Inspirasi

Inspirasi
Ancaman Mawar


__ADS_3

Melihat Dewi yang sepertinya tidak mau mengikuti idenya, Mawar akhirnya berkata, “Kalau loe ngikutin kata-kata gue, itu akan sangat membantu loe saat ini, tapi kalau sampai loe gak ngikutin kata-kata gue, itu sama saja dengan ingkar janji, dan berarti gue bisa dengan mudah menggugat loe ke polisi atas dasar penipuan. Loe juga tahu kan kalau gue punya bukti yang sangat kuat yaitu rekaman asli suara loe. Yang gue tahu sih biasanya kalau ada penipuan, tersangkanya pasti akan dipenjara dan ketenarannya juga pasti akan hilang bersama dengan waktu. Jadi, loe bakalan sia-sia nulis lagu baru loe.” Dewi tertawa dan berkata, “Memangnya polisi mau nangkap gue atas tuduhan aneh loe itu? Udah lah Mawar, ancaman loe itu gak ngaruh sama gue.” “Oh ya? Gue mau lihat seperti apa wajah loe nanti saat loe ditangkap polisi dan diseret ke dalam penjara. Denger ya Dew, untuk mendapat ketenaran itu gak mudah, loe itu butuh kerja keras bertahun-tahun untuk membangun karier loe ini. Tapi, untuk menghancurkannya, gue cuma butuh 1 jam doang. Gue bisa ngirim video loe ke Pak Wiryasono langsung dan berkata kalau loe gak bisa nulis lagu baru loe dan loe mau berhenti jadi penyanyi atas dasar ngikutin kata-kata gue yang tadi gue videokan. Atau gue bisa laporin loe ke polisi, dan walaupun loe gak dipenjara, tapi minimal loe pasti akan di panggil ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Saat loe kesana, gue akan manggil wartawan untuk ngeliput loe dengan kasus palsu dan tara… ketenaran loe akan hilang dengan mudah, dan loe akan dicap sebagai selebriti kontroversi.” Dewi yang terlihat marah, bingung dan merasa aneh seperti tidak percaya atas apa yang baru saja di dengarnya. Ini pertama kalinya Mawar berbicara seserius itu ditambah gugatan-gugatan anehnya yang berhubungan dengan polisi. “Jadi loe serius mau ngelaporin sahabat loe sendiri ke polisi hanya karena gak mau ngikutin saran loe?” Tanya Dewi dengan perasaan yang bercampur aduk dan tak tahu bagaimana cara untuk mengekspresikan wajahnya pada Mawar yang sepertinya terlihat santai saja seperti tidak ada yang terjadi dalam hidupnya saat ini. Tiba-tiba Mawar memecah keheningan yang ada di kamar Dewi dengan jawabannya yang cukup mengejutkan Dewi atas pertanyaannya tadi. “Gue gak pernah seserius ini sebelumnya, tapi karena ini menyangkut masa depan loe, karier loe dan impian loe selama ini gue terpaksa menggunakan cara ini agar loe bisa ngikutin kata-kata gue dalam membuat lagu baru loe ini.” Dewi diam saja mendengar jawaban Mawar yang dinilainya terlalu memaksakan kehendaknya pada sahabatnya sendiri. Mawar yang tidak sabaran mendengar jawaban Dewi atas kata-kata yang diucapkannya langsung bertanya lagi pada Dewi tanpa mendengar jawaban Dewi atas pendapatnya yang tadi ia katakan. “Jadi gimana? Loe setuju gak sama ide yang gue berikan ini? Atau loe itu …” Tanpa membiarkan Mawar bicara lagi Dewi langsung marah-marah. “Loe itu gak bisa sabar ya? Gue tuh lagi berpikir. Entar kalau gue udah dapat keputusannya gue pasti akan bilang sama loe.” Kemudian Mawar bangkit dari tempat tidur Dewi dan berjalan ke arah jendela untuk melihat-lihat pemandangan yang indah dari jendela kamar tersebut sambil menunggu Dewi untuk berpikir. ‘Sangat indah’ itulah kata-kata yang paling cocok disandingkan dengan pemandangan diluar jendela kamar Dewi. Indahnya pemandangan lampu kota yang berwarna-warni dan berkelap-kelip di malam hari serta bintang dan bulan yang bersinar cukup terang dimalam itu membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa takjub dan senang. Tanpa terasa ternyata Mawar sudah berdiri disana selama 5 menit. Dia pun berbalik ke arah Dewi yang masih terlihat sedang berpikir keras dalam tekanan yang diberikan olehnya. Sambil kembali duduk di tempat tidur Dewi Mawar berkata, “ Gimana? Loe udah dapat jawabannya belum? Ini tuh udah lebih dari 5 menit dan kayaknya pertanyaan yang gue berikan itu gak sesulit soal ulangan tahun lalu.” Tiba-tiba di pikiran Mawar terlintas kenangan masa lalunya yang berhubungan dengan ulangan tahun lalu dimana ia benar-benar merasa tertekan dengan semua pelajaran yang diberikan guru serta masalah-masalah dalam hidupnya yang membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih, walaupun Mawar sendiri merupakan anak yang cukup pintar di kelas. Hanya Dewi lah yang selalu membantunya disaaat-saat seperti itu hingga ia dapat menghafal semua pelajaran dengan baik dan menyelesaikan permasalahannya dengan mudah. Dewi yang melihat Mawar ketika sedang melamun memikirkan sesuatu kemudian menjentikkan jarinya di depan Mawar sehingga membuat pandangan kosong di mata Mawar menghilang karena terkejut dan berganti menjadi pelototan ke arah Dewi yang membuat Dewi takut. Mawar ingin mengatakan sesuatu kepada Dewi tetapi langsung di potong oleh Dewi, padahal Mawar ingin mengatakan bahwa Dewi boleh saja tak mengikuti idenya dan Mawar akan berusaha mencari ide lain yang lebih baik dari idenya ini, tapi karena Dewi memotong pembicaraannya dan berkata, “Oke, gue setuju untuk ngikutin ide loe kali ini. Tapi lihat aja kalau ide ini gak berhasil.” Maka Mawar langsung mengurungkan niatnya dan berkata “Kan gue udah bilang ide ini pasti akan berhasil. Gak mungkin kalau ide ini gak berhasil.” Tampang Mawar yang cukup percaya diri membuat Dewi menjadi yakin dengan idenya ini. “Bagus. Tapi, siapa cowok yang akan membantuku untuk membuat lagu?” Tanya Dewi. “Aku? Dew, ini udah yang ketiga kalinya loe memakai kata ‘Aku’ saat ngomong sama gue. Loe ini bisa gaul dikit gak sih? Gaya aja loe keren, tapi ngomong? Entar apa kata Dian? Wong deso banget sih. Pokoknya gue gak mau tahu loe harus bisa pakai bahasa gaul kalau ngomong sama gue, minimal ‘gue dan loe’ gak ada ‘aku dan kamu’ ngerti?” Kata Mawar dengan sombongnya. Memang seperti itulah sifat Mawar. Bukan karena ia ingin mengubah Dewi, tapi demi mempertahankan popularitas Dewi sebagai penyanyi. Di pikiran Dewi kembali terlintas semua kejadian yang harus membuatnya belajar berbahasa gaul. Hal itu dimulai Saat Dewi sedang tampil di salah satu stasiun TV. Seusai manggung, Dewi berbicara dengan salah seorang kru di salah satu stasiun TV yang menyewa jasa Dewi tersebut. Kebetulan, kru tersebut merupakan ‘Hater’ dari Dewi. Tanpa segan, ia berani berkata “Loe ini kan penyanyi, masa gak bisa bahasa gaul sih? Malu-maluin dunia aja deh.” Mawar yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka langsung marah dan menemui ‘Hater’ Dewi tersebut sambil berkata “Heh, kalau ngomong itu dijaga ya. Loe gak sadar ya loe itu ngomong sama siapa? Dewi itu sahabat gue, jadi kalau loe berani macam-macam sama dia berarti loe nyari masalah sama gue. Lagian gue heran sama kalian para ‘Hater’ kok bisa ya ada manusia yang membenci manusia lainnya, setahu gue sih itu namanya sirik.” “Sirik? Gak mungkin kale. Ngapain gue sirik sama cewek aneh kayak dia, sok baik dan sok nyari muka didepan publik.” Kata ‘Hater’ yang bernama Dian itu dengan nada yang menyebalkan bagi Mawar hingga Mawar menjadi sangat Marah dan berkata, “Heh, siapa yang loe panggil aneh? Yang ada tuh elo yang aneh.” Dewi yang tidak tahan dengan pertengkaran mereka kemudian berusaha meleraikan mereka dengan berkata “Udah lah, kalian kok jadi bertengkar gini gara-gara aku. Oke aku akuin aku ini memang aneh, puas kamu?” Dewi melihat Dian dengan mata lelahnya yang sedari tadi terkena sinar lampu panggung yang terang, berharap agar Dian tak memperpanjang pertengkaran ini, karena Dewi tahu kalau Mawar tidak akan pernah mau mengalah saat bertengkar. Mawar yang bingung melihat tingkah temannya yang memang diakuinya sebagai seseorang yang aneh itu langsung bertanya pada Dewi. “Loe itu gimana sih, gue belain kok malah ngalah. Dia tuh gak pantes dibiarin. Orang kayak dia itu harusnya dikasih pelajaran biar tahu rasa.” “Mawar, ayo kita pulang, aku sudah lelah nih. Ayo!” Dewi menarik tangan Mawar dan berjalan berbalik agar bisa segera pulang tanpa harus memperpanjang pertengkaran itu. Tapi sayangnya niat Dewi tersebut harus terhenti karena Dian berkata, “Iya benar, mendingan loe pulang aja dan jangan lupa singgah di tempat kursus bahasa gaul. Hahaha… dasar aneh.” Mawar yang sudah sedikit tenang tadinya, kembali marah lagi dan langsung berbalik melepas tangan Dewi yang memegangnya erat-erat dari tadi lalu berkata sambil mengacungkan jari telunjuknya kepada Dian. “Loe dengar ya, Dewi itu gak butuh kursus untuk bisa bahasa gaul, karena dia itu pintar. Lagipula, gue sendiri yang akan ngajarin Dia bahasa gaul.” “Oh baguslah. Gue jadi bisa ngasih tantangan ke Dewi untuk bisa berbahasa gaul yang lancar dalam 5 bulan kedepan ya minimal ‘Gue dan Loe’ lah.” Kata Dian dengan senyumnya yang menyebalkan. “Tunggu-tunggu-tunggu, aku rasa tantangan seperti itu tidak penting dan hanya bisa membuang-buang waktuku saja, benarkan Mawar?” kata Dewi yang merasa dirugikan dengan kejadian ini. “3 bulan. Dewi Cuma butuh waktu 3 bulan untuk berbahasa gaul yang lancar. Loe dengar itu? Cukup 3 bulan.” Kata Mawar dengan sombongnya seakan-akan Dewi telah melakukan tantangan itu. Dewi yang tak suka dengan tantangan itu langsung melihat Mawar dengan marah dan bermaksud untuk mengatakan sesuatu, namun sebelum Dewi bicara, Dian langsung mengatakan, “Ok, 3 bulan juga boleh. Jadi deal ya. Dan kalau Dewi gak berhasil di tantangan ini, Loe pasti tahu apa yang akan gue lakukan nanti di medsos.” “No problem”, kata Mawar. “Ayo Dew, kita pulang. gue rasa gak ada gunanya lagi kita lama-lama disini. Ayo!” “Tapi War,…” Dewi berusaha menggagalkan tantangan itu tapi tak dihiraukan oleh Mawar yang terus menarik tangan Dewi agar segera pergi dari tempat itu.”

__ADS_1


Melihat Dewi yang sepertinya tak mendengar kata-katanya, Mawar langsung menepuk bahu Dewi dan berkata “Ngerti gak?” “Iya ngerti, lagian tadi kan gue lupa. Masa gak boleh lupa sih.” Kata Dewi yang ingin membela diri. “Ya gak boleh lah. Nanti kalau sampai loe lupa di depan Dian gimana? Bisa-bisa rusak deh nama loe di medsos. Loe kan tahu Dian itu kayak apa kalau ngomong di medsos, bumbunya banyak banget, bisa-bisa orang kepedasan kalau baca kata-katanya. Hn..” Kata Mawar yang terlihat marah mengingat tentang Dian. “Lagian elo sih pakai acara tantangan segala, ya gini deh jadinya. Siapa juga yang repot? Gue kan?” kata Dewi yang terlihat kesal. “Hehehe… maaf deh. Tapi orang kayak Dian itu memang harus digituin, kalau gak seumur hidup loe akan selalu dikatain mulu sama dia. Emang loe mau?” Tanya Mawar. “Ya enggak lah. Oh ya, jadi siapa cowok yang akan bantuin gue?” Tanya Dewi dengan bingung. Lalu dengan santainya Mawar menjawab “Kalau itu sih loe gak usah pikirin, biar gue yang kenalin sama loe. “Tapi jangan lama-lama War, …” Kata Dewi yang langsung dipotong Mawar dengan ejekan “Cie, yang gak sabar mau pacaran. Cuit-cuit.” “Bukan gitu Mawar, loe kan tahu kalau dead line lagu ini cuma 1 bulan doang.” Kata Dewi sambil berjalan kearah jendela dan melihat betapa indahnya pemandangan malam hari disana. Kemudian Mawar menyusulnya dan menepuk pundak Dewi lalu berkata, “Loe tenang aja Dew, besok pasti gue kenalin. Lagian kalau Tuhan sudah berkehendak bahwa loe akan berhasil mendapatan cowok, jangankan besok, hari ini pun loe pasti bisa bertemu dengan dia.” Ketika keduanya melihat ke luar jendela, dapat dilihat oleh kedua pasang mata itu bintang jatuh, dan tanpa menunda lebih lama lagi keduanya langsung membuat permohonannya masing-masing di dalam hati. Kemudian Mawar bertanya, “Apa permintaan loe Dew?” “Yang pasti gue minta agar pembuatan lagu baru ini bisa segera selesai dengan hasil yang sangat memuaskan. Oh iya, kalau permintaan loe apa?” Tanya Dewi. Sambil tersenyum Mawar berkata “Gue tuh minta agar semua keinginan loe saat ini bisa terkabul semuanya.” “Uhh so sweet banget. Loe itu memang sahabat gue yang paling baik sedunia.” Kata Dewi sambil mencubit kedua pipi Mawar hingga sedikit merah. “Duh sakit Dew.” Kata Mawar sambil memegang kedua pipinya dengan wajah cemberut. “Hehehe sorry, soalnya elo sih ngegemesin” Kata Dewi sambil tertawa. “Dew, gue laper nih. Loe gimana sih ngundang temen ke rumah tapi gak mau di kasih makan. Entar kalau gue kurus trus sakit gimana? Loe yang harus tanggung jawab.” Ketus Mawar. “Iya-iya sorry, gue lupa karena keasyikan bicara. Tapi sepertinya loe gak bakalan mati cuma gara-gara gak makan malam satu hari doang. Coba kita liat jam berapa sekarang.” Kata Dewi sambil melihat jam dinding di kamarnya. “Ya ampun, ternyata ini tuh udah jam 20.15 WIB War, pantesan loe udah laper, loe kan gak biasa makan sampai selarut ini. Tapi tenang aja, Bi Inem udah masakin ayam goreng kok buat kita.” “Ayam goreng? Yipi…pasti Bi Inem bikin ayam goreng krispi kan?” “Iya, loe kok tahu?” Tanya Dewi bingung. “Ya tahu lah Bi Inem kan tahu kesukaan gue.” Jawab Mawar dengan sombongnya. “Kesukaan loe? Helloo… itu kesukaan gue kale.” Jawab Dewi dengan lebay. “Itu juga kesukaan gue kale. Kita kan sama. Gimana sih.” Ya beginilah mereka, selain hubungan persahabatan yang kuat, kesukaan, warna favorit dan lagu-lagu favorit mereka pun sama. Bahkan terkadang mereka juga bersikap sama seperti anak-anak yang penuh dengan keceriaan. “Ok. Sekarang gue tantang loe. Siapa yang sampai lebih dulu ke dapur dia pemenangnya. Dan yang kalah adalah…” “Telur busuk. Yee….” Dewi langsung memotong kata-kata Mawar sambil berlari menuju ke dapur diikuti oleh Mawar di belakangnya yang merasa marah karena tertipu sendiri oleh kata-katanya. Setelah sampai di dapur, mereka berdua langsung makan bersama sambil memperdebatkan hasil tantangan yang aneh itu. Lalu mereka menonton TV sesuai dengan siaran yang diinginkan Dewi karena Dewi adalah pemenang dari tantangan itu hingga pukul 22.00 WIB. Karena mengantuk, Mawar lalu mematikan TV dan langsung melihat Dewi yang sudah tidur. Dalam pikirannya ia berkata “Kalau tahu dia udah tidur mendingan aku tukar aja siarannya dari tadi, ngapain aku yang nonton acara dia? Ah udahlah, gak penting juga di bahas. Mendingan gue tidur aja, bisa-bisa besok pagi gue telat bangun dan dimarahin lagi sama si cerewet Dewi.” Lalu Mawar pun tidur disamping Dewi, dan tak lupa ia pun berdoa agar sahabatnya itu bisa segera menyelesaikan permasalahan hidupnya dan dapat memiliki pacar impiannya sendiri.

__ADS_1


Sungguh, ia benar-benar merupakan sahabat sejati yang saat ini sangat sulit sekali untuk dicari. Dewi benar-benar sangat beruntung memiliki teman seperti Mawar yang tak pernah lelah membantunya dan menghiburnya disaat ia sedang susah dan sedih. Dewi sangat paham dengan hal itu sehingga ia sangat berhati-hati dalam menjaga perasaan Mawar yang sepertinya tak pernah tersinggung itu agar persahabatan mereka bisa selalu kokoh dan semakin bertambah erat.

__ADS_1


__ADS_2