
Setelah selesai mengikuti les tambahan yang merupakan menu wajib bagi setiap siswa kelas XII untuk menghadapi UN, Dewi tidak langsung keluar kelas, dia masih sibuk merapikan buku-bukunya yang sebenarnya sudah tertata rapi di dalam tasnya. Sebenarnya ini adalah salah satu hal yang biasa Dewi lakukan sambil menunggu sekolah sepi agar tidak banyak mata yang memperhatikannya saat ia berjalan ke parkiran sekolah yang memang sangat ramai saat jam pulang. Setelah ia rasa cukup lama, ia pun keluar dan langsung berjalan menuju taman di belakang sekolah yang merupakan tempat temu janjinya dengan Reza. Saat sampai disana Dewi langsung disuguhi pemandangan yang sangat indah dimana mentari yang indah mulai memunculkan wujudnya bersamaan dengan pelangi yang timbul akibat sisa hujan tadi. Ini adalah hal yang sangat sayang untuk dilewatkan seorang Dewi, ia mengambil smartphone di saku kiri roknya dan langsung mengabadikan momen yang indah itu dengan kamera smartphone-nya. Lalu matanya mulai memandang ke sekitar taman untuk mencari sosok orang yang akan ia temui saat itu. Namun sepertinya ia tak menemukannya karena yang ada di taman itu hanyalah seorang nenek tua dan cucunya yang sedang duduk bersama serta anak-anak kecil yang sedang bermain-main diatas rerumputan yang hijau dan basah oleh air hujan yang sedikit menggenanginya. Dewi pun duduk di salah satu bangku panjang yang tersedia di taman ini. Sedikit lembab dan dingin, namun keadaannya cukup kering untuk diduduki. Setelah beberapa menit Dewi mulai gelisah karena sosok yang ditunggu tak kunjung datang. Ia pun segera melihat jam yang melingkar di tangan kirinya itu lalu berbicara sendiri, "Ini sudah jam 15.10 WIB, tapi kenapa dia belum datang juga. Padahal pertemuan sebelumnya kan dia yang datang duluan, kenapa sekarang jadi telat gini sih? Apa dia lupa? Kayaknya sih gak mungkin. Atau jangan-jangan dia sengaja mau balas dendam soal tadi pagi." Dewi menghela napas sejenak dan memandang ke atas langit yang berwarna oranye dan sudah kembali cerah setelah hujan yang sangat lebat tadi. Pelangi yang menghiasi langit itu pun perlahan mulai menghilangkan wujudnya. "Wajar sih kalau dia marah, kan aku yang salah. Tapi harusnya dia gak usah berlaku kekanakan gini dong. Aku kan jadi harus nunggu lama kayak gini. Duuh buang waktu aja sih Reza." "Aduhhh..." tiba-tiba terdengar suara teriakan anak perempuan yang terjatuh di belakang kursi taman yang berwarna putih itu. Sontak Dewi langsung berdiri dan berbalik lalu mengangkat anak perempuan yang mungkin berusia sekitar 6 tahunan itu dan mendudukkannya di tempat Dewi duduk tadi. Lalu dengan lembut dia mengelus kepala anak itu. "Kamu gak apa-apa? Kenapa bisa jatuh?" Tanya Dewi dengan nada lembut disertai senyumnya yang manis. "A-aku tadi lagi lomba lari sama July, terus kesandung batu." Jawab anak itu dengan senyum yang terlihat dipaksakan karena memendam rasa sakit di lututnya. Melihat lututnya yang sedikit berdarah langsung membuat Dewi merogoh saku kecil di tasnya dan mengambil plaster. Karena melihat wajah tegang anak itu, Dewi jadi berinisiatif untuk mengajaknya berbincang agar suasana jadi tidak canggung dan anak itu tidak sadar kalau saat ini sedang berbicara dengan orang asing. "Nama kamu siapa?" Dewi kembali menebarkan senyumnya yang ramah agar anak itu tidak merasa takut saat berbicara dengannya. Namun sepertinya anak itu tidak merasa takut sama sekali dengannya. "Namaku Ani kak." Dewi kembali melihat senyum terpaksa itu di wajah anak yang sebenarnya cukup imut itu kalau tidak sedang kesakitan. Dewi lalu melekatkan plasternya di lutut anak itu dan memperhatikan anak itu. Aneh sekali rasanya melihat anak perempuan sekecil Ani yang terjatuh tapi tidak menangis. Malahan ia berusaha tersenyum ramah walaupun dengan orang asing. Karena penasaran, Dewi pun langsung bertanya kepada anak itu, "Ani kok gak nangis sih? Memangnya kakinya gak sakit?" Dewi kembali mengelus pelan rambut Ani yang berwarna hitam pekat itu. "Kata mama Ani itu harus berani dan gak boleh nangis walaupun jatuh. Karena mama udah ngasih nama Ani supaya jadi anak yang berani. Hehehe..." mendengar kata-kata yang bijak itu dari seorang anak yang sekecil itu langsung membuat Dewi terharu dan langsung memeluk anak itu layaknya seorang ibu yang bangga terhadap anaknya. "Ani, ayo kita pulang, mama kamu udah manggil kamu tuh." Terlihat sosok anak kecil imut lainnya yang berteriak memangil Ani dari kejauhan. "July" Lalu anak itu berdiri dan bertanya pada Dewi. "Nama kakak siapa?" "Dewi ." "Waahh... itu sebabnya kakak baik seperti dewi . Terima kasih ya kak. Ani mau pulang dulu sama July. Dah..." tanpa mendengar jawaban Dewi kedua anak itu langsung berlari meninggalkan taman dengan cepat dan membuat Dewi kembali duduk sendiri. Tanpa sadar, sebenarnya sosok yang sedang ditunggu itu sedang memperhatikan apa yang Dewi lakukan bersama anak itu dan langsung mendatangi Dewi dengan senyumnya yang lebar dan menarik itu. Namun semuanya berubah saat melihat ekspresi Dewi yang menatap kejam kearahnya seakan-akan Dewi ingin membunuhnya saja.
__ADS_1
***
__ADS_1
Reza mencoba tenang untuk menghadapi sikap Dewi yang dinilainya terlalu kekanakan. "Dew, kamu marah ya? Ini kan cuma masalah sepele, kenapa harus jadi seperti ini?" Dewi masih terus diam menatap langit sambil mencoba mengabaikan Reza, padahal ia terus mendengarkan semua perkataannya. Tiba-tiba Reza mengukir senyum singkat di bibirnya. Sepertinya dia sudah punya cara untuk membuat Dewi bicara padanya. "Hmm... jadi kamu gak mau dibantu lagi nih sama aku? Ya sudah kalau begitu. Tapi lihat saja nanti, kalau sampai kamu meminta aku untuk membantumu lagi merasakan cinta, aku tidak akan mau, bahkan bila kamu memohon sekalipun." Reza berbalik dari Dewi dan berjalan menjauhinya beberapa langkah sambil terus menghitung dalam hati berharap Dewi akan memangilnya. Satu... dua... tiga... Reza berhenti namun masih berdiri membelakangi Dewi tapi sepertinya Dewi masih diam saja disana sehingga membuat Reza merasa kecewa dan bergumam dalam hati, "Apa dia semarah itu? Kenapa dia tidak memanggilku sih? Ahh... sepertinya cara ini tidak berhasil. Ya sudah tidak apa-apa. Nanti akan aku pikirkan cara lain untuk membujuknya. Lebih baik aku pergi dari sini sebelum membuatnya bertambah marah." Reza kembali berjalan menjauhi Dewi, namun langkahnya kembali terhenti kali ini karena Dewi memanggilnya. "Tunggu..." Dewi berjalan mendekati Reza yang kembali mengukir senyum singkat lalu berbalik menghadapnya. "0823 7215 xxxx" Dengan cepat Reza mengeluarkan smartphone-nya dari saku kemeja dan dengan sigap ia mencatat semua nomor yang diucapkan Dewi tanpa terlewat sedikitpun lalu menyimpan nomor itu di kontaknya. Reza ingin berterima kasih karena Dewi sepertinya sudah memaafkannya namun kata-kata itu ditepis begitu saja oleh Dewi. "Dew, terima ka..." "Sekarang kamu sudah boleh pergi." Tanpa melihat ekspresi Reza, Dewi berjalan meninggalkannya dengan sedikit senyum yang menghiasi wajahnya. Reza benar-benar tidak menyangka dengan apa yang telah dilakukan Dewi padanya. Dia kembali pulang berjalan kaki sambil terus berbicara memaki-maki Dewi dan merutuki kebodohannya sendiri. "Huuh memangnya siapa dia seenaknya saja mengatur-atur aku? Baru ketemu 1 hari saja sikapnya sudah langsung terlihat, apalagi kalau ketemu tiap hari? Bisa-bisa aku jadi penghuni rumah sakit jiwa gara-gara dia. Lagian aku juga yang bodoh, ngapain juga aku berharap sama cewek kayak gitu. Sampai kapanpun juga dia gak akan mungkin mengerti apa itu cinta karena sikapnya yang terlalu egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri itu. Mana ada cowok yang mau sama dia? Dasar aneh, menyebalkan. Aku benci dia." Reza membayangkan semua kejadian yang telah dialaminya bersama Dewi selama 1 hari ini. Dia mengingat-ingat kejadian saat dia mengira Dewi akan bunuh diri. "Harusnya aku tolak saja dia dari atap sekolah agar aku tidak pusing memikirkannya. Tapi.... masalahku akan bertambah parah kalau berhubungan dengan polisi." Reza berhenti di jalan dan menarik napas panjang-panjang agar merasa lebih tenang. Namun percuma saja karena bayang-bayang Dewi tidak bisa hilang dari pikirannya. Karena kesal, Reza pun menjambaki rambutnya yang hitam lebat itu dan kembali berjalan menuju rumahnya dengan wajah datarnya.
__ADS_1