Inspirasi

Inspirasi
Mencaritahu Tentang Reza


__ADS_3

Malam itu seperti biasanya Tomi akan mengajak Mawar keluar entah itu makan malam, nonton di bioskop, atau hanya sekedar jalan-jalan saja. Mawar pun berdandan cantik dengan gaun selututnya dan tak lupa make-up natural yang menghiasi wajahnya. Dengan rambut coklat panjang yang digerainya, Mawar pun segera keluar dari rumah untuk menemui Tomi yang sudah menunggunya diluar mobil. “Wow, loe cantik banget hari ini, bahkan bunga ini pun kalah cantiknya jika disandingkan dengan loe.” Mawar mengambil bunga Mawar merah yang diberikan Tomi padanya. “Thanks Tom.” Seperti biasa, Tomi tidak pernah absen untuk memberikan kejutan-kejutan manis untuk Mawar sebagai tanda cinta untuknya. Mawar hanya dapat tersenyum saat Tomi membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Mawar untuk masuk. Sepertinya dari gerak-gerik Tomi, mereka akan melewati malam minggu kali ini dengan makan malam bersama. Mawar hanya bisa tersenyum senang dengan semua perlakuan Tomi padanya. Dia adalah pemuda yang lembut, romantis, ramah, dan penuh dengan canda tawa. Mawar benar-benar bersyukur memiliki pacar seperti Tomi yang sangat serius dalam menjalani hubungannya dengan Mawar. Hal itu terbukti dengan hubungannya yang sudah berjalan lebih dari dua tahun tanpa ada masalah. Bahkan, Tomi dan Mawar juga sudah saling mengenalkan keluarga mereka masing-masing. Dan rencananya setelah tamat dari universitas dan mulai mengurus perusahaan papanya, Tomi akan segera menikahi Mawar. Perencanaan hidup yang sangat indah menurut Mawar, dia selalu menantikan kapan hal itu akan segera terjadi dengan bayang-bayang kebersamaannya dengan Tomi. Andai saja Dewi juga memiliki rencana hidup yang indah sepertinya, pasti akan seru sekali. Tiba-tiba Mawar teringat kembali akan sosok Reza yang sedang bersama Dewi di atap sekolah. Apa pemuda itu pantas untuk Dewi? Dia tentu harus mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pemuda itu sebelum masalah ini semakin berlarut-larut. Apalagi dengan sikap Dewi yang semakin berubah belakangan ini semakin membuat Mawar curiga kalau Dewi mulai menyukai Reza. Senyum indah di wajah Mawar langsung menghilang seketika digantikan oleh raut kecemasan yang menyelimuti pikiran dan hatinya, hingga tidak menyadari kalau sedari tadi Tomi terus memperhatikan perubahan mood-nya yang memburuk karena ia meremas kuat tangkai bunga yang diberikan Tomi padanya. “War, loe kenapa?” lamunan Mawar langsung buyar seketika saat menatap sang kekasih yang sedang menatapnya cemas. Ya, tidak biasanya Mawar melamun seperti ini. Apalagi dengan sikapnya yang periang dan jahil benar-benar tidak dapat tercermin dari suasana hatinya saat ini. “Eh, kita sudah sampai?” Mawar menyadari kalau saat ini mobil mereka telah berhenti dan segera menoleh ke kiri dan kanannya untuk memastikan kalau mereka telah sampai di tempat tujuan. Tomi hanya berdehem karena sepertinya Mawar tak menjawab pertanyaannya tadi. “Warrior kesayangan gue, kok gak jawab pertanyaan gue?” Mawar hanya mendelik kesal kepada Tomi. Dia selalu saja memanggilnya dengan sebutan ‘warrior’, dan setiap ditanya mengapa dia memanggilnya begitu, dia selalu menjawab kalau Mawar adalah nama yang lembut dan tidak cocok dengan sifat Mawar yang terbilang cukup pemberani itu. Lagipula Mawar telah berhasil menakhlukan hatinya, jadi dia lebih pantas disebut sebagai ‘warrior cinta Tomi’. “Pertanyaan? Apa?” Mawar tak sadar kalau Tomi tadi sempat bertanya kepadanya. Tomi memegang kedua tangan Mawar dengan lembut. “Apa yang loe pikirkan? Kenapa terlihat cemas begitu?” Mawar kembali berpikir keras dalam hatinya. Mungkin dia harus menceritakan masalah ini kepada Tomi. Apalagi, Tomi pasti mengenal Reza dengan baik. Dia pernah satu kelas dengannya saat di kelas X-2. Itu adalah informasi yang berhasil Mawar ketahui setelah bersusah-payah mengorek informasi dari Eza. Dan Mawar sungguh berharap agar Tomi bisa memberinya informasi tentang pemuda itu. “Tom, sebenarnya gue ingin tahu informasi tetang seseorang yang mungkin loe kenal.” Tomi menyatukan alisnya mendengar pernyataan Mawar. Tumben sekali dia jadi kepo begitu? Biasanya juga tidak pernah peduli dengan urusan orang lain. Atau jangan-jangan dia sedang menyukai seseorang. Pikiran itu langsung mengubah raut wajah Tomi menjadi kemarahan. Memang selama ini Tomi terbilang jarang menunjukkan ekspresi marah dan cemburunya pada Mawar, namun entah mengapa kali ini sepertinya cukup sulit untuk menahan diri. Mawar yang menyadari hal itu langsung mencegah kemarahan Tomi. “Gue gak suka dia kok Tom, tapi gue cuma ingin tahu tentang dia karena belakangan ini dia sedang melakukan pendekatan dengan Dewi.” “Maksud loe Reza anak kelas XII-3 itu?” Mawar mengangguk dengan antusias. “Oke, akan gue kasih tahu informasinya, tapi kita masuk dulu ya, gue udah laper nih Warior.” “Tomi…...”. Tomi pun terkekeh melihat wajah Mawar yang terlihat menggemaskan saat sedang marah. Ia langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Mawar. Lalu keduanya pun berjalan memasuki restoran yang cukup ternama itu.

__ADS_1


Keduanya diam sambil menunggu pesanan mereka datang, hingga tiba-tiba tangan Tomi mulai bergerak meraih tangan Mawar yang berada diatas meja. “Ih Tom, apa-apaan sih, malu tahu dilihat orang.” Mawar sedikit berbisik pada Tomi karena takut ada yang mendengar kata-katanya. Tomi hanya menunjukkan cengiran khasnya, namun masih setia memegang tangan Mawar “Gak apa-apa dong War, loe kan calon gue, jadi loe harus mulai terbiasa dengan ini.” “Calon, calon. Calon apaan? Calon orang yang mau gue gampar karena bikin malu di restoran?” Mawar segera melepaskan tangan Tomi dan menatap pemuda itu lekat-lekat. Namun sepertinya Tomi tidak merasa keberatan dengan kata-kata Mawar yang terbilang cukup kasar bagi sebagian orang. Dia sudah mengenal Mawar cukup lama, bahkan sejak masih SD, jadi dia sudah paham betul dengan semua sikap Mawar yang sok berani padahal sebenarnya dia bertindak begitu hanya untuk menutupi rasa malu, gugup atau takutnya saja. “Calon istri dong sayang. Masa loe mau gampar gue? Entar kalau digampar kan sakit, terus gak ganteng lagi. Memangnya loe mau nikah sama cowok yang jelek karena digampar?” Mawar hanya sedikit merona mendengar kata-kata Tomi yang terdengar sangat romantis baginya. Tentu saja karena ada kata ‘calon istri’ di sana yang menunjukan keseriusan pemuda itu padanya. Mawar selalu menahan diri saat sedang merona ataupun malu saat bersama dengan Tomi. Menurutnya hal itu hanya akan membuatnya terlihat lemah di depan Tomi, dia tak ingin Tomi menganggapnya begitu. Biarlah dia menjadi ‘Warrior kesayangannya’ daripada menjadi ‘wanita lemah’ dalam hidup Tomi.

__ADS_1


Keduanya makan dengan santai sambil sesekali tertawa karena gurauan Tomi maupun Mawar. Karena keduanya merupakan orang yang humoris, maka tak jarang waktu yang mereka habiskan berdua terasa sangat cepat hanya untuk tertawa bersama. Saat Mawar menelan suapan pancake terakhirnya, dia teringat dengan misinya hari ini untuk mengetahui semua tentang Reza. Dia menatap Tomi dengan perasaan yang bercampur aduk antara khawatir dan bingung. Dia bingung bagaimana harus menanyakannya pada Tomi, karena dia memang belum cerita tentang sejauh apa hubungan Dewi dengan Reza. Dia hanya mengatakan kalau Dewi sedang mulai pendekatan dengan Reza karena kesalahan nama Reza dan Eza itu tentunya. “Tom, gue boleh tanya sesuatu gak?” Tomi mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Mawar yang seperti tu. Tumben sekali Mawar bersikap begitu. Biasanya kalau ada yang mau ditanyakan dia pasti akan langsung mengatakannya tanpa basa-basi terlebih dahulu. Sepertinya ini adalah sesuatu yang penting. Oh ya, ia sampai lupa. Pasti ini mengenai Reza. “Tentu War, loe boleh tanya apa saja, termasuk hal pribadi gue. Bahkan jika itu menyangkut tentang Reza sekalipun. Gue akan jawab dengan jujur.” Mendengar itu Mawar menjadi sedikit lega karena Tomi pasti akan memberitahunya tentang Reza. “Tom, menurut loe apakah Reza itu pantas buat jadi pacarnya Dewi? Gue agak ragu sama karakternya yang sedikit… aneh, dan gue rasa Dewi terlalu mudah percaya pada Reza. Gue jadi mulai khawatir kalau sampai Reza menyakiti Dewi nantinya.” Tomi kembali mengingat saat pertemuannya dengan Reza didepan kelas Dewi, pantas saja dia pura-pura menyapanya, ternyata dia sedang mencoba mendekati Dewi dan menunggunya di depan kelasnya. Apa Reza menyukai Dewi? Tapi bagaimana mungkin? Setelah kejadian itu, Reza bahkan tak pernah berbicara lagi dengan teman-teman wanitanya. Pasti ada sesuatu yang membuatnya tertarik dengan Dewi hingga bersikap sejauh ini. Walau bagaimanapun juga, Dewi harus tetap bersama dengan Reza karena gue yakin mungkin cuma Dewi yang bisa mengembalikannya menjadi Reza yang dulu.

__ADS_1


"Hmm… bagaimana gue harus memulainya ya? Begini saja, dia itu memang kelihatan agak pendiam dan dingin, tapi sebenarnya dia anak yang baik kok War. Gue bahkan mengenalnya sejak SMP, dan sampai saat ini kami masih berteman baik walau tak seakrab dulu." Mawar mendengar semua penjelasan Tomi dengan sangat baik dan teliti. Dia memang selalu bersikap berlebihan bila mengenai Dewi. Hal itu karena Dewi merupakan teman yang paling berharga buat Mawar. Sangat sulit mencari teman yang selalu setia seperti Dewi saat ini, dan Mawar bukanlah orang bodoh yang akan menyia-nyiakannya begitu saja. "Hmm… War, menurut gue sebaiknya loe gak perlu khawatir dengan Dewi. Dia pasti baik-baik saja bila bersama dengan Reza. Lagian gue yakin betul kalau Reza gak akan mungkin menyakiti Dewi, karena....." "Karena apa Tom?" Mawar menjadi panik karena ucapan Tomi yang digantung. Tidak biasanya Tomi bersikap seperti itu. Tapi bukan Mawar namanya bila tak bisa membuat Tomi bicara tentang apa yang dipendamnya. Mawar terus memaksa Tomi bicara hingga Tomi akhirnya menghela napas panjang dan mulai menjelaskan perkataannya. "Gue cuma bisa bilang kalau Dewi tidak akan mungkin terluka karena Reza pasti akan menjaganya dengan baik. Dia paling tidak suka disakiti, jadi dia juga tidak suka menyakiti. Lagipula Reza itu tipe orang yang setia walau sedikit… mesum." Tomi terkekeh saat mengingat kelakuan teman gilanya itu. Mawar hanya bisa mengernyitkan dahinya karena bingung dengan cerita yang Tomi sampaikan. Jika memang Reza itu hmm... mesum, lalu bagaimana bisa Reza menyetujui persyaratan aneh Dewi agar tak menyentuhnya. Sepertinya ia harus bertanya sejelas-jelasnya pada Dewi tentang sudah sejauh apa hubungan anehnya itu bersama Reza, dan apakah Reza pernah melaukan hal mesum terhadapnya sehingga dia harus membuat perjanjian aneh itu. “Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Gue gak mau melihat warior gue cemas terhadap hal yang tidak mungkin terjadi. Reza itu sama seperti gue, tidak suka berpindah ke lain hati. Jadi kalau memang dia berniat untuk bersama Dewi, maka gue yakin kalau hubugan itu pasti akan terus terjaga dan mungkin saja akan sampai pada tahap pernikahan seperti kita nantinya.” Tomi menampilkan senyum lembutnya yang langsung membuat Mawar menjadi merona sekaligus lega dengan semua gunda yang tersimpan dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2