
Setelah berbincang cukup lama dengan Adrian, Dewi segera berdiri dan menjabat tangan Adrian.
Melihat itu, Reza yang tadinya sedang duduk kini langsung berdiri dan menghampiri mereka.
"Jadi loe pulang bareng dia Dew?" Dewi menganggukkan kepalanya pelan yang membuat Adrian menghela napas singkat.
"Yaahh sayang sekali, padahal sudah susah payah gue menunda jam pertemuannya supaya bisa nganterin loe pulang." Adrian memandang Reza dengan tatapan sinisnya yang dibalas Reza dengan tak kalah sinis.
"Loe yakin mau pulang dengan dia?" Adrian kembali bertanya pada Dewi hingga membuat Reza menjadi kesal dan bergerutu dalam hatinya, "Apa-apaan itu? Jelas-jelas Dewi sudah bilang kalau dia akan pulang denganku. Lalu kenapa dia harus bertanya lagi? Pasti dia ingin membuatku emosi."
Reza menatap Adrian tajam seakan-akan ada aliran listrik yang menyala diantara tatapan kedua pemuda itu.
Melihat keadaan yang semakin memanas diantara mereka Dewi segera mencoba untuk mendinginkan suasana.
"Kak, Dewi kan sudah janji untuk pulang bareng Reza, kakak kan tahu kalau Dewi gak suka ingkar janji. Lagipula seharusnya kakak bilang dari semalam dong kalau memang mau nganterin Dewi. Jadi Dewi gak perlu ngerepotin Reza kayak gini."
"Aku gak repot kok Dew, lagipula ini kan permintaan kamu, gak mungkinlah kalau aku merasa kerepotan karena mengantar kamu." Reza tersenyum mengejek ke Adrian karena Dewi lebih memilih dirinya dibanding pemuda itu.
Namun tanpa disangka, Adrian tiba-tiba memeluk Dewi dan membisikan sesuatu padanya.
Seketika emosi Reza langsung berada di puncaknya, namun mengingat statusnya yang bukan siapa-siapa bagi Dewi malah membuat nyalinya menciut dan kembali tenang.
Adrian melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah Reza, "Jagain dia, kalau sampai terjadi sesuatu loe yang harus tanggung jawab." Dia menepuk bahu Reza pelan dan berjalan meninggalkan Reza dan Dewi berdua di ruang itu.
Reza memandang Dewi yang terlihat sangat tenang seperti tidak ada kejadian yang terjadi beberapa saat lalu. Melihat itu, emosi yang tadinya sudah menghilang entah kemana, kini muncul kembali dengan berkali-kali lipat.
Padahal Reza berharap kalau Dewi akan meminta maaf karena sudah memeluk Adrian tadi, tapi sampai sekarang Dewi masih belum menunjukkan tanda-tanda apapun. Reza pun menjadi frustasi dan berjalan mendekati Dewi yang perlahan mundur dengan ekspresi yang sulit dibaca oleh Reza.
Hingga saat Dewi menabrak dinding dibelakangnya, Reza dapat melihat raut ketakutan di mata Dewi. Bukan itu yang diingkannya, tapi sepertinya dia tidak bisa menahan emosinya pada Dewi kali ini.
Dia terus mendekat dan membuat Dewi sedikit menundukkan kepalanya saat Reza sudah berada tepat di depannya. Reza sedikit menunduk untuk menyamakan posisi kepala mereka dan melampiaskan emosinya lewat kata-kata yang dibisikkan ke telinga Dewi dengan nada yang berat dan sedikit mengerikan.
"Apa ini yang namanya kencan? Apa kamu mengajakku kesini hanya untuk melihat kedekatanmu dengan pemuda lain, hah?"
Sontak Dewi langsung terkejut dan menatap mata Reza yang menampilkan manik matanya yang menggelap, sama seperti waktu di atap sekolah. Hanya saja kali ini lebih buruk karena ditambah dengan kata-kata yang sangat mengguncang hati Dewi. "Apa maksudmu mengatakan itu?"
Reza tersenyum sinis seakan sedang mencemooh Dewi. "Kamu itu memang lugu atau hanya pura-pura sih? Di satu sisi kamu melarangku untuk menyentuhmu, tapi disisi lain kamu malah peluk-pelukan dengan lelaki lain."
Dewi terdiam sejenak dan mencoba mencerna apa yang baru saja Reza ucapkan. "Kamu tahu siapa itu kak Adrian?" Reza menggelengkan kepalanya yang masih dihiasi dengan senyum sinisnya itu.
"Siapapun dia itu gak penting, yang jelas kamu sudah membuatku sangat kecewa Dewi." Reza berbalik dan mencoba menjauh dari Dewi, namun tangannya ditahan oleh Dewi.
"Za, aku gak tahu apa aku harus ngejelasin ini ke kamu atau gak. Tapi yang pasti, kamu harus tahu kalau kak Adrian itu sudah seperti kakakku sendiri. Dia adalah pelindungku selama ini dan dia selalu menjagaku dengan baik layaknya adik sendiri. Jadi wajar saja kalau kami cukup dekat. Dan kamu benar, aku memang mengajakmu kesini hanya untuk menemaniku saja, bukan kencan seperti yang kamu pikirkan. Maaf jika aku sudah mengecewakanmu. Seharusnya aku menjelaskan ini sejak awal agar tidak terjadi hal seperti ini." Dewi menundukkan kepalanya, sementara Reza terlihat sedang berpikir keras tentang sesuatu.
"Masih belum terlambat Dew." Reza menggenggam erat tangan Dewi dan menariknya mendekat. "Kita masih bisa mengatur kencan kedua kita ini agar benar-benar terjadi seperti kencan kita yang pertama." Reza membisikkan kalimat-kalimat itu dengan antusias hingga membuat Dewi tersenyum senang.
Ya, setidaknya kejujuran bisa mengalahkan emosi kali ini. Dan satu hal yang baru Dewi ketahui tentang Reza, amarahnya benar-benar menakutkan, tapi dengan cepat ia dapat merubah mood-nya menjadi lebih baik.
Mereka keluar dari tempat itu sambil bergandengan tangan menuju tempat dimana Reza memarkirkan mobilnya tadi. Sepanjang jalan yang dilakukan Reza adalah celingak-celinguk tak jelas yang membuat Dewi menjadi kesal. "Kamu kenapa sih, Za? Kok kebingungan gitu? Kamu nyari apa sih?"
Reza menghela napas dan menatap Dewi dengan tatapan yang kosong sejenak. Saat Reza menoleh kesamping jalan, wajahnya langsung berubah senang. "Ketemu."
Dewi hanya mengernyitkan dahi sambil menoleh ke arah gang kecil di pinggir jalan yang terlihat kumuh. "Hmm Dew, kamu bisa tunggu disini sebentar?"
Dewi memperhatikan ke sekelilingnya, tempat itu cukup sepi dan pasti akan terlihat menakutkan di malam hari. Bagaimana kalau sampai ia di culik? Bisa-bisa konser amalnya batal. "Gak mau. Kamu mau kemana sih Za? Aku ikut saja deh."
"Gak boleh!" Dengan cepat Reza membantah Dewi hingga membuat Dewi menjadi bingung dengan sikapnya.
"Kenapa gak boleh Za? Aku takut disini. Bagaimana kalau ada yang menculikku?"
Sontak tawa Reza langsung meledak saat itu juga. Bagaimana Dewi bisa berpikir sampai kesitu? Padahal Reza hanya akan pergi berberapa langkah saja dari tempatnya berdiri saat ini untuk merencanakan sesuatu di dalam gang sempit itu.
"Kamu gak mungkin di culik Dew. Lagian aku cuma 2 menit doang kok. Ya, kamu tahu lah biasa panggilan darurat cowok. Gak mungkin kan aku ngajakin kamu? Dan ya, kamu tinggal teriak saja kalau ada yang ingin menculikmu, aku pasti akan datang saat itu juga."
Dewi hanya mengangguk layaknya anak yang patuh dan kembali menatap sekitar, sementara Reza segera melesat menuju gang yang kecil itu.
Ya, sejak awal kedatangannya Reza memang sudah berniat untuk memasuki gang ini karena melihat banyak anak-anak yang menggemaskan, walaupun dibalut dengan pakaian yang terkesan "kumuh".
"Halo adik-adik..." Reza tersenyum ramah yang dibalas tak kalah ramahnya dengan anak-anak itu.
"Halo kakak..." "Hmm... nama kakak Reza, bisa kakak minta bantuannya?"
Setelah beberapa menit menunggu, Dewi jadi semakin gelisah karena Reza masih belum kembali juga.
"Kenapa lama sekali sih? Apa aku susul saja? Tapi, nanti aku dikira mesum. Ya sudahlah tidak apa-apa, daripada aku ketakutan gak jelas begini." Dewi berjalan mendekati gang itu saat sosok Reza tiba-tiba muncul dengan wajah yang sangat pucat.
Entahlah, dilihat dari ekspresinya seperti dia baru melihat hantu saja. Dewi bergegas menghampirinya dengan berlari. "Kamu kenapa Za? Kok pucat begitu?" Dewi memegang kening Reza untuk memeriksa apakah dia terserang demam atau tidak, karena udara disini memang cukup dingin karena langit sedang mendung.
"Tidak panas," Dewi menggumam pelan dan melepaskan tangannya yang menempel di dahi Reza dan menggenggam tangannya.
"Ayo kita pulang saja, sepertinya kamu sedang kurang sehat." Dewi menarik pelan tangan Reza untuk mengajaknya berjalan, namun Reza masih berdiri di posisi yang sama tanpa bergerak sedikitpun.
"Ayo Za, kamu gak mau pulang?" Dewi berbalik untuk mengajak Reza kembali, namun dengan cepat Reza menarik Dewi untuk mengikutinya berbelok menuju gang sempit itu.
Dewi tak mampu menolak Reza karena tenaganya yang cukup kuat, hingga membuat Dewi mengikutinya dengan pasrah. Saat baru berbelok, alangkah terkejutnya Dewi melihat anak-anak kecil yang cukup banyak sekitar 10 orang yang berbaris rapi sambil mengatakan "KAK DEWI CANTIK," dan tak selang beberapa detik kemudian Dewi sudah dikerumuni olek anak-anak kecil yang mungkin berusia 5-10 tahunan.
Dengan ramah Dewi memeluk anak itu satu persatu sambil menanyakan namanya. Tak lupa sesekali Dewi melirik Reza yang tengah sibuk dengan anak-anak itu, bahkan Reza mengangkat salah satu anak perempuan yang kecil dan tertawa lepas sampai matanya menangkap Dewi yang tengah memperhatikannya.
__ADS_1
Tawanya segera terganti dengan senyum canggungnya dan Reza segera menurunkan anak itu, dengan mata yang tak berani menatap Dewi. Melihat itu Dewi pun langsung memeluk anak perempuan itu dan mencium pipinya di depan Reza.
"Pacar kak Dewi cemburu tuh. Hahaha...." Seru salah satu anak laki-laki yang mungkin paling tua diantara mereka. Reza tak terima dengan perkataan bocah itu, dengan sigap Reza menarik anak perempuan itu dari Dewi dan mencium pipinya tepat ditempat Dewi menciumnya tadi.
"Jadi impas kan, Don? Berarti kakak gak jadi cemburu dong." Reza tertawa dengan keras diikuti anak-anak yang lain, sementara Dewi hanya bisa tersipu dengan sikap kekanakan Reza yang cukup romantis itu.
Setelah puas bermain dengan anak-anak itu, Dewi dan Reza segera berjalan bergandengan tangan untuk kembali ke mobil Reza yang mungkin masih terparkir rapi di tempat semula. Tak jarang sesekali Reza membuat gurauan sebagai hiburan selama mereka berjalan kaki.
Saat sampai di mobil, Reza segera membuka pintu penumpang ala supir untuk Dewi hingga membuat Dewi tertawa namun kesal karena lagi-lagi Reza memanggilnya dengan "Tuan Putri".
Reza segera memasuki mobilnya dan melihat Dewi yang kelihatan cemberut seperti itu memberikan sensasi geli tersendiri bagi Reza hingga membuatnya tertawa.
Namun tawa itu langsung menghilang saat Dewi menatapnya lekat-lekat dengan amarah. Reza hanya menelan salivanya saat Dewi perlahan bergerak mendekat ke arahnya.
Entah apa yang ada di pikiran Dewi saat ini, tapi yang jelas Reza hanya bisa mematung sambil memperhatikan makhluk indah yang semakin hari semakin mengguncang hatinya, membuat Reza terombang-ambing di tengah lautan cinta dengan ombak yang saling beradu menciptakan cipratan-cipratan indah dibalik manik mata hitamnya yang menatap penuh kasih sayang, kerinduan dan mungkin.... sedikit cinta.
Bibir indah yang tiada henti mengucap kata cinta, tuk jelaskan semua makna yang dirasa. Hati bergetar hebat, membuat jiwa terbang melayang, jauh ke awan tinggi.... semakin tinggi dan semakin...........
Reza tersentak kaget saat Dewi menarik dan memasangkan *seatbealt*\-nya lalu kembali duduk begitu saja tanpa ekspresi apapun.
"Hei, kenapa diam saja, ayo cepat jalan. Aku mau pulang." Dewi telah memasang seatbealtnya sendiri dan menatap kedepan tanpa ekspresi.
"Pulang?" Reza menaikkan sebelah alisnya.
"Iya PULANG. P-U-L-A-N-G" Dewi mengeja kata pulang dengan setiap penekanan pada setiap hurufnya.
"Tapi Dew, kita kan belum selesai kencan? Hmm... Apa kamu marah?" Reza menunjukkan cengiran khasnya yang membuat Dewi menjadi kesal.
"Marah? Kamu sadar gak sih Za, dari tadi aku ajak ngomong kamunya diem terus. Aku tuh berasa kayak radio rusak."
Reza mengerutkan dahinya lagi sambil berpikir, "Kapan Dewi mengajakku bicara? Aku bahkan tidak menyadarinya. Astaga, apa jangan-jangan apa yang aku hayalkan tadi itu benar? Aku mulai berhalusinasi tak jelas saat Dewi sedang berbicara tadi. Ada apa denganku?"
Reza mengacak rambutnya frustasi. "Maaf Dew, sepertinya tadi aku melamun saat kamu bicara, jadi gak kedengeran deh kamu ngomong apa. Coba kamu ulangi lagi apa yang tadi kamu bilang."
Mendengar penjelasan Reza, kini tatapan Dewi mulai tenang kembali. "Anak-anak itu, hmm kenapa kamu membawaku menemui mereka? Dan… bagaimana kamu bisa mengumpulkan anak-anak itu dengan cepat?"
Reza tersenyum karena melihat Dewi yang terlihat cukup antusias dalam matanya. "Hmm aku kira kamu suka anak-anak, karena saat di taman waktu itu kamu terlihat sangat senang bersama dengan seorang anak kecil. Dan tentang bagaimana aku mengumpulkan mereka itu bagaimana ya?"
Reza memijit pelipisnya pelan sambil tersenyum karena telah berhasil membuat Dewi kembali dalam rasa penasaran.
"Sebenarnya mereka memang sedang berkumpul disana. Tadi saat kita berjalan aku sempat menoleh ke salah satu gang yang berisi anak-anak itu, lalu aku berpikir untuk mengejutkanmu dengan membawamu menemui mereka. Dan seperti dugaanku, kamu sangat senang bercengkrama dengan mereka."
Dewi tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya, "Oh ya? Tapi kok yang aku lihat malah sebaliknya ya? Kamu yang terlihat jauh lebih senang dibandingkanku. Apa kamu juga menyukai anak-anak?"
"Tentu saja." Reza dengan antusias meraih kedua tangan Dewi dan memegangnya erat, sementara Dewi hanya bisa tersenyum dan menaikkan kedua alisnya tak menyangka dengan jawaban Reza yang begitu cepat dan antusias.
Tapi walaupun begitu, dia itu sama saja seperti laki-laki. Sifatnya, tingkah lakunya, selalu saja membuat onar. Bahkan orangtuaku selalu dibuat pusing olehnya.
Aku sangat suka menggendongnya saat itu, dan tadi saat melihat putri , aku jadi teringat dengan cindy. Dia begitu cepat dewasa dan memilih tinggal dengan pamanku di L.A. Rasanya, baru kemarin kami bermain bersama dan sekarang.... sudah sangat jauh berbeda."
Dewi menghayati setiap perkataan Reza hingga tanpa disadari setetes bening telah mengalir di pipinya. Reza dengan lembut mengusap bekas jejak air mata Dewi dan secara refleks menjauh kan tangannya karena teringat akan janjinya.
"Maaf Dew, aku khilaf. Kamu kok nangis sih?" Ucap Reza dengan lirih. Dewi menggelengkan pelan kepalanya dan menatap Reza.
"Za, kamu beruntung banget punya adik. Aku ini anak tunggal, jadi tidak punya kenangan seperti itu. Selama ini aku hanya menganggap Mawar dan Kak Adrian sebagai saudaraku karena aku tak pernah punya teman yang berarti. Aku..."
Omongan Dewi terhenti saat Reza meletakkan jarinya dibibirnya sendiri sebagai kode agar Dewi berhenti.
"Dewi, kamu gak perlu sedih, sekarang kamu boleh kok menganggap cindy sebagai adik kamu juga. Aku gak merasa keberatan dan aku sangat yakin kalau cindy pasti akan sangat antusias mendengar ini. Selama ini dia selalu ingin punya kakak perempuan supaya bisa di ajak curhat, soalnya kalau curhat sama aku pasti diledekin mulu. Oh iya biar kamu gak penasaran nanti aku kirimkan kontak dan fotonya biar kalian bisa dekat."
Dewi tersenyum hangat sambil menggenggam tangan Reza dengan lembut. "Thanks ya, Za. Aku senang sekali karena kamu benar-benar penuh perhatian. Kamu bukan hanya mengajariku tentang cinta, tapi juga membuatku bisa merasakan cinta yang sebenarnya. Semoga saja aku bisa segera akrab dengan cindy."
Reza segera menjalankan mobilnya menyusuri jalanan yang kini mulai senja karena sang mentari yang mulai turun dari langit yang tinggi. Ditambah lagi mendung yang masih setia menghias langit semakin menambah suasana gelap di kota itu.
Dewi memperhatikan sepanjang jalan yang kini mulai terang bermandikan cahaya lampu dari para pedagang makanan yang berbaris sejajar untuk menjajakan barang dagangannya. Mulai dari pedagang bakso, mi ayam, nasi goreng bahkan sate yang sangat menggoda pun tersedia disini.
Dewi menoleh untuk memperhatikan Reza yang saat ini cukup fokus berkendara hingga tak sadar kalau Dewi tengah memperhatikannya.
"Za, kamu gak laper?" Reza menoleh ke samping sejenak untuk melihat ekspresi Dewi saat ini.
"Laper dong Dew, makanya kita sekarang mau ke restoran." Dewi mengangguk sejenak dengan raut yang membingungkan.
"Za, gimana kalau kita makan disitu saja. Dewi menunjuk ke arah jalan yang berisikan para pedagang itu.
"Kamu yakin mau makan disitu? Gak mau di resto aja?" Reza masih setia memegang kemudi dan membunyikan klakson beberapa kali karena kondisi jalanan yang sedang macet.
"Gak mau. Aku maunya disitu Za." Reza tertawa melihat Dewi yang mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang manja.
"Entar kalau ada fans kamu gimana?" Dewi menghela napasnya sejenak.
"Za, memangnya kalau di resto gak ada fans aku ya? Justru lebih aman makan disini daripada disana, kalau disana ada fans, kita pasti terjebak. Tapi kalau disini, kita kan bisa lari." Reza menaikkan sebelah alisnya.
Sungguh ia benar-benar tidak bisa menang jika sudah berdebat dengan Dewi. Dia selalu punya kata-kata yang pas untuk menjelaskan sesuatu sedetail-detailnya hingga membuat lawan bicaranya bungkam.
"Oke Dew, kamu menang. Sekarang bilang kamu mau makan apa biar aku beliin." Reza segera memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan membuka seatbealt-nya.
Ah, dia kembali teringat saat Dewi sedang memasangkan seatbealt-nya tadi. Ada senyum kecil sesaat diwajahnya sebelum menghilang karena mendengar perkataan Dewi. "Aku ikut."
__ADS_1
"Gak boleh." Reza memasang tampang datarnya untuk mengintimidasi Dewi. "Kamu kan tahu diluar itu ramai. Lebih baik kamu duduk diam di dalam. Oh ya, kamu mau makan apa?"
Reza kembali menatap geli pada Dewi yang kelihatan cukup sebal saat ini. Bahkan dia tidak mau menjawab pertanyaan Reza.
"Oke kalau kamu gak mau jawab, biar aku sendiri yang milihin buat kamu." Reza melangkah keluar dari mobil dan menuju ke salah satu pedagang yang sedang berjualan.
Cukup lama Dewi menunggu Reza sambil memainkan smartphone-nya. Ingin rasanya dia mengintip apa yang Reza beli saat ini, namun kali ini rasa egonya mampu mengalahkan rasa penasaran yang sedang menghantuinya.
Sepertinya hujan sudah mulai turun, hal itu disadari Dewi saat melihat beberapa tetes air hujan yang terjatuh di kaca depan mobil.
Tak lama kemudian Reza masuk dari belakang dan duduk begitu saja. "Ayo Dew, kita makan disini saja." Reza bangun untuk menarik tangan Dewi yang langsung ditepis oleh Dewi.
"Aku bisa sendiri." Reza hanya terkikik geli saat melihat tingkah Dewi yang kekanakan seperti ini. Rasanya ingin sekali dia mengungkapkan semua perasaan cintanya pada Dewi yang entah sejak kapan mulai disadarinya.
"Ayo makan." Dewi duduk disebelah Reza dan mengambil sebungkus makanan yang Reza beli. Dan tepat seperti dugaannya, Reza memang sangat mengerti apa yang paling diinginkannya saat ini. Yup, Reza membeli sate yang sangat menggoda tanpa harus bertanya lebih dulu padanya.
"Kamu suka?" Dewi menunjukkan ekspresi kesalnya agar Reza menganggapnya masih marah.
"Aku gak begitu suka sate." Reza mengernyitkan dahinya sejenak.
"Oke, kalau kamu gak suka, ini kamu makan nasi goreng saja, biar aku yang makan sate yang menggoda itu."
Apa? Yang benar saja? Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Dewi hanya memberi alasan saja agar bisa terlihat marah di depan Reza, tapi rasanya ia tidak rela bila harus menukar makanan kesukaannya, yaitu sate yang menggoda.
Tunggu dulu, dari mana Reza bisa tahu kalimat yang selalu Dewi ucapkan tentang sate yang menggoda? Apa dia bertanya pada Mawar? Tentu saja.
Reza ingin mengambil bungkusan sate yang Dewi pegang saat ini, namun di tepis begitu saja oleh Dewi.
"Enak saja, kan kamu yang sudah milihin aku sate. Gak boleh nukar dong."
Reza hanya tersenyum senang karena ternyata pilihannya tak salah. Ia sempat akan bertanya pada Mawar tentang kesukaan Dewi, namun ia urungkan karena tak ingin ada orang lain yang ikut terlibat dalam perjalanan cintanya.
Keduanya makan dalam diam diikuti suara rintikkan hujan sebagai lantunan nada romantis yang tercipta diantara mereka.
Hujan sudah mulai deras saat Reza mengantar Dewi pulang kerumah. Rencana kencan kali ini sepertinya tidak seromantis saat pertama. Tapi tetap saja hal itu cukup menyenangkan bagi Dewi, mulai dari bermain dengan anak-anak hingga makan malam romantis dengan Reza. Dan tentunya sedikit bermanja pada Reza dengan sikap kekanak-kanakannya menjadi hal yang cukup menarik dalam kencannya kali ini.
Dewi terus memandangi Reza hingga tak sadar kalau ternyata mereka sudah sampai di depan rumah Dewi. Reza menghentikan mobilnya dan memandang Dewi yang masih menatapnya lekat-lekat.
"Hmm... Jadi kapan kita bisa berkencan lagi?" Lamunan Dewi seketika buyar saat mendengar kata-kata Reza.
Dengan pipi yang sedikit merona Dewi memalingkan wajahnya ke kaca pintu mobil dan menatap heran karena mereka ternyata sudah sampai.
"Aku tidak tahu. Aku belum memikirkannya karena saat ini aku masih harus fokus dengan konser Minggu nanti. Hmm... kalau kamu mau kita bisa kembali berkencan setelah selesai konser."
Reza segera tersenyum dan mendekati Dewi. Dengan refleks Dewi segera mundur hingga bersandar pada pintu mobil hingga membuat Reza terkekeh. Dia memajukan tangannya untuk membuka seatbealt Dewi dan segera menjauh dari Dewi. Terlihat kelegaan yang luar biasa dalam ekspresi Dewi saat ini.
"Kamu gak mau mampir dulu Za?" Tanya Dewi sambil membuka pintu mobil Reza.
"Gak usah deh Dew, ntar pulangnya kemalaman. Lagian besok kan sekolah, jadi aku gak mau telat gara-gara bangun kesiangan. Oh ya, besok kita sarapan bareng di atap. Aku yang traktir." Dewi terkekeh melihat Reza yang mencoba mengintimidasinya dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Iya. Bawel." Dewi hendak turun namun segera berhenti karena menyadari hujan yang begitu lebat pasti akan membuatnya basah kuyup jika ia berlari.
"Kamu gak merasa ada yang kurang?" Cukup lama Dewi berpikir, hingga Reza memutar bola matanya kesal karena Dewi tak kunjung peka dengan kodenya.
"Salam perpisahan. Kamu ingat?" Dewi menunduk malu mengingat kembali kejadian waktu itu. Tapi kali ini sepertinya salam perpisahan itu tidak akan dilakukan karena Dewi melihat Bi Inem yang telah keluar dari rumah sembari membawa payung untuk Dewi.
Ya, jika dilihat dari kaca mobil Reza yang hitam, mungkin tak akan tembus pandang dari luar, tapi tetap saja Dewi merasa tidak mungkin dia memberi salam perpisahan pada Reza.
Dewi berusaha melepas tangan Reza yang masih menggenggamnya erat namun sia-sia saja karena tenaga Reza sudah pasti lebih kuat jika dibandingkannya.
"Za, lepasin. Itu Bi Inem sudah dekat loh. Entar kalau dia lihat terus mikir yang macam-macam gimana?" Reza hanya tersenyum nakal dan semakin mempererat tangannya.
"Ayolah Dew, gak mungkin Bi Inem lihat. Kacanya gak transparan kok. Cepat, entar keburu datang loh. Atau mungkin Kamu memang mau lakukan di depan Bi Inem?"
Dewi menghela napas singkat. Percuma saja berdebat dengan Reza, karena sampai kapanpun juga dia pasti akan tetap bersikeras untuk mempertahankan keinginannya.
Dengan cepat Dewi mengecup dua jarinya dan segera menempelkan jarinya di pipi kiri Reza.
Namun dengan tak kalah cepat Reza menarik pergelangan tangan Dewi dan mendaratkan dua jari Dewi dibibirnya dan kembali membawa dua jari itu ke pipinya Dewi. Sejenak rona merah langsung timbul di wajah Dewi sembari matanya yang melotot tajam.
"Za, apa-apaan ..." Dewi hampir saja memarahi Reza saat Bi Inem tiba.
"Ayo Non, cepat. Nanti basah loh." Akhirnya dengan tergesa Dewi mencoba keluar dari mobil.
Saat Dewi menatap Reza, dia hanya bilang "Terima Kasih" tanpa suara. Benar-benar sangat menyebalkan.
Dewi segera berlalu meninggalkan Reza yang masih mengunjingkan senyum kemenangannya dan segera memacu mobilnya meninggalkan rumah Dewi karena waktu sudah hampir jam 20.15 WIB sementara batas waktu untuk sampai di rumah adalah jam 21.00 WIB.
Ya, itulah salah satu peraturan yang harus dipatuhi Reza di rumahnya. Walau terlihat bebas, sebenarnya Reza adalah orang yang sangat disiplin karena selalu menghargai waktu, uang dan peraturan yang diberikan padanya.
Bahkan ia selalu menjalankan kewajibannya tanpa banyak mengeluh. Mungkin karena didikan keras dari orangtuanya yang tak pernah membuatnya manja yang menjadi dasar sikapnya yang keras dan juga kuat dalam menjalani hidup.
Sepanjang perjalanan, Reza terus memikirkan ekspresi Dewi yang terekam jelas di ingatannya saat wajahnya yang merona sekaligus melotot tajam ke arahnya.
Sesekali Reza terkekeh dan memegang pipi dan bibirnya yang mengingatkannya akan kejadian gila itu. Reza tahu kalau Dewi mungkin akan marah kepadanya dan mungkin tidak mau menemuinya besok.
Tapi bukan Reza namanya jika harus menyerah dalam memperjuangkan cintanya. Dia akan berusaha membuat Dewi memaafkannya karena melanggar perjanjian malam ini, karena ia tak akan sanggup jika Dewi marah lagi seperti waktu itu.
__ADS_1