
Adira memukul wajah Revan secara membabi buta, dia juga menendang tubuh Revan sampai tubuh terlentang Revan menjadi telungkup.
Krek,
Suara tulang punggung Revan yang di injak kuat oleh Adira.
"Akhh."erang Revan yang merasa sesak plus sakit yang begitu mendera di punggungnya.
"Sakit? pasti sakit lah ya. Masa enggak."Adira berjalan kearah Aderald yang tengah duduk di sebuah kursi yang tak jauh darinya.
"Puas hm?"Aderald memeluk Adira yang kini duduk di pangkuannya.
"Belum, masih banyak hal yang ingin aku lakukan padanya."Adira mengalungkan tangannya di rahang kokoh Aderald.
"Lakukan lah sepuas mu."
Cup, Aderal mengecup lembut bibir ranum Adira, kemudian dia menarik Adira untuk bersandar di dada bidangnya.
Revan yang melihat jelas kemesraan mereka, merasa panas. Entah kenapa dia begitu tidak rela saat melihat Adira bermesraan dengan pria lain, mungkin kah dia sudah jatuh kedalam pesona Adira selama Adira dia menjadi Lika, pacarnya. Sepertinya iya, Revan telah jatuh cinta pada mantan istri yang tak pernah di anggapnya itu.
"Hari ini aku ingin jalan-jalan."ucap Adira yang masih berada di dalam dekapan Aderald.
"Ayok, mau jalan-jalan kemana hm?"Aderald mengelus lembut surai Adira.
"Aku ingin pergi ke puncak."ujar Adira semangat.
"Ok, hari ini kita akan kepuncak."
__ADS_1
"Benarkah?"Adira mendongkak.
Cup,
"Tentu saja."Aderald tersenyum dengan begitu manis.
"Yey, ke puncak."ucap Adira riang dan juga manja.
Revan hanya menatap miris interaksi mereka, Adira yang dulu ia perlakukan buruk juga tidak manusiawi. Sekarang dia begitu di sayangi, di manja dan di perlakukan sangat istimewa oleh pria lain. Cemburu? ya, Revan mengakui jika ia cemburu kepada Aderald, karna ternyata, cinta telah bersemayam dihatinya selama dia bersama dengan Adira yang menjadi sosok Lika.
"Karna aku akan pergi jalan-jalan, maka penyiksaan hari ini cukup sampai disini dan persiapkan dirimu untuk penyiksaan selanjutnya."Adira bangkit dari pangkuan Aderald kemudian dia melangkah menghampiri Revan.
Adira mengambil pisau lipat kesayangannya dari balik sakunya, kemudian dia putar-putarkan di hadapan wajah Revan yang masih telungkup. Adira membalikan paksa tubuh Revan hingga dia terlentang kembali.
Srettt,
Adira menyayat tangan kekar Revan dengan arah memanjang dari atas bahu sampai kebawah.
Darah segar mengalir cukup deras, karna sayatan itu lumayan dalam. Revan hanya meringis saja, dia tidak berontak maupun melawan, mulutnya seperti enggan untuk berbicara. Revan terlihat begitu pasrah, entah apa yang terjadi pada dirinya, akan kah dia sudah menyadari semua kesalahannya? akan kah dia sudah menyesalinya? maka dari itu dia membiarkan Adira menyiksa tubuhnya dengan sesuka hati.
"Sayatan ini tidak sebanding dengan sayatan luka yang kau torehkan di hatiku Revan. Luka di tangan mu akan mengering seiring berjalannya waktu, tapi tidak dengan luka yang kau torehkan dihatiku. Luka ini akan tetap abadi meskipun raga ini sudah tidak bernyawa lagi."Adira berjongkok sembari menatap wajah Revan lekat.
"Maafkan aku."lirih Revan dengan wajah penuh sesal.
"Apa kau sudah menyadari kesalahan mu? hm."Adira tersenyum remeh.
"Aku menyesal Dira, sungguh aku sangat menyesalinya. Hanya demi harta, aku sampai menjadi orang yang tak punya hati. Aku mengorbankan banyak nyawa demi mempertahankan sebuah harta."Revan bangkit kemudian dia menyandar di tembok.
__ADS_1
"Aku bahkan sampai tidak peduli dengan anaku sendiri, aku adalah ayah yang bodoh, tidak berguna. Maafkan Papah Abian, Naina. Pasti kalian sangat membenci Papah sekarang."lirih Revan dengan air mata yang terus mengalir seiring rasa sesal yang begitu mendalam.
"Sesal mu tidak berguna lagi Revan, kau sudah terlambat. Harusnya kamu melakukan ini sedari dulu, saat mereka masih disini, masih di dunia ini. Mereka sangat merindukan kasih sayang mu, mereka rindu perhatian tulus mu. Mereka rindu bermain bersama mu Revan."Adira kembali terisak pilu.
"Dimana saat mereka meregang nyawa? dimana kamu saat mereka menghembuskan nafas terakhirnya? bahkan kamu tidak mengantarkan mereka menuju peristirahatan terakhirnya, kamu malah sibuk dengan istri barumu. Kamu sama biadabnya dengan keluarga mu, kamu jahat Revan, jahat."Adira terduduk lemas di lantai.
"Maaf."
Hanya itu yang bisa Revan ucapkan, Adira benar, sesalnya sudah tidak berguna lagi. Dia terlambat, sangat terlambat. Kedua anaknya kini sudah tiada dan dirinya pun ikut andil dalam kematian mereka, dirinya terlalu acuh dan tidak perduli dengan kedua anaknya juga Adira. Sehingga membuat ibu dan juga kakaknya menjadi semena-mena terhadap mereka.
"Mereka sudah bahagia di surga sana, mereka juga pasti tidak ingin melihat ibunya sedih. Iklas kan mereka, supaya mereka tenang."Aderald menarik Adira yang tengah menangis tersedu kedalam pelukannya.
"Kenapa dia baru menyesal sekarang Rald? padahal dulu kedua anaku sangat merindukan kasih sayang ayahnya, mereka selalu berharap jika bajingan itu akan meluangkan waktunya untuk menemaninya bermain. Aku benci bajingan itu Rald, aku sangat membencinya."Adira menangis tersedu di dalam pelukan Aderald.
Aderald tidak bisa berkata apapun, dia hanya mendekap erat sang kekasih supaya dia menjadi lebih tenang. Aderald tau bagaimana sakit dan hancurnya hati Adira, kehilangan kedua buah hati yang teramat dia sayangi dalam waktu yang bersamaan sangat membuat Adira terpuruk hingga menyebabkan mentalnya terganggu. Sekuat-kuatnya seorang wanita, dia akan lemah jika menyangkut orang-orang yang dia sayangi. Apalagi buah hatinya sendiri.
"Jika kematian ku bisa membuat hatimu lega, maka lakukan lah. Bunuh lah aku Adira, aku iklas."Revan berucap dengan suara yang bergetar.
"Tanpa kau suruh pun, aku akan membunuh mu Revan."Adira hendak bangkit dari dari duduknya tapi Aderald menahan dengan mempererat pelukannya.
"Apa dengan membunuhnya hatimu akan lega? apa dengan membunuhnya kedua anak mu akan kembali? berikanlah dia kesempatan kedua, aku rasa semua yang telah kau lakukan padanya sudah cukup membuatnya tersiksa. Kamu sudah membalas apa yang telah kamu rasakan dulu, dengan membuatnya kehilangan harta, tahta dan juga keluarga."Aderald terlihat menarik nafas panjang.
"Ingatlah, dia masih mempunyai seorang istri dan juga anak yang belum lahir kedunia. Apa kamu tega membiarkan seorang anak yang tidak berdosa harus lahir kedunia tanpa mempunyai seorang ayah. Bukankah kamu dan juga kedua anakmu pernah merasakan bagaimana tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah? sangat menyakitkan bukan? lantas kamu tega membiarkan anak yang lain merasakan semua itu?"Aderald menatap lekat manik mata kekasihnya itu.
"Tapi dia jahat Rald."lirih Adira.
"Jika dia sudah menyesalinya, maka biarkanlah dia menebus semua kesalahannya dengan menjadi orang yang baik. Berilah dia kesempatan untuk menjadi ayah yang baik dan juga bertanggung jawab terhadap anaknya. Aku tau ini tidak adil untuk kedua anak mu, tapi setidaknya sekarang mereka telah di akui oleh ayahnya, mereka pasti sangat bahagia di surga sana."ucap Aderald lembut supaya hati Adira luluh.
__ADS_1
Entah kenapa hati Aderald menjadi tidak tega membiarkan Adira membunuh Revan, dia tau kesalahan Revan sangatlah besar, tapi dia mengingat calon anak Revan yang belum lahir kedunia. Bagaimana nanti nasibnya jika dia tumbuh tanpa sosok seorang Ayah.
Aderald juga tidak ingin membiarkan Adira hidup dalam belenggu dendam masalalu, dia ingin membina rumah tangga yang tenang dan juga damai tanpa di bayang-bayangi oleh dendam masalalu. Dia ingin membangun bahtera rumah tangga yang sesungguhnya, dia ingin membuat Adira lepas dari belenggu dendam itu dan berjalan bersamanya di dalam cinta dan juga kebahagiaan.