Inspirasi

Inspirasi
Pertemuan


__ADS_3

Dewi menutup buku yang ia baca dan mengembalikannya ke rak tempat ia mengambil kedua buku tadi. Kemudian ia keluar dari perpustakaan dan menaiki anak tangga untuk kembali ke kelasnya.

__ADS_1


Saat ingin kembali ke kelas, Dewi teringat bahwa ia harus menemui Eza saat itu juga karena jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB tepat. Eza… ya setidaknya itulah nama lelaki yang diberitahu Mawar untuk membantunya membuat lagu. Setelah bersusah payah membujuk Mawar dengan kata-kata manisnya, akhirnya Mawar bersedia juga memberitahukan nama lelaki tersebut. Memang sih Dewi itu sangat pintar berkata-kata, sampai-sampai ia mampu membujuk seseorang seperti Mawar yang tergolong sangat keras kepala dan susah sekali diajak untuk berkompromi.

__ADS_1


Dewi berjalan dengan cepat menuju kelasnya dan langsung memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas biru miliknya yang besar dengan perasaan kesal dalam hati karena untuk pertama kalinya Dewi merasa bahwa ia akan terlambat untuk menemui seseorang. Padahal ia sedari tadi sudah berada di tempat tersebut, tetapi karena buku-buku yang menyebalkan ini Dewi harus kembali lagi ke kelas. Dewi tidak ingin membuat kesan pertama dengan Eza seakan-akan ia adalah sosok orang yang pintar dan cuek terhadap orang lain karena lebih mementingkan buku-bukunya. Alhasil, beginilah jadinya.

__ADS_1


Dewi pun kembali ke atap sekolah dengan semangat, namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang sedang menunggunya. Apakah ia sudah sangat lama menunggunya? Dewi melihat kembali jam yang ia kenakan ditangannya dan ternyata sudah menunjukkan pukul 10.15. “Waduh, gawat. Udah telat 15 menit nih. Gimana ya?” Dewi kembali panik dan mencoba menenangkan dirinya kembali namun kelihatannya percuma. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Ya beginilah Dewi, dia tidak mampu untuk mengendalikan dirinya jika sudah menyangkut masalah terlambat. Ia terlalu takut untuk terlambat dalam hidupnya baik dalam hal apapun juga, termasuk saat ini. Namun ketakutannya langsung berubah menjadi keheningan ketika lelaki yang berada di depannya berbalik menghadapnya dan menatap dirinya dengan tatapan bingung. Tanpa disadari, Dewi seperti mengenali pria yang ada didepannya saat ini. Ia kembali merasakan jantungnya yang berdegup dengan cepat ketika mencium parfum lelaki ini. Apakah mungkin dia???... Lamunan Dewi terhenti ketika pria itu menunjuk kearahnya. “Kamu yang tadi disini kan?” Dewi kembali mengingat-ingat kalau tadi ia juga berpas-pasan saat lelaki itu naik ke atap sekolah. Mungkin yang dimaksud dia adalah itu. “I- iya. Tadi aku kesini, eh maksudnya gue.” Dewi merasa salah tingkah saat itu juga tak tahu harus berbuat apa. “Pakai aku-kamu aja biar akrab. Gak usah pakek loe-gue, aku gak suka.” Mendengar kata-kata itu Dewi langsung tersenyum dan merasa seperti terbang ke langit ke-7 karena akhirnya ada juga orang dapat mengerti gelagatnya berbicaranya dengan baik. Karena selama ini ia terus dituntut untuk selalu menggunakan “loe-gue” dalam kata-katanya oleh Mawar. Uhh… mengingat hal itu Dewi langsung menghilangkan senyuman di wajahnya yang semakin membuat lelaki itu merasa keheranan. “Kamu kenapa?” “Gak apa-apa kok. Oh ya aku lupa, namaku Dewi, kamu pasti Eza kan?” tanya Dewi dengan tersenyum sambil memajukan tangannya untuk bersalaman dengan pria itu. Pria itu tak terlihat senang ketika Dewi menyebutkan nama Eza. “Nama aku tuh Reza, bukan Eza. Jangan panggil aku dengan nama itu. Aku tidak suka.” Melihat sikapnya ini Dewi pun menjadi heran dan bergumam dalam hatinya, “Loh, bukannya namanya Eza, kok dia bilang Reza sih? Tapi aku gak salah dengar kok. Emang si Mawar bilang kalau namanya Eza. Jangan-jangan, apa si Mawar sengaja ngerjain aku? Hmmm… liat aja nanti, loe bakalan gue pites War.” Dia menjabat tangan Dewi dan seketika ada aura mengintimidasi yang muncul disekitar Dewi yang membuatnya merasa ketakutan. Namun tunggu… ada apa dengan dirinya? Kenapa ia merasakan kehangatan dari jabatan tangannya yang ia genggam erat seakan-akan tak ingin melepaskannya? Ia merasa jantungnya berdegup dengan cepat dan tak beraturan, seakan membuatnya takut kalau-kalau Eza, eh maksudnya Reza dapat mendengar suara detak jantungnya itu. Dengan cepat ia melepaskan jabatan tangannya dengan Reza yang membuatnya terkejut, seakan-akan ia juga sedang melamun sambil menjabat tangan Dewi tadi. Keduanya terdiam dalam keheningan sejenak kemudian Dewi berjalan mendekati tempat duduk yang ia duduki untuk membaca buku tadi pagi sementara Reza terlihat mengikutinya di belakang lalu duduk disampingnya. “Oke, kita langsung saja ke intinya.” Kata Dewi sambil menatap serius kedua bola mata Reza yang hitam dan tanpa sadar ia sangat terbuai dengan wajah tampan Reza yang membuatnya kehilangan fokus untuk menjelaskan maksud dari pertemuan mereka ini. Di sisi lain Reza merasa sangat bingung dengan apa yang baru saja Dewi katakan. Namun Reza tak terlalu menghiraukan apa yang dikatakan Dewi karena memang seperti itulah sifat Reza, cuek dan tak peduli dengan orang lain. Tetapi ia merasa sangat malu karena Dewi tidak berhenti juga untuk menatap matanya dengan serius. Alhasil Reza jadi salah tingkah dan memalingkan wajahnya dari Dewi untuk melihat pemandangan sekitar dengan jantung yang berdebar-debar tidak karuan. Ini adalah pertama kalinya dalam hidup Reza berbincang dengan wanita yang dianggapnya aneh sejak awal perjumpaan, namun entah apa yang merasuki Reza hingga membuatnya berani untuk menyapa Dewi tadi. “Sebelum kita memulai semua ini aku mau tanya dulu sama kamu, apa kamu yakin mau ngelakuin ini semua?” Dewi menatap mata Reza dengan tatapan serius. Spontan, Reza langsung mengerutkan alisnya tanda tak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan Dewi. “Maksudnya?” Dia menatap Dewi dengan tatapan bingung yang membuat Dewi terlihat kesal. “Uhh… pasti si Mawar belum nyuruh si Tomi untuk ngejelasin detailnya. Gimana sih?” Gumamnya dalam hati. “Hmm...Aku nanya loh. Kok kamu malah balik nanya sih?” Reza masih menatap Dewi dengan tatapan bingungnya yang membuat Dewi menjadi kesal. “Kenapa kamu menemui aku kalau belum dikasih penjelasan sama yang lain? Harusnya kamu tanya dulu sama mereka baru ketemu aku….” “Tapi….” Dewi menunjuk kearah Reza dan menaikkan alisnya. “Aku belum selesai bicara. Jadi, tunggu aku selesai dulu baru kamu boleh ngasih tanggapan kamu.” Reza hanya mengangguk pelan mendengar perintah Dewi. Sungguh, ini adalah pertama kalinya dalam hidup Reza diperintah seperti ini oleh orang yang baru saja dikenalnya. Tapi apalah dayanya. Walaupun ia ingin marah, tapi tak bisa ia lakukan karena dia merasa sangat gugup saat Dewi menatapnya dengan sangat tajam. Lagipula, ia juga ingin diberi penjelasan langsung oleh Dewi tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dewi bangkit dari posisinya dan kelihatan sangat bingung. “Aku mulai dari mana ya? Duhh… susah banget sih ngejelasinnya.” Dewi memegang kepalanya seakan-akan kepalanya mau meledak karena terlalu keras berpikir. Melihat hal itu Reza jadi terkekeh pelan, namun tidak sampai dilihat oleh Dewi karena terlalu fokus berpikir. “Dasar gadis aneh,” gumam Reza dalam hati. Dewi kembali duduk disamping Reza dan terlihat sangat siap untuk menjelaskan semuanya. “Oke, begini saja, intinya aku mau supaya kamu mengajari aku tentang perasaan yang disebut dengan cinta, kemudian ciri-ciri orang berpacaran yang baik dan buruk, serta bagaimana cara mengendalikan perasaan cinta yang ada di dalam hati. Aku tahu ini terlalu banyak dan pasti akan merepotkan kamu, tapi aku janji aku akan belajar dengan baik dan tidak akan membuat kamu kecewa. Aku akan belajar dengan cepat dan akan menuruti semua nasehat kamu. Bagaimana? Apa kamu setuju?” Bukannya menjawab pertanyaan Dewi, Reza malah tertawa karena baru kali ini ia menemui gadis yang benar-benar aneh, selain penampilannya yang terkesan “Cupu” dengan kacamata dan dasi yang menempel pas di di lehernya karena dia mengancingkan kancing seragamnya hingga bagian kancing yang paling atas, lebih tepatnya hingga bagian kerah kemejanya, ternyata gelagat dan sifatnya juga sangat aneh. Masa ia langsung meminta hal seperti itu pada pemuda yang baru saja berkenalan dengannya. Yang benar saja, bahkan cewek yang terkenal cantik dan keren saja tidak akan berani melakukan hal ini. Dan itulah yang membuat Reza semakin yakin kalau Dewi adalah gadis yang benar-benar aneh. Walaupun kalau dilihat-lihat Dewi adalah gadis yang cukup cantik untuk gadis seumurannya di mata Reza. “Kok kamu malah ketawa sih? Ini tuh penting banget tahu. Aku harus mendapatkan jawaban semua pertanyaanku tadi sebelum terlambat.” Reza menhentikan tawanya dan mulai memperhatikan Dewi sehingga tanpa sadar ia tengah tenggelam dalam sebuah lamunan. “Hmm… Sepertinya gadis ini tidak main-main dalam ucapannya karena ia terlihat sangat serius sekali dalam mengucapkannya. Dan masalah terlambat, apa yang dimaksudnya dengan ‘terlambat’? apa ia sedang dalam masalah percintaan yang sangat besar sehingga kalau ia tidak bisa menjawab pertanyaan anehnya itu ia akan nekat melakukan apa saja? Bunuh diri? Ah rasanya tidak mungkin. Tapi…. Gadis ini kan gila, kalau ia bisa mengatakan hal seperti ini kepadaku, maka tidak menutup kemungkinan lain kalau ia bisa melakukan perbuatan-perbuatan nekat seperti bunuh diri. Sungguh mengerikan. Tapi bagaimana aku bisa membantunya? Aku saja tidak pernah berpacaran. Dan kalau masalah jatuh cinta….. bahkan aku saja tak berani untuk mengungkapkan perasaanku pada cinta pertamaku dan merelakannya pergi begitu saja dengan sahabatku sendiri. Uhh mengesalkan. Mugkin lebih baik aku membantunya dengan berpura-pura mengerti tentang cinta dan mengajarinya sedikit bahwa cinta itu tidak terlalu penting dalam hidup sehingga saat ia kecewa nanti, ia tdak sampai melakukan hal-hal nekat. Ya, begitu saja.” Ketika kembali sadar dari lamunannya sontak Reza langsung menoleh kesamping mencari Dewi, namun tidak ada. Reza bangkit dari tempat duduknya dan terlihat cemas sambil melihat sekitar atap sekolah yang cukup luas itu. Tiba-tiba matanya tertuju pada satu objek yang memang sedang dicarinya saat ini, Dewi. Melihat Dewi yang berada di pinggir atap sekolah Reza langsung berlari mengejar Dewi yang sedang berdiri melihat pemandangan sekitar dari atap sekolah dengan gusar. Reza mengira kalau Dewi akan melakukan perbuatan nekat dengan lompat dari ketinggian karena permintaannya belum dijawab olehnya. Dengan napas yang terengah-engah Reza berhasil meraih tangan Dewi dan berusaha menarik tangan Dewi agar menjauh dari pinggir atap sekolah. Dewi yang terkejut dengan kedatangan Reza sontak langsung mengikutinya dengan perasaan heran yang sebesar-besarnya melihat tingkahnya yang aneh. “Oke, aku akan bantuin kamu, tapi kamu jangan bunuh diri ya.” Kata Reza dengan napas yang masih terengah-engah namun perlahan-lahan mulai kembali normal. Dewi yang mendengar perkataan Reza langsung tertawa sekeras-kerasnya. “Bunuh diri? Hahaha… yang bener aja. Siapa juga yang mau bunuh diri? Aku tuh cuma ngeliat pemandangan sekitar aja kok. Hmm… Tapi bagus deh kalau kamu udah setuju. Berarti masalah terbesar dalam hidupku bisa segera terselesaikan dengan mudah.” Dewi tersenyum lembut pada Reza yang membuatnya malu seketika. Tanpa sadar, Reza melihat kearah tangannya yang masih memegang erat tangan Dewi. Mungkin senyum Dewi tadi seperti memberi kode agar tangannya segera dilepas. Dan dengan cepat ia segera melepaskannya dan kembali menatap Dewi dengan sedikit malu. Dewi kembali duduk dan diikuti oleh Reza dibelakangnya.

__ADS_1


__ADS_2