
Saat bel pulang sekolah berbunyi, Reza sengaja keluar jelas terlebih dahulu karena ingin menemui Tomi. Dia berlari menuju kelas Tomi yang berada beberapa kelas disamping kelasnya dan seketika saja melihat Tomi yang baru saja keluar dari kelasnya sambil menyandang tas hitamnya. Reza segera memanggil Tomi yang membuat Tomi bebalik dan merasa Heran.
“Kenapa bro? tumben nyariin gue? Mau cari pacar baru ya?” Tomi menunjukkan cengiran khasnya saat sedang bercanda ataupun menggoda Reza. Ah rasanya sudah cukup lama dia tidak melakukan itu pada Reza semenjak kejadian beberapa tahun lalu.
“Apaan sih. Pacar mulu yang dipikirin. Gue mau ngomong hal penting sama loe. Ini tentang Dewi. Bisa?” Reza menunjukkan tampang seriusnya hingga mau tidak mau membuat tomi mengangguk pasrah pada sahabatnya yang aneh itu. Tapi kemudian Tomi menggeleng kuat hingga membuat Reza menjadi bingung dengan temannya itu.
“Loe kenapa geleng-geleng gitu? Kesambet?” Tomi melihat-lihat kesekitar sambil mencari-cari seseorang tanpa memperdulikan Reza yang mulai kesal dengan tingkah lakunya.
“Woi, kalau ditanya itu ya dijawab. Memangnya gue radio rusak apa?”
“Sabar Za, gue cuma mau mastiin kalau Mawar lagi gak nyariin gue. Bisa ribet urusannya kalau sampai dia nungguin gue di depan kelas. Entar kalau dia digodai cowok-cowok lain gimana? Bisa-bisa gue malah disalahin gara-gara gak bisa menjaga calon istri dengan baik. Gue juga harus nganterin dia pulang hari ini.”
Reza hanya tercengang melihat perubahan yang begitu besar pada Tomi. Orang yang sangat bebas seperti itu bisa menghargai tanggung jawab dengan baik. Bagaimana bisa ia sampai takhluk di depan Mawar. Wow benar-benar hebat. Bahkan ia sudah berpikir untuk menikahi Mawar. Apakah sebegitu besarnya cinta Tomi pada Mawar?
Entahlah yang jelas saat ini ia tidak boleh kalah saing dengan Tomi. Ia harus bisa mendapatkan Dewi bagaimanapun caranya. Tapi sebelum itu ia harus mengetahui semuanya sejelas-jelasnya.
Tomi mengguncang bahu Reza yang membuatnya terbuyar dari lamunannya. “Woi, kok loe malah jadi ngelamun sih? Pasti lagi mikirin gue ya? Udah ngaku aja.”
Lagi-lagi Reza menampilkan wajah datarnya yang membuat selera humor Tomi jadi hilang.
“Ayo cepat selesaikan urusan loe sama Mawar, gue tunggu loe entar di cafe Bunga jam 15.00 WIB. JANGAN TELAT!” Reza segera menyandangkan tasnya ke sebelah bahunya dan beranjak meninggalkan Tomi yang segera menyusul ke kelas Mawar untuk mengantarnya pulang.
***
“Loe udah lama?” Tomi menggeser kursi yang berhadapan dengan Reza.
Saat ini mereka sedang berada di cafe Bunga, sesuai dengan janjinya. tapi bukan Tomi namanya jika ia datang tepat waktu. Setelah menunggu selama 15 menit, barulah Tomi datang dengan cengiran tanpa dosanya yang membuat Reza hanya bisa menghela napas mengingat kelakuan temannya yang selalu saja tidak pernah tepat waktu.
“Apa sebenarnya yang loe rencanain?” Tomi memelototkan matanya karena terkejut dengan apa yang Reza tanyakan.
__ADS_1
“Rencana? Rencana apa? gue gak pernah ngerencanain apapun kok, kecuali… pernikahan gue sama Mawar.”
“Astaga Tomi, gue lagi serius saat ini. Tolong jangan berbelit-belit. Katakan mengapa kamu melakukan ini?” Lagi-lagi Reza menanyainya pertanyaan yang membuatnya bungkam.
Bagaimana bisa ia menjawab jika ia sendiri tidak tahu apa masalah yang saat ini sedang Reza hadapi. Raut emosi terpancar jelas di wajah Reza, namun Tomi tetap berusaha setenang mungkin untuk menghadapi emosi Reza yang terkadang bisa sampai kelewatan batas.
“Za, gue gak pernah ngerencanain apapun yang akan merugikan loe. Lagian, loe itu ada masalah apa sampai-sampai emosian begitu, dan yang parahnya loe malah nuduh gue untuk hal yang sama sekali gak pernah gue lakuin. Please Za, GUE ITU TEMEN LOE, BUKAN MUSUH LOE.”
Tomi menekankan setiap perkataannya yang membuat Reza bungkam dan berpikir sejenak dalam hatinya. “Kalau bukan Tomi yang melakukan ini lalu siapa? Mawar?”
“Oke, gue gak maksud untuk menuduh loe. Gue cuma gak suka aja kalau ada yang ikut campur dalam hubungan gue sama Dewi. Oh ya, bilangin sama pacar loe si Mawar, jangan suka nyeritain yang enggak-enggak tentang gue ke Dewi, atau loe tahu sendiri apa konsekuensinya.” Reza segera berlalu meninggalkan Tomi yang hanya tercengang dengan ancaman dan berita besar yang baru saja Reza katakan.
“Apa segitu buruknya gue sebagai sahabat di mata loe, Za? Gue gak nyangka loe bahkan berani mengancam Mawar yang jelas-jelas loe tahu kalau gue sayang banget sama dia. Hmm… lagian gue juga heran, apa yang sudah terjadi dengan loe Za? Kenapa loe khawatir banget kalau sudah menyangkut tentang Dewi? Apa loe jatuh cinta sama Dewi? Sepertinya Mawar bakalan senang banget hari ini karena rencananya berhasil juga. Bahkan lebih baik dari itu, loe sudah mulai bisa melupakan kejadian itu dan membuka hati untuk Dewi. Dewi… Gue jamin hidup loe akan berubah 180 derajat karena Reza.”
Saat Tomi berdiri dari kursinya, pelayan datang membawakan sebuah kertas kecil yang membuat Tomi bingung. “Ini apa Mbak?” tanyanya pada pelayan yang memakai baju bunga-bunga khas cafe ini. “Ini struk pembayaran dari minuman mas yang tadi.”
Tomi mengumpat dalam hatinya. “Sialan loe Za, udah marahin gue habis-habisan, minuman loe gue yang bayar. Dasar… kebiasaan loe itu gak pernah berubah, selalu bikin susah gue.”
***
“Whatt… loe yakin kalau itu benar?”
Tomi mengangguk mantap dengan apa yang baru saja ia katakana. Yup, dia baru saja mengatakan apa yang dikatakan Reza padanya saat di cafe.
Mawar terlihat sangat senang dan antusias terhadap rencananya ini. Walaupun pada awalnya terdapat sedikit masalah dengan nama orang yang akan menjadi pasangannya, tapi justru hal itu malah membuatnya semakin mudah karena orang itu adalah Reza, sahabat Tomi saat kecil.
Dengan begitu, Mawar tidak perlu merasa khawatir tentang keamanan Dewi dan juga keberhasilan rencananya, karena sepertinya Tomi juga tak kalah antusias untuk mendukung rencana ini. Bahkan saat ini Tomi sedang senyum-senyum sendiri sambil memikirkan sesuatu yang membuat Mawar bingung.
“Loe kenapa Tom? Kok senyam-senyum gak jelas gitu? Ntar kesambet loh.”
__ADS_1
“Ya ampun My Warrior, gak mungkinlah Prince Tomi kesambet.” Mawar memutar matanya melihat tingkah Tomi yang sangat lebay dengan memainkan alisnya naik turun didepannya. “War, loe gak ngerasa ada yang kurang?”
Mawar mengernyitkan dahinya bingung dengan apa yang dimaksud Tomi. “Apa yang kurang Tom? Kayaknya gak ada deh.”
Tomi memasang tampang datarnya yang terlihat serius saat ini. “War, apa loe senang dengan kabar ini?”
“Tentu saja. Loe tau sendiri kan Dewi itu gimana? Susah banget ngebujuknya buat pacaran. Ya meskipun dia setuju dengan terpaksa, tapi tetap saja gue senang. Loe tahu kenapa gue mau dia pacaran?”
Tomi menggelengkan kepalanya dengan antusias untuk mendengar cerita Mawar. “Dewi itu anak yang baik, dia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, selalu saja memikirkan orang lain. Loe tahu, gaji yang didapatnya selama ini ditabung semua biar bisa buka sekolah gratis di daerah pelosok-pelosok Indonesia. Bahkan Minggu ini juga dia ngadain konser amal yang nantinya akan diberikan kepada salah satu panti asuhan di dekat tempatnya ngadain konser. Gue bangga banget punya teman kayak Dewi, tapi seharusnya dia juga harus bisa menikmati masa remajanya dengan penuh cinta dan kesenangan. Selama ini, cuma gue sama loe yang menjadi temannya. Padahal Dewi itu terkenal, tapi sifatnya yang selalu menyendiri membuatnya sulit mendapat teman. Sekalipun ada yang mau berteman, pasti dihindarin mulu dengan alasan sibuk. Dirumah juga dia sendiri terus karena orangtuanya sibuk di luar negeri. Gue selalu menemaninya saat dia sedang kesepian. Tapi… gue gak bisa selalu ada buat dia. Dan kalau dia punya pacar, mungkin dia tidak akan merasa kesepian jika gue gak ada. Gue gak tahu apakah hal ini benar atau gak, karena secara gak langsung gue sebenarnya sudah membohongi Dewi dengan alasan mencari inspirasi lagunya. Dan kalau sampai Reza berhasil membantu Dewi, mungkin saja hubungan keduanya akan berakhir atau malah terus berlanjut. Setelah mendengar ini dari loe, gue senang banget karena sepertinya Reza adalah tipe orang yang akan mengejar cintanya. Dia pasti akan bisa membuat Dewi bahagia. Semoga saja hubungan mereka bisa terus berlanjut sesuai rencana kita ya Tom?”
Tomi menggenggam tangan Mawar dan mencium punggung tangannyanya dengan lembut. “Gue gak nyangka kalau loe sampai begitu peduli dengan Dewi. Dibalik sikap loe yang selalu judes sama dia, ternyata loe sayang banget sama dia. Hmm… warrior kesayanganku sudah sangat dewasa ternyata. Mungkin gue harus memberikan hadiah untuk itu.”
Tomi mengecup singkat tangan Mawar lagi hingga membuatnya tersipu. “Nah, karena sekarang loe jadi senang karena mendengar kabar dari gue, berarti…. gak salah dong kalau gue minta hadiah.”
Mawar mengernyitkan dahinya bingung dengan apa yang baru saja di dengarnya. “Hadiah? Apa?”
Tomi menunjuk pipinya sendiri sebagai kode untuk Mawar. Tapi bukannya memberikan hadiahnya, Mawar malah mencubit pipi Tomi hingga membuatnya meringis.
“Loe kenapa sih War? Sakit tahu.” Tomi masih setia memegangi pipinya yang memerah karena ulah Mawar, sementara tersangkanya malah tertawa tanpa merasa bersalah. Sudah cukup lama Tomi dan Mawar berpacaran, tapi semuanya masih saja dalam batas yang normal layaknya anak SMA.
Tomi selalu berusaha menjaga Mawar sejak dulu, karena ia sangat yakin kalau cinta itu hadir untuk melindungi, bukan merusak. Bahkan setelah mengklaim bahwa Mawar adalah miliknya, Tomi masih tetap menjaga hubungan mereka dengan batas wajar. Walaupun keduanya terlihat sebagai anak yang bebas, namun keduanya selalu berupaya agar selalu menjaga nama baik dan kesucian diri.
“Sudah malam Tom, kamu gak pulang?” Mawar mengambil remote tv dan mengganti channel tv yang sedari tadi mereka tonton karena filmnya sudah habis.
“Iya War, ini juga mau pulang kok. Gak betah amat loe kalau gue lama-lama disini.” Tomi mengerucutkan bibirnya yang membuat Mawar tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Bukan gitu Tom, gue cuma gak mau kalau loe kemalaman sampai dirumah. Entar tante Jessi bilang gue gak becus jagain loe.”
Mawar berdiri dan mengambil jaket Tomi yang tersampir di sofa samping Mawar dan memberikannya pada Tomi. Dengan sigap Tomi mengambil jaket itu dan memakainya. Dan tanpa disangka, tiba – tiba Tomi mencium pipi Mawar dan berlari keluar.
__ADS_1
“Malam Sayang. Besok pagi gue jemput, oke.” Tomi berteriak sambil menaiki motor besarnya dan melambaikan tangannya pada Mawar yang sudah berdiri di ambang pintu rumahnya seraya melambaikan tangannya pada Tomi.
“Dasar Tomi yang aneh. Bisa-bisanya dia kabur begitu saja. Tunggu saja pembalasan gue besok.” Gumam Mawar dalam hati dan menutup pintu saat motor Tomi sudah meninggalkan halaman rumahnya yang besar.