
"Bagaimana ke adaan istri saya, Dok," tanya Aderald pada Dokter Aslan yang baru selesai memeriksa Adira dengan penuh ke khawatiran.
"Selamat, istri anda saat ini sedang mengandung," ujar Dokter Aslan dengan tersenyum ramah.
"Apa? Jadi istri saya hamil, Dok?" Aderald menganga tak percaya.
"Betul sekali."
"Sayang... Kamu hamil." Seketika Aderald langsung memeluk erat tubuh sant istri.
"Iya, Rald. Aku seneng banget." Adira nampak berkaca-kaca.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Dan ini resep vitamin untuk ibu Adira," ucap Dokter Aslan sembari menyerahkan selembar kertas kecil kepada Aderald.
"Terimakasih, Dok."
Aderald pun menyuruh David untuk mengantarkan Dokter itu keluar. Kemudian dia kembali memeluk erat sang istri dan menghujaminya dengan kecupan di seluruh wajahnya.
"Selamat, ya, Dir," ucap Mira yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Makasih, Mir." Adira tersenyum manis.
"Selamat ya, Dir." Chyra juga ikut memberi selamat.
"Makasih, Chyra."
Setelah mengucapkan selamat, mereka pun keluar dari dalam kamar untuk memberi waktu bagi pasutri itu.
"Mulai saat ini, kamu nggak boleh ke capean, Sayang," ujar Aderald.
"Tunggu-tunggu, sepertinya ada yang berubah nih?"
"Kenapa? Aku nggak boleh panggil kamu, Sayang, hm?"
"Boleh dong, boleh banget malah." Adira berhambur ke pelukan Aderald.
"Kamu mau makan, Sayang?" tanya Aderald.
"Iya, aku laper...," ucap Adira manja.
"Utu utu, kasihan Sayangnya aku kelaparan. Kamu mau makan apa, hm? Biar aku cariin." Aderald menatap lekat manik mata sang istri.
"Aku mau makan... Pempek," jawab Adira dengan penuh harap.
"Pempem? Makanan apa itu?" tanya Aderald bingung, pasalnya nama makanan itu begitu asing baginya.
"Pempek! Bukan, Pempem. Itulah makanan khas palembang yang terbuat dari tepung kanji," jelas Adira.
"Aku nggak tau, Sayang. Tapi kamu tenang aja, aku bakal cariin buat kamu dan juga anak kita," ujar Aderald.
"Tapi aku maunya kamu yang bikin," ucap Adira dengan wajah memelas.
"Aku?" Aderald menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu, masa setan," ketus Adira.
__ADS_1
"Aku nggak bisa bikin itu, bentuk sama wujudnya aja aku nggak tau, Sayang. Gimana mau bikin," keluh Aderald.
"Jadi kamu nggak mau nurutin permintaan aku? Ya udah nggak pa-pa, aku mau tidur aja. Biarin aja aku mati kelaparan," sungut Adira sembari menarik selimut kemudian berbaring di ranjang.
"Sayang... Beli aja, ya." Bujuk Aderald.
Adira tidak merespon, dia sangat kesal. Benar-benar kesal. Buat apa suaminya itu menawarinya makan, jika ujungnya tidak di turuti.
"Ya udah, aku masakin pempem nya. Tapi kamu kasih tau aku gimana cara masaknya, aku kan nggak tau," putus Aderald.
"Beneran kamu mau bikinin?" Adira menatap Aderald dengan mata berbinar.
"Iya." Aderald mengangguk lesu.
"Yee! Tapi untuk cara bikinnya, kamu nonton aja tutorialnya di youtube. Terus bikinnya berdua sama David," ujar Adira.
"Sama David?"
"Iya." Adira mengangguk.
"Ya udah, aku bikinin dulu ya, pempem nya. Kamu tunggu di sini."
"Pempek, bukan pempem. Aku mau ikut, aku mau ngeliatin kamu masak."
"Ya udah ayok."
Merekapun berjalan keluar dari kamar menuju ke dapur, Aderald memapah pelan Adira karena takut sang istri terjatuh.
"Kenapa keluar, bukannya Dira harus istirahat?" David yang sedang menonton dengan Aldi menoleh.
"Adira pengen di buatin pempem, tapi yang masak gue sama elo. Yok buruan bangun, kita ke dapur bikin *****," ujar Aderald.
"Pempek, Vid." Koreksi Adira.
"Oh, pempek. Bilang dong." David segera bangkit.
"Emang lo bisa bikin?" tanya Aderald.
"Kagak!"
"Lo ikut nggak, Di?" Aderald melirik Aldi.
"Ogah, mending rebahan."
"Yodah, yuk Vid."
Kini mereka bertiga sedang berada di dapur, Aderald mempersiapkan bahan-bahan. Sementara David menonton video tutorial membuat pempek.
"Ini tepung terigu nya di apain, Vid?" Aderald menunjuk wadah yang sudah berisi tepung terigu.
"Masukin ke panci, terus tuangin air secukupnya dan juga bawang putih yang udah di blender," ujar David.
"Lalu?"
"Di buang, ya di masak lah, Bego! Jangan lupa di aduk," titah David.
__ADS_1
Aderald mengikuti ucapan David, setelah terigunya mengental, Aderald pun segera mengangkatnya. Lanjut menuangkan terigu itu pada tepung kanji yang sudah tersaji di dalam wadah, setelah itu dia juga memasukan daging ikan yang sudah di pilet dan di giling.
"Bumbunya apa aja?" tanya Aderald.
"Kasih penyedap aja sama garem, gula putih dikit. Tapi jangan pake mecin, takutnya si Dira nanti bucin," jawab David.
"Dah, terus ngapain lagi?"
"Cetak, kita bikin pempek kapal selam." David menghampiri Aderald untuk membantunya.
"Orangnya juga?" Aderald menatap David.
"Orang?" Bingung David.
"Kita kan mau bikin pempek kapal selam, masa iya kapalnya doang? Kan harus ada orangnya yang ngendaliin."
"Ini bukan kapal selam beneran, Bego! Ngapain juga pake orang. Lagian juga renangnya di kuah cuka," delik David.
"Di mangkok, Vid. Terus masuk ke perut aku," sahut Adira.
"Iya, masuk ke perut elo. Lanjut ke kali."
"Buruan cetak!" ujar Aderald.
David pun mengambil adonan tadi, kemudian dia bulatkan dan di lobangi, terus di masukin telor yang udah di rebus sebelumnya. Baru deh di bentuk menyerupai kapal selam.
"Nggak mirip." Cibir Aderald.
"Iyalah, kan bukan duplikat," sewot David.
"Sewot banget perasaan, terus ini di apain lagi?"
"Di rebus sampe ngambang kayak yang ada di empang. Lalu di goreng sampe gosong," ujar David.
"Nggak bener nih, Sayang ngasih taunya," adu Aderald pada Adira yang hanya di tanggapi Adira dengan senyum manisnya.
"Caelah, udah ganti aja panggilannya. Bukannya bebek? Sekarang kok jadi soang?" ledek David.
"Iri bilang, Bos!"
"Sorry, gue kagak ngiri, ya."
"Bilang aja ngiri, secara elu kan nggak punya ayang." Giliran Aderald yang meledek David.
"Kalo debat mulu kapan jadinya tu pempek," sahut Adira.
"Bener tuh, buruan goreng," titah Aderald.
"Kok gue?"
"Mau protes? Ok, Siap-siap aja tu kepala melayang!"
"Ok, ok. Gue goreng. Tapi lo bikin bumbunya ya."
"Bumbu?"
__ADS_1
"Bumbu pempek, tonton aja tuh tutorialnya di youtube. Sekalian lo praktekin."
"Huhhh, gue kira udah selesai." Aderald menghela napas sepenuh dada.