
Hari sudah mulai menjelang sore, Adira pun bergegas untuk pulang dari kantor, dia tidak langsung pulang kerumah, melainkan menuju ke sebuah butik ternama yang konon katanya butik itu baru saja mengeluarkan produk baru.
Adira menjalankan mobilnya dengan sedikit kencang karna jalanan tidak terlalu padat, beberapa saat kemudian dia telah sampai di butik itu, dia langsung saja turun kemudian melenggang masuk kedalam.
Adira begitu terpana dengan jejeran dres berbagai macam gaya dan juga model, rasanya dia ingin memborong semuanya, tapi Adira tidaklah sekalap itu. Dia hanya membeli yang menurutnya berguna saja.
Tatapan mata Adira tertuju pada sebuah dres berwarna coklat susu, dres itu begitu mewah dan juga elegan meskipun motip di dres itu tidak terlalu ramai bahkan terkesan polos.
"Maaf, saya duluan yang mengambil dress ini."ucap Adira pada seorang wanita yang kebetulan juga ingin mengambil dress yang sama dengan dirinya.
"Aku yang lebih dahulu mengambil dress itu."ujar wanita yang perutnya sedikit membuncit dengan nada sombong.
"Baiklah, ini untuk mu saja. Karna kau memang suka merebut milik orang lain."ucap Adira sengit.
"Apa maksudmu?"bingung wanita itu dengan raut wajah murka.
"Bukankah kau suka merebut milik orang lain, maka ambilah ini."Adira menyerahkan dress itu pada wanita di hadapannya.
"Aku tidak pernah mengambil apapun milik orang lain, lagi pula kita baru saja bertemu. Mengapa kau nampak benci sekali padaku hah?"wanita itu menatap tajam Adira.
"Apa kau yakin? tidak kah kau mengenali siapa diriku, Maudy."Adira melangkah maju untuk mendekati Maudy, ya wanita itu adalah Maudy yang kini tengah hamil muda.
"Siapa kau sebenarnya? mengapa kau bisa mengenaliku?"
"Coba kau ingat kembali, siapa diriku ini dan satu hal lagi, ingat baik-baik. Aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliku dan aku akan membuat hidup mu hancur sehancur-hancurnya lebih dari apa yang aku rasakan dulu."ucap Adira tepat di hadapan Maudy, kemudian dia melangkah pergi meninggalkan butik itu.
"Siapa sebenarnya wanita gila itu? aku harus segera menyelidikinya."gumam Maudy dengan mendelikan matanya.
***********
"Ck, kenapa aku harus bertemu dengan wanita itu sekarang. Hilang sudah selera belanja ku."gerutu Adira sembari memukul pelan setir mobil yang tengah di kemudikannya.
"Hais, apalagi sih? mereka mau apa sih? gak tau apa orang lagi kesel."geram Adira saat dirinya melihat beberapa orang berbadan kekar menghadang mobilnya.
"TURUN."teriak salah satu orang yang sepertinya adalah pereman yang suka membegal di daerah situ.
"Kenapa?"Adira keluar dari mobil dengan santainya, tak ada sedikit pun rasa takut pada dirinya.
"Cewek cakep ternyata, bisa nih kita main-main dulu."goda pereman yang berwajah codet.
"Ini bagian gue bro, lo mending bawa mobil ni cewe."ucap pereman berambut gimbal.
"Bagaimana kalau kita bergantian saja, tapi aku yang lebih dulu mencicipi wanita cantik ini."saran pereman yang tengah menatap Adira dengan bernafsu.
__ADS_1
"Baiklah, kau bermain lah terlebih dahulu. Setelah itu baru giliran kami."
Adira hanya memandang lima pereman itu dengan tatapan remeh, dia bersidekap dada sembari menyenderkan tubuhnya di pintu mobil.
"Sebentar lagi aku akan menikmati tubuhmu cantik."ketua pereman itu mendekat kearah Adira dengan mata yang terus tertuju pada bagian tubuh tertentu Adira.
"Tidak semudah itu perguso."Adira menyeringai tajam.
Brukkk,
Krekk,
"Akhhh,"
Adira menendang perut pereman itu kemudian dia membalikan tubuh pereman itu hingga membelakanginya lalu dia memilin kedua tangan pereman itu kebelakang sampai berbunyi gemeretak tanda tangan pereman itu telah di patahkan oleh Adira.
"Seujung kuku saja kau menyentuh tubuhku, maka nyawa mu akan menjadi taruhannya."ucap Adira dingin kemudian dia menendang pereman itu hingga tersungkur di aspal.
Bughhhh,
"Aghh, serang wanita sialan itu."teriak pereman itu pada ke empat anak buahnya.
Keempat anak buahnya pun langsung saja menyerang Dira secara bersamaan, mereka menyerang Dira dengan begitu membabi buta.
"Bangun, hanya segitu saja kah kemampuan kalian."Adira menatap keempat pereman yang tengah mengerang kesakitan itu.
"Jangan sombong dulu, karna sebentar lagi kau akan mati."ketua pereman itu mengeluarkan sebuah pistol dari dalam saku jaketnya.
"Bukan aku yang akan mati, tapi kau yang akan mati."ucap Adira menyeringai.
Dorrr,
Tanpa basa-basi pereman itu langsung saja menembakan timah panasnya ke arah Adira.
"Belajarlah menembak dengan benar."Adira berjalan mendekat kearah pereman itu setelah dia menghindari tembakan pereman tadi dengan lihai.
Dorrr,
Dorrr,
Dorrr,
Pereman itu terus saja menembakan timah panas pada Adira, tapi sayang tidak ada satu pun yang mengenai tubuh Adira.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, belajarlah dahulu cara menembak yang benar."Adira bersidekap dada di hadapan pereman itu.
Dorrr,
Dorrr,
Dorrr,
Dorrr,
Adira menembak ke empat pereman yang hendak menyerangnya dari belakang, dia menembak mereka tanpa melihat sedikit pun kebelakang dia hanya terfokus pada ketua pereman yang berada di hadapannya.
"Begitulah cara menembak yang benar."Adira menatap ketua pereman itu remeh.
"Sialan kau, beraninya kau melukai anak buahku."ketua pereman itu melayangkan pukulannya kearah wajah Adira.
Bughh
Bughhh,
Dughh,
Krekk.
Dakhhh.
Bukan Adira yang terpukul, melainkan ketua pereman itu telah lebih dahulu di layangkan pukulan telak oleh Adira. Tak hanya sampai disitu dia juga menerjang menendang, membanting tubuh pereman itu dengan begitu mudahnya, dia juga menginjak punggung pereman itu hingga bergemeretak.
"Sepertinya akan bagus sekali jika aku memberikan beberapa lukisan di wajah jelek mu ini."Adira berjongkok dengan tangannya yang memegang pisau lipat yang runcing dan juga tajam.
"MAU APA KAU?"teriak ketua pereman itu.
"Aku hanya ingin melukis wajah jelek mu."Adira mulai mendekatkan pisau itu padanya.
"Minggir kau, lepass."marah pereman itu karna Adira menginjak dada pereman itu dengan kedua tangannya yang tertindih di bawah.
"Ahkk, SAKIT."teriaknya kala pisau runcing itu mengenai pipi pria itu.
Adira menuntun pisau runcingnya untuk membuat pola abstrak di wajah pereman itu. Darah segar mengalir dengan deras diiringi teriakan yang begitu merdu bagi Adira. Dia sangat menyukai teriakan itu, teriakan kesakitan yang begitu memilukan.
Dirasa belum cukup puas, Adira pun beralih pada telinga pria itu, dia menyayat telinga pria itu sampai hancur tak berbentuk dengan darah segar mengucur begitu deras.
"An..jing, sakit. Dasar iblis akhhh. Sakit bego, SAKIIT."teriakan itu membuat Adira semakin bersemangat.
__ADS_1
"Aku suka dengan teriakan kesakitan, aku sangat menyukai darah segar, bau darah ini begitu harum sehingga membuatku ingin selalu membuat darah ini terus mengalir."ucap Adira dengan raut wajah yang mengerikan sampai para anak buah ketua pereman yang tengah terkapar itu bergidig ngeri.