Inspirasi

Inspirasi
Membeli Roti


__ADS_3

Dewi tiba di sekolah dengan cepat hari ini. Saat sampai di gerbang Dewi langsung memperhatikan jam hitam kesayangannya yang selalu melekat di tangannya setiap hari saat ia ke sekolah. "Huuh masih pukul 06.56 WIB, apa dia sudah sampai ya?" Secara tak langsung sebenarnya Dewi sedang melamun sehingga tak menyadari bahwa pak supir telah memarkirkan mobil ayah Dewi di parkiran. "Non, kita sudah sampai nih." Dewi segera terbuyar dari lamunannya dan langsung keluar dari mobil. Lalu Dewi pun memperhatikan keadaan sekitar sekolah. "Hmm... syukurlah masih belum ramai. Sebaiknya aku langsung ke kantin saja keburu ramai."

__ADS_1


Saat sampai di kantin, Dewi langsung membeli 2 botol air mineral dan 1 roti kesukaannya, yaitu coklat. Dewi juga ingin membelikan Reza roti, tapi kemudian Dewi terpikir bahwa ia tidak mengetahui rasa roti kesukaan Reza. Ia bermaksud mengeluarkan smartphone-nya untuk menanyakan rasa kesukaannya tapi niatnya langsung terhenti ketika dia melihat roti kacang merah yang sangat menggoda selera. Ia langsung membeli 1 roti itu juga untuk Dimakan bersama Reza. "Yang ini sajalah. Kalau dia tidak suka, biar dia makan yang coklat saja. Lagipula aku suka keduanya kok. Dan rasanya tidak mungkin kalau Reza tidak menyukai coklat." Dewi berjalan keluar kantin untuk menemui Reza di atap sekolah tapi langkahnya langsung terhenti seketika karena melihat Mawar dihadapannya. "Mau kemana loe Dew? Buru-buru banget." Dewi diam mematung tak tahu harus mengatakan apa pada Mawar. Mawar melihat Dewi dari bawah ke atas, sepertinya ada yang aneh dari sikap Dewi hari ini. Dewi tidak pernah mau ke kantin sekolah di pagi hari karena kantin cukup ramai dipenuhi oleh siswa yang sedang sarapan. Pernah beberapa kali Mawar mengajaknya kesana, tapi Dewi selalu menolaknya dengan alasan sudah sarapan di rumah dan makanan yang dibuat Bi Inem lebih sehat dibandingkan yang dijual di kantin sekolah. "Kenapa kamu beli roti Dew? Kamu gak sarapan? Memangnya Bi Inem gak masak hari ini?" "Gak kok War, Aku... eh gue cuma malas sarapan saja hari ini, gue cuma mau makan roti. Itu saja kok, gak lebih." Dewi mencoba berjalan menjauhi Mawar namun Mawar malah semakin mendekati Dewi. Ada ekspresi takut di wajah Dewi yang membuat Mawar semakin curiga dengan sahabatnya ini. Saat Mawar melihat tangan Dewi, ada 2 botol air mineral dan 2 buah roti disana. "Dew, kamu yakin mau makan sebanyak itu?" "Hah... i- iya War," jawab Dewi dengan gugup. "Terus kenapa minumnya 2 botol? Kamu kan gak terlalu suka minum air mineral Dew?" Mawar menaikkan sebelah alisnya yang membuat Dewi benar-benar merasa terintimidasi olehnya. Namun entah ada angin apa yang langsung membuat ekspresi gugup di wajah Dewi berubah jadi senyum percaya diri seperti biasanya. "Justru itu War, gue sudah putuskan mulai hari ini akan minum banyak air mineral agar menjadi sehat, dan untuk masalah roti, sebenarnya gue lagi laper banget makanya gue beli 2 roti." Mawar diam sejenak untuk mencerna semua penjelasan yang Dewi katakan padanya. Ada rasa ragu yang terpapar jelas di wajah Mawar saat itu. "Sudah deh War, jangan mikir yang macam - macam. Gue mau ke atap sekolah dulu buat sarapan, entar keburu bel masuk. Sampai ketemu di kelas ya." Dewi langsung berjalan meninggalkan Mawar yang madih berdiri mematung karena tidak menyangka dengan apa yang baru saja dilihatnya hari ini. Tiba-tiba, kembali terlintas di pikiran Mawar tentang sosok Reza yang sedang membeli roti beberapa saat sebelum Dewi ke kantin. Mawar pun bergumam sendiri dalam hatinya. "Sikapnya sangat aneh belakangan ini. Apa Dewi benar-benar dekat dengan Reza? Kenapa dia belum cerita apa-apa ke gue soal kejadian kemarin? Dan kenapa dia gak nelepon gue tadi malam? Ini gak bisa dibiarkan begitu saja, pokoknya Dewi harus jelasin semuanya hari ini dan saat ini juga." Mawar pun berjalan menuju atap sekolah dengan wajah kesalnya yang membuat beberapa orang siswa segera menyingkir dari hadapan Mawar ketika dia melewati mereka. Ya begitulah Mawar jika sedang marah, tak peduli dengan keadaan sekitar dan selalu mencari masalah dengan orang yang menghalangi jalannya. Sehingga ketika dia sedang marah ataupun kesal, tak jarang banyak siswa yang langsung menyingkir darinya untuk menghindari masalah dengan cewek yang cukup populer itu di sekolah.

__ADS_1


***

__ADS_1


***

__ADS_1


Setelah menaiki anak tangga yang banyak itu, Mawar pun tiba di atap sekolah dengan napas yang sedikit terengah-enggah. Dia ingin menemui Dewi untuk meminta penjelasan, namun langkahnya langsung terhenti saat melihat Reza yang ternyata juga ada disana. "Jadi ternyata selama ini benar ya kalau Dewi dan Reza itu punya hubungan. Dan parahnya dia belum cerita apapun ke gue. Teman macam apa yang menyembunyikan hal sebesar ini? Lihat saja nanti Dew, kamu pasti akan menceritakan semuanya padaku, dengan... atau tanpa paksaan." Mawar pun langsung meninggalkan atap sekolah tanpa banyak berpikir lagi. Sungguh, pikirannya benar-benar dipenuhi oleh hal-hal yang negatif tentang Dewi hingga ia kehilangan sosoknya yang periang dan menyebalkan itu. Saat sampai di kelas, Mawar yang biasanya selalu heboh itu kini hanya duduk dengan wajah yang sangat tidak menyenangkan sambil menunggu Dewi untuk menceritakan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2