
Mereka kini sudah sampai di pantai yang begitu indah tempat tujuan utama mereka, sebelum mereka sampai Aderald sudah menyuruh David yang sudah sampai terlebih dahulu untuk menyewa penginapan.
"Ternyata cukup jauh juga ya, tempatnya." Adira merebahkan tubuhnya di ranjang begitu mereka sampai di penginapan.
"Capek ya?" Aderald menghampiri sang istri setelah dia membuka kemeja yang dia kenakan.
"Capek dikit, cuma pegel banget ini pinggang," ucap Adira manja.
"Sini aku pijitin."
Adira pun langsung saja menelungkupkan tubuhnya supaya mempermudah Aderald untuk memijatnya. Aderald memijat pinggang Adira dengan begitu lembut, sesekali tangannya berkelana ke bokong dan juga paha mulus Adira.
"Rald, tangannya," ucap Adira.
"Kenapa tanganku, Beb?" tanya Aderald pura-pura tidak mengerti.
"Mijetnya di pinggang aja, gak usah berkelana ke mana-mana," cebik Adira.
Aderald hanya tersenyum tipis saat mendengar ucapan sang istri, dia kembali memijat pinggang Adira. "Rald!" pekik Adira saat tangan nakal Aderald menyelusup ke balik baju Adira untuk mencari buah kenyal.
"Apa, Beb?" Aderald tersenyum nakal.
"Udah ah, gak usah mijit lagi. Kamu gak serius." Adira langsung mendudukan dirinya.
"Aku kangen tau." Aderald menatap Adira yang sedang cemberut.
"Ketemu setiap hari kok kangen," delik Adira.
Cup!
Aderal mengecup bibir ranum yang mengerucut itu. "Boleh ya?" Aderald menatap Adira dengan tatapan bernafsu.
"Kita 'kan baru sampai, Rald. Masa langsung begitu, kasian yang lain nungguin. Kita kan mau ke pantai," ujar Adira.
"Gak pa-pa, yang lain juga pasti lagi istirahat karena kecapean. Ke pantainya nanti saja." Aderald langsung menarik Adira kedalam pangkuannya.
Suara decapan kini sudah mengalun memenuhi ruangan itu, bibir mereka sudah berpaut mesra saling menghisap, memagut lembut tapi penuh tuntutan. "Ah," desah Adira ketika tangan Aderald mulai menyusuri gunung himalaya yang begitu padat dan juga berisi.
"Eumh," Adira begitu terbuai dengan permainan Aderald, tangannya memainkan lembut puncak gunungnya yang membuat geloranya kian memuncak. Apalagi bibir Aderald juga tak tinggal diam, bibir itu tengah menjelajahi leher jenjangnya untuk memberikan beberapa tanda kepemilikan.
"Aku mencintaimu," bisik Aderald sembari membuka satu persatu pakaian Adira hingga toples.
"Ah, Rald."
Adira begitu melayang kala mulut Aderald menyelusuri setiap inci tubuhnya dengan tangan yang mulai bermain di area gua. Rasa ini begitu nikmat bagi Adira, karena sebelumnya dia tidak pernah di perlakukan seperti ini oleh Revan. Jika mereka bermain akan langsung ke inti tanpa pemanasan.
"Tubuhmu bagaikan candu bagiku, Beb." Aderald mengecup lembut bibir Adira yang tengah mengalun kenikmatan.
Alunan suara merdu Adira membuat Aderald semakin terbakar gairah. Kini Adira juga tidak tinggal diam, dia meraih ikat pinggang Adira lalu di bukanya dan di lempar asal. Setelah itu dia melucuti kain yang menempel di tubuh Aderald sehingga membut Aderald toples seperti dirinya.
__ADS_1
"Keras sekali," ucap Adira ketika dia meraih sesuatu yang sudah berdiri tegak dan juga menantang.
"Ah, dia ingin segera di puaskan, Beb," ujar Aderald dengan wajah yang memerah.
"Shett, ah."
Tubuh Aderald kian memanas kala tangan Adira mulai bermain di selang alaminya. Adira mengelus lembut selang alami itu dari atas kebawah dengan tang yang satunya dan tangan yang satu lagi tengah bermain di dada bidang Aderald.
"Aku sudah tidak tahan, Beb. Ah, shet."
Sepertinya Aderald sudah tidak tahan ingin menuntaskan hasratnya saat Adira memainkan tangannya dengan cara mengocok lembut selang alami yang sudah banjir dengan air liurnya sendiri.
"Saatnya berpacu." Aderald membaringkan Adira dengan lembut.
Setelah mendapat posisi yang sempurna, Aderald langsung saja memasukan selang alaminya kedalam gua dan mulai berpacu. Keringat mulai membasahi tubuh mereka kala permainan mereka berlangsung cukup lama bahkan sampai beberapa kali ganti posisi.
"Aku akan sampai."
"Aku juga, ah."
"Eughhh,"
"Akhhhh."
Suara erangan mereka mengalun bersamaan kala mereka mencapai pelepasan yang begitu nikmat. Kenikmatan itu tiada tara, sulit di jabarkan tetapi nikmat untuk di rasakan.
"Mereka kemana sih? kok lama banget ya?" ucap Mira yang sudah berganti pakaian.
"Iya, ya. Pahal hari sudah sore," sahut Chyra.
"Ngadon dulu kayaknya," ujar Andri.
"Ngadon apa?" tanya Chyra yang tidak mengerti.
"Ngadon bayi," jawab Andri enteng.
"Dri!" pelotot Mira.
"Aku baru tau kalo bikin bayi itu dari adonan. Berati sama seperti buat kue dong?" tanya Chyra lagi.
"Eh, Kincir. Umur lo berapa sih? masa kayak gitu aja gak ngerti," delik David.
"Udah aku bilang, nama aku itu Chyra, bukan kincir," kesal Chyra.
"Serah gue dong, mulut-mulut gue, kok elo yang sewot," ketus David.
"Tapi itukan nama aku, " ucap Chyra tidak Terima.
"Udah-udah jangan berantem, mending kalian susulin mereka sana," lerai Mira.
__ADS_1
"Ogah, gimana kalo ada suara mengerikan." David bergidig.
"Jadi cowok kok penakut, mana ada hantu di siang bolong," cibir Chyra.
"Siapa juga yang takut sama hantu," ucap David.
"Lah itu tadi," todong Chyra.
"Emangnya suara mengerikan itu suara hantu doang, hah?"
"Emang ada gitu suara yang mengerikan selain suara hantu?" Chyra terlihat begitu penasaran.
"Stop, jangan debat mulu. Kapan ke pantainya kalo kalian debat terus kaya pemilihan capres," kesal.Mira.
"Dia yang mulai." Chyra melirik David.
"Eh, Kincir. Bukannya elo yang mulai," sengit David tak Terima.
"Udah, Stop! Mending kita susul Derald sama Dira!" teriak Mira sementara Andri, dia hanya menyimak saja.
Mereka pun berjalan kearah kamar Adira dengan pakaian pantai yang sudah melekat di tubuhnya. Sesampainya di depan pintu, mereka tidak langsung mengetuk melainkan mematung karena suara yang mereka dengar.
Eugh!
Ahkh!
Suara melengking itu begitu jelas terdengar di telinga kala mereka menguping di balik pintu. David dan Andri langsung menelan salivanya kasar, sementara Mira hanya cengo dengan wajah memerah. Untuk Chyra, dia terlihat bingung dengan suara yang di dengarnya. Dalam hati dia bertanya-tanya? apakah ini suara mengerikan yang David maksud?
"Oh, jadi ini suara mengerikannya ya? tapi kok kayak orang kejepit ya, teriakannya," celetuk Chyra.
"Shuutt," pelotot David karena dia takut Aderald akan mendengarnya.
"Balik lagi aja, yuk. Kita ke pantainya duluan." Mira langsung melangkah terlebih dahulu.
"Loh, katanya mau nyusul mereka, kok gak jadi?" Chyra langsung menyusul Mira.
"Gak jadi, mereka lagi sibuk," jawab Mira.
"Sibuk apa?" tanya Chyra.
"Lagi bikin adonan." David yang menjawab.
"Kenapa kita malah pergi? harusnya kita bantuin mereka bikin adonan biar cepet jadi," ujar Chyra.
"Mana bisa, Kincir! Yang ada kita di penggal Aderald!" kesal David.
"Oh, Pak Li takut kuenya kita ambil ya?"
"Gue heran, kok ada ya. Sekertaris oon kayak lo. Kan tadi udah gue bilang ngadon Bayi, Bayi bukan kueh!" ucap David dengan penuh penekanan.
__ADS_1