I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)

I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)
39


__ADS_3

Malam ini Adira sudah bersiap, dia telah mengenakan pakaian serba hitamnya. Tak lupa juga jubah kebesaran Quin BBD dengan topeng yang melekat di mata indahnya. Begitu juga dengan Aderald, dia sudah siap dengan jubah kebesaran berlambang King BBD. Berbagai senjata telah mereka persiapkan, dari mulai pistol, belati, katana dan juga panahan, semuanya lengkap tersimpan di balik jubah besar mereka.


"Are you ready?"Aderald menarik Adira untuk berhadapan dengannya.


"Of course."Adira mengecup bibir Aderald sekilas.


"Then let's go."Aderald merangkul Adira untuk pergi ke markas samping, disana mereka akan menunggu kedatangan para bajingan itu.


Sesampainya disana mereka menunggu di ruangan Aderald, sedangkan untuk para anggota mereka berjaga di luar termasuk David.


"Mereka sudah datang Baby."ucap Aderald yang tengah memantau CCTV seluruh area markas.


Disana terlihat ratusan anggota Black Hole dan juga ketuanya sedang bersiap untuk menerobos kedalam markas, sedangkan Revan dia hanya melihat saja sembari bersidekap dada. Setelah mereka membobol gerbang depan markas mereka masuk ke halaman markas yang sudah di jaga oleh puluhan anggota BBD yang di sebar di berbagai titik.


Sebagian anggota Black Hole tengah berjibaku melawang para anggota BBD yang menjaga gerbang, sebagian lagi masuk kedalam dengan diikuti oleh Thomas dan juga Revan. Pertarungan sengit pun terjadi di dalam markas dengan dua kubu yang saling baku hantam, suara senjata yang beradu begitu nyaring hingga terdengar kedalam ruangan Aderald, pertumpahan darah tak dapat ter elakan. Bagian dalam markas BBD sudah di banjiri darah segar yang begitu anyir menyengat. Anggota BH banyak yang tewas saat melawan anggota BBD yang sangat kuat dan kejam dalam bertarung. Sedangkan anggota BBD sendiri hanya sedikit saja yang terluka tidak sampai tewas.


BRAKKK.


Revan menendang pintu ruangan Aderald sampai roboh.

__ADS_1


PROK PROK PROK, Aderald bertepuk tangan.


"Tamu agung kita sudah datang Baby."ucap Aderald yang sedang memangku Adira.


"Baguslah, aku sudah tidak sabar ingin membunuhnya."Adira bangkit dari pangkuan Aderald.


"Rupanya kalian sudah mengetahi perihal kedatangan ku ya."Revan berjalan mendekat.


"Of course, aku sangat menantikan kedatangan mu Revan. Aku sudah tidak sabar ingin membunuh mu."Adira menatap Aderald sengit.


"Jangan mimpi Nona, karna sebelum kau membunuh ku, akulah yang akan melenyap kan mu terlebih dahulu seperti kalian melenyapkan Ibu dan juga kakak ku dengan sadis."amarah Revan kian memuncak.


"Siapa kau sebenarnya dan ada hubungan apa kau dengan keluarga ku? satu lagi Ibu dan kakak ku bukanlah seorang pembunuh sepertinya dendam mu salah alamat Nona kau telah membunuh orang yang tidak bersalah."tukas Revan.


"Apa katamu? tidak bersalah? hey tuan Revan Erlangga, aku tidak mungkin salah orang karna aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri mereka melenyapkan kedua anaku. Masih mau bilang Dendam ku salah alamat hah?"murka Adira.


Deg, Revan teringat kedua anaknya yang di dorong oleh sang Ibu dan juga kakaknya hingga tewas. Revan menatap lekat wanita yang tengah berdiri di hadapannya.


"Apakah dia adalah adira?"gumam Revan dalam hati.

__ADS_1


Mungkinkah mantan istrinya itu akan membalas dendam? rentetan kejadian berputar bak colase filem di kepalanya. Dari mulai kematian Ibu dan juga kakaknya, surat itu. Surat yang ia baca dengan di dalamnya tertulis sang pembunuh akan mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya dan membuat Revan kehilangan harta tahta juga keluarga seperti yang di rasakannya dahulu.


"Adira?"Revan menatap wanita bertopeng yang juga menatapnya penuh kebencian.


"Wau, kau hebat. Kau bisa mengetahui siapa aku, atau mungkin kau sadar jika yang mereka bunuh hanyalah anaku? jadi ingatan mu hanya tertuju padaku."Adera tersenyum meledek.


"Jadi benar kau adalah Adira, kamu datang ingin membalas dendam."


"Pintar sekali."Adira membuka topeng yang ia kenakan.


"LIKA."pekik Revan kaget.


"Apa-apan ini? sebenarnya kau siapa? Adira? Lika? atau jangan-jangan kalian adalah orang yang sama."Revan menatap Adira mengintimidasi.


"Baru sadar hm, dasar bodoh mudah sekali di kibuli. Lagian mata mu itu siwer apa gimana? masa istri sendiri tidak di kenali."cebik Adira.


"Ups, mantan istri."ralat Adira.


"Kurang ajar, bedebah, penipu."Revan mengeluarkan sebuah katana panjang dari balik punggungnya untuk menghajar Adira begitu juga dengan Thomas yang ikut bersiap.

__ADS_1


__ADS_2