Inspirasi

Inspirasi
Pagi Yang Penuh Kebohongan


__ADS_3

Reza tiba dirumah dengan basah kuyup. Seharusnya dia menyediakan payung di mobilnya agar tidak berlari dari garasi ke rumah di tengah hujan deras.


Namun tetap saja walaupun sangat lelah dan juga kedinginan, senyum lebar tak pernah menghilang dari wajahnya. Hal ini membuat shinta, mamanya Reza menjadi sangat heran dengan tingkah putra bungsunya yang satu ini.


Dia selalu bersikap datar dan formal di rumah, tapi hari ini dia malah berlari menaiki tangga dengan tertawa lepas seperti baru memenangkan pertandingan basket saja. Dan jangan lupakan lantai yang ikut basah karena tingkah remaja yang cukup labil itu.


Selesai mandi Reza segera merebahkan tubuhnya di kasur dan mengambil smartphone untuk menghubungi Dewi, rasanya ia sudah sangat merindukan gadisnya itu, padahal mereka baru saja berpisah sekitar 1 jam mungkin, tapi rasanya sudah seperti setahun.


Reza segera mengirim pesan kepada Dewi dengan tergesa-gesa karena tidak tahan berpisah dengannya.


“Malam Dewi… Bagaimana kencan hari ini? Semoga saja kamu suka. Oh ya besok kita akan merencanakan kencan ketiga kita oke?”


Reza tahu ini terdengar gila, tapi memang begitulah kenyataannya. Rasanya Reza tak sanggup bila harus menahan perasaannya lebih lama lagi. Mungkin dia harus segera menyiapkan rencana untuk membuat momen kebersamaannya menjadi nyata, bukan hanya sebagai guru cinta dan muridnya, tapi sebagai sepasang kekasih.


Setelah waktu yang dilaluinya bersama dengan Dewi, Reza sudah merasa yakin kalau Dewi adalah orang yang tepat untuknya. Tak mungkin salah seperti waktu itu. Hanya saja, dia harus berusaha lebih keras untuk membuat Dewi menyadari perasaannya.


Walau sepertinya Dewi sudah merasakannya, namun masih ada keengganan untuk mengakui perasaannya di depan Reza. Mungkin sedikit waktu yang akan mereka lalui bisa menambah keyakinan Dewi terhadap cinta yang dirasakannya.


Cukup lama Reza menunggu jawaban dari Dewi, padahal pesan itu langsung terbaca saat baru dikirim. Mungkin Dewi harus berpikir keras dulu untuk menjawab pesan itu, atau mungkin dia sedikit marah karena kejadian di mobil.


Sedikit keluar jalur memang, tapi bila tidak dilakukan maka akan butuh waktu yang lebih lama lagi untuk membuat Dewi sadar akan cintanya.


Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Reza akhirnya memutuskan untuk kembali mengirim pesan lainnya.


“Kenapa gak dibalas? Kamu marah karena kejadian tadi? Maaf karena sudah membuatmu marah. Tapi aku tak pernah bermaksud begitu. Sebenarnya aku hanya ingin membuat momen spesial di kencan kita tadi karena sepertinya hari ini semua yang kita lalui kurang romantis. Tapi kalau memang kamu tidak suka, besok hal itu bisa kita bicarakan bersama disekolah. Selamt malam, dan semoga mimpi indah.”


Reza segera mendapatkan respon dari pesannya. Tapi bukannya memberi jawaban pertanyaannya, dewi malah membalas dengan mengucapkan “Selamat malam”.

__ADS_1


Reza hanya bisa bergumam “Gadis aneh” sambil menatap langit-langit kamarnya. Meskipun begitu, senyum lega terukir jelas diwajah Reza karena sepertinya Dewi tidak terlalu marah padanya dan masih mau menemuinya besok.


***


Lain halnya dengan Reza yang mungkin sudah berada dalam alam mimpi saat ini, Dewi sekarang sedang sibuk menulis lagu barunya yang sampai saat ini masih belum bisa mendapat inspirasi yang pas dan sesuai dengan tema “CINTA” yang sampai saat ini sangat sulit untuk diketahui artinya.


Walau sepertinya Dewi mulai bisa merasakannya dengan Reza, namun sepertinya sangat sulit untuk menuangkannya dalam bentuk kata-kata.


Dewi menghela napas panjang dan beranjak dari meja belajarnya menuju kasurnya yang empuk dan tak butuh waktu yang lama untuk Dewi berada diatasnya dengan isi kepala yang masih berputar-putar.


Apa yang akan dibicarakan besok dengan Reza? Apa dia harus bersikap layaknya orang yang sedang marah? Atau harus bersikap biasa saja seperti tidak ada kejadian yang terjadi tadi?


Sepintas Dewi teringat akan janji Reza yang ingin mengirimkan kontak Cindy padanya.


“Pasti dia lupa. Uuh dasar. Besok aku akan menagih janji itu saja. Tidak perlu membahas hal tadi. Lagipula…aku tidak yakin apakah aku akan sanggup menahan rasa aneh saat membahas hal seperti itu bersamanya.”


***


Pagi itu Dewi datang kesekolah lebih cepat dari biasanya. Dia ingin tiba lebih awal sebelum Reza karena bermaksud untuk tidak menemuinya hari ini. Dia hanya akan menyerahkan surat singkat yang ditulisnya tadi didalam mobil saat perjalanannya ke sekolah.


Sebenarnya Dewi sangat ingin untuk bertemu dengan Reza, namun karena takut tidak bisa mengendalikan diri dan malah membuat suasana diantara mereka menjadi canggung, akhirnya Dewi memutuskan untuk tidak menemuinya dan akan meletakkan surat itu diatap saja.


Dewi melangkahkan kakinya perlahan menaiki anak tangga menuju ke atap sekolah. Dan saat ia membuka pintu atap sekolah, alangkah terkejutnya Dewi karena Reza sudah berada disana duluan sebelum dirinya tiba.


Dewi hanya diam terpaku tak tahu harus berbuat apa. Dia menggenggam erat surat itu ditangannya dan hendak berbalik saat Reza datang menghampirinya dengan senyum khasnya yang sangat menawan hingga membuat Dewi hampir meleleh layaknya es yang terkena sinar mentari.


“Mau kemana Dew?” Reza menarik tangan Dewi memasuki atap sekolah dan membawanya duduk dibangku panjang yang berwarna coklat dengan material kayu itu.

__ADS_1


Dewi menghela napas singkat yang membuat Reza segera sadar dari kesalahannya dengan masih menggenggam tangan Dewi.


“Maaf Dew, aku lupa. Aku gak nyangka kalau kamu akan datang lebih cepat hari ini. Oh iya itu apa?” Reza menunjuk kearah surat yang dipegang Dewi, dan sontak Dewi hanya menggeleng karena tak ingin Reza melihat surat itu.


Reza masih penasaran dengan isi surat itu, namun ia tidak berani untuk merebutnya langsung dari Dewi karena bisa saja hal itu malah akan membuat Dewi marah dan merusak momen romantisnya di pagi hari.


"Za, sorry ya, hari ini aku ada banyak tugas, jadinya gak bisa sarapan bareng kamu." Dewi memasukkan surat itu ke dalam tasnya dan menatap Reza yang terlihat kecewa.


Ingin sekali rasanya Dewi berlama-lama bersama Reza saat ini, namun dia merasa jika hal itu tidak terlalu baik untuk dilakukan saat ini. Jadi dengan berat hati Dewi harus bersikeras pada keputusannya kemarin malam.


"Hmm, kamu masih marah ya Dewi?" Reza menggaruk rambutnya yang tidak gatal. sepertinya ia sedang menyesali sesuatu.


"Tidak kok Za. Aku cuma baru sadar aja kalau ternyata ada tugas yang belum selesai sementara harus dikumpulkan hari ini. itu sebabnya hari ini aku datang lebih awal ke sekolah." Dewi menjelaskan semuanya dengan tenang agar bisa membuat Reza percaya pada kebohongannya itu.


"Oh... jadi begitu ya. Aku kira kamu masih marah. Hahaha." Tawa kembali hadir di wajah tampan Reza setelah mendengar penjelasan dari Dewi.


Entah mengapa, namun Dewi juga merasa lega setelah melihat tawa Reza yang telah kembali untuk menghiasi paginya. sepertinya kebohongannya kali ini telah berbuah manis.


"Oh iya Za, bukannya kamu mau ngasih nomor Cindy ke aku?" Dewi mencoba mengalihkan topik agar Reza tidak bertanya apa-apa lagi padanya.


"Sorry ya Dewi, aku lupa. Ini aku kirimkan sekarang." Reza mengeluarkan smartphone-nya dari saku celananya dan segera mengetikkan sesuatu di layar. Tak lama kemudian Dewi mengecek isi pesan yang telah Reza kirimkan padanya. Dan pesan itu berisi nomor Cindy.


"Thanks ya Za. Hmm, kalau gitu aku ke kelas dulu ya." Dewi hendak berbalik namun Reza kembali menahannya.


"Dewi, bawa ini ya. Buat tenaga tambahan." Reza menyerahkan Roti dan botol air mineral yang sudah dibelinya pada Dewi.


"Oke, makasih ya Za, dan sorry banget udah ngecewain kamu hari ini." Dewi menepuk pelan bahu Reza dan segera berbalik begitu melihat anggukan Reza yang mengkodekan padanya bahwa semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2