, baguslah jika memang begitu, jadi aku bebas menguasai hartanya."Revan tersenyum penuh kemenangan.