I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)

I'M A Wife Not A Maid (Aku Tidak Lemah)
47


__ADS_3

"Baby, kenapa kamu ninggalin aku." Belum sempat Adira menelpon, Aderald sudah datang menghampiri mereka.


"Ah, Honey maaf. Aku pikir kamu mengikuti ku."Adira melirik kearah Aderald yang tengah berdiri di belakangnya.


" Sini duduk."Sambung Adira sembari menepuk sopa di sebelahnya.


Aderald pun berjalan kearah Adira, kemudian dia mendudukan dirinya di samping sang istri. Setelah itu Aderald berkenalan dengan Andri kekasih dari Mira. Merekapun mengobrol, dari mulai tentang kehidupan sehari-hari hingga ke dunia perbisnisan.


Karna para pria asik mengobrol tentang dunia perbisnisan, Adira dan juga Mira pun memutuskan untuk memasak saja. Mereka akan menyiapkan makanan untuk makan siang.


"Bagaimana kehidupan mu sekarang?" tanya Mira.


"Ya, aku sangat bahagia. Bersamanya, aku bisa merasakan seperti apa rasanya di cintai dan seperti apa di perjuangkan dengan sepenuh hati." Jawab Adira dengan tersenyum tipis.


"Syukurlah, akhirnya kamu bisa menemukan kebahagiaan mu bersama dengan lelaki yang mencintaimu." ujar Mira dengan tersenyum tulus.


"Awalnya, aku tidak percaya lagi akan yang namanya cinta dan juga kebahagiaan. Semua itu telah lenyap seiring kepergian kedua anaku, tapi bersama Aderald aku bisa merasakan dan mempercayai itu kembali." Adira berucap sembari memotong bawang untuk bumbu masakan mereka nanti.


"Semoga mereka hadir kembali disini." Mira mengelus pelan perut rata Adira.


"Semoga saja." Lirih Adira.


Merekapun lanjut memasak berbagai macam hidangan dengan cekatan. Setelah selesai merekapun menatanya di meja makan, lalu memanggil kedua pria tampan untuk makan siang bersama.


"Setelah ini kalian mau kemana?" tanya Andri di sela menyantap makanannya.


"Rencananya kami ingin pergi ke taman bunga yang ada di Segog. Karna istriku ingin sekali mengunjungi tempat itu." ujar Aderald.


"Apakah tamannya besar?" tanya Mira antusias.


"Sangat besar dan juga indah, karna di penuhi oleh bunga-bunga yang tumbuh bermekaran dengan berbagai jenis juga warna." Jelas Adira.


"Wao, aku sangat menyukai bunga. Apakah aku boleh ikut?" ucap Mira.


"Tentu saja boleh, semakin banyak orang akan semakin ramai. Rencananya aku juga akan mengajak Chyra dan juga David untuk ikut kesana." ujar Adira sembari mengaduk jus jambu.


"Kalo gitu, aku siap-siap dulu ya." Mira yang sudah selesai makan pun langsung saja bangkit.


"Ok." Adira mengacungkan jempolnya.


"Gak siap-siap juga bro?" Aderald melirik kearah Andri.

__ADS_1


"Pria tidak ribet seperti wanita." ujar Andri.


"Kalo tidak ribet, tidak akan cantik." Delik Adira.


"Bagiku, kamu tetap terlihat cantik walau tidak ribet berdan-dan." ucap Aderald.


"Gombal, kalo udah dekil tetep aja di tinggalin dan cari yang lebih bening." Cebik Adira.


"Aku bukan pria seperti itu, Baby. Aku akan menerima apapun keadaan mu, mau jelek kek, dekil kek, atau apapun itu. Yang jelas kamu tetaplah istriku yang paling cantik." Aderal menggenggam tangan Adira, kemudian dia mengecupnya dengan lembut.


"Kalau sudah bermesraan bikin orang jadi lupa daratan, dunia serasa milik berdua, yang lain nebeng." Celetuk Andri sembari menyaksikan kemesraan dua pasutri itu.


"Seperti itulah jika cinta sudah merajalela, orang saja terlihat seperti barang yang tidak terlihat. Apalagi jika sudah merasakan manisnya bercinta, meregup asmara yang indahnya tiada tara, sampai sulit untuk di jabarkan dengan kata-kata. Semua terasa sepi seakan tiada siapa-siapa." ucap Aderald sembari memeluk erat Adira.


"Huekk, mual saya pak dengernya." Kedek Andri.


"Mual apa iri?" Delik Aderald.


"Yuk kita berangkat!" teriak Mira dari atas tangga.


"Ini gimana Mir, belum di beresin? terus salon kamu juga gimana?" tanya Adira.


"Sombong amat, bu." Adira mendelikan matanya.


Merekapun berjalan keluar dengan beriringan, mereka pergi ke taman bunga Segog dengan menggunakan satu mobil, yaitu mobilnya Aderald. Mira dan juga Andri duduk di kursi belakang, sedangkan Aderald dan Adira di kursi depan. Untuk Chyra dan juga David, mereka akan menyusul kesana nanti.


Perjalanan ke tempat itu memakan waktu yang cukup lama, pegal? pasti. Tapi semua itu telah tergantikan dengan keindahan taman bunga berwarna-warni yang sangat memanjakan mata, deretan bunga indah terpampang di hadapan mereka dengan wangi menyeruak kedalam indra penciuman mereka. Adira dan juga Mira asik berpoto ria, dari mulai selpi hingga meminta untuk di potokan oleh pasangan masing-masing dengan posisi berbaring di antara ribuan bunga yang terkapar indah di antara dedaunan hijau.


"Chyra, sini!" teriak Adira kala melihat Chyra datang menghampiri mereka bersama dengan David.


"Tamannya bagus ya bu." ucap Chyra yang sudah berada di hadapan Adira.


"Jangan panggil ibu, panggil Dira aja." ujar Adira.


"Tapi saya gak enak bu." Tutur Chyra.


"Gak ada penolakan! kalo mau enak tinggal tambahin garem. Yuk ah kita poto dulu."


Adira pun mengajak Chyra untuk gabung berpoto bersama mereka, dengan Andri sebagai poto grapernya. Mereka poto bertiga dengan berbagai macam gaya, dari mulai tiduran di atas rumput sebelah bunga, sampai kepala yang di sembulkan di antara kerumunan para bunga warna-warni yang indah.


"Lo kenapa Vid?" Aderald menepuk bahu David yang tampak tengah melamun.

__ADS_1


"Ah, gue gak papa kok Rald." David terlihat begitu kaget.


"Lo sedang ada masalah ya? cerita sama gue." ucap Aderald.


"Hanya masalah hati." Lirih David.


"Lo jatuh cinta?" kaget Aderald.


"Sepertinya begitu." Lirih David lagi.


"Tapi, kenapa lo terlihat sedih dan juga murung. Harusnya elo bahagia." Aderald menatap lekat tangan kanan sekaligus sahabatnya itu.


"Karna cinta gue tidak terbalaskan." ujar David.


"Wis, siapa nih yang tidak tertarik dengan seorang David."ucap Aderal sembari mendudukan dirinya di bangku taman dengan di ikuti oleh David.


" Ada, lah."David menghela nafas kasar.


"Siapa sih? penasaran gue. Atau si Chyra ya?" tebak Aderald.


"Bukan." Jawab David singkat.


"Lalu siapa?"


"Lo gak perlu tau." David bangkit, kemudian dia berjalan menghampiri para wanita yang masih asik berpoto.


"Vid, Woy!! jawab dulu!" teriak Aderald tapi David hanya acuh saja seakan tidak mendengar.


"Hay Vid." sapa Adira.


"Hay." David tersenyum tipis.


"Mau ikut berpoto?" tawar Adira.


"Boleh."


David pun berpoto bersama ketiga wanita itu, dengan dia berada di belakang merangkul mereka. Lalu dia juga berpoto berdua dengan Adira, dengan posisi dia merangkul bahu Adira dan Adira menyender di bahu David. Aderald yang melihatnya pun bersikap biasa saja, walau sedikit tidak rela. Toh mereka memang dekat seperti adik kakak, jadi wajar saja jika David seberani itu merangkul Adira.


"Giliran gue yang poto bareng Dira." Aderald menarik David yang masih berpoto dengan istrinya dan diapun menggantikan posisi David.


"Ti ati Rald, tikungan sekarang pada tajam." ucap Andri dengan di iringi tawa bercanda.

__ADS_1


__ADS_2