
“Brukk…..” Terdengar suara yang cukup keras dari kamar Dewi. Bi Inem yang sedang membersihkan ruang tamu yang cukup lebar itu terkejut dan segera berlari menaiki anak tangga menuju ke kamar majikan mudanya untuk melihat keadaannya karena rasa khawatir yang berlebihan terhadap Dewi yang akhir–akhir ini terlihat kurang sehat.
Maklum saja, sebagai seorang pembantu rumah tangga sudah menjadi tugas Bi Inem untuk selalu menjaga Dewi disaat orang tuanya tidak dirumah. Apalagi Bi Inem sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh majikannya dan sudah bekerja hampir 20 tahun lamanya melayani keluarga Dewi.
Dengan terburu–buru Bi Inem langsung membuka pintu kamar Dewi yang kebetulan tidak terkunci dan langsung mendatangi Dewi yang sedang memegang kepalanya yang terlihat sakit, lalu bertanya “Non, Non Dewi kenapa? Non jatuh ya? Kok bisa non? Mana yang sakit non? Sini biar Bibi lihat.”
“Duuh… bibi, kapan Dewi jawabnya kalau bibi nanya terus. Tambah sakit nih kepala Dewi jadinya.” Jawab Dewi dengan sedikit cemberut sambil tetap memegang kepalanya yang masih sakit.
Bi Inem hanya tersenyum mendengar jawaban Dewi lalu mengambil minyak kayu putih di meja rias Dewi, menuangkannya di telapak tangan, lalu mengusapkannya di dahi bagian atas Dewi.
Kemudian Dewi menjawab pertanyaan Bi Inem yang tadi sempat tertunda jawabannya. “Tadi Dewi mimpi buruk bi, terus tanpa sadar tiba–tiba Dewi terjatuh dari tempat tidur. Ya gini deh jadinya.”
“Owalah Non Dewi–Non Dewi, mimpi buruk kok siang hari. Setahu Bibi sih orang mimpi buruk itu di malam hari doang non.” Kata Bi Inem sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Ada loh bi orang yang mimpi buruk di siang hari.” Dewi membantah tapi langsung dipotong oleh Bi Inem.
“Buktinya Non Dewi, gitu?”
“Iya”. Dewi menjawab dengan sombong.
Melihat mimik wajah Dewi yang sombong, Bi Inem lalu berkata, “Mimpi buruk aja kok sombong sih non?”
“Harus dong bi. Kan tadi bibi yang bilang kalau gak ada orang yang mimpi buruk di siang hari. Berarti kan Dewi orang pertama yang merasakannya.” Dewi tertawa.
“Memangnya Non Dewi mimpi apa? Dikejar–kejar setan?” Bi Inem tertawa cekikikan meledek Dewi.
“Udah ah non , bibi ngeri ngeliatnya. Entar cantiknya hilang loh. Lagipula Pak Wiryasono itu kan baik dan…” Dewi memotong perkataan Bi Inem.
“Yee… baik apaan? Nih ya bi, Dewi kasih tahu, Dewi tuh sampai mimpi buruk gini gara–gara bapak itu mau minta lagu baru Dewi secepatnya GPL Gak Pakek Lama." Potong Dewi dengan wajah yang cemberut.
__ADS_1
“Ya sudah non bikin saja lagunya jadi kan Pak Wiryasononya gak marah.” Kata Bi Inem.
“Yee mau nya sih juga gitu bi, tapi Dewi belum bisa buat bi, karena Dewi belum dapat inspirasi nih. Lagian bikin lagu itu kan gak mudah, kita tuh harus benar–benar menghayati dan memahami isi dari keseluruhan lirik lagu dan aransemen musik seperti apa yang cocok untuk lagu yang kita buat.” Dewi menjelaskan panjang lebar.
“Kalau gitu non, bikin lagu tentang bibi aja. Judul nya pembantu eksis. Hahaha….” Bi Inem tertawa sampai mengeluarkan air matanya.
“Pembantu eksis? Pembantu alay kale…” ketus Dewi.
“Lagian nih ya, kalau Dewi bikin lagu tentang bibi, entar gak laku kayak mana? Bisa budeg telinga Dewi bi dengar omelannya Pak Wiryasono.” Dewi duduk di tempat tidurnya dan mempersilahkan Bi Inem duduk disampingnya. “Duduk bi.”
“Iya non.” Bi Inem duduk dan melihat wajah Dewi yang kurang segar, lalu bertanya, “Non masih sakit kepalanya? Sini biar bibi pijitin. Atau kita ke dokter saja? Non terlihat pucat loh.”
"Enggak kok bi, Dewi udah gak sakit lagi. Ngapain ke dokter?” jawab Dewi.
Bi Inem berdiri mengambil smartphone Dewi di meja belajar miliknya lalu memberikannya pada Dewi. “Ini non, telepon Non Mawar saja biar ada yang bantuin. Bibi mau bikin teh jahe hangat dulu untuk Non Dewi biar agak enakan.”
__ADS_1
Bi Inem keluar dari kamar Dewi menuju ke dapur sementara Dewi hanya menatap layar smartphone-nya saja yang masih terkunci dan bergumam sendiri. “Buat apa manggil Mawar kemari? Emangnya dia bisa buat lagu? Bukannya bantuin, entar malah ngangguin.” Setelah terdiam sejenak, Dewi pun membuka kunci layar smartphone-nya dan mencari nama Mawar di panggilan terakhir *smartphone*\-nya karena Mawar merupakan satu–satunya orang yang selalu ditelepon oleh Dewi setiap kali ia merasa kesepian. Dengan menekan lambang yang berwarna hijau di layar *smartphone*\-nya dan mendekatkan *smartphone*\-nya ke telinga kanan, Dewi menunggu sahabatnya untuk mengangkat telepon darinya. Alhasil, setelah mendengar nada “tuut” sebanyak tiga kali akhirnnya Mawar menjawab “ Halo. Kok tumben gak nelpon gue? Loe tau, dari pagi gue nungguin telepon dari loe. Kok udah jam segini baru nelpon gue? Elo tuh ya….” “Eh Mawar, lebay banget sih loe?” potong Dewi. “ Baru aja gak di telepon beberapa jam, udah heboh. Lagian loe kan bisa nelpon gue kalau mau?” “ Yee loe kayak gak tau aja, gue kan gak punya pulsa. Malah paket internet gue udah habis lagi. Hehehe. O iya loe ada perlu apa nelpon gue? Ada yang bisa di bantu nyonya Dewi? Hahahaaaa…” Mawar tertawa lebay tetapi sepertinya nada bicara Dewi mulai serius. “ Datang kemari dong? Gue lagi setres nih. O iya, bilang sama mama loe nanti malam loe nginap dirumah gue.” “Berani bayar berapa bro?” Tanya Mawar. “ Satu juta”, ketus Dewi. “ Wah keren tuh.” Mawar mengejek Dewi. “ Iih udah ah jangan bercanda terus. Bisa gak?” Dewi menaikkan nada bicaranya yang menandakan keseriusannya saat itu. “ Iya bisa. Tenang aja, entar jam lima gue gue sampai disitu oke?” “ Jam lima atau jam enam?” Tanya Dewi dengan serius karena Mawar sangat terkenal sekali tidak pernah tepat waktu alias jam karet. “ Jam lima. Hehe” Jawab Mawar dengan sedikit malu karena mengerti dengan maksud sang sahabat. “ Bener ya? Awas aja kalau sampai telat.” Ancam Dewi. “ Memangnya ada apa sih?” Tanya Mawar heran. “Gak apa–apa kok . nanti gue certain semuanya sedetail–detailnya ok. Bye. ” Tanpa mendengar jawaban Mawar Dewi langsung mengakhiri panggilannya karena takut Mawar akan memperpanjang pembicaraannya yang membuat Dewi semakin setres dengan pertanyaannya yang banyak. Tiba–tiba Bi Inem datang dan mengetuk pintu kamar Dewi yang terbuka “tok–tok–tok ”, “Non, ini teh jahe angetnya. Cepat diminum Non, nanti keburu dingin.” Pinta Bi Inem. “ Iya Bi.” Kata Dewi sambil mengambil secangkir teh yang Bi Inem berikan, meniupnya dengan perlahan kemudian menyeruputnya sedikit demi sedikit lalu menghabiskannya dengan cepat dan langsung memberikannya lagi pada Bi Inem. “Ini Bi.” Bi Inem mengambil cangkir tersebut dan bermaksud untuk keluar dari kamar Dewi akan tetapi Bi Inem berbalik badan dan kembali lagi ke kamar Dewi sambil bertanya, “ Bagaimana Non? Non Mawar jadi datang atau tidak?” “Jadi Bi.” Jawab Dewi dengan singkat. “Nanti malam mau Bibi masakin apa?” Tanya Bi Inem. “Apa saja deh Bi.” Jawab Dewi. “Beres Non” Bi Inem tersenyum “ Oh iya Non, nanti kalau butuh apa–apa panggil Bibi saja. Bibi mau lanjut beresin ruang tamu dulu.” Dewi hanya menjawab dengan anggukan. Kemudian Bi Inem keluar dari kamar Dewi. Dewi yang sendirian kemudian menatap kelangit–langit kamarnya cukup lama dalam tatapan kosong, lalu berbicara sendiri. “Dulu semuanya terlihat mudah, bikin lagu doang mah kecil. Tapi sekarang…huuuhhh….” Dewi menghela napas yang panjang. “Mungkin ini kali ya resikonya jadi penyanyi. Harus selalu siap mengembangkan kreativitas mengarang lagu agar selalu ngehits. Inspirasi–inspirasi, sulit banget sih nyari inspirasi? Malah Mama sama Papa lagi di luar negeri, punya temen gak ada yang bisa di harapkan, mau tannya sama siapa lagi coba? Ah udah ah ribet banget hidup ini. Mendingan aku mandi dulu deh biar seger sambil nunggu Mawar datang.” Dewi melihat jam yang saat ini sudah menunjukkan pukul empat sore, kemudian Dewi bangkit dari tempat tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.