I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)

I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)
46


__ADS_3

"Eugh," Leguh Adira saat dia baru terbangun dari tidurnya.


"Rald." Adira membuka kedua matanya lalu melirik Aderald yang masih tertidur pulas dalam keadaan polos sama seperti dirinya


"Rald bangun, ini udah pagi." Adira menoel pipi Adira.


"Hm," Aderald malah mempererar pelukannya pada pinggang Adira.


"Bangun gak, Rald." Adira memencet hidung Aderald.


"Masa panggilnya Rald sih." Ucap Aderald dengan suara serak khas bangun tidur.


"Terus apa dong? kan nama kamu Aderald, jadi aku panggil Rald aja." Ujar Adira.


"Masa ke suami Rald. Panggilan sayang dong."


"Apa?"


"Apa aja."


"Ok, Honey aja ya."


"Hm, ok lah. Itu lebih baik." Aderald langsung saja bangun kemudian dia menggendong Adira ala bridal style.


"Rald." Pekik Adira.


"Eits."


"Aku kaget Honey, lagian kamu main gendong aja si."Cebik Adira yang berada dalam gendongan Aderald.


" Kita mandi bersama."Aderald membawa Adira kedalam kamar mandi dengan tubuh yang sama-sama polos.


Merekapun mandi bersama dengan yah biasalah Derama suami istri, (Otor gak bisa jelasin lagi puasa, skip dulu ya nganu nya) Setelah mandi bersama dan memakai pakaian lengkap merekapun turun kebawah untuk sarapan.


Adira melayani Aderald dengan gesit dan juga cekatan seperti disaat mereka belum menikah, wajah cerah, senyum ceria begitu terpancar dari seorang Aderald yang dulunya datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Kamu mau honeymon kemana Baby?" Tanya Aderald.


"Untuk saat ini aku gak mau kemana-mana dulu Rald. Aku cuma mau pergi ke makam anak-anaku." Ujar Adira.


"Baiklah, kita kesana sehabis sarapan." Aderald tersenyum tipis.


"Serius kita kesana sekarang?"Seru Adira.


" Iya, cepat habiskan makanan mu."Dengan semangat, Adira pun buru-buru menghabiskan makanannya.


Setelah itu merekapun bersiap lalu berjalan pergi untuk ke makam kedua anak dira dengan mengenskan mobil sport merah Aderald. Adira begitu bahagia karna sebentar lagi dia akan menemui kedua anaknya.


Sesampainya disana Adira langsung saja turun dari mobil dengan terburu-buru, dia berjalan cepat mendahului Aderald.


"Abian, Naina. Mamah datang sayang." Adira berjongkok di atas pusara kedua anaknya.


"Kalian lihat kan, Mamah udah gak nangis lagi, Mamah udah gak sedih lagi. Mamah udah tersenyum saat mengunjungi kalian seperti yang kalian mau." Adira berusaha menahan airmata nya yang hendak mengalir.


Perasaan sedih itu masih saja tetap ada, dia tidak bisa menyangkalnya bahwa ia belum siap kehilangan. Tapi dia harus iklas dan menerima semua jalan takdir ini. Ini semua sudah takdir yang di gariskan oleh tuhan untuknya dan juga kedua anaknya.


"Hay kedua malaikatnya Mamah Dira, masih ingatkan dengan Om yang dulu pernah kesini. Sekarang Om sudah sudah menjadi Papah kalian. Jadi Papah harap, kalian bisa menerima Papah." Aderald mengusap Nisan Abian.


"Mereka pasti senang karna kamu telah menggantikan tugasnya untuk menjagaku dan aku yakin, jika mereka masih ada, mereka akan sangat menyukai mu." Adira menatap netra Aderald lekat.


"Semoga tuhan menghadirkan mereka kembali disini." Aderald mengusap lembut perut rata Adira.


"Aku rindu mereka Rald, sangat rindu." Adira memeluk erat tubuh Aderald.


"Hey, jangan menangis. Kamu sudah janji pada mereka untuk selalu tersenyum saat mengunjungi mereka." Ucap Aderald sembari mengelus lembut surai Adira.


"Tapi aku sangat metindukan mereka Rald, hiks." Adira menangis pilu.


"Aku mengerti perasaan mu, tapi tiada yang bisa kita lakukan selain berdo'a untuk mereka. Karna hanya itu yang mereka butuhkan saat ini." Aderald mendekap Adira dengan begitu erat.


Setelah cukup lama mereka berada disana, mereka pun pergi setelah berpamitan pada Naina dan juga Abian. Adira meminta Aderald untuk membawanya ke salon sang sahabat yaitu Mira.

__ADS_1


"Dira." Seru Mira saat melihat Adira berada di ambang pintu salon.


"Aku merindukan mu Mir." Ucap Adira sembari memeluk Mira.


"Aku juga merindukan mu." Mira membalas pelukan Adira dengan begitu erat.


"Kenapa kamu tidak datang ke pesta pernikahan ku kemarin?" Adira mengerucutkan bibirnya.


"Kemarin aku masih berada di london Dir, aku tidak tau jika kamu akan menikah. Aku bar tahu tadi dari karyawan ku, katanya kamu mengirimkan undangan kesini." Jelas Mira.


"Berati kamu baru tiba dari london?" Tanya Adira.


"Ya, kau benar. Aku baru tiba tadi pagi." Jawab Mira.


"Siapa itu?" Adira menunjuk seseorang yang berada di sopa.


"Em, dia kekasihku." Ucap Mira kikuk.


"Wau, jadi kamu ke london untuk menemuinya?" Adira menatap Mira.


"Hehe, iya. Dia bekerja disana dan sudah lama tidak pulang, jadi aku menyusulnya saja." Cengenges Mira


"Oh, dia bekerja disana. Aku kira kekasih mu orang london." Adira berjalan mengikuti Mira menunu sopa.


"Tidak, dia orang sini."


"Dri, kenalkan dia Adira teman ku dan Adira kenalkan dia Andri kekasih ku." Ucap Mira.


"Andri." Dia mengulurkan tangannya.


"Adira."Adira menyambut uluran tangan Andri.


" Oh ya Dir, suami mu mana?"Tanya Mira.


"Eh iya lupa Mir, dia ketinggalan di mobil." Cengenges Adira.

__ADS_1


"Hais kamu ini, suami sendiri kok di lupain." Mira mendudukan dirinya di samping Andri dan di susul oleh Adira yang duduk di sopa seberang Mira.


"Bentar, aku mau telpon dia supaya kesini." Adira mengambil ponsel yang ada di tas nya.


__ADS_2