Inspirasi

Inspirasi
Rutinitas Pagi


__ADS_3

Matahari mulai bersinar ketika jam sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB. Dewi yang sudah bangun kemudian mandi dan langsung membangunkan Mawar karena takut terlambat, tapi sepertinya Mawar masih mengantuk karena tidur larut malam, padahal Dewi sudah mengingatkannya untuk tidak tidur terlalu malam. Tapi ya beginilah sifat Mawar, sangat sulit untuk mendengarkan orang lain dan selalu saja memanfaatkan waktu yang ada untuk kesenangan dirinya sendiri. “Haa amm…. bentar ah Dew, gue masih ngantuk nih.” Kata Mawar yang masih belum membuka matanya sambil menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. “Loe itu gimana sih? Semalam kan gue udah bilang jangan tidur larut malam – jangan tidur larut malam, tapi loe nya gak mau dengar. Sekarang siapa coba yang repot? Gue juga kan? Malahan Pak Roni masuk jam pertama lagi. Bisa habis kita kena marah Pak Roni….” Omel Dewi panjang lebar pada Mawar yang sepertinya tak mendengarkan omelannya, namun karena terasa terganggu dengan suara omelannya yang berisik seakan-akan dunia mau kiamat ini memaksa Mawar untuk menurunkan selimut dari wajahnya dan mengatakan “Iya-iya berisik, gue bangun nih.” Kemudian Mawar memperhatikan jam yang digantung didekat foto Dewi saat sedang berulangtahun ke-15. Betapa terkejutnya Mawar ketika mengetahui bahwa jam sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Dengan cepat ia langsung menyibak selimut dari tubuhnya dan langsung masuk ke kamar mandi seperti dikejar-kejar setan. Maklum saja, hari ini adalah hari Senin, yang berarti jam masuk akan lebih dipercepat menjadi 07.15 WIB dikarenakan upacara mingguan yang menjadi rutinitas setiap sekolah yang ada di Indonesia. Selesai mandi, dengan tergesa-gesa Mawar mempersiapkan buku-buku dan alat tulisnya ke dalam tas miliknya kemudian ia langsung turun ke bawah untuk sarapan bersama Dewi yang sudah menunggunya sejak tadi di meja makan. “Cepat War, nanti kita telat. Kamu mau makan apa, roti atau nasi goreng?” Tanya Dewi. “Apa aja deh, yang penting gue kenyang dan gak kelaparan disekolah.” Jawab Mawar sambil duduk di kursi dan terlihat masih memeriksa isi tasnya agar tidak ada barang-barang yang tertinggal. “Nih”, kata Dewi sambil memberikan sepiring nasi goreng pada Mawar. “Loe gak makan?” Tanya Mawar bingung karena tak mengambil apapun juga untuk dimakan. “Gue males nih, kayaknya gak semangat banget mau sekolah” Kata Dewi yang terlihat sedikit pucat. Kemudian Bi Inem datang dari dapur menghampiri Dewi dan Mawar yang sedang sarapan pagi. “Loh non, kok non gak makan? Cepetan non, nanti terlambat loh” “Iya nih Bi, si Dewi gak mau makan, padahalkan dia terlihat pucat.” Sambung Mawar. “Non sakit? Kalau begitu hari ini tidak usah pergi ke sekolah saja biar nanti Bibi bilangin sama gurunya Non.” Kata Bi Inem sambil memegang bahu Dewi. “Gak ah Bi, hari ini Dewi harus ke sekolah, lagipula absen Dewi udah cukup banyak di bulan ini. Selain itu, Dewi kan juga udah ngerjain PR. Sayang dong kalau gak dikumpul.” Kata Dewi sambil tersenyum. “Kalau loe mau sekolah, loe itu harus makan dulu. Hari ini kan upacara, entar kalau loe pingsan siapa lagi yang repot, gue kan?” kata Mawar sambil menatap tajam pada Dewi. “Iya non, gak apa-apa kok cuma makan sedikit, yang penting non udah makan dan ada tenaga buat upacara nanti.” Tambah Bi Inem. “Iya-iya, nih gue makan.” Dewi mengambil roti di meja makan kemudian mengoleskan selai coklat dirotinya dan memakannya dengan tidak terburu-buru. Dewi memang selalu begitu saat sedang makan. Baginya waktu terindah didunia adalah ketika sedang makan apapun juga yang ia sukai dan menikmatinya dengan indah, karena itu Dewi tidak pernah suka apabila makan dengan terburu-buru, selain karena tak dapat menikmati makanannya, ia juga takut tersedak dan mengotori pakaian yang ia pakai. Sungguh, Dewi adalah orang yang sangat perfeksionis dalam berbusana, itu sebabnya ia tak suka bila baju yang ia kenakan kotor walaupun hanya sedikit saja. “War, makannya pelan-pelan aja, entar loe tersedak loh”. Dewi menatap Mawar yang masih saja tak menghiraukan apa yang Dewi katakan. Malah sebaliknya, Mawar semakin cepat menghabiskan nasi goreng buatan Bi Inem yang dianggapnya adalah nasi goreng terenak di dunia. Melihat hal itu, Dewi merasa heran dengan dirinya sendiri. Walaupun makan dengan santai, namun Dewi tidak dapat merasakan rasa nikmat dari makanan yang ia makan seperti biasanya. Tapi Mawar, walaupun makan dengan dikejar-kejar waktu, tetap saja dia dapat merasakan rasa dari masakan Bi Inem yang benar-benar enak. Ah mungkin Dewi tidak bisa merasakannya karena terlalu banyak masalah yang harus dia pikirkan dalam otaknya saat ini. “Tin-tin”, terdengar suara klakson mobil yang dibunyikan oleh supir sebagai tanda bahwa ia sudah mempersiapkan mobil untuk mengantar Dewi dan Mawar ke sekolah.”Cepat non, itu mobilnya sudah siap. Nanti non telat loh.” Kata Bi Inem sambil mengangkat piring kotor menuju ke dapur. “Iya Bi, ini kami mau berangkat.” Dewi terus memperhatikan Mawar yang masih terus makan tanpa tanpa memperdulikan Dewi yang sedang menatapnya dengan kesal. Lalu dengan sekilas Mawar melihat Dewi dan berkata “Apa?” kemudian melanjutkan makannya lagi. Mawar memang kurus, tapi porsi makannya sangatlah besar. Itulah yang terkadang membuat Dewi merasa aneh dengan teman satu-satunya ini. Dewi berdiri dan memakai tasnya, “Loe mau berangkat gak? Kalau gak gue pergi duluan nih”. “Dewi menggeser kursi makannya lalu merapatkannya lagi ke meja makan. Karena merupakan orang yang mencintai kerapian, maka Dewi juga melakaukan kebiasan-kebiasaan untuk merapikan barang-barang yang ia gunakan, termasuk kamar dan kursi makannya. “Iya bawel. Nih gue minum dulu biar gak kesedak.” Mawar meminum airnya dengan cepat lalu memakai tas dan langsung mengejar Dewi yang sepertinya sudah berjalan duluan kearah mobil. Dengan sigap kedua tangan Mawar mencapai dan membuka pintu mobil yang berwarna putih itu kemudian masuk dan duduk di kursi belakang, lebih tepatnya disamping Dewi. Tanpa berpikir panjang lebar lagi Dewi langsung memerintahkan Pak Tarjo, supirnya dengan sopan untuk segera berangkat karena ia sangat takut terlambat. Dewi merupakan anak yang selalu menjaga nama baik dan bersikap santun kepada siapa saja dan dimana saja. Walaupun ia adalah seorang penyanyi terkenal, namun ia selalu bisa menjaga image-nya agar selalu dihormati oleh orang lain seperti tidak pernah terlambat datang ke sekolah, membantu melaksanakan kegiatan-kegiatan acara di sekolah dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, Dewi tidak suka melihat sikap Mawar yang terkesan terlalu malas untuk kesekolah walaupun dia cukup pintar..


__ADS_2