
Hari ini Bayu hanya setengah hari berada di kantor, selepas sholat Dzuhur Bayu sudah berada di rumah, sesuai permintaan sang Papa karna ingin mendiskusikan mengenai acara resepsi yang akan di adakan di kediaman orang tua Nabilla.
Nabilla nampak sibuk menyusun pakaiannya dan pakaian Bayu ke dalam lemari.
Tok..Tok..Tok
"Na..bunda boleh masuk..." terdengar suara Bunda Ayu dari balik pintu
"masuk aja Bun, gak Na kunci kok..." balas Nabilla sembari menutup lemari.
"Lagi sibuk...?" tanya Bunda saat sudah berada di dalam kamar Nabilla
"Ini baru selesai ngurusin pakaian, kenapa Bun...?? kok kayaknya ada yang serius banget...??" Tanya Nabilla yang heran melihat raut wajah sang Bunda
"duduk dulu yuk, ada yang mau Bunda tanya..." jawab Bunda Ayu
"ya udah kita ke balkon aja ya, adem kok..." ajak Nabilla
Nabilla dan sang Bunda pun menuju balkon kamar.
Mereka duduk di kursi panjang yang tersedia...
Tanpa mereka sadari ternyata Bayu yang baru saja pulang dari kantor sudah berada di kamar, meletakkan tas kerja nya, lalu mencari keberadaan sang istri di kamar mandi, namun tidak ada tanda-tanda sang istri sedang berada di kamar mandi.
"Kalian gak ada kepikiran untuk tinggal di rumah sendiri..??" tanya Bunda ke Nabilla
Jika Nabilla kaget dengan pertanyaan Sang Bunda, Bayu malah penasaran dengan suara yang ada di balkon, Bayu pun berjalan menuju Balkon
"Bunda kok tiba-tiba tanya gitu...??" tanya Nabilla
"Tapi pagi Bunda gak sengaja lihat apa yang terjadi di dapur..." jawab Bunda
Bayu yang mendengar penuturan Bunda pun memilih menghentikan langkahnya.
"mungkin bawaan cabang bayi Bun, biasa Kak Retno gak seperti itu kok.."
"Na... kita gak pernah tahu isi hati orang, tinggal dengan mertua saja itu butuh kesabaran, karna tidak semua mertua menganggap menantu nya seperti anak nya sendiri..."
Awalnya Bayu ingin keluar, tapi kata-kata Bunda barusan membuat Bayu penasaran,.apa sebenarnya yang terjadi.
"untuk mbak Laras, Mama mertua kamu itu Bunda sangat mengenal nya, dia wanita yang baik dan sangat sabar, dia tidak pernah membeda-bedakan orang.. Bunda percaya dia akan menyayangi kamu seperti anak nya sendiri..." ujar Bunda
__ADS_1
"tapi bagaimana dengan Retno..? jujur kejadian tadi pagi membuat Bunda khawatir..."
"seperti kata Bunda tadi, bisa tinggal serumah dengan mertua itu hebat, tapi jika di tambah tinggal dengan kakak ipar itu benar-benar gak mudah Na... Bunda sudah mengalami dulu"
"kadang ada saja kecemburuan sosial, apalagi kamu menantu baru, dari anak paling kecil, setahu Bunda Bayu itu sangat dekat dengan Mama nya..."
"Bun, doain yang baik-baik aja ya... Na coba berfikir positif aja, mungkin sikap kak Retno tadi pagi ini bawaan dari cabang Bayu nya..." Balas Nabilla, Nabilla paham akan arah pembicaraan sang Bunda
"hmmm Mama pernah menyinggung soal rumah kepada Na, tapi Na juga belum tanya sama mas Bayu.... sebagai istri Na akan ikuti apapun keputusan mas Bayu..." tambah Nabilla
"Na yakin kak Retno adalah kakak ipar yang baik kok Bun..." Tambah Nabilla lagi menenangkan sang Bunda
"terus bagaimana dengan Bagas...?" tanya Bunda
"Mas Bagas...??" Tanya balik Nabilla dengan penuh keheranan
"Bunda pernah baca sebuah artikel yang bilang gini....Iparmu Mautmu..."ujar Bunda
"Na baru dengar Bun..." balas Nabilla
Bunda pun membuka kunci benda pipihnya.
"Sebentar bunda lihat di note Bunda, bunda gak ingat, tapi ada Bunda catat..."
"Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda" Bunda mulai membaca catatan nya
“Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita.” Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” Beliau menjawab, “Hamwu (ipar) adalah maut.” (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172)
Nabilla berusaha mencerna akan Hadis yang baru saja Bunda bacakan.
"Kamu telah memutuskan memakai cadar, Bunda yakin keputusan anak bunda ini semuanya sudah di pikiran dengan matang"
"seperti yang kita tahu, ada beberapa mazhab mengenai cadar..." tambah Bunda
"Jika anak Bunda ini memiliki mengikuti Mazhab yang menyatakan bahwa memakai cadar itu wajib, maka akan dosa jika Na membuka nya di hadapan ipar Na, karna ipar bukan mahram..."
"tapi jika anak Bunda ini memiliki mengikuti Mazhab bahwa memakai cadar itu Sunah, maka membuka nya di hadapan ipar itu tidak akan membuatnya menjadi dosa.."
"Dengan pilihan ini pasti gak mudah, dan bunda mengatakan semua ini bukan bunda tidak percaya dengan kalian, tapi alangkah lebih baik jika kita menjaga semua nya.."
Nabilla paham akan arah pembicaraan sang Bunda, karna Nabilla memang tidak pernah membuka cadar nya selain di dalam kamar, karna Bagas bukanlah Mahram nya, sekalipun Bagas sudah pernah melihat wajahnya sebelum dirinya memutuskan mengenakan cadar.
__ADS_1
"Bunda Na paham akan ke khawatiran bunda, tapi percayalah, In Syaa Allah semua akan baik-baik saja, sikap kak Retno tadi bisa jadi karna mood nya, atau bawaan si cabang bayi..."
"dan mengenai mas Bagas, In Syaa Allah na gak keberatan kok harus selalu mengenakan cadar ini, karna ini sudah keputusan Na sebelum menjadi bagian dari keluarga ini.."
"baik lah Bunda hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kalian..." balas Bunda sembari memeluk sang putri tersayang nya
Bayu di buat tertegun mendengar pembicaraan ibu dan anak itu.
Ada rasa penasaran dengan yang terjadi di dapur tadi pagi.
Bayu juga baru terfikir mengenai kenyamanan Nabilla saat harus terus berhadapan dengan Bagas.
Bayu percaya Bagas tidak akan macam-macam, walaupun Bagas orang nya kalau ngomong asal ceplos, tapi Bagas sangat tahu batasan.
Tapi pendapat Bunda ada benarnya, Nabilla telah memutuskan untuk memakai cadar, akan berat jika dia harus membukanya di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya.
Bayu memutuskan untuk mundur menuju nakas dimana dia meletakkan tas kerjanya tadi
"Sayang... kamu dimana...??" panggil Bayu , dia sengaja seolah-olah tidak mendengar pembicaraan Sang istri dengan sang ibu mertua.
Nabilla yang mendengar panggilan dari sang suami pun bergegas beranjak dari posisi duduk nya.
"Mas udah pulang...?" tanya Nabilla di depan pintu balkon lalu mendekat ke arah sang Suami.
Lalu Nabilla mencium tangan Bayu saat sudah berada di hadapan Bayu
"iya tadi Papa minta Mas untuk pulang cepat, ngapain di balkon..?" balas Bayu lalu mencium kening Nabilla
"lagi ngobrol sama Bunda..." terdengar suara Bunda yang sedang berdiri di depan pintu balkon
"Ada bunda juga...??" Bayu pun menghampiri Bunda lalu mencium tangan Bunda
"balkon kamu enak Bay, adem...betah kalau nyantai di balkon kamu..."
"iya itu Mama yang buat Bun, karna kan Bayu kalau malam suka duduk santai di balkon, jadi di desain ulang sama Mama..."
"sekarang udah nikah masih suka duduk di balkon juga gak tuh...??"
"hmm... enak duduk bareng istri Bun..." jawab Bayu sembari membawa Nabilla dalam rangkulannya
"ya udah , Bunda keluar ya..."
__ADS_1
"kalau masih mau ngobrol juga gak papa kok Bun..." balas Bayu
"udah... gantian kalian aja yang ngobrol..." balas Bunda sambil menepuk pundak Bayu.