I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)

I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)
34


__ADS_3

kepada bocil di mohon minggir karna adegan ini akan merusak otak suci kalian🙈🙉


Hari ini Adira pergi ke pengadilan untuk menggugat cerai Revan, dia telah membawa semua berkas yang telah di butuhkan berikut bukti-bukti kekerasan Revan yang ia dapatkan saat David menghapus CCTV kejadian itu kemarin sekalian saja dia mencari rekaman pada saat Revan menyiksanya dan juga perlakuan tidak adil kelurga Revanga terhadapnya, tak lupa juga rekaman pada saat kedua anaknya di dorong Tamara dan juga Renata dari atas tangga.


Semuanya berjalan dengan mulus tanpa kendala hanya tinggal menunggu sidang saja. Setelah dari pengadilan Adira pun segera kembali ke kantor karna tumpukan berkas sudah menantinya.


Di perjalanan Revan terus saja menelponnya dengan terpaksa Adira pun mengangkatnya dan ternyata Revan menelpon dirinya hanya untuk mengabarkan jika sang ibu dan juga kakaknya telah menghilang tanpa jejak. Adira pura-pura sok peduli padahal mah dia tersenyum senang dia puas melihat Revan begitu menderita, apalagi nanti jika dia mengirimkan kepala ibu dan juga kakaknya pastilah Revan akan semakit sedih dan juga hancur.


"Aku akan segera melenyapkan kedua wanita itu, supaya bajingan itu merasakan kehilangan yang mendalam seperti yang aku rasakan dulu. Setelah itu, baru aku akan bermain dengannya."ucap Adira menyeringai kemudian dia menambah laju kecepatan mobilnya supaya cepat sampai di kantor.


Sesampainya disana Adira langsung saja berkutat dengan tumpukan berkas yang setia menantinya, tangannya begitu cekatan saat membuka lembaran berkas itu, dia mengeceknya secara teliti dia tidak mau ada kesalahan sedikitpun.


"Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar."gumam Adira sembari menyandarkan punggungnya pada belakang kursi.


Setelah itu dia kembali mengerjakan pekerjaannya, sampai sore hari pun telah tiba Adira langsung saja membereskan barang-barangnya kemudian dia segera bergegas pulang. Jalanan sore ini cukup padat sehingga membuat Adira tidak bisa melajukan mobilnya dengan kencang, dia hanya menjalankannya pelan saja sembari mendengarkan musik.


***********


"Kapan kamu akan mengeksekusi kedua wanita itu?"tanya Aderald pada Adira yang baru saja masuk kedalam Mansion lalu dia mendudukan dirinya di samping Aderald.


"Besok, aku akan melenyapkan dua wanita itu besok, lalu aku akan mengirimkan kepala mereka kepada pria bajingan itu. Aku sudah tidak sabar melihat kehancurannya, sebentar lagi dia akan kehilangan semuanya, harta tahta dan juga keluarga."Jawab Adira sembari tersrnyum penuh kemenangan.


"Lalu sebentar lagi, kamu akan menjadi miliku seutuhnya."Aderald menarik Adira kedalam pangkuannya sehingga posisi mereka saling berhadapan.


"Tentu saja, aku juga sudah tidak sabar di miliki oleh pria tampan nan gagah seperti mu."Adira mengalungkan tangannya pada leher Aderald.


Cup,


Aderald mengecup bibir seksi Adira, sepertinya dia sudah mulai ketagihan dengan rasa bibir itu. Kemudian Aderald meraup bibir itu, menyesapnya kuat dan juga rakus. Aderald juga menekan tengkuk Adira supaya ciuman mereka semakin dalam.


Hasrat kedua insan itu semakin bergelora, kala tangan nakal Aderald telah berhasil menyelusup ke dalam kemeja Adira yang beberapa kancingnya sudah terlepas.

__ADS_1


Karna mereka masih berada di ruang tengah, Aderald pun menggendong Adira ala bridal style menuju ke kamarnya karna dia takut akan ada pelayan yang melihat kelakuan mereka. Begitu sampai dikamarnya Aderald langsung saja menurunkan Adira di ranjang kemudian dia segera mengunci pintu kamarnya.


"Aku sudah tidak kuat menahan gejolak hasrat ini lagi."Aderald membuka pakaian atasnya sehingga menampilkan tubuh sispak pada bagian tubuh atasnya.


"Tapi kita belum menikah Rald, aku juga masih istrinya Revan. Aku tidak bisa melakukan ini."ucap Adira.


"Tapi aku janji akan segera menikahimu setelah kamu bercerai dengannya."ujar Aderald yang matanya telah di penuhi oleh kabut gairah.


"Bagaimana kalau making out saja."usul Adira.


"Making out?"


"Ya, menuntaskan hasrat tanpa bersetubuhh. Bagaimana?"Adira mulai mendekat pada Aderald.


"Terserah mu saja, apapun itu."pasrah Aderald.


Adira pun mulai mengarahkan tangannya untuk menyentuh dada bidang Adrald, dia menggerakan tangannya perlahan disana, mengelus lembut dada itu dengan gerakan memutar kemudian tangannya turun kebawah untuk mengelus perut kotak-kotak Aderald. Adira juga menciumi tombol kecil yang terdapat pada dada bidang Aderald.


Kemudian Adira mengarahkan tangannya untuk menyentuh pistol Aderald yang cukup besar dan sangat keras tentunya. Adira membelai lembut pistol Aderald meremassnya gemas dengan bibirnya yang masing nangkring di dada Aderal dia menggit kecil tombol disana.


Sejenak Adira menghentikan aktipitasnya, dia menatap wajah Aderald yang sudah memerah menahan sesuatu yang ingin segera di tuntaskan. Kemudian Adira membuka ikat pinggang Aderald lalu melemparnya ke sembarang arah. Setelah itu dia segera membuka pengait dan resleting celana Aderald yang sudah menyesak. Dira menurunkan celana itu perlahan sehingga hanya menyisakan pembungkus pistol Aderald saja. Tak puas jika hanya membuka celananya saja, Adira pun menurunkan pembungkus pistol Aderald sehingga penampakan pistol yang menantang berdiri tegak keras berurat itu terpampang nyata di hadapan Adira.


"Wau, besar sekali."pekik Adira.


"Besar mana dengan punya suami mu."tanya Aderald.


"Tentu saja besaran ini."Adira segera memegang pistol itu.


"Uhh, hehh. Euh, ah."desah Aderald saat Adira mengelus lembut pistol miliknya.


"Sepertinya kamu sudah tidak tahan. Bagaimana kalau kita segera bermain kocok-mengocok saja hm."ucap Adira sensual.

__ADS_1


"Tapi aku ingin itu dulu."Aderald menunjuk dada Adira yang besar padan juga berisi itu.


"Boleh."Adira membuka kemeja kerja miliknya kemudian dia melemparnya kesembarang arah.


"Ini milikmu sekarang."Adira mendudukan Aderald di ranjang kemudian dia berdiri dihadapannya dengan keadaan hampir toples.


Aderald tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung saja menyergap kedua gunung menggoda itu setelah dia membuka pembungkusnya.


"Akhh, Rald. Nikmat sekali, eumm. Rald, akh."Adira mencengkram kuat kepala Aderald yang tengah menghisap puncak gunungnya.


"Hehh, uh.. Ah, ah."Adira semakin terbuai dengan kenikmatan itu kala sebelah tangan Aderald sudah bermain di dalam gua miliknya yang sudah lama tidak terjamah.


Aderald mengubrak-ngabrik isi gua keramat Adira, dia memainkan hiasan yang menempel disana. Dengan mulut yang masih menyesap kedua gunung Adira secara bergantian.


"Ah, ah ah ah ah. Rald, eum, eughh. Rald, percepat akhh."ucap Adira saat dia akan mencapai puncaknya.


Aderald pun semakin menaikan ritme permainan tangannya, tak lama suara leguhan panjang Adira pun terdengar di sertai keluarnya cairan hangat dari dalam gua keramatnya.


"Eugh, akhh. Rald, kau hebat sekali. Kau pandai membutku terbang."Adira berucap dengan masih ngos-ngosan.


"Giliran ku, Baby."ucap Aderald dengan suara serak.


Adira pun langsung saja, meraih pistol Aderald dia mengocoknya dengan menggunakan tangan, kemudian dia mencoba menggunakan kedua gunungnya. Dia menjepit pistol Aderald di celah kedua gunung kembarnya. Lalu dia mengerakan kedua gunungnya keatas-kebawah dengan pistol Aderald yang terjepit.


"Uh, ah. Eum, ah.."desah Aderald.


"Percepat Baby, eughh. Hahh, auh, hemm Akhh, nikmat sekali uh."racau Aderald.


"Terus, ah. Euh, eugh. Ah ah, ah, sebentar lagi Baby, eugh. Ah, sett."Aderald terus meracau kenikmatan sembari memegangi kepala Adira.


"Ahhh, eughhh. Baby, ahkk. Percepat, ah. Aku akan sampai, eughhhhh. Akhhhhh."pistol Aderald telah menembakan pelurunya sehingga membanjiri gunung himalaya Adira.

__ADS_1


Jejak😘


__ADS_2