Inspirasi

Inspirasi
Kecurigaan


__ADS_3

Dewi tiba di kelas dengan napas yang masih terengah-engah karena berlari menuju ke kelas dan langsung melihat kearah jamnya yang menunjukkan pukul 07.35 WIB. Dia sudah terlambat 5 menit tapi belum ada guru disana, jadi ada sedikit kelegaan dalam hati Dewi. Dia pun segera duduk ditempatnya. Rasa-rasanya ada yang aneh dengan Mawar hari ini. Biasanya dia tidak pernah bisa duduk diam di satu tempat tanpa ber-gossip dengan teman-teman sekelas. Tapi hari ini, dia duduk diam dengan ekspresi yang sangat sulit untuk ditebak Dewi. Namun Dewi berusaha bersikap biasa saja tanpa memperdulikan perubahan itu karena ia takut bila mengatakan apapun, maka Mawar akan pasti akan bertanya yang macam-macam tentang kejadian tadi. Tiba-tiba Mawar menatap Dewi dengan sangat serius hingga membuat Dewi merasa takut. "Dew, loe dari mana saja sih? Dari tadi gue tungguin. Kenapa semalam loe gak nelepon gue? Terus kenapa tingkah kamu aneh banget hari ini?" Mawar menatap Dewi dengan tatapan intimidasinya agar membuat Dewi mengakui semuanya. Namun sepertinya Dewi terlihat tenang-tenang saja hingga membuat emosi Mawar semakin meledak-ledak. "Maaf War, kemarin gue ngerjain tugas pak Joni sampai larut, terus langsung tidur. Makanya gue lupa. Sorry ya."


Dewi memang sangat pintar menyembunyikan rasa sedih ataupun takut yang dia rasakan sehingga orang lain akan merasa sulit dalam menilai apa yang sedang Dewi rasakan. Dewi lalu mengeluarkan buku dari dalam tasnya dan meletakkanya diatas mejanya. "Bu sinta gak masuk, jadi kita bebas sekarang." Ketus Mawar dengan wajah yang masih terlihat marah. "Apa? Ada apa dengan sekolah ini? Kemarin Pak Joni, sekarang Bu Sinta. Huuh tahu begini lebih baik tadi aku ke perpus saja." Dewi kembali memasukkan bukunya ke dalam tas. Saat ingin menutup tasnya, tanpa sengaja Mawar melihat minuman teh botol yang diberikan Reza pada Dewi tadi. Mawar kembali mengingat-ingat kalau tadi Dewi hanya membeli 2 botol air mineral saja. Lalu mengapa di dalam tasnya ada minuman lain?

__ADS_1


Terlintas kilas balik kejadian saat Reza membeli roti dan teh botol di pikiran Mawar. Ya, itu adalah teh yang sama dengan yang Reza beli tadi pagi. Pasti dia yang memberikannya pada Dewi saat di atap sekolah tadi. Mawar sangat kesal hingga berbisik sendiri dengan dirinya "Cih menyebalkan." "Loe bilang apa War? Gue gak denger nih." Dewi menatap Mawar untuk mendengar jawabannya, namun Mawar terlihat sedikit gagap untuk menjawabnya. "Eh bukan apa-apa kok Dew. Oh iya, loe kan belum cerita soal pertemuan loe sama si Reza kemarin. Gue mau tanya di kelas tapi takut yang lain tahu. Gue kira loe bakalan nelepon gue kemarin malam, tapi ternyata nihil. Loe itu sebenarnya nganggap gue teman gak sih? Malah tadi pagi gue dicuekin di kantin. Loe gak merasa bersalah Dew?" Mawar kembali menatap Dewi sekilas, lalu ia memalingkan pandangannya ke sekitar karena takut jangan-jangan ada yang mendengar perbincangan mereka. Bukan karena apa-apa, tapi Dewi meminta Mawar untuk merahasiakan hubungannya dengan Reza agar tidak ada gossip yang menjerat Dewi. Lagipula, hubungan itu akan berakhir ketika Dewi selesai menulis lagu barunya. Jadi Dewi hanya takut di cap sebagai penyanyi pencari sensasi sesaat yang selalu berganti-ganti pasangan untuk mendapat ketenaran di mata publik. Setidaknya itulah yang dikatakan Dewi pada Mawar sebelum drama ini dimulai. Sebagai sahabat yang baik, Mawar hanya bisa mendukungnya dengan cara seperti ini.


"War, sorry ya. Gue gak ngira kalau loe bisa semarah ini ke gue karena hal ini. Gue kan udah bilang kalau ini bukan ide yang baik, tapi kan loe yang maksa supaya gue deket sama Reza. Jadinya, gue gak punya waktu untuk cerita sama loe kemarin. Tapi loe tenang aja War, nanti siang gue akan ceritain semuanya sedetail-detailnya. Jadi nanti kamu pulang sekolah ikut gue aja ke rumah, oke?" "Hn..." jawab Mawar dengan singkat tanpa memandang Dewi. "War, jangan marah dong. Ayo senyum, gak enak tahu lihatnya. Hmm... entar si Tomi gak cinta lagi loh." Dewi mencubit kedua pipi Mawar. "Enak saja. Si Tomi itu cinta mati sama gue, dan loe tahu sendiri kan kalau gue itu gak pernah bisa marah ke loe. Jadi please jangan cubit pipi gue, entar malah jadi tambah tembam." Kata Mawar sambil memegang kedua pipinya yang sedikit merah. "Hahaha.... iya deh War, gak lagi deh."

__ADS_1


***


***

__ADS_1


Reza terlihat duduk tenang seperti biasanya di dalam kelas. Namun kali ini pikirannya benar-benar tidak tenang karena kata-kata Dewi yang terus terngiang di telinganya, hingga ia tidak sadar kalau ia sedang melamun di tengah-tengah jam pelajaran yang sedang berlangsung. "Aku memang selalu saja menyakiti orang lain. Tapi Dewi... rasanya sangat sulit untuk menyakitinya. Entah mengapa aku jadi seperti ini. Apa yang aku lakukan tadi? Bisa-bisanya aku mendekatinya seperti itu. Dan persyaratan itu, apa-apaan itu? Tidak boleh menyentuh? Tapi saat aku mendekatinya tadi ia kan terlihat biasa saja dan tidak marah. Huuh dasar cewek sok jual mahal. Ingin tahu arti cinta tapi tak mau disentuh. Aneh... apa aku tolak saja syarat anehnya itu? Tapi kalau aku tolak, ia pasti akan mencari orang lain. Tapi, apa dia bisa menemukan orang yang lebih baik dariku? Dan lagipula, apa orang tersebut dapat dipercaya? Aku saja yang seperti ini merasa kalau dia itu terlalu lugu dan mudah untuk dibodohi. Ia seperti orang yang frustasi karna tak mengenal cinta hingga dengan begitu mudahnya menanyakan hal seperti itu pada orang yang tidak ia kenal. Aku.... apa aku terima saja? Dia pasti melakukan itu karna tidak ingin aku berbuat macam-macam padanya. Harusnya aku mengerti akan hal itu. Tapi bagaimana bisa mengajarinya cinta bila tak bisa menyentuhnya? Tunggu.... dia boleh menyentuhku kan? Aku akan membuatnya menyentuhku tanpa paksaan dan ia akan merasakan cinta dariku tanpa harus aku yang menyentuhnya, tapi dia yang menyentuhku." "Reza..." "Aku akan terima." Reza pun segera terhenti dari lamunannya ketika melihat Pak Manto yang sudah berada di depannya dan teman-teman yang menertawakannya dengan keras. "Apa yang kamu terima? Tanya Pak Manto pada Reza yang masih tak menyangka dengan kondisinya saat ini. Seorang Reza ditertawakan di depan kelas karena melamun tentang cewek aneh. "Terima? Hmm... maksud saya ini Pak." Reza mengambil spidol dari tangan Pak Manto. "Cepat kerjakan soal di depan." "Baik Pak". Reza pun segera mengerjakan soal matematika itu dengan cepat di papan tulis. Melihat itu Pak Manto yang tadinya marah pun kini tersenyum "Bagus Za. Jawaban kamu benar." "Terima kasih pak." Reza kembali berjalan ke tempat duduknya sambil bergumam dalam hatinya, "Untung aku sudah belajar tadi malam, jadi tidak memalukan hari ini. Ini semua gara-gara dia, aku jadi tidak fokus belajar di sekolah. Ditambah lagi dia masih belum memberitahukan alasannya tidak mau jalan denganku hari ini. Sibuk.... Manggung.... yang benar saja. Penyanyi saja bukan, tapi gayanya selangit. Cih... benar-benar memalukan. Tapi harus ku akui, dia itu memang cantik dan aku sedikit tertarik dengannya. Tapi bukan berarti dia bisa menindasku seenaknya. Dasar cewek aneh." Reza mengambil smartphone di saku kirinya dan mengganti nama kontak "Dewi" menjadi "Cewek Aneh". Ada senyum menyeringai yang terlihat jelas di wajah Reza, namun ia segera mengembalikan ekspresi datarnya karena takut ada yang melihat.


__ADS_2