I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)

I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)
31


__ADS_3

"Pin nya apa ya?"gumam Adira sembari memegangi berangkas itu.


Adira pun berpikir sejenak, tapi karna tak kunjung menemukan jawaban Adira pun akhirnya mencari sesuatu untuk membantunya membongkar berangkas itu. Kebetulan dilaci ada sebuah obeng dia pun menggunakan itu untuk membuka berangkasnya. Dengan sekuat tenaga dia membobol berangkas itu sampai akhirnya terbuka.


"Ini dia berkas-berkas yang aku cari."Adira langsung membawa semua berkas itu dan berjalan keluar dari ruangan Revan.


"Apa yang kamu lakukan disana?"ucap Tamara yang hendak masuk kedalam ruangn kerja Revan yang sedikit terbuka.


"Tidak ada."Jawab Dira enteng.


"Apa itu?"Tamara menunjuk sesuatu yang berada di tangan Adira.


"Kepo."Adira hendak melangkah pergi tapi di tahan oleh Tamara.


"Apa yang kamu ambil dari ruang kerja anak saya?"marah Tamara.


"Aku hanya mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi miliku saja."Adira menatap Tamara dengan menyeringai.


"Siapa kau sebenarnya?"suara Adira terdengar begitu pamiliar di telinga Tamara.


"Apa kau sudah melupakan ku? ibu."Adira menatap tajam Tamara.


"Adira? kau Adira perempuan sialan itu?"kaget Tamara.


"Ck ck ck, kau darimana saja? mengapa baru menyadarinya sekarang hm?"Adira bersidekap dada.


"Buat apa kamu kembali lagi perempuan sialan? aku pikir kau sudah mati. Ternyata kamu masih hidup dan sekarang ingin kembali lagi pada anaku dengan wujud barumu, aku tidak akan membiarkan itu terjadi."Tamara menatap Adira dengan kilatan amarah.

__ADS_1


"Aku, kembali pada anak bejad mu itu? oh tidak, sampai matipun aku tidak akan pernah kembali padanya. Kedatangan ku kesini hanya untuk mengambil hak ku yang telah kalian rampas."Adira berjalan maju untuk mendekati Tamara.


"Apa maksud mu perempuan sialan?"


"Jangan pura-pura tidak tau, kau pasti sudah tau segalanya bukan? kau tau kan jika harta kekayaan keluarga Revanga adalah hasil rampasan dari orang tuaku. Suamimu merebutnya secara keji, dia telah melenyapkan kedua orang tuaku hanya demi harta. Sungguh kalian semua adalah keluarga biadab."Adira sudah tersulut emosi.


"Ya aku memang sudah tau, tapi aku tidak peduli. Yang penting aku kaya dan sebentar lagi kamu akan mati mengenaskan menyusul orang tua dan juga kedua anakmu."Tamara hendak meraih tangan Adira.


"Tidak semudah itu, aku bukanlah Adira yang dulu. Adira yang mudah kalian tindas."Adira sudah terlebih dahulu memelintir tangan Tamara.


"Akhh, lepas wanita sialan."Tamara begitu kesakitan.


"Ada apa ini?"Renata datang menghampiri mereka.


"Nata tolong ibu, wanita iblis ini menyakiti ibu. Dia bukan Lika, tapi dia Adira. Dia ingin merebut kembali seluruh hartanya cepat tolong ibu kita harus singkirkan wanita sialan ini."Tamara berusaha meronta.


Brukkk,


Renata terhempas kelantai.


"Sudah ku bilang aku bukanlah Adira yang dulu."


BRUUKK,


Adira melempar Tamara dengan begitu keras sehingga membuat Tamara berteriak kesakitan.


"UDIK SIALAN, AKAN KU BUNUH KAMU."Renata segera berdiri dia hendak menerjang Adira tapi lagi-lagi Adira secepat kilat menangkap kaki Renata yang hendak menendangnya, kemudian dia putarkan kaki itu lalu dia hempaska ke lantai.

__ADS_1


"Kalian tidak akan bisa melawanku sekarang."Adira menatap kedua wanita itu remeh.


"Kini saatnya kalian merasakan apa yang di alami oleh kedua anaku."Adira menyeret kedua wanita itu menuju kearah tangga.


"LEPAS, KAU BELUM TAU SIAPA AKU, AKU AKAN MEMBUNUH MU. LEPAS."teriak Renata tapi Adira tidak perduli.


"Aku akan melaporkan mu kepada pihak yang berwajib. Karna kamu telah melakukan kekerasan terhadap kami."Tamara berusaha meronta.


"Laporkan lah, aku tidak takut."Adira menyeret kedua wanita itu menuju ke tengah-tengah tangga.


"MAU APA KAMU PEREMPUAN GILA?"teruak Renata.


"LEPAS, DASAR SINTIING."Tamara terus saja meronta.


"Diam lah nenek tua, bersiaplah sebentar lagi kalian akan mati. Hahaha."tawa Adira begitu menggelegar.


Dan.


BRUKK.


DUKKK.


Adira mendorong kedua wanita itu dari tengah-tengah tangga sehingga membuat mereka berguling dan terjatuh kebawah dengan kepala yang bercucuran darah karna kepala mereka terpentuk tembok.


Kemudian Adira berjalan menghampiri mereka yang sudah tak sadarkan diri.


"Masih hidup."Adira mengecek nafas dan juga nadi mereka.

__ADS_1


"Bagus, karna ini baru permulaan. Penderitaan yang sebenarnya baru saja akan di mulai."ucap Adira menyeringai kemudian dia menelpone seseorang.


__ADS_2