Inspirasi

Inspirasi
Berbicara


__ADS_3

Pagi itu Dewi benar-benar terlihat murung. Walaupun sudah sarapan, namun Dewi masih kelihatan lemas seperti orang yang tidak punya arah tujuan hidup. Dewi segera berjalan dengan santai menuju mobil yang sudah diparkir didepan pintu masuk rumah Dewi oleh pak Tarjo dan segera memasukinya.


Sepanjang perjalanan, Dewi hanya menatap jalanan sekitar dengan tatapan kosong yang benar-benar menyakitkan. Beberapa kali Dewi berharap kalau ia bisa melihat Reza melintas sekilas dari mobilnya seperti waktu itu, namun sepertinya takdir tidak berpihak padanya hari ini. Bahkan sampai saat ini Reza belum mengirimkan pesan apapun seperti biasanya kepada Dewi seperti ucapan selamat pagi atau pengingat sarapan.


Tanpa sadar Dewi telah tenggelam di dalam lamunanya. “Apa dia marah padaku? Aku ini benar-benar keterlaluan, dia berusaha menjelaskan semuanya dan meminta maaf, tapi aku malah…”


“Kita sudah sampai Non.” Pak Tarjo segera membuyarkan lamunan Dewi dengan cepat.


“Iya pak, terima kasih.” Dewi segera turun dari mobilnya dan berjalan menuju anak tangga sambil bergumam dalam hatinya, “Ada apa denganku? Kenapa aku terus memikirkannya? Huuh lebih baik aku langsung ke kelas saja.”


Saat Dewi tiba di lantai dua gedung B, Dewi berhenti karena bingung kemana dia harus melangkah. Di satu sisi dia sangat ingin pergi ke kelasnya, namun disisi lain Dewi masih memikirkan pesan Reza untuk menemuinya di atap.


Walau sudah mengatakan kalau mereka tidak perlu bertemu, tapi masih saja ada sedikit keraguan di hati Dewi mengingat bahwa Dewi mulai mengenali sifat Reza yang suka menentang dan juga keras kepala seperti dirinya.


Akhirnya Dewi memutuskan untuk kesana sekedar mengecek apakah Reza benar-benar mengikuti perkataannya atau tidak. Saat sampai ke atap sekolah, Dewi segera mencari Reza kesekeliling atap.


“Sepertinya dia memang tidak datang.” Ada perasaan sedih saat Dewi mengungapkan kata-kata itu.


Dewi pun bersandar untuk mlihat pemandangan sekitar yang indah di pagi hari dari atap sekolah yang cukup tinggi ini. Cukup lama ia mengagumi pemandangan hingga tiba-tiba terdengar suara pintu yang ditutup dan sepertinya dikunci oleh seseorang.


Dewi segera berbalik dan mendapati Reza yang menatapnya dengan perasaan yang sulit diartikan.


Reza memasukkan kunci atap sekolah ke saku celananya, sementara jantung Dewi berdetak semakin kencang saat Reza melangkah semakin dekat padanya.


Secara refleks Dewi melangkah mundur untuk menjauhi Reza, namun hanya bisa beberapa langkah saja karena tertahan oleh dinding pembatas.


Dewi benar-benar panik dan tidak bisa berpikir jernih. Entah apa yang telah merasuki pikirannya, yang jelas saat ini yang Dewi butuhkan adalah bernapas, menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menepis rasa sesak didadanya.


Reza berhenti melangkah saat jarak diantara keduanya benar-benar tipis, pandangan matanya mulai menggelap tanpa arti, lalu mencondongkan wajahnya ke depan hingga jarak wajah keduanya sangat dekat.


Sementara Dewi hanya bisa menelan ludahnya dan menahan napasnya saat Reza semakin dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan.


Entah keberanian apa yang tiba-tiba menghampiri Dewi hingga Dewi secara refleks mendorong Reza pelan dengan suara bentakannya, “Hentikan Za!”


Reza terkejut seketika dan mengacak rambutnya sendiri sambil melihat sekitar. Apa yang telah ia lakukan? Kenapa ia begitu bodoh? Untung saja Dewi menghentikannya tadi.

__ADS_1


“Maaf Dew.” Reza segera berjalan meninggalkan Dewi menuju pintu atap sekolah. Ya, hanya itu satu-satunya cara yang terpikir oleh Reza untuk meredakan emosi yang sangat menggebu-gebu dalam dirinya begitu juga dengan Dewi yang mungkin bertambah marah padanya.


Padahal Reza tadi hanya berniat untuk bercanda dan minta maaf, tapi siapa sangka kalau ia justru tenggelam dalam nafsunya sendiri dan hampir melupakan janjinya pada Dewi.


Saat Reza sudah sampai di pintu dan merogoh saku kirinya untuk mengambil kunci, tanpa disangka Dewi langsung menarik tangan Reza menuju bangku dan duduk, sementara Reza hanya berdiri saja menatap Dewi dengan tidak percaya.


Bagaimana dia bisa setenang itu setelah kejadian tadi? Bahkan jantung Reza saja masih belum berdetak normal.


“Kamu gak mau duduk?” Reza segera duduk disamping Dewi dengan raut wajah yang masih kebingungan.


“Kita perlu bicara saat ini, itu sebabnya aku datang kesini.” Reza menatap wajah Dewi lekat-lekat, dia benar-benar serius dengan kata-katanya, bahkan tidak ada rasa ragu atau takut dalam pengucapan katanya. Benar-benar tenang namun penuh penegasan.


Sepertinya baru kali ini Dewi terlihat serius seperti ini, apa jangan-jangan dia ingin memutuskan hubungan diantara mereka?


Entah mengapa rasanya begitu sakit saat memikirkan hal itu. Apa mungkin Reza sudah mulai jatuh cinta pada Dewi? Dia begitu terikat dengan perasaaan ingin selalu bersama dengan Dewi belakangan ini, apalagi setelah mengingat apa yang dikatakannya kemarin pada Dewi, semakin membuat Reza yakin kalau Dewi akan melakukan hal itu.


Tapi itu tidak boleh terjadi, apapun yang akan Dewi katakan nantinya Reza akan tetap meminta maaf, bila perlu dia akan membalikkan kata-katanya kemarin pada Dewi, bahwa dialah yang membutuhkan Dewi, bukan Dewi.


Entah apa yang ada dipikiran Reza saat ini, Dewi diam saja memperhatikan wajah Reza yang terlihat tegang sekaligus murung. Ini pertama kalinya dia melihat Reza dengan ekspresi itu. Bahkan ia sangat bingung apa yang harus ia katakan pada Reza, apalagi setelah kejadian tadi, jantung Dewi rasanya berhenti berdetak saat Reza benar-benar dekat dengannya tadi.


Ia marah, tapi tidak bisa mengungkapkan kemarahannya, ia ingin minta maaf karena sudah membentak Reza, tapi pada posisi itu wajar saja jika ia marah dan akan tidak adil jika Dewi lah yang meminta maaf, padahal Reza lah yang hampir melanggar janjinya.


“Kenapa kamu datang kemari? Padahal kan aku sudah bilang agar tidak menemuiku hari ini.” Reza hanya menunduk layaknya anak yang ketahuan berbuat nakal saja, tanpa disadari senyum singkat menghiasi wajah Dewi yang datar.


“Hmm… sebenarnya aku kemari karena ingin berusaha menjelaskan kalau semua yang terjadi itu tidak seperti yang kamu kira. Aku gak bermaksud untuk membuat kamu sedih ataupun kecewa, aku…”


Dewi menggenggam tangan Reza dan menatapnya dengan lembut. “Za, kamu gak perlu merasa bersalah seperti itu, aku ngerti kok kenapa kamu mengatakan hal itu, dan… setelah aku pikir-pikir hal itu memang benar. Aku yang bergantung kepadamu, bukan kamu.”


“Dewi… tuh kan, kamu pasti masih marah deh. Oke, gini deh, sekarang katakan apa yang harus aku lakukan agar buat kamu gak marah lagi?”


Dewi langsung tertawa melihat tingkah laku Reza yang benar-benar sangat lebay. Rasanya baru kali ini ada pemuda yang begitu perhatian dan sangat mudah untuk mengenali setiap perasaannya.


Entah mengapa kesedihan dan kemarahan itu seketika menghilang saat melihat wajah Reza yang tampan namun sangat imut.


“Hmm… sebenarnya aku udah maafin kamu, tapi karena kamu nawarin diri buat lakuin sesuatu, maka aku pasti tidak akan melewatkan kesempatan itu. Kapan lagi coba bisa minta apapun yang aku inginkan dari kamu.”

__ADS_1


Reza tersenyum senang melihat ekspresi Dewi yang sudah kembali ceria.


“Kamu bisa minta apapun selamanya, karena aku akan selalu ada bersamamu Dewi.” gumam Reza dalam hatinya yang sangat bahagia.


“Katakanlah boss, pelayanmu ini pasti akan mengabulkan apapun yang kamu minta.” Dewi tertawa keras dan bebas yang semakin menambah kecantikannya yang benar-benar alami.


Sungguh pemandangan yang sangat indah ditambah cahaya mentari yang mulai menyinari wajah cantiknya.


“Jangan pernah melakukan hal seperti tadi lagi.”


“Maksud kamu hal tadi itu cium kamu?” sontak wajah Dewi langsung memerah, bagaimana bisa dia mengenal pemuda yang vulgar seperti Reza, yang asal bicara saja tanpa disaring dulu?


“Maaf Dewi, sebenarnya tadi aku gak bermaksud gitu. Aku cuma mau lihat gimana ekspresi kamu, apakah masih marah atau tidak. Tapi aku malah khilaf dan terbawa suasana. Tapi untung saja kamu segera menghentikanku, kalau tidak aku pasti sudah melanggar perjanjian ini.”


Dewi hanya menganggukkan kepalanya. “Oh ya, lain kali kalau hal tadi terjadi lagi, kamu hentikannya pas sudah selesai saja Dew, hahaha…” Reza tertawa keras diikuti Dewi yang menggerutu tentang dirinya.


“Uhh dasar mesum, ternyata benar kata Mawar, kalau kamu itu mesum.”


Reza mengernyitkan dahinya dan bergumam dalam hatinya, “Mawar? Bukannya itu pacarnya Tomi? Astaga aku baru ingat, bukankah waktu itu Dewi pernah menyinggung masalah penjelasan hubungan ini dengan Mawar dan Tomi di awal pertemuan kami? Hmm… sepertinya aku harus tanya ini langsung ke Tomi.


Apa sebenarnya maksud Tomi dengan semua permainan ini, apa dia ingin mempermainkanku dengan Dewi? Kalau memang benar begitu, berarti aku sudah benar-benar terjebak karena suka dengan Dewi. Tapi sepertinya tidak ada yang mencurigakan dengan Dewi. Apa Dewi tidak mengetaui hal ini juga? Sudahlah lebih baik aku tanyakan saja nanti daripada bertambah bingung.”


Dewi melihat perubahan wajah Reza yang terlihat marah, mungkin karena Dewi mengejeknya. Tapi kan hal itu memang benar?


“Maaf Za, aku gak bermaksud menghina kamu kok. Jangan marah ya? Aku cuma bercanda.”


Reza kembali tersenyum melihat raut kekhawatiran Dewi yang selalu bisa menghangatkan hatinya.


“Aku gak mungkin bisa marah sama kamu, Dew. Ingat hal itu."


Reza hendak memegang wajah Dewi tapi terhenti saat sudah hampir menyentuh pipi Dewi. Reza menghela napas dan ingin menarik kembali tangannya, tapi Dewi lebih dulu menarik tangannya untuk menyentuh pipi Dewi dan senyum lebar pun terpampang jelas di wajah Reza.


Dia mengelus pipi Dewi lembut kemudian menariknya kuat hingga membuat Dewi mengaduh dan memegang pipinya yang sedikit merah.


“Kamu tau, aku selalu ingin melakukan itu saat melihat pipi tembammu yang sangat menggemaskan, dan sekarang aku sangat senang karena bisa melakukannya atas persetujuanmu. Aku harap kamu bisa lebih berkembang lagi dari sekarang, agar bisa segera merasakan arti cinta yang sebenarnya.”

__ADS_1


Dewi menunduk karena malu dengan rona merah yang timbul di pipinya karena kata-kata yang Reza ucapkan. “Hei, jangan menunduk seperti itu Dewi. Aku sangat ingin melihat wajahmu yang sedang memerah karenaku.” Dewi segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya sementara Reza masih terus menertawainya.


Entah mengapa Dewi harus bertemu dengan pemuda gila itu, yang emosinya selalu berubah-ubah, namun selalu bisa membuatnya nyaman ketika bersamanya. Mungkin memang beginilah perasaan cinta itu. Ya… cinta.


__ADS_2