
"Akhhh sialll."pekik Adira saat sebuah katana menggores lengan sebelah kirinya.
Adira mendongkak, ternyata peris bertubuh gempal lah yang telah melukainya. Adira murka, dia langsung saja menyerang pria itu dengan membabi buta. Pria itu juga tak tinggal diam, dia membalas serangan Adira dengan menggunakan katana yang dia pegang.
Treng.
Treng.
Treng.
Suara katana Adira yang beradu cukup sengit dengan katana pria itu, tidak ada yang mau mengalah di antara mereka. Sampai pada akhirnya Adira menemukan celah, dia langsung saja menebas tangan kanan pria itu dengan sekali tebasan sampai katana yang pria itu pegang terlempar.
"Ahkkk, sialan kau bedebah."erang pria itu kesakitan.
Darah segar mengucur dengan begitu deras dari tangan pria itu, jangan lupakan, tangan sebelah kiri Adira juga terluka dan lukanya cukup dalam sehingga darahnya tidak berhenti mengalir.
Blass,
Saat pria itu lengah, Adira langsung memenggal kepalanya. Lalu dia kembali menghadapi musuh yang lainnya. Adira sudah mulai kewalahan saat musuh sisa sepuluh orang lagi, teganya sudah terkuras belum lagi darah yang terus mengalir membuatnya bertambah lemas saja.
"Adira," pekik Aderald yang tingal menghabisi satu orang lagi.
BLESS.
Aderald langsung saja menusuk jantung orang itu dan membelah perutnya sampai usus pria itu terburai. Kemudian dia segera berlari lalu dia mengambil alih untuk menghadapi sepuluh orang musuh yang sedah di hadapi oleh Adira. Aderald melawan mereka dengan begitu berutal, apalagi saat melihat Adira mundur kebelakang dan terduduk lemas disana.
Srettt.
Dughhh.
__ADS_1
Blass.
Bughhh.
Aderald menghabisi sepuluh orang itu dengan amarah yang memuncak, Aderald mengerahkan seluruh tenaganya supaya pertarungan itu lekas usai dan dia bisa menghampiri Adira.
Pertarungan selesai, mayat-mayat tergeletak berserakan dengan mengenaskan, banyak sekali mayat tanpa kepala dan juga perut yang terbelah. Bahkan ada juga yang tangan dan kakinya putus semua. Darah segar menggenang membanjiri jalanan yang sangat sepi itu. Bau anyir begitu menyengat di indra penciuman. Baju Aderald dan juga Adira telah di penuhi darah segar karna terciprat darah mereka saat membunuh tadi.
"Dir, bertahanlah." Aderald langsung menggendong tubuh lemas Adira menuju kedalalm mobil.
Aderald mendudukan Adira dengan perlahan di kursi depan sebelah kemudi. Lalu dia masuk kedalam dan menelpone seseorang untuk membereskan kekacauan ini. Setelah selesai menelpone Aderald pun langsung saja menjalankan mobilnya menuju ke Vila tempat tujuan utama mereka, dia akan mengobati Adira disana
"Hey, buka matamu Baby." Aderald menggenggam erat tangan Adira sembari menyetir dengan sebelah tangannya.
"Aku lemas sekali Rald." lirih Adira dengan mata yang hendak tertutup.
"Bertahanlah, jangan tutup mata mu." Aderald berucap dengan nada yang begitu hawatir.
Begitu dia tau sang kekasih sudah tidak sadarkan diri, Aderald pun langsung menambah laju kecepatan mobilnya supaya cepat sampai di Vila.
Sesampainya disana, Aderald buru-buru menggendong Adira dan membawanya masuk kedalam Vila. Disana sudah ada Dokter setempat untuk memeriksa Adira, Aderald memang sudah menelponnya tadi dia memintanya untuk segera datang ke Vila, supaya pad mereka datang Adira langsung di tangani.
Setelah Dokter memeriksanya dan menyatakan jika Adira sebentar lagi akan siuman dan luka ditangannya juga sudah di bersihkan plus di jait karna robekannya cukup panjang. Tapi syukurlah Adira tidak sampai harus tranpusi darah karna di tempat itu sangat jauh sekali dengan PMI.
"Gue pamit Rald, ini obat dan juga Vitamin untuk pasien." ucap sang Dokter yang tak lain adakah sahabat Aderald.
"Ok, thank ya bro."Aderald mengambil obat dan juga Vitamin itu dari sang Dokter.
Untung saja Dokter itu adalah temannya yang mengetahui siapa dirinya. Jadi dia tidak perlu mencari alasan mengapa tubuh mereka di penuhi oleh darah yang mulai mengering karna dia sudah tau pasti dirinya habis bertarung.
__ADS_1
Setelah dokter itu pergi Aderald pun segera mendekat pada Adira, di belainya wajah putih mulus nan juga pucat itu. Hati Aderald terasa tercubit kala melihat kondisi sang kekasih, dia begitu tidak rela melihat Adira terluka seperti ini. kenapa harus Adira yang terluka? kenapa tidak dirinya saja? Aderald terus bergumam dalam hati sembari menatap lekat Adira dengan penuh sayang.
"Rald."Adira mengerejapkan matanya.
"Baby, kamu sudah bangun. Syukurlah, aku begitu mencemaskan mu tadi."ucap Aderal sembari menangkup wajah Adira.
"Hm, aku baik-baik saja kok Rald."Adira tersenyum dengan begitu manis.
" Maaf, aku tidak bisa melindungi mu."lirih Aderald menyesal.
"Ini bukan salah mu, lagi pula ini hanyalah luka kecil." Adira menggenggam tangan Aderald.
"Aku takut kamu pergi, Baby. Aku takut kehilangan orang yang ku sayangi kembali." Aderal memeluk erat tubuh lemas Adira.
"I love you, Baby." bisik Aderald di telinga Adira.
"I love you too, Rald." balas Adira yang membalas pelukan Aderald.
Cukup lama mereka berpelukan, sampai akhirnya Adira meminta Aderald membawanya keluar untuk melihat pemandangan luar Vila, Aderald pun menurutinya dia membawa Adira keluar dari dalam Vila. Adira begitu bahagia, senyum ceria terpancar dari wajah cantiknya kala melihat pemandangan indah yang menyejukan mata. Pepohonan dan juga tanaman hijau mengelilingi Vila mereka. Belum lagi di bawah sana kebun teh terhampar luas dengan begitu cantiknya.
"Indah sekali."lirih Adira.
" Seperti wajah mu, begitu indah kala ku pandangi."ucap Aderald yang memeluk Adira dari belakang.
"Udaranya begitu sejuk dan juga segar."Adira merentangkan kedua tangannya dengan tangan Aderal yang masih melingkar di perutnya.
" Seperti netra mata mu yang menyejukan hatiku kala ku menatap mu."Aderald semakin mempererat pelukannya dengan dagu yang ia sandarkan di bahu Adira.
"Semoga cinta kita akan bersatu dalam ikatan pernikahan, aku sudah tidak sabar menunggu saat itu. Saat dimana aku dan kamu akan menjadi kita."ucap Aderald lagi.
__ADS_1
" Dan bersama sampai kita menua, kita akan bersama bersatu dalam bahtera cinta abadi, sehidup semati."sambung Adira yang menyandarkan kepalanya pada kepala Aderald yang berada di bahunya.
Mereka pun memandangi pelataran hijau Vila dengan berpeluk mesra, meresapi keindahan pemandangan juga keindahan manisnya cinta dalam sebuah rasa yang begitu dalam bertahta dalam hati mereka. Cinta yang datang tanpa disengaja seperti pertemuan mereka, cinta datang tanpa di duga, siapa sangka Adira akan jatuh cinta kembali setelah persakitan yang dia alami sehingga membuatnya terauma dengan yang namanya cinta. Tapi kehadiran Aderald membuat luka persakitan itu perlahan-lahan mengering meskipun masih berbekas, seiring luka itu mengering perasaan baru, cinta baru pun perlahan tumbuh hingga kian hari kian membesar memenuhi relum hatinya.