I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)

I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)
36


__ADS_3

Adira menatap Renata dengan penuh kilatan amarah, bayang-bayang kala Renata mendorong putri kecilnya kembali terngiang dalam benaknya.


"Jika aku langsung membunuh mu, itu tidak akan seru. Bagaimana kalau kita bermain terlebih dahulu."Adira menyeringai.


"Aku benci padamu Adira, sangat benci."lirih Renata.


"Apalagi aku, aku lebih membenci mu Renata. Karna dirimu aku kehilangan harta yang paling berharga dalam hidup ku."Adira menjambak kasar rambut Renata.


"Kedua anak itu memang pantas mati. Akhh."pekik Renata kesakitan karna Adira semakin memperkuat jambakannya.


Tak hanya sampai disitu, Adira juga menarik paksa rambut Renata, hingga helayan demi helayan rambutnya terlepas dari kepala renata. Renata terus memberontak, Adira yang kesal pun langsung saja menancapkan pisau runcingnya pada mata sebelah kiri Renata sehingga membuat sang empunya berteriak histeris kesakitan, setelah pisau itu tertancap Adira mencabutnya dengan kasar kemudian dia mencongkel mata Renata hingga bola mata itu menggelinding di lantai.


"Akhh, iblis kau. Eug bunuh aku saja, jangan menyiksa ku begini."lirih Renata yang sudah mereasa tidak kuat lagi menahan sakit yang begitu mendera itu.


"Dengan senang hati aku akan membunuh mu, tapi setelah aku puas bermain."ucap Adira dingin, kemudian dia mengambil bola mata Renata yang menggelinding tadi.


"Buka mulut mu."


"Cepat buka."Renata tak kunjung membuka mulutnya.

__ADS_1


Adira pun membuka paksa mulut Renata yang berlumuran darah, kemudian Adira memasukan bola mata itu kedalam mulut Renata dengan paksa.


"TELAN."Adira memaksa Renata untuk menelan bola matanya sendiri dengan cara menutup hidung dan mulutnya.


"Eugh."


Bola mata yang berlumur darah itu telah berhasil di telan Renata. Bau amis, anyir mrnyengat bercampur menjadi satu sehingga membuat perut Renata bergejolak mual.


"Bagus."Adira tersenyum tipis.


Menyesal? tentu saja. Renata telah menyesal karna dirinya selalu menindas Adira dengan kejam dan tak berperasaan. Dia tidak menyangka, dendam orang yang teraniaya akan sesadis juga semengerikan ini. Dia pikir saat itu Adira akan mati bunuh diri karna depresi. Nyatanya dia datang kembali untuk membalas dendam dengan tampilan dan juga sipat barunya. Pisycopat.


Blass,


Blass.


Adira menebas kedua tangan Renata dengan mudahnya.


"AKHHHH."

__ADS_1


Sakit sungguh sakit sekali, kematiannya sudah mendekat Renata hanya bisa pasrah dengan semua ini. Mungkin ini karma dari perbuatannya selama ini, dia selalu merasa paling kuat, paling hebat. Padahal ada yang lebih segala-galanya di bandingkan dengannya yang tiada apa-apanya.


"Ce-pat lah bunuh a-ku."Renata sudah tidak kuat jika harus merasakan sakit ini lebih lama lagi.


"Sesuai permintaan mu."


Adira menancapkan katananya pada perut Renata, kemudian dia mencabutnya lalu menancapkannya lagi. Darah segar bercucuran begitu deras sehingga membanjiri lantai, bau amis begitu menyengat. David yang melihat aksi Quinnya itu menjadi mual, apalagi saat melihat Adira membelah perut Renata saat Renata sudah menghembuskan nafas terakhirnya kala katana Asira menancap tepat di jantungnya. Adira mengeluarkan seluruh isi perut Renata hingga membuat mereka mual dengan darah yang bercampur urayan usus itu.


Blass.


Sentuhan terakhir Adira menebas kepala Renata.


"Bungkus kedua kepala itu, paking dengan cantik, lalu kirimkan kepada Revan Erlangga Revanga. Sertakan ini juga."Adira memberikan amplop berisi surat kepada David.


"Baik Quin, kami siap melaksanakan perintah."ucap David.


"Dan bereskan semua ini, lemparkan tubuh mereka ke kandang buaya."ucap Adira sembari melangkah pergi dari ruangan itu dengan di susul oleh Aderald.


Aderald mengikuti Adira sampai ke kamarnya. Dia dengan setia menunggu Adira yang tengah membersihkan diri.

__ADS_1


Setelah Adira keluar, dengan pakaian yang sudah lengkap merekapun pergi ke suatu tempat untuk menyegarkan pikiran. Mereka pergi menggunakan mobil Aderald, sepanjang perjalanan Adira terus saja menyender di bahu Aderald. Dia sangat bersukur bisa bertemu dengan Aderald karna di dunia ini sekarang dirinya sudah tidak punya siapa-siapa kagi. Tapi sekarang dia punya Aderald yang selalu menemaninya disaat senang, sedih, bahagia dan juga terpuruk.


__ADS_2