
Adira menggeliat dari tidurnya dengan tubuh yang masih polos, dia membuka matanya dan melihat sekeliling ternyata hari sudah gelap kemudian dia mencari keberadaan Aderald yang entah dimana karna dirinya masih berada di kamar Aderald.
"Astaga, jam sembilan malam."ucap Adira saat ia melihat jam di ponselnya.
Lalu dia pun turun dari ranjang dan meraih sebuah handuk, Adira pun melilitkan handuk itu ketubuh rampingnya. Kemuduan dia berjalan kearah kamar mandi.
"Kemana sih dia? aku mau pergi ke kamar ku. Tapi masa pake handuk begini."gerutu Adira kala dirinya telah selesai mandi dan kini dia sedang duduk di tepi ranjang.
Ceklek,
Pintu kamar terbuka.
"Kamu kemana aja sih Rald?"Adira menatap Aderald yang baru saja masuk dengan tampang kesalnya.
"Kenapa hm? kangen ya?"Aderald mendekati Adira dengan membawa sebuah paper bag.
"Apaan si, orang aku mau minta tolong ambilin baju di kamar. Masa aku keluar begini."Adira menunjuk dirinya yang hanya mengenakan handuk saja.
"Nih, aku sudah membawakannya."Aderald menyerahkan sebuah paper bag yang dibawanya tadi.
"Em, dallamannya?"Adira sedikit kikuk saat menyebutkan itu.
"Sudah lengkap semua, cek aja."Aderald tersenyum dengan begitu manis.
"Raldd,"pekik Adira.
"Kenapa?"heran Aderald.
"Aku baru kali ini melihat kamu tersenyum lebar dan begitu manis, ya ampun kamu jadi lebih tampan Rald kalo senyum gitu ih."heboh Adira.
"Baiklah, kalau begitu aku akan terus tersenyum supaya selalu terlihat tampan di matamu."Aderald kembali tersenyum.
"Eh, jangan gitu juga. Nanti para wanita akan semakin tergila-gila sama kamu. Senyumnya di depan aku aja deh."cengenges Adira.
"Lucu banget sih kamu, rasanya pengen aku terkam."Aderald mencium pipi Adira, saat dia hendak mencium bibir Adira si empunya sudah ngibrit terlebih dahulu.
Aderald hanya tersenyum menatap tingkah Adira, dia sudah tidak sabar ingin memiliki wanita itu seutuhnya tanpa berbagi dengan siapapun apalagi Revan.
Setelah Adira berpakaian mereka pun turun kebawah untuk makan malam, wajah Aderald terlihat sangat berseri, raut kebahagian jelas terpancar di wajah tampannya. Para pelayan yang melihat pun turut bahagia karna semenjak kehadiran Adira, Aderald sudah tidak sedingin dulu, dia sudah mulai menghangat dan mau ber interaksi dengan mereka. Karna dulu Aderald sangat enggan sekali bertegur sapa dengan mereka.
"Aku tidur dulu ya Rald, udah ngantuk banget nih."ucap Adira saat mereka telah selesai makan malam.
__ADS_1
"Tidur dengan ku saja yuk."ajak Aderald.
"Tidak mau."tolak Adira.
"Ayolah."bujuk Aderald.
"Ayok, tapi nanti kalo sudah menikah ya."Adira berlalu pergi dari hadapan Aderald, setelah itu Aderald pun juga pergi masuk kedalam kamarnya.
**********
Keesokan harinya.
Hari ini tibalah saat dimana kedua wanita itu akan di eksekusi oleh Adira, dengan semangat Adira menuruni tangga dengan hati yang gembira.
"Cie, yang mau bunuh mertua seneng banget nih kayaknya."ledek Aderald saat dia berpapasan dengan Adira.
"Cih, dia bukan mertuaku. Mana ada mertua yang ingin melenyapkan menantu dan juga membunuh cucunya sendiri."cebik Adira.
"Aku ikut ya, aku mau menyaksikan Quin BBD dan juga Quin di hatiku beraksi."ucap Aderald.
"Boleh, ayok."
Merekapun melangkah pergi menuju keruang penyiksaan yang berada dibawah tanah dengan tangan yang saling bertautan. Kala mereka sampai disana mereka melihat kondisi kedua wanita itu yang begitu mengenaskan dengan suara lirih merintih kesakitan.
"Kau, lepaskan ka-mi iblis sialan."lirih Renata dengan menatap Adira penuh kebencian.
"Biklah, aku akan melepaskan mu. Melepaskan ke neraka, hahaha."tawa Adira penuh kemenangan.
"Iblis kamu, wanita sialan, wanita jahanam kamu."umpat Tamara.
"Umpat lah aku sesuka mu, nenek tua. Karna sebentar lagi mulut itu tidak akan bisa berbicara lagi."Adira tersenyum semirik.
"Dan oh ya. Sebelum kalian pergi ke neraka, aku ingin memperkenalkan seseorang terlebih dahulu."Adira menarik Aderald sehingga Aderald berdiri di sampingnya.
"Kenalkan, dia Aderald Lisander Laleigh. Dia adalah pemilik perusahaan terbesar di dunia, dia juga seorang King Mafia yang paling di takuti di negara ini sekaligus kekasihku."ucap Adira sembari bergelayut manja di lengan kekar Aderald.
"Dasar jallang, wanita murahan. Kau itu sudah bersuami tidak sepantasnya kau mempunyai kekasih, kasian sekali anaku karna telah mempuyai istri jallang seperti mu."marah Tamara.
"Terserah kamu mau mengatai ku apa, yang jelas aku belajar berhianat dari Revan. Karna dia yang lebih dulu menghianati ku dan aku juga belajar kejam juga keji dari kalian berdua, dari perlakuan kalian selama ini kepadaku."Adira berjalan semakin mendekat pada kedua wanita itu.
"Lepaskan aku wanita gila."Renata berusaha memberontak karna jujur saja dia begitu takut dengan Adira yang sekatang, dia begitu sadis dan juga keji. Dimata Renata Adira terlihat begitu mengerikan.
__ADS_1
"Sebentar lagi kau akan terlepas kakak iparku tersayang. Tapi, ke neraka."Adira mencengkram erat dagu Renata.
Kemudian dia menghempaskannya dengan kasar, lalu Adira kembali bermai dengan pisau tajam miliknya, dia mengarahkan pisau itu pada dada Renata.
bles,
Adira menancapkan pisau tajamnya pada dada sebelah kiri Renata sehingga membuat si empunya berteriak kesakitan dengan darah yang mengalir deras dari dadanya.
"Aku sangat tertarik dengan jari-jari itu. Jika mereka terlepas lucu kali ya."Adira mengarahkan pisaunya pada jari Renata.
"Jangan, aku mohon stop."lirih Renata.
"Terlambat sayang."
Tak,
Tak,
Tak,
Suara jari jemari sebelah tangan kanan Renata betjatuhan ke lantai dengan darah yang mengucur deras, dengan sekali potong jari itu berhasil terlepas dari tangan Renata karna pisau Adira yang begitu tajam.
"SAKITT. AHHH. IBU SAKIT SEKALIII."teriak Renata begitu menggelegar.
"Sudah cukup, lepaskan kami. Kami mengaku salah, aku mohon lepaskan kami."mohon Tamara.
"Terlambat."Adira mengeluarkan sebuah katana tajam dari balik punggungnya.
Blassss.
Adira menebas kepala Tamara dengan sekali tebasan sehingga kepala Tamara menggelinding ke lantai.
"IIBBUUUUU."teriak Renata histeris.
"BIADAB KAMU DIRA, IBLIS KAMU. KAMU BUKAN MANUSIA,"Renata begitu marah kepada Adira dia ingin sekali membunuh Adira.
"Aku hanya mempercepat kematiannya saja, aku ini baik tau. Karna aku tidak menyiksa nenek tua itu, membunuhnya secara langsung lebih baik, daripada membuatnya merasa kesakitan lebih lama lagi."Adira berucap dengan santainya sembari menatap Renata yang tengah menangis pilu.
"Satu nyawa anaku telah terbayar. Tinggal satu lagi, giliran mu Renata."ucap Adira menyeringai.
Sementara Aderald yang menyaksikan kesadisan Adira hanya bisa geleng-geleng kepala. Pasalnya dulu waktu pertama kali Adira datang kesini dia begitu lugu dan juga cengeng. Tapi lihatlah sekarang Adira telah menjadi monster yang sangat mengerikan.
__ADS_1
"Ternyata dendam bisa merubah segalanya."