
Adira kini tengah tertidur pulas di kamar Aderald, mungkin dia kelelahan bertarung dan juga menangis. Sehingga dia sampai tertidur di pelukan hangat Aderald tadi. Aderald juga menemani Adira tidur, dia menatap lekat wajah wanita yang di cintainya itu.
Sebelumnya Aderald juga telah memerintahkan anggotanya untuk membawa Revan kedalam ruang tahanan dan juga membereskan kekacauan akibat pertempuran itu, tak lupa dia juga menyuruh anggotanya untuk membawa para mayat anggota BH beserta ketuanya ke dalam penangkaran buaya, supaya para mayat anggota BH menjadi santapan para buaya itu.
"Aku tidak akan membiarkan mu terluka lagi, aku tidak ingin air mata kesedihan membajiri wajah cantik mu lagi."Aderald menyibak helayan rambut Adira yang menutupi sebagian wajahnya.
"Aku akan membahagiakan mu, semampu dan juga sebisa ku Baby. Kau harus bahagia, setelah kau melewati semua persakitan dan luka yang cukup mendalam ini sehingga berbekas di relum hatimu. Aku akan menggantikan semua kenangan pahitmu dengan kenangan manis penuh kebahagiaan."
Cup,
Aderald mengecup bibir tipis Adira, kemudian dia menyesapnya lembut. Adira tetap saja nyenyak dalam mimpinya, dia tidak terganggu sama sekali.
Melihat Adira yang tertidur pulas, Aderald pun mengarahkan tangannya untuk menyibak kaos hitam yang di pakai Adira sampai ke batas dada, dia menatap dua gundukan yang masih tertutup penghalang itu.
"Huhh, melihat ini saja senjataku sudang menegng."Aderald melihat sesuatu yang nampak berdiri tegak dibawah sana.
"Sabar ya, Cil. Dua bulan lagi kamu akan masuk menjelajahi gua kenikmatan."Aderald mengelus pelan senjatanya yang dia namai Ucil itu.
Kemudian dia menutup kembali dua gundukan itu, lalu Aderald pun membaringkan tubuhnya disisi Adira dan memeluk erat tubuh Adira.
**********
Keesokan harinya.
Adira sudah segar dan juga sudah rapih dengan pakaian santainya, hari ini dia tidak pergi ke kantor, dia memutuskan untuk bersantai saja di Mansion. Begitu juga dengan Aderald, dia juga ingin menemani Adira, sepertinya dia sudah mulai bucin pada Adira sehingga pria dingin itu selalu menempel padanya.
"Semua harta keluarga Revanga sudah jatuh ke tangan mu Baby, lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya? apakah kamu ingin menghendel perusahaan itu?"tanya Aderald pada Adira yang tengah berbaring di pangkuannya.
"Kamu saja yang menghendel perusahaan itu, otaku akan meledek jika harus menghendel perusahaan seorang diri."ujar Adira sembari menatap keatas untuk melihat wajah Aderald.
"Baiklah, jika itu mau mu Baby. Aku akan meminta salah satu orang kepercayaan ku untuk menghendel perusahaan itu dan kamu cukup duduk manis saja di Mansion menjadi Nyonya Laleigh."Aderald menjawil hidung Adira gemas.
"Kan aku belum menjadi istri mu, mana bisa menjadi Nyonya Laleigh."Adira mengerucutkan bibirnya.
"Tapi sebentar lagi kamu akan menjadi istriku. Bukan kah masa idah mu akan segera usai?"Aderald mengelus lembut surai panjang Adira.
"Hm, iya sih. Memangnya setelah masa idah ku selesai kamu akan segera menikahi ku?"tanya Adira.
__ADS_1
"Tentu, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Aku takut kamu akan di ambil orang."yakin Aderald.
"Memangnya siapa yang akan mengambil ku?"Adira mengambil ponselnya kemudian memainkannya.
"Kamu tidak tau saja, di luar sana banyak yang mengagumi mu. Bahkan disini juga ada, jadi aku takut dia akan mengambil mu dariku."ujar Aderald.
"Disini? siapa?"Adira penasaran.
"Kamu tidak perlu tau."
Cukup lama mereka berbincang, hingga jam makan siang pun tiba, mereka pergi makan bersama dengan diiringi canda tawa.
Adira melayani Aderald bak seorang istri melayani suaminya, dengan cekatan Adira menuangkan berbagai makanan kesukaan Aerald ke piring sehingga piring yang di hadapan Aderald terisi penuh hingga menggunung.
"Baby, kau tidak salah menuangkan makanan untuku sebanyak ini?"pekik Aderald.
"Tidak, aku sengaja menambahkan porsi makan mu. Bukankah sebentar lagi kau akan menjadi suamiku? jadi kau harus makan banyak supaya kuat nanti."Adira berucap dengan nada sensual.
"Tidak makan sebanyak ini pun aku akan kuat Baby, mau berapa ronde hm? aku akan siap melayani."Aderald tersenyum nakal.
"Yakin? memangnya kau tau apa yang harus kau lakukan nanti. Bagaimana kalau salah masuk, ciuman saja aku yang mengajari. Sok-soan nawarin mau berapa ronde."cibir Adira.
"Polos konon, mana ada polos nan suci pandai membunuh."cebik Adira.
"Kalau itu lain lagi Baby, beda jurusan. Untuk itu aku sudah ahlinya, tapi untuk urusan bercinta, aku akui aku masih harus belajar. Tapi lihat saja nanti, aku akan membuat mu lemas tak berdaya."Aderald menyeringai.
"Buktikan lah."
"Nunggu kata sah dulu Baby, kau sudah tidak sabar hm?"
"Hm."
Setelah selesai makan siang, Adira pun memutuskan untuk pergi ke ruang tahanan. Hari ini dia akan memberi sedikit hadiah untuk sang mantan suami. Tangannya sudah gatal ingin bermain-main dengan pisau lipat kesayangannya.
"Halo mantan suamiku yang paling aku benci, bagaimana kabar mu hm? pasti sangat buruk bukan?"Adira berjalan menghampiri jeruji besi tempat Revan di tahan.
"LEPASKAN AKU BEDEBAH SIALAN."teriak Revan.
__ADS_1
"Aku pasti akan melepaskan mu, kau tenang saja. Maksudku melepaskan nyawa mu dari dalam raga mu."Adira tersenyum mengerikan.
"IBLIS KAMU ADIRA, AKU BENAR-BENAR MENYESAL KARNA TELAH MENIKAHI IBLIS SEPERTI MU."teriak Revan begitu menggelegar.
"Bukan kah kamu yang membuat aku menjadi seperti ini Revan. Penindasan mu dan juga keluarga mu lah yang membuat ku menjadi seperti sekarang."Adira menatap Revan dengan bersidekap dada.
"Kau tau Revan, dendam orang yang tersakiti itu akan lebih mengerikan."Adira memutar-mutarkan pisaunya di hadapan wajah Revan yang berada di dalam jeruji besi.
"Bagaimana jika wajah jelek mu aku ukir ya, pasti akan menjadi sangan indah."ucap Adira dengan aura yang dingin.
"LEPASKAN AKU SIAALAN."teriak Revan.
"Baiklah. Dave lepaskan dia."perintah Adira kepada David yang sedang berdiri di belakangnya.
David pun mengangguk, kemudian dia mengeluarkan Revan dari dalam jeruji besi itu. Sontak saja Revan langsung menyerang Adira dengan sebelah tangannya yang masih tersisa.
Dengan santainya Adira membiarkan Revan menyerangnya, rasanya seperti di pukuli anak bayi, menurut Adira.
BRUKK,
Karna bosan, Adira pun langsung saja menendang Revan dengan menggunakan lututnya sehingga Revan terjerembab ke lantai.
DUKK.
Adira menginjak dada Revan yang sedang terlentang.
"Dulu, tubuh ini sering menyiksa ku. Sekarang giliran ku untuk menyiksa tubuh ini."Adira berjongkok untuk menatap wajah Revan.
"Kau memang pantas untuk di siksa."ucap Revan sembari memberontak.
"Oh ya, tapi sayang sekarang kau tidak bisa menyakiti ku lagi. Sekarang waktunya giliran ku."
Bugh,
Bugh,
Dukhh,
__ADS_1
Dughh,
Tinggalkan jejaknya dong para readers tersayang๐๐๐๐