Inspirasi

Inspirasi
Kesalahan


__ADS_3

Malam itu Dewi terlihat sangat lelah karena baru pulang dari acara musik yang memakai jasanya untuk manggung. Dewi pun segera masuk ke kamarnya dan melihat jam yang telah menunjukkan pukul 21.30 WIB. Dewi hanya bisa menghela napas dan meletakkan tasnya di meja. Lalu pergi untuk membasuh muka dan menyikat giginya sebelum tidur. Itu adalah salah satu kebiasaan baik yang Dewi lakukan sejak kecil. Karna itu, tak mengherankan apabila gigi Dewi tertata dengan rapi dan bersih. Setelah selesai dengan ritual malamnya ini, Dewi segera mengambil smartphone-nya di dalam tas dan mengecek apakah ada panggilan atau pesan yang masuk saat Dewi sedang manggung tadi. Dewi memang orang yang cukup profesional dalam bekerja. Dia selalu mengatur mode diam di smartphone-nya agar tidak bisa mengganggu konsentrasinya saat sedang manggung. Dewi melihat smartphone-nya yang ternyata telah mati karena baterainya habis. Dengan sigap Dewi pun segera merogoh tasnya dan mengambil powerbank nya lalu mencolokkan kabel ke smartphone-nya. Dia berjalan ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya yang lelah disana. Lalu Dewi langsung menghidupkan smartphone-nya dan melihat pesan dari Reza. "Selamat manggung Dewi. Jangan lupakan janjimu, oke." Dewi hanya bisa tersenyum melihat pesan dari Reza. Dia ingin membalasnya namun sepertinya sudah terlalu malam untuk pelajar SMA seperti Reza tetap terus terjaga selarut ini. "Bagaimana bisa aku melupakannya Reza? Semua persiapan bahkan sudah ku lakukan sejak kemarin. Hmm... aku jadi tidak sabar akan jadi seperti apa besok. Tanpa membalas pesan Reza, Dewi pun langsung tidur.


***


Pagi ini benar-benar sangat menyenangkan bagi Dewi. Sedari tadi Dewi hanya senyum-senyum di depan cermin sambil memasang dasi sampai benar-benar rapi. Hari ini dia akan menemui Reza setelah dua hari tidak bertemu. Rasanya ada sesuatu yang kurang dalam dirinya selama dua hari ini, dan itu semua karena Reza. "Apa aku sudah gila?" Dewi berbicara sendiri di depan cermin. "Ya, aku pasti sudah gila. Apa yang kulakukan disini? Senyum, memikirkan dia, apa mungkin kalau aku sudah jatuh cinta padanya? Rasanya tidak mungkin kalau semua ini terjadi secepat ini. Baru dua hari tidak bertemu saja dampaknya sudah sampai seperti ini. Apalagi nanti kalau semuanya sudah selesai? Duuh sudah ah jangan mikirin dia terus. Pokoknya nanti aku harus menghindarinya di sekolah. Ya setidaknya sampai nanti sore." Dewi segera keluar dari kamarnya dan turun untuk sarapan. Setelah itu Dewi pun segera pergi kesekolah bersama Pak Tarjo, supir keluarga Dewi.

__ADS_1


***


Saat dijalan, tepatnya di persimpangan dekat sekolah, Mobil Dewi harus menunggu cukup lama karena lampu merah yang durasinya lumayan lama. Dewi hanya bisa duduk diam sambil memandangi sekitar kiri dan kanan mobilnya. Saat dia menoleh ke kiri, dia melihat sosok yang sepertinya tidak asing baginya. Ya, itu adalah Reza. Tapi apa benar itu Reza? Wajahnya tertutup helm dengan kaca yang berwarna putih, sehingga Dewi cukup yakin kalau itu adalah Reza.


Perasaan Dewi mulai tidak karuan melihatnya. Jantungnya mulai berdegup dengan kencang dan Dewi mulai merasakan perasaan yang aneh dalam hatinya. Saat Reza menoleh kearah mobil Dewi, dengan sigap Dewi segera menunduk untuk menghindari bertatap muka dengannya. Pak Tarjo yang melihat tingkah aneh Dewi pun langsung bertanya padanya. "Non Dewi kenapa? Kok nunduk-nunduk?" Dewi mencoba menjawab pertanyaan Pak Tarjo dengan gugup dan masih terus menunduk. "Tali sepatu Dewi lepas Pak." Pak Tarjo benar-benar merasa aneh dengan sikap majikan mudanya ini. Dia memakai flat shoes ke sekolah, lalu mengapa dia membicarakan tentang tali sepatu sementara sepatunya tidak memiliki tali? Pak Tarjo bukanlah orang yang sangat kepo seperti Bi Inem. Jika itu Bi Inem, maka ia pasti akan terus bertanya panjang lebar pada Dewi hingga membuatnya kewalahan untuk menjawab dan akhirnya mengatakan hal yang sebenarnya. Dewi yang masih menunduk menyadari bahwa ia telah salah bicara dan merasa sangat malu. Beruntung Pak Tarjo tidak bertanya lebih jauh lagi hingga membuat perasaan Dewi menjadi sedikit tenang. Saat ia kembali duduk, dan menoleh ke kiri, dia melihat Reza yang masih memandanginya dengan serius. Kaca mobil Dewi yang terbuka memang membuat siapa saja bisa melihatnya dengan mudah. Dewi benar-benar terpaku dan tak tahu harus bagaimana. Setelah menghindarinya secara terang-terangan, mana mungkin Dewi tersenyum dan berpura-pura menyapanya. Pasti Dewi akan terlihat aneh dimatanya. Tak lama kemudian semua kendaraan disana pun mulai melaju pergi karena lampu yang sudah berubah hijau. Dewi tidak bisa berpikir jernih lagi karena semua masalah ini. Senyum yang menghiasi wajah Dewi kini tidak dapat terlihat karena rasa tegang yang menyelimutinya.

__ADS_1


***


Dewi masih sibuk bergelut dengan pikirannya. Kalau ia kesana maka ia akan berurusan dengan Reza karena sikapnya tadi. Kalau ia tidak kesana maka ia akan terlambat ke kelas. Akhirnya dengan berhati-hati Dewi melangkah pergi ke atap sekolah untuk menenangkan diri dan menjauh dari Reza. Mungkin ia akan terlambat sedikit, tapi itu lebih baik daripada harus bertemu Reza. Saat sudah berjalan beberapa langkah, sesekali Dewi melihat-lihat ke arah Reza untuk memastikan kalau Reza tidak melihatnya pergi ke atap sekolah.


Reza melihat Dewi yang melangkah pergi tapi langsung mengalihkan perhatiannya pada Tomi agar Dewi tidak menyadari kalau sedari tadi Reza terus memperhatikannya secara diam-diam. "Tom, gue duluan ya." Dengan santai Tomi pun mengangguk dan memukul pelan pundak Reza. "Oke bro, gue masih mau nungguin Mawar dulu disini." Reza berjalan menjauhi Tomi yang masih setia berdiri untuk menunggu Mawar. Reza melihat ke arah sekitar untuk mencari Dewi, tapi sepertinya dia menghilang dengan begitu cepat. Reza pun bergumam dalam pikirannya, "Kemana Dewi pergi? Kenapa dia menghindariku seperti ini? Tunggu.... sepertinya aku tahu dia ada dimana." Reza segera mempercepat langkahnya untuk mencari Dewi.

__ADS_1


Sementara itu disisi lain, Dewi hanya bisa memandang ke bawah sambil berharap kalau Reza tak akan bertemu dengannya sekarang. Tapi tiba-tiba Dewi ingat kalau Reza pasti akan menemukannya disini. Jika itu orang lain, maka Dewi akan tenang jika bersembunyi disini. Tapi ini adalah Reza. Dia tidak mungkin tidak mencarinya disini. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa terus berada disini atau dia akan dengan mudah menemukanku. Aku akan pergi ke perpustakaan saja. Ya, itu lebih baik." Dewi berjalan ke pintu atap sekolah dengan terburu-buru. Saat dia membuka pintu itu, betapa terkejutnya Dewi karena melihat Reza yang sedang menatapnya dengan ekspresi datarnya. Dia berjalan mendekati Dewi yang juga melangkah mundur karena takut dengan ekspresinya itu. Reza segera menutup pintu atap sekolah agar tidak ada yang bisa masuk. Dewi hanya bisa melangkah mundur saat Reza berjalan mendekatinya. Namun saat sudah dekat dengan Dewi, Reza malah berbelok dan duduk di bangku sambil memperhatikan Dewi. Dewi merasa ada yang aneh dengan sikap Reza hari ini. Tidak biasanya dia hanya diam saja saat sedang marah pada Dewi. "Kamu mau berdiri disitu sampai besok atau duduk disini denganku dan membicarakan semuanya." Dewi tidak mengerti dengan apa yang baru didengarnya dari Reza. Dia berbicara dengan nada datar yang membuat Dewi enggan untuk menjawabnya karena bisa saja itu hanya permintaan, pernyataan, atau mungkin itu memang pertanyaan. Dewi hanya berjalan dan duduk dibangku panjang yang sama dengan Reza, namun dengan jarak yang masih terbilang jauh. Dewi hanya menunduk dan tak tahu harus bagaimana lagi. Keduanya diam dalam keheningan pagi yang sejuk itu. Dewi melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07.10 WIB. "Sudah jam segini, tapi dia masih diam saja. Apa sebaiknya aku bicara duluan saja? Tapi mau bilang apa? Ah benar, itu juga boleh." Gumam Dewi dalam hatinya. Dewi memandang Reza dengan seksama, masih dengan ekspresi datarnya. Benar-benar menyebalkan. Padahal Dewi berharap hari ini akan sangat menyenangkan baginya. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi, dan kini Dewilah yang harus memperbaiki keadaannya. "Maaf ya, Za." Reza hanya melirik sekilas ke arah Dewi yang masih setia memandanginya. "Maaf? Untuk apa?" Lagi-lagi dengan nada datarnya. Dewi benar-benar tidak suka dengan sikap Reza yang satu ini. Rasanya lebih baik jika Reza memarahinya saja daripada berlagak dingin seperti ini. "Maaf karena semalam tidak membalas pesanmu." Dewi segera memalingkan wajahnya dari Reza. Sepertinya dia tidak sanggup untuk berkata apapun lagi. Tatapan Reza yang datar, raut wajahnya, bahkan nada bicaranya sungguh membuat Dewi merasa tertekan. "Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Reza sambil menatap Dewi sekilas. Dewi hanya memandanginya dengan tatapan kesal karena kini kesabarannya sudah habis. "Maaf soal yang tadi." Dewi segera bangkit dan berjalan ke pintu atap sekolah, sementara Reza masih setia duduk di bangku panjang itu. Saat Dewi ingin membuka pintunya, dia menyadari bahwa pintu itu telah di kunci oleh Reza, dan pasti kunci itu ada padanya. Reza yang menyadari kepanikan Dewi kini hanya menyeringai kecil melihat ekspresi Dewi yang mungkin sangat kesal saat ini. "Apa-apaan sih dia.? Apa maksudnya melakukan semua ini?" Dewi bergumam pelan tanpa menyadari bahwa kini Reza sudah berdiri dibelakangnya dengan seringaiannya yang membuatnya tampak menyebalkan. "Kamu pikir kali ini bisa minta maaf dengan mudah ya, hanya mengatakan maaf lalu pergi sesukamu. Kamu tidak hanya melakukan 1 kesalahan Dew, dan aku tidak akan mudah memaafkanmu begitu saja." Reza semakin mendekat ke arah Dewi. Ini benar-benar tidak bisa dibayangkan oleh Dewi. Setelah kejadian waktu itu, bahkan Dewi sampai membuat perjanjian agar Reza menjauh darinya. Tapi apa yang dilakukannya ini? Dia mulai lagi mendekati Dewi lagi hingga sangat dekat. Walau tak menyentuhnya, namun hal itu cukup berhasil membuat jantung Dewi berdetak tak menentu hingga Dewi takut kalau-kalau Reza bisa mendengar detak jantungnya itu. "A-apa maumu? Kamu tidak lupa dengan perjanjian kita kan?" Dewi berusaha tegas namun tetap tidak bisa menahan perasaannya karena tatapan Reza membuatnya gugup. "Bagaimana bisa aku melupakan itu? Aku tidak boleh menyentuhmu, bukan? Tapi aku tidak sedang menyentuhmu. Aku hanya mendekatimu untuk mengatakan kalau aku masih belum memaafkanmu. Kalau kamu ingin kunci ini, kamu harus bisa membuatku memaafkanmu. Itu ide yang menarik kan? Kita bisa menyelesaikan semua masalah kita disini tanpa harus ada orang lain yang mengetahuinya." Reza memasukkan kunci pintu atap sekolah di saku celananya. "Apa yang kamu inginkan supaya kamu bisa memaafkanku? Ayo cepat jawab, atau kita bisa terlambat nanti." "Kamu itu ternyata orang yang to the point ya, bagus-bagus. Tapi kamu tenang saja, ini tidak akan memakan waktu yang lama, karena kamu hanya perlu menjawab keinginanku. Jika kamu bisa menjawabku dengan cepat mungkin kamu bisa sampai di kelas tepat waktu, bahkan mungkin sebelum bel masuk berbunyi." Dewi tidak dapat mengerti apa yang dimaksud Reza. Bagaimana mungkin Reza memaafkan Dewi hanya melalui kata-kata saja. Apa pertanyaan yang akan diajukan Reza? Dewi tenggelam dalam lamunannya itu, hingga tidak menyadari bahwa Reza sudah kembali duduk di bangku panjang. "Dew, kamu mau disitu terus sampai besok?" Lamunan Dewi segera buyar oleh perkataan Reza, lalu segera menyusulnya dan duduk disamping Reza. "Katakan apa pertanyaan yang harus ku jawab?" Reza hanya tersenyum singkat mendengar perkataan Dewi. "Pertanyaan? Aku tak akan bertanya apapun padamu. Aku hanya ingin kamu membatalkan perjanjian kita. Setelah itu kamu boleh kembali ke kelas." "Apa? Kenapa kamu ingin membatalkannya? Jangan-jangan benar bahwa kamu membantuku karena ada maksud lain. Dasar pemuda mesum." Dewi ingin beranjak dari bangkunya namun Reza menahan tangannya dan ikut berdiri. "Lepaskan. Aku belum mengatakan apapun bukan? Jadi jangan seenaknya memegang tanganku." Reza melepaskan tangannya dan menatap Dewi dengan tatapan kosong, sementara Dewi hanya diam dan menunduk karena tak mau memandang Reza. "Dew, kalau kamu mau pergi..." Dewi memperhatikan Reza yang sedang mengeluarkan kunci dari sakunya. Sepertinya dia akan memberikan kunci itu pada Dewi karena melihat kemarahan Dewi. Terlihat sebuah senyum kecil di wajah Dewi ketika Reza memajukan tangannya untuk memberikan kunci itu padanya. Dewi pun segera memajukan tangannya untuk mengambil kunci itu. Namun belum sampai Dewi meraih kunci itu, dengan sigap Reza menutup tangannya kembali dan memasukkan kunci itu ke kantung sebelah kiri kemejanya. Dewi terkejut dan seketika senyumnya itu langsung berubah menjadi rasa kekesalan yang teramat sangat dalam hatinya. Namun Dewi tidak berkomentar apapun karena pasti Reza akan kembali memojokkannya dengan berbagai macam pertanyaan yang sulit baginya. "Kenapa? Kamu tak ingin mengambil kunci ini?" Reza memegang kantungnya dengan seringaian khasnya yang membuat Dewi benar-benar marah. "Bukankah kamu bisa melakukannya dengan mudah? Kenapa tidak kamu ambil saja kunci ini disini? Itu tidak akan melanggar perjanjian kita. Ingat, aku tidak boleh menyentuhmu, tapi kamu boleh. Ini adalah kesempatan emas bagimu karena biasanya aku tak pernah berbaik hati pada orang lain seperti ini. Kamu boleh mengambilnya dan aku tak akan bergerak." Dewi memikirkan kata-kata Reza, apa sebaiknya ia lakukan? Tapi mungkin saja ini hanya permainan seperti tadi. Apa dia benar-benar serius untuk tidak bergerak saat ia mengambil kunci itu? "Hmm... Atau... jangan-jangan, kamu memang tidak berani melakukannya ya? Kamu takut padaku Dew? Hahaha... dasar penakut, Dewi penakut. Pe-na-kut." Reza terus saja mengejek Dewi hingga membuatnya tidak bisa menahan diri lagi. "Aku bukan penakut. Apa kamu dengar itu? Aku bukan penakut." Reza tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya. "Hmm... ekspresimu cukup meyakinkan. Kalau begitu buktikan." Sedikit demi sedikit Dewi mulai melangkah mendekati Reza yang diam mematung bagaikan benda mati itu dan mulai memajukan tangannya untuk mengambil kunci di kantung kiri kemeja Reza, namun tangannya terhenti sejenak saat akan menyentuh Reza. Entah mengapa ada sedikit keraguan di hati Dewi untuk melakukannya. Tiba-tiba Dewi merasakan debaran jantung yang berdetak sangat cepat, bahkan lebih cepat darinya. Reza telah menarik tangan Dewi untuk merasakan detak jantungnya yang membuat Dewi tidak bisa berkata-kata dan diam mematung. "Apa kamu bisa merasakannya?" Reza melepaskan tangannya namun Dewi masih diam merasakan alunan detak jantung Reza. Lalu dengan perlahan Reza mundur selangkah dan langsung membuyarkan lamunan Dewi tentang dirinya. Dewipun refleks dan langsung tertunduk malu terhadap sikapnya yang keterlaluan itu, karena bisa-bisanya dia melamun saat merasakan perasaan Reza yang benar-benar mendebarkan baginya. Apakah Reza juga merasakan hal yang sama dengannya? "Maaf Za, aku gak bermaksud untuk melamun tadi." Dewi menatap Reza dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Reza. "Dew, harusnya aku yang minta maaf. Kamu gak salah apa-apa kok, akulah yang bersalah karena telah memegang tanganmu tadi." Reza mulai berjalan mendekati Dewi dengan tatapan yang lembut dan hangat. Benar-benar seperti tatapan yang penuh cinta, yang akan membuat orang yang melihatnya menjadi luluh hatinya, begitupun dengan Dewi. "Dew, aku tak bermaksud untuk melanggar janji, tapi ini semua ku lakukan agar kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Jika aku tak melakukannya, mungkin kamu masih akan berdiri terpaku tanpa menyentuhku. Ingat yang kukatakan waktu itu, Kamu bisa merasakan cinta lewat sentuhan, dan aku yakin saat ini kamu pasti bisa merasakannya. Kalau aku ingin membatalkan perjanjian ini, itu bukan karena aku pemuda mesum seperti yang kamu katakan, tapi karena aku ingin membantumu untuk bisa merasakan cinta seperti yang kamu inginkan. Bukan melalui sentuhan yang negatif, tapi dengan hal-hal kecil seperti berpegangan tangan dan menggandeng tangan. Dew, aku yakin dengan begitu hubungan yang kita miliki ini akan lebih berkembang dan kamu akan lebih mudah merasakan cinta. Begini saja, Hari ini jika kamu bisa mengijinkanku untuk membatalkan perjanjian itu untuk hari ini saja, maka aku yakin kamu pasti bisa merasakan cinta dariku, aku pastikan itu. Setelah itu, semua keputusan akan ada ditanganmu, apakah kamu ingin kembali membuat perjanjian ini atau membatalkannya." Reza memegang tangan Dewi dan memberikan kunci di tangannya. "Kamu bisa memikirkannya sepanjang hari hingga malam nanti, aku ingin jawaban yang berasal dari hatimu Dew." Dewi tersenyum singkat dan berjalan ke pintu atap sekolah, membuka kuncinya dan berbalik ke arah Reza yang masih berdiri menatap Dewi. "Baiklah, dengarkan jawabanku sekarang. Aku akan memberikanmu kesempatan hari ini, tapi besok perjanjian itu akan kembali berlaku lagi. Apa kamu tidak masuk ke kelas?" Reza hanya mengangguk sejenak, "Kamu duluan saja." "Kalau begitu aku duluan ya." Tanpa banyak pikir lagi Dewi langsung menuruni anak tangga dan kembali ke kelas.


__ADS_2