Inspirasi

Inspirasi
Penjelasan


__ADS_3

Siang itu Dewi dan Mawar sedang berada di kamar Dewi. Mereka ingin mempersiapkan segala keperluan Dewi untuk manggung besok, mulai dari kostum, peralatan make-up, dan lain sebagainya yang mungkin akan Dewi butuhkan besok. "Dew, ayo dong ceritain. Dari tadi loe itu nunda-nunda mulu, bikin gue kesal aja." Kata Mawar sambil memilih baju-baju yang digantung di lemari. "Sabar dong War, entar kalau sudah siap beres-beresnya pasti gue ceritain. Makanya cepetan dong kerjanya." Dewi tersenyum melihat wajah Mawar yang cemberut seperti anak kecil yang baru saja kehilangan permennya. "Oke deh, gue ceritain sekarang. Tapi loe gak usah cemberut gitu, gue jadi gemes lihatnya." Kata Dewi sambil memasukkan peralatan make-up-nya ke dalam tas ransel yang berwarna hitam. "Bener ya? Gak bercanda kan?" Mawar menunjukkan tatapan menyelidiknya hingga membuat Dewi menjadi sedikit ngeri melihatnya. "Iya, loe tenang saja. Memangnya kapan gue pernah bohong sama loe?" Dewi menaikkan alis kirinya dengan tatapan sombongnya yang membuat Mawar merasa kesal padanya. "Gak pernah? Terus tadi pagi itu apa kalau bukan bohong?" Dewi memutar kedua bola matanya sambil mencari alasan yang tepat untuk menutupi kesalahannya tadi pagi. "Hmm... itu tadi bukan bohong War, tapi menyimpan rahasia sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya. Hehehe....." "Iyalah tuh, pintar banget menghindar. Nah, berhubung waktunya sudah tepat, jadi loe harus cerita sekarang. Jangan banyak basa-basi lagi." Mawar melihat Dewi dengan tatapan intimidasinya yang langsung membuat Dewi menghela napas sejenak. "Iya-iya bawel, nih gue ceritain biar loe puas." Dewi pun mulai menceritakan bagaimana awal pertemuannya dengan Reza yang cukup misterius itu diawal. "Jadi gitu War. Awalnya dia itu memang agak menyebalkan. Tapi loe itu jauh lebih menyebalkan. Sekarang gue tanya sama loe, kenapa loe bilang kalau nama Reza itu Eza? Dia kan jadi marah sama gue gara-gara itu." Mawar terkejut dan wajahnya langsung terlihat pucat. "Ma-marah? Dia marah gimana Dew?" "Dia cuma bilang kalau dia itu gak suka di panggil 'Eza' karena namanya 'Reza'. Loe sih bilangnya gitu. Kan jadi gue yang kesasaran." "Sorry ya Dew, gue gak tahu kalau semuanya akan jadi kayak gini. Terus, apa dia mau nerima kesepakatan kita?" Mawar mencoba mencaritahu kejadian sebenarnya dengan membiarkan Reza untuk berperan sebagai pengganti Eza untuk bisa membantu Dewi. "Kenapa loe tanya gitu? Bukankah loe sudah menjelaskan semuanya ke dia?" Dewi sengaja bertanya balik pada Mawar sebagai hukuman karena saat itu dia tidak memberitahu apapun kepada Reza tentang kesepakatan itu, sehingga Dewi sendirilah yang harus repot menjelaskan kembali pada Reza tentang semuanya. "Sebenarnya yang cerita ke Reza itu bukan gue, tapi Tomi. Hmm... mungkin dia gak jelasin semuanya secara detail. Loe tahu sendiri kan Tomi itu kayak gimana orangnya. Jadi maklumin saja. Oh iya, by the way jadi dia setuju gak nih?" Dewi mengingat-ingat sejenak lalu tertawa. "Hahaha.... loe tahu War, gue benar-benar gak habis pikir sama tingkah si Reza. Pas waktu gue nawarin kesepakatan itu, dia terlihat ragu-ragu. Tapi kemudian gue ngasih dia waktu untuk berpikir sambil melihat-lihat sekitar dari atas. Eh ternyata tanpa butuh waktu lama dia langsung setuju War. Loe tahu kenapa?" Mawar berpikir sejenak lalu bertanya, "Kenapa? Loe maksa dia ya?" "Gak kok. Ngapain juga gue maksain dia? Memangnya gue gak punya harga diri apa? Serius dong jawabnya, jangan main-main mulu." Dewi menatap Mawar dengan tajam hingga membuat Mawar menjadi berpikir lebih keras lagi. "Huuh... ini juga sudah serius Dew, Hmm... apa dia loe bayar Dew?" "Iih apaan sih loe War. Loe kira gue separah itu apa? Gini-gini gue itu bukan orang yang suka suap-menyuap tahu. Memangnya loe gak punya jawaban yang wajar sedikit apa? Huh gue lupa, loe itu kan pikirannya gak normal, gimana mau jawab pertanyaan gue?" "Apa? Gak normal? Gue kan cuma mau ngejawab pertanyaan loe. Tapi ya sudahlah aku nyerah. Gak ada untungnya bertengkar sama loe, karena ujung-ujungnya gue kalah melulu." Melihat ekspresi Mawar yang selalu saja kalah saat berdebat ataupun bercanda dengan Dewi membuat Dewi langsung tertawa dengan girang. Tentu saja hal ini langsung membuat Mawar menjadi jengkel pada Dewi. "Kenapa loe ketawa? Sekarang cepat beritahu gue kenapa dia bisa setuju?" "Iya-iya gue kasih tahu. Sebenarnya dia nerima gue karena dia kira gue bakalan bunuh diri alias lompat dari atap sekolah kalau dia nolak permintaan gue. Jadi tanpa perlu pikir panjang lagi dia langsung nerima gue deh. Aneh kan? Seorang Dewi berniat bunuh diri karena cinta. Gak banget deh. Oh ya War, memangnya wajahku segitu frustasinya ya hingga membuat orang-orang jadi iba?" Dewi menunjukkan wajah kasihannya pada Mawar. Melihat ekspresi Dewi yang seperti itu tentu saja langsung membuat Mawar tertawa terbahak-bahak. "Kalau loe nunjukkin wajah itu ke Reza, ya sudah pasti dia gak akan nolak loe Dew." Mawar melihat Dewi yang saat ini seperti sedang teringat sesuatu, tiba-tiba ekspresi senang Dewi berubah menjadi tegang dengan tatapan yang penuh intimidasi. "War, gue mau tanya sesuatu ke loe, tapi loe harus jawab dengan jujur ya?" Mawar tersenyum singkat untuk sedikit mencairkan suasana yang tampak tegang diantara mereka. "Iya Dew. Tapi loe mau tanya apa sih Dew? Kok serius banget sih?" Dewi mendekatkan wajahnya ke Mawar dan menatap matanya dengan sangat tajam hingga membuat Mawar jadi tegang dan langsung menelan ludah sambil mencoba memalingkan tatapannya dari Dewi. "Loe... Hmm.... Apa yang loe ketahui tentang Reza? Apa dia itu cowok playboy atau semacamnya?" Mendengar perkataan Dewi langsung membuat Mawar tertawa dengan cukup keras hingga suaranya memenuhi kamar Dewi. "Ihh Mawar jangan keras-keras dong tertawanya, entar kalau Bi Inem dengar terus nanya-nanya kan bisa gawat urusannya. Loe kan tahu Bi Inem itu kalau sudah kepo gimana. Gue serius War, jawab dong. Jangan diam saja." Dewi mengguncang bahu Mawar agar dia bicara namun Mawar hanya tersenyum melihat tingkah Dewi yang seperti ini. Jika biasanya Dewi selalu bersikap tenang dan bijaksana dalam bersikap, lain hal nya dengan hari ini. Sepertinya ada sesuatu yang merubahnya dengan sangat cepat hingga 180 derajat. Kini yang Mawar lihat dari Dewi hanyalah sisi kekanakan yang selalu ingin mengetahui sesuatu tentang hal-hal baru. "Hmm... kayaknya ada yang lagi jatuh cinta beneran nih." "Apaan sih loe War? Siapa juga yang jatuh cinta." "Terus kalau bukan lagi jatuh cinta, ngapain loe nanya-nanya dia ke gue?" Dewi bangun dari tempat tidur dan meraih tas besarnya untuk diperiksa kembali isinya apakah sudah lengkap semuanya atau masih ada lagi yang harus ditambahkan. "Dew, gue bukannya gak mau jelasin seperti apa sifat si Reza, tapi gue beneran gak tahu dia orangnya seperti apa. Bahkan Tomi yang temannya saja mungkin tidak tahu seperti apa sifatnya, karena dia itu memang jarang bergaul, sama kayak loe. Tapi kayaknya dia itu orangnya agak tertutup dan pendiam. Dan kalau masalah playboy atau gak yang pasti dia bukan playboy karena di sekolah ini saja dia gak punya pacar. Jadi untuk masalah itu pasti aman." "Ya, aku percaya sama kamu kok War. Gak mungkin kan kalau kamu nyuruh cowok yang gak bener buat bantuin aku, eh gue maksudnya."

__ADS_1


Tersirat di pikiran Mawar tentang kesalapahaman yang tengah terjadi dalam hidup Dewi. Hingga dia pun tenggelam dalam pikirannya. "Maaf Dew, gue sudah merahasiakan semua ini dari loe. Reza.... Gue bahkan gak mengenal siapa itu Reza. Bagaimana gue bisa membiarkan loe dekat dengannya begitu saja? Tapi gue gak bisa tiba-tiba merusak kebahagiaan yang loe rasakan sekarang karena Reza. Lagipula, belum tentu dia itu orang yang jahat. Gue harus tahu semua tentang Reza sedetail-detailnya dan itupun harus secepat mungkin sebelum loe terikat terlalu kuat dengannya." Melihat Mawar yang terdiam Dewi pun menjadi merasa bersalah."War, kok loe diam saja sih? Maaf ya War, gue gak sengaja kok bilang 'aku'. Tadi itu cuma lupa." Mawar mencoba mengalihkan pikirannya dengan hal lain agar Dewi tidak merasa curiga dan bertanya yang macam-macam padanya tentang apa yang dilamunkan tadi.

__ADS_1


"Dew, memangnya begitu susah ya cuma bilang 'loe-gue'? Loe itu kan penyanyi, apa kata para fans nanti kalau mereka tahu kalau idola yang mereka sukai ternyata gak bisa bahasa gaul?" "Hahaha... iya War, susah banget tahu. Tapi loe tenang saja, karena gue tetap berusaha kok." Mawar menghela napas singkat. "Baiklah. Oh ya, apa Reza tahu tentang ini? Semoga saja dia tidak tahu, karena itu pasti akan membuat loe terlihat aneh di depannya." Mawar memegang kepalanya yang sedikit pusing karena memikirkan masalah yang harus Dewi hadapi saat ini. "Dia tahu War, bahkan dia juga gak suka cewek yang berbahasa gaul, karena dia juga begitu. Jadi kami berbicara dengan bahasa 'Aku-Kamu' saja. War, kayaknya dia itu bisa mengerti semua tentang gue tanpa harus dijelaskan. Dia juga tahu kalau aku bukan tipe orang yang mudah menjalin hubungan, apalagi cinta. Tapi dia tetap sabar mengajariku layaknya seorang guru." Dewi berkata-kata sambil membayangkan wajah Reza yang sedang tersenyum kearahnya hingga tiba-tiba tangannya bergetar karena smartphone yang sedang digenggamnya bergetar. Dewi melihat layar smartphone-nya dan ternyata itu adalah pesan dari Reza. "Kamu mau jawabannya sekarang kan?" Dewi menghela napas sejenak sambil berjalan kearah jendela. Dia pun membalas pesan itu. "Iya. Katakanlah." Melihat perubahan reaksi di wajah Dewi membuat Mawar curiga kalau saat ini Dewi sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Dew, ada apa? Kenapa loe terlihat tegang begitu?" "Nggak ada apa-apa kok War." Mawar benar-benar marah dengan sikap Dewi yang selalu tertutup ini. Jika dia punya kabar baik, maka ia akan langsung memberitahunya. Tapi bila ada masalah yang menimpanya, maka ia akan menyimpannya sendiri. "Jadi loe bakalan nyimpan semuanya sendiri? Harusnya loe gak ajak gue kesini kalau loe gak mau cerita ke gue." Mawar yang hendak pergi langsung terhenti karena melihat Dewi yang sibuk memperhatikan smartphone-nya tanpa memperdulikannya. Karena kesal, Mawar pun langsung berjalan kearah Dewi dan merampas smartphone dari tangan Dewi. Mawar melihat bahwa apa yang di perhatikan Dewi sejak tadi adalah chat dari Reza. "Apa maksudnya ini? Jawaban? Dew, loe harus ceritakan semuanya sekarang. Gue gak mau tahu apapun alasannya. Kalau loe gak mau cerita...." "Gue akan ceritakan semuanya War." Dewi memegang tangan Mawar dan mengajaknya duduk di sofa yang ada di samping meja rias Dewi. "War, sebenarnya gue sedang membuat kesepakatan dengan Reza, dan saat ini gue masih menunggu jawabannya." Mawar memandang Dewi dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Dewi. "Kesepakatan? Apa yang loe sepakati dengan Reza? Bukannya loe baru 2 hari kenalan sama dia? Sudah sejauh apa hubungan loe dengannya?" Dewi menghela napas panjang saat Mawar menghujaninya dengan beribu pertanyaan yang menurut Dewi cukup sulit untuk dijelaskan. "Sabar War, loe gak sadar ya kalau mulut gue ini cuma 1? Banyak banget pertanyaannya." "Hahaha... sorry Dew, soalnya gue lagi kepo banget nih." "Hmm... War, menurut loe, apa yang gue lakuin ini salah? Sebenarnya gue minta kesepakatan sama Reza kalau diantara kami tidak boleh ada kontak fisik seperti apapun." Mawar memandang Dewi dengan tatapan kosong yang aneh. Sepertinya baru kali ini Dewi Bersikap seperti ini. "Dew, bagaimana bisa kamu meminta hal seperti ini pada Reza yang baru kamu kenal selama 2 hari? Kamu kira dia akan setuju? Oh iya, bagaimana bisa kamu merasakan apapun tanpa melakukan kontak fisik? Apa yang akan dia pikirkan tentang loe nantinya?" Mawar sedikit menahan emosinya hingga Dewi berniat untuk menenangkannya, tapi Mawar sepertinya masih memiliki banyak pertanyaan dengan semua kejadian ini. "Tunggu dulu... kenapa loe tiba-tiba minta persyaratan seperti ini? Apa dia telah bersikap kurang ajar kepada loe? Ayo jawab." "Eh enggak kok War, kok bisa kamu berpikir sejauh itu? Sebenarnya Reza juga mengatakan hal yang sama seperti yang loe katakan tadi, bahwa cinta itu tidak bisa dirasakan jika tanpa kontak fisik." Kembali terlintas saat-saat Reza membisikkan hal itu ke telinga Dewi. "Tapi kalau menurut gue sih persyaratan ini masih wajar-wajar saja. Ini kan demi menjaga keamanan War." Mawar mencoba mencerna semua kata-kata Dewi dengan tenang, karena masalahnya ini menyangkut masa depan dan juga karier Dewi di dunia musik. "Oke jika menurut loe itu wajar, tapi buat Reza apakah itu wajar?" Dewi hanya bisa diam dan menunduk saat mendengar semua pertanyaan yang Mawar ajukan padanya sampai ia teringat sesuatu. "War, sebenarnya ada 1 kesepakatan lagi yang belum gue bilang sama loe..." Tanpa pikir panjang lagi Mawar yang merasa dirinya telah ditipu oleh sahabatnya ini pun langsung marah-marah pada Dewi. "Apa, ada lagi? Dew, loe ini sebenarnya niat gak sih untuk jatuh cinta? Bukannya waktu loe gak banyak lagi? Terus kalau iya loe bakalan jatuh cinta dengan mudah, kalau tidak bagaimana? Reza itu sudah cukup baik mau membantu loe untuk belajar tentang cinta, tapi loe... bukannya berterima kasih eh malah nambah masalah. Loe tahu, dengan adanya persyaratan ini waktu yang dibutuhkan seseorang untuk merasa jatuh cinta akan bertambah. Dan lagipula kalau pun Reza setuju dengan syarat ini, bagaimana ia bisa mengajari loe? Lewat buku?" Dewi hanya bisa tersenyum sinis mendengar perkataan Mawar. "War, jangan menyimpulkan apapun dulu sebelum mendengar semuanya. Sebenarnya gue juga telah memikirkan kalau-kalau terjadi hal-hal darurat saat gue bersama Reza, maka terpaksa gue akan menyentuhnya bukan? Jadi gue membuat kesepakatan kalau gue boleh menyentuhnya, tapi tidak dengannya. Sekarang hanya tinggal menunggu jawaban saja darinya." "Ini curang namanya. Tapi kalau dipikir-pikir, ini bisa menjadi salah satu tes terhadap kepercayaan loe pada Reza. Kalau dia setuju, berarti loe gak perlu ragu lagi untuk bersamanya. Tapi kalau dia tolak bagaimana?" Mawar menghentikan kata-katanya saat merasakan getaran dari smartphone Dewi yang sedang digenggamnya. Dia melihat sekilas ke layar smartphone untuk mengetahui chat dari siapa itu, dan ternyata itu adalah jawaban dari Reza. Mawar melirik sekilas pada Dewi dan Dewi menaikkan kepalanya keatas sebagai isyarat tanya pada Mawar. "Dew, Reza... Dia sudah ngasih tahu jawabannya nih." Dewi menutup kedua matanya sejenak dan mulai menghirup napas dengan panjang. "Apa yang dia katakan? Apa dia setuju?" Mawar menunjukkan ekspresi kecewa hingga membuat Dewi berpikir kalau Reza sudah menolaknya. "Jadi dia menolak ya..." Dewi berusaha untuk tetap tersenyum sambil berjalan ke arah jendela. Mawar yang memperhatikan hal itu pun langsung menyadari semua yang Dewi rasakan. "Dia benar-benar sudah jatuh cinta padanya dalam 2 hari, dan sepertinya cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan. Syukurlah, Dew, bersiaplah untuk bahagia," gumam Mawar yang sedang tersenyum dan berjalan ke arah jendela sambil melihat Dewi yang masih terselimuti oleh kekecewaan dimatanya namun tetap menunjukkan senyumnya. "War, loe harus cari orang yang lebih baik dari Reza, yang lebih bisa menerima semua persyaratan gue, oke." Dewi memegang bahu kiri Mawar namun Mawar segera melepas tangan Dewi dan menghempaskannya. Dewi pun langsung terkejut dan terbelalak dengan sikap Mawar yang seperti itu. "War, loe kenapa? Kok kasar begitu?" "Kasar? Heh Dew, bisa-bisanya ya loe berpikir untuk nyari cowok lain sementara ada orang yang sedang menunggumu untuk mengajarimu cinta saat ini. Hmm... gue gak nyangka ternyata loe punya sifat yang seperti itu. Reza itu kurang apa coba? Ganteng iya, baik iya, sopan iya, dan bahkan sekarang dia mau nerima semua persyaratan loe, tapi loe malah berpikir seperti ini. Apa yang akan Reza pikirkan tentang loe nantinya?" Mawar tersenyum dan langsung tertawa keras saat melihat ekspresi Dewi yang sangat shock saat mendengar kata-kata Mawar yang seakan sedang membentaknya, padahal sedang memberikan kabar baik padanya. Dewi diam mematung sambil tersenyum. Terlihat air mata yang mulai menggelinang di pelupuk matanya. "War, loe jahat banget sih. Bisa-bisanya loe bohongin gue. Sini smartphone gue." Mawar tersenyum dan memberikan smartphone itu kepada Dewi. Dia langsung membaca chat dari Reza sambil tersenyum senang. "Oke, aku terima." Dengan sigap Dewi pun langsung mengetik jawaban chat untuk Reza, "Thanks." Saat Dewi selesai mengirim chat itu, Mawar hendak keluar dari kamar Dewi, namun Dewi menarik tangannya. "Duh, kenapa loe narik-narik gue Dew? Sakit tahu." "Loe mau kemana War? Pulang?" Mawar melepaskan pegangan Dewi di tangannya. "Iya. Memangnya kenapa? Bukannya semua persiapan sudah beres ya?" Dewi menunjukkan ekspresi kesepiannya yang benar-benar membuat Mawar tidak tahan melihatnya dan langsung tertawa. "Dew, loe ngapain masang wajah kayak begitu? Jelek tahu." Dewi memukul pelan bahu Mawar. "Makanya, jangan pulang dong. Gue masih harus minta bantuan loe lagi nih." Mawar mengernyitkan dahinya karena bingung dengan bantuan yang Dewi maksud. "Bantuan? Ada apa lagi Dew?" Dewi berjalan ke arah lemari yang besar dan berwarna cokelat lalu memutar kuncinya dan membuka lebar lemari tersebut. Mawar yang heran langsung menggaruk kepalanya karena terlalu banyak berpikir untuk persiapan manggung Dewi besok. "Dew, kamu masih mau milih baju lagi? Besok kamu show berapa lagu sih? Kok kayaknya ada yang aneh ya?" Dewi memegang gaun selutut yang berwarna hijau tua dan menunjukkannya pada Mawar. "War, menurut loe gimana penampilan gue dengan gaun ini?" Mawar langsung tertawa melihat Dewi yang terlihat sangat berlebihan dalam memilih baju untuk manggung. Dewi pun langsung merubah ekspresinya saat melihat Mawar yang menertawakannya tiada henti. "Dew, loe mau manggung dengan gaun itu? Yang benar saja. Itu gaun untuk makan malam Dew. Hahaha...." Dewi mendecik kesal pada Mawar yang selalu saja menertawakan dirinya layaknya seorang badut. "Mawar-Mawar, gue juga tahu ini gaun bukan untuk manggung. Sebenarnya ini untuk... Sebenarnya si Reza mau ngajak gue jalan-jalan, eh bukan, maksudnya kencan. Tapi gue kan gak pernah kencan, jadi...." Mawar berjalan kearah Dewi dan memegang bahunya. Lalu dengan sengaja Mawar mencubit kedua pipi Dewi dengan keras. "Hmm.... manisnya, sekarang adikku ini sudah besar ya, sudah bisa kencan, malu-malu pula tuh. Duuh... gemes deh lihatnya." Dewi segera melepaskan tangan Mawar dari wajahnya dan memegang kedua pipinya yang sedikit merah. "Apaan sih War, siapa juga yang malu-malu, ini semua kan demi mencari inspirasi..." "Inspirasi ya. Tapi sepertinya bukan cuma karena itu saja, buktinya pipi kamu sampai merah begitu gara-gara kebanyakan mikirin Reza." Dewi memberikan tatapan mematikannya pada Mawar karena ia merasa sangat kesal dengan kejahilan teman yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu. "War, loe sadar gak sih, pipi gue itu merah bukan karena Reza, tapi karena loe nyubit-nyubit pipi gue tahu." Keduanya diam sejenak lalu tertawa bersama. Tiba-tiba terdengar suara Bi Inem yang sepertinya terdengar dari ruang tamu, karena hanya dari suara gemanya yang keraslah suara itu bisa mencapai kamar Dewi. "Non Dewi, Non Mawar, bibi sudah bikin bakwan nih. Ayo turun." Sontak Mawar langsung berjalan ke pintu tanpa memperhatikan Dewi yang mulai terlihat kesal. "War, loe mau kemana?" Mawar segera menoleh ke belakang ketika akan melangkah keluar dari kamar Dewi. "Ke bawah lah. Loe gak denger tadi Bi Inem manggil. Dia sudah bikin bakwan buat kita. Ayo kita turun." "Terus gaunnya bagaimana? Masa iya loe mau ninggalin ini gara-gara bakwan?" Tanpa menjawab Dewi Mawar kembali berjalan keluar dari kamar Dewi. "War, serius nih kamu gak mau bantuin gue?" Mawar pun berteriak dari luar kamar Dewi. "Iya, gue bantuin, tapi makan bakwan dulu, oke." Dewi pun segera meletakkan gaun yang dipegangnya di tempat tidur dan segera menyusul Mawar yang mungkin sudah makan duluan tanpa menunggunya. Ya, seperti itulah sifat Mawar. Bila ada makanan didepannya maka dia akan mendahulukan hal itu dibanding hal lainnya. Tapi walau dengan sifat yang seperti itu, Mawar tetaplah orang yang selalu menepati janjinya.

__ADS_1


__ADS_2