IKHLAS Seperti Surat AL-IKHLAS

IKHLAS Seperti Surat AL-IKHLAS
Cinta dari Kisah Mereka sang Tauladan


__ADS_3

Di jam yang sama, disujud yang sama tapi di tempat yang berbeda, Nabilla pun tengah menadahkan tangan nya..


‘’Ya Allah… bantulah aku menyerahkan keseluruhan diriku sehingga dapat menerima semua yang Engkau berikan kepadaku…’’


‘’Ya Allah, pancarkan cahaya-Mu kepadaku, agar mataku dapat sadar akan kebenaran-Mu, dan agar hatiku dapat di terangi oleh pantulan keindahan –Mu…’’


‘’ya Allah mampukan aku mendapatkan cinta yang sesungguhnya, pertemukan kami di waktu terbaik dari-Mu…’’


‘’Cinta terbaik yang mampu membuat akhlakku semakin indah, jiwaku semakin damai, dan hatiku semakin bijak..’’


‘’Pertemukan aku dengan Dia yang menjadi peneguh saat taatku luntur, jadi penasehat saat tengah lengah dalam doa, jadi pelipur saat senangku sedang lebur…’’


‘’Cinta terbaik yang membawaku ke Syurga-Mu…’’


‘’Aamiin Allahuma Aamiin…’’


Selesai bermunajat kepada yang Maha Kuasa Nabilla menuju meja nya, diambil nya buku yang setia menjadi catatan nya selama di ponpes Al-Hikmah.


-Enam bulan sudah aku berada disini… begitu banyak pembelajaran yang aku dapatkan…- tulis Nabila di lebar paling atas


Dari kisah Nabi Adam dan Siti Hawa kita belajar bahwa ujian Cinta adalah Jarak dan Rindu.


Dari Kisah Nabi Ibrahim dan Siti Hajar kita belajar bahwa Keikhlasan hati akan menghantarkan kita pada Cinta Sejati.


Dari kisah Nabi Ayyub dan Siti Rahmah kita belajar bahwa modal terbesar untuk menyatukan dua insan adalah Kesetiaan.


Dari kisah Nabi Yusuf dan Siti Zulaikha kita belajar bawa mencintai Sang Pencipta akan menanggalkan Nafsu terhadap Rupa.


Dari kisah Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah kita belajar bawa Cinta adalah Kesetiaan, Berkorban, Kesediaan mempercayai di saat tak ada seorangpun yang sudi percaya.


Dari Kisah Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah kita belajar bahwa tak ada balasan yang lebih menyenangkan selain kabar baik dari letihnya menunggu.


‘’nulis lagi, apa nih isi catatan hari ini..kepo nich?’’ Tanya Maryam yang baru saja selesai menunaikan sholat malam juga.


‘’mencatat makna cinta yang kak Maryam beritahu tadi...dan kesimpulan dari isi tausiah Ustadzah kemarin kak….’’


‘’Masyaallah tentang cinta… jadi gimana udah mantap belum..?’’ Tanya Maryam sembari melipat mukena nya


‘’rencana Allah begitu indah kan kak…? Nabilla serahkan semua nya kepada sang perencana..’’ jawab Nabilla


‘’kalau kak Maryam kenapa belum menentukan jawaban atas pinangan ustad Alif…?’’


‘’sedang bermunajat Na. memohon kemantapan hati juga.. doakan ya yang terbaik, aku ini anak yatim Na, dari kecil disini, bisa sampai di titik saat ini berkat kebaikan Pak Kiai dan Ummi , sedangkan ustad Alif anak pemilik pondok…’’


‘’Bukankan Allah punya cara nya dalam mengangkat derajat setiap hamba nya..?’’ tanya Nabilla


‘’baik ustadzah…’’ jawab Maryam


‘’aku ini masih santri kak, gak pantas di panggil ustadzah…’’ Balas Nabilla


‘’Ustad dan Ustadzah itukan artinya Guru…kan kamu selain santri juga guru disini…’’


‘’belum pantas rasa nya kak…’’


‘’gelar itukan kamu dapatkan , bukan kamu sendiri yang memberikan…’’


‘’Na mau merendam pakaian dulu ah, nanti pagi tinggal di cuci…’’ balas Nabilla mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Maryam hanya bisa manggut-manggut


🌺


‘’Bay, lo udah baca agenda wawancara kita…?’’ Tanya Bagas saat berada di ruangan Bayu


‘’udah sih, ada beberapa kota untuk beberapa bulan kedepan…’’ jawab Bayu


‘’oh ya kontrak kerja bareng Fitri udah di revisi..?’’


‘’kan dari pertama lo yang nangani bang, mana gue tahu… ‘’


‘’tapi beberapa bulan ini lo yang sering bahas kerjaan sama Fitri…’’


‘’iya memang benar, tapikan kontrak awal lo yang pegang…gue cuma bahas rencana atau agenda aja..."


‘’ok..ok, nanti biar di cek sama Indah… oh ya soal isu lo sama Fitri..?’’


‘’gue sama Fitri gak lebih dari rekan atau teman…’’


‘’tapi dari teman kan bisa…’’


‘’gue banyak kerjaan ya bang, lo keluar gih sana…’’


‘’ngusir..?’’


‘’gak lah , Cuma lo bahas nya gak enak aja di dengar..’’


‘’Bay, move on donk…’’


‘’gue udah move on, keluar gih sana…’’


‘’emang Mama lagi dimana…?’’


‘’lagi belanja..biasa urusan dapur katanya…gue duluan’’


Bayu hanya menjawab dengan anggukan kepala.


‘’hati-hati..’’ ucap Bayu saat Bagas sudah membuka pintu


‘’siaap…’’


Di salah satu supermarket


‘’Assalamualaikum , bu Laras…’’ sapa seorang wanita dengan jilbab berwana Navy


‘’ waallaikumusallam , hmmm kayak pernah lihat ya…’’jawab Mama Laras


‘’Saya Fitri bu, pertama kali kenal sama Ibu di rumah tante Dina…’’ jawab Fitri, ya wanita itu adalah Fitri


‘’Masyaallah iya saya baru ingat, pas tasyakuran anak Dirga dan Ningsih ya kan, Fitri apa kabar? Masih sering pulang..?’’


‘’Alhamdulillah baik Bu, ibu gimana kabar nya? Sendirian..?’’


‘’Alhamdulillah, iya nih sendirian, biasa sama menantu, tapi lagi nyidam…’’ jawab Mama Laras


‘’Masih siaran di BP…?’’ Tanya Mama Laras

__ADS_1


‘’Alhamdulillah masih di percaya…’’


‘’sangat di percaya malahan Ma… ‘’ Ujar Bagas yang tiba-tiba sudah ada di antara dua wanita itu


‘’Pak Bagas…’’ sapa Bagas


‘’janganlah terlalu formal, kan kita lagi gak di kantor…’’


‘’gak papa Pak, lebih nyaman seperti itu…’’


‘’Mama udah selesai belum nich..?’’


‘’udah ini tinggal dorong ke kasir…Fitri gimana udah selesai?’’


‘’Masih harus keliling Bu, kalau begitu Bu Laras dan Pak Bagas saya tinggal dulu, mau milih belanjaan..’’


‘’baik lah, next semoga bisa ketemu lagi ya, salam buat Mama kamu…’’


‘’ Waallaikumusallam, In Syaa Allah saya sampaikan Bu… ibu hati-hati…’’


Mereka pun berpisah, Bagas dan Mama Laras menuju kasir sedangkan Fitri melanjutkan belanja nya.


‘’Gimana Ma..?’’ Tanya Bagas sembari mendorong troli


‘’apa nya yang gimana..?’’ Tanya Mama Laras sedikit bingung dengan arah pertanyaan Bagas


‘’Fitri, cocok kan di jadikan menantu..?’’


Bukan jawaban Mama Laras malah menjewer telinga Bagas


‘’aduh sakit Ma, kok Bagas malah dijewer sih..’’


‘’kamu ini gimana sih, istri lagi nyidam malah mikirin wanita lain, kamu mau Mama pecat jadi anak..?’’ ancam Mama Laras sembari melotot ke arah Bagas


‘’Astagfirullah Ma, bukan buat Bagas, tapi buat Bayu…’’ jawab Bagas sembari mengusap telinganya yang panas akibat di jewer oleh Mama Laras


‘’Astagfirullah , Mama Kira…’’


‘’hmmm… satu aja ampun, gimana dua…’’ guman Bagas


‘’Ma, Bayu itu udah waktu nya move on, Fitri itu baik, sholeha lagi…’’


‘’Gas, adikmu itu pasti punya pilihannya sendiri, biarkan dia yang menentukan pilihan, kita doakan yang baik-baik aja ya…’’


‘’Mama yakin..?’’


‘’In Syaa Allah..udah ya, kita udah di kasir nih…’’


Mbak penjaga kasir pun hanya bisa tersenyum melihat Ibu dan anak itu, ya sekalipun dia gak tahu apa yang ibu dan anak itu sedang perdebatkan.


‘’Mbak, saya udah punya istri, anak saya udah mau dua…’’ ujar Bagas


‘’mbak anak saya suka bercanda, gak usah di ambil hati ya..’’ujar Mama Laras


‘’kan Bagas jujur Ma…’’balas Bagas


‘’udah kamu tunggu aja di depan sana…’’

__ADS_1


Mbak penjaga kasir pun malah terkekeh melihat Bagas yang meninggalkan sang Mama sembari memanyunkan bibirnya.


__ADS_2