Inspirasi

Inspirasi
Rencana Yang Gagal


__ADS_3

Dewi kembali melirik jam tangan hitamnya yang menunjukkan pukul 18.30 WIB, rasanya sudah cukup lama ia dan Reza berada di dalam mobil hingga tanpa disadari langit senja pun kini telah berubah menjadi gelap. Dewi berusaha untuk memecahkan keheningan diantara mereka, "Sebenarnya kita mau kemana Za? Kok dari tadi gak sampai-sampai?" Reza sedikit tersenyum melihat Dewi yang sepertinya mulai bosan dengan suasana yang tercipta saat ini. "Hmm kayaknya ada yang sudah gak sabar nih mau kencan pertama?" Dewi menunjukkan tatapan kekesalannya ke Reza yang langsung membuat Reza tertawa lepas saat itu juga. "Kita sudah sampai, tuan puteri." Dewi mendecih kesal melihat tingkah Reza namun wajahnya langsung tersenyum melihat tempat yang di pilih Reza sebagai tempat kencan pertamanya yang sangat romantis ini. "Kamu serius bawa aku kesini?" Reza menganggukkan kepalanya sambil tersenyum melihat kebahagiaan dimata Dewi, namun hal itu tak berlangsung lama karena melihat senyum di wajah Dewi yang perlahan memudar. "Ada apa? Kok diam? Ayo kita masuk." Dewi hanya menunduk diam disamping mobil Reza yang sudah terparkir. "Aku akan pesan tempat VIP untuk kita, aku tahu kamu kurang suka keramaian kan?" Reza menepuk bahu Dewi yang sontak membuat Dewi terkejut namun berusaha memberikan tatapan intimidasinya pada Reza yang tak kunjung menjauhkan tangannya dari Dewi. "Apa? Bukannya hari ini kamu sudah ngijinin aku? Kenapa sekarang kamu marah?" Reza mencoba mengintimidasi Dewi dengan perkataannya sendiri, namun sepertinya Dewi sama sekali tak merasa terintimidasi dengan sikap Reza. "Aku cuma ngijinin kamu megang tangan doang, gak lebih." "Memang kapan kamu bilang begitu? Perasaan kamu udah ngijinin aku untuk menyentuhmu sepuasnya hari ini, itu berarti aku bebas sekarang." Reza segera menggenggam tangan kanan Dewi dan memasuki restoran yang cukup terkenal itu di kalangan atas. "Waduhh.. kok rame banget ya?" Reza mengernyitkan dahinya melihat pemandangan sekitar yang menurutnya sangatlah ramai. "Hmm... tidak seperti biasanya," gumam Reza dalam hati. Keduanya berjalan menuju meja reservasi untuk memesan sebuah meja. "Maaf mas, semua mejanya sudah penuh." Reza memperhatikan Dewi yang tampak kesal karena kesalahannya itu. Harusnya dia memesan meja itu dulu sebelum membawa Dewi ke tempat itu. Tapi bagaimana mungkin restoran ini penuh di hari jumat? bahkan semua meja VIP dan VVIP pun ikut penuh. Dengan penuh penyesalan Reza langsung mengejar Dewi yang sudah berjalan duluan ke parkiran. Reza hanya dapat tersenyum kecil memperhatikan kekesalan di wajah Dewi. Sepertinya baru hari ini dia melihat ekspresi itu di wajah Dewi, benar-benar menggemaskan. Reza pun memasuki mobilnya dan menatap Dewi yang enggan untuk menatapnya. "Ayo pulang!" Dewi memerintah Reza layaknya seorang boss dengan nada dingin dan datar. "Pulang?" Reza benar-benar tidak habis pikir dengan gadis satu ini. Setiap harinya selalu saja ada tingkah baru yang mengejutkannya. "Iya, ayo kita pulang sekarang." Dewi memandang lurus ke depan tanpa melihat Reza sedikitpun. Walaupun Dewi berkata dingin begitu, Reza dapat melihat kekecewaan yang besar di raut wajahnya. Reza mengerti kalau ini adalah kencan pertama bagi Dewi, dan sungguh Reza tidak pernah berniat sedikitpun untuk merusak kencannya ini. Reza hanya bisa merutuki kebodohannya yang benar-benar berakibat fatal pada hubungannya dan Dewi. Padahal sudah susah payah Reza meyakinkan Dewi untuk percaya padanya hanya untuk hari ini saja, tapi sepertinya takdir memang selalu saja merusak segalanya. "Hmm... Dew…” Reza menatap Dewi dengan tatapan sendunya, berusaha untuk melunakkan hati sang gadis yang sepertinya telah berubah menjadi batu karena kekesalannya. “Ada apa?” Dewi masih memalingkan wajahnya dari Reza karena takut hatinya akan luluh saat menatap mata Reza yang sendu. Tentu semua usaha Dewi menjadi wanita yang dingin sedari tadi akan sia-sia saja bila Dewi sampai luluh di depan Reza. Belum lagi rasa malu yang akan timbul kalau Reza sampai menggodanya lagi. Terdengar helaan berat dari Reza yang membuat Dewi ingin melihat seperti apa ekspresi Reza saat ini, tapi pikiran dan hatinya masih terus bergejolak untuk tidak semudah ini melihat Reza. Hingga tiba-tiba Dewi merasa kehangatan telah menerpa kulit tangannya, ya Reza menggenggam tangan kanannya dan sontak langsung membuat Dewi kaget dan melihat wajah Reza yang terlihat sangat penuh dengan penyesalan. “Dew, aku minta maaf ya. Aku tahu ini semua tidak seharusnya terjadi. Ini adalah kencan pertama kita, tapi karena kebodohanku semuanya jadi berantakan. Entah kenapa restoran itu bisa penuh di hari jumat, padahal biasanya tidak pernah seramai itu. Tapi kamu tenang saja, aku tetap tidak akan menyerah. Karena kamu sudah memberikanku kesempatan hari ini untuk membuatmu merasakan kencan pertama, aku tak mungkin akan menyia-nyiakannya begitu saja. Karena itu….” Reza semakin mendekatkan dirinya dengan Dewi yang membuat Dewi menjadi panik dan langsung bergeser mundur dari tempat duduknya hingga punggungnya bersandar di pintu mobil. Dewi berusaha menahan gejolak aneh dihatinya saat Reza semakin mendekati wajahnya yang mulai memerah, hingga Reza membisikkan sesuatu di telinga Dewi, “Maafkan aku Dew, dan aku pasti akan membuatmu senang hari ini hingga kamu tidak akan pernah bisa melupakan hari ini seumur hidupmu.” Dewi hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa bersuara sedikitpun karena merasa malu. Dalam hatinya Dewi mendengar alaram bahaya karena selama ini ia belum pernah berada sedekat itu dengan lelaki manapun juga, jadi wajar saja kalau Dewi jadi merasa aneh dengan perasaannya saat ini. Reza hanya bisa tersenyum kecil lalu memasangkan seatbealt Dewi karena sedari tadi Dewi hanya diam mematung dengan wajah yang sangat shock dengan perlakuan Reza tadi. Jujur saja, ini juga pengalaman pertama Reza bisa berada sedekat itu dengan seorang wanita. Selama ini dengan sikap dingin dan acuhnya itu, dia selalu membuat banyak gadis menyukainya, namun tak ada yang berani mendekatinya karena aura mematikan yang ada di sekitar Reza seakan menjadi dinding penghalang yang besar bagi mereka untuk bisa mendekati pemuda ini. Berbeda halnya dengan Dewi, Reza merasa seperti ada sesuatu yang sangat menarik di dalam diri Dewi hingga membuat Reza menjadi sangat penasaran dengan dirinya. Bahkan dalam sekejap, Reza yang dingin dapat berubah menjadi pemuda hangat yang penuh cinta dan yang lebih anehnya lagi, ia rela menjadi guru cinta untuk Dewi agar bisa selalu dekat dengannya. Entah apa yang membuat pemuda itu berpikir kalau ia bisa menggantikan kencan romantis mereka dengan hal yang lebih menarik dibanding sebuah makan malam. Yang jelas, saat ini pikiran Reza harus berputar sebaik mungkin untuk mencari ide paling romantis sebagai kesan dalam kencannya nanti.


__ADS_2