Inspirasi

Inspirasi
Makan Malam


__ADS_3

Dewi memijit pelipisnya yang masih terasa sakit. Dia langsung menuju ke ruangannya untuk istirahat sebentar karena saat ini acara pelelangannya sudah di mulai, dan ia hanya harus tampil di akhir acara saja nanti.


Karena itu Dewi memutuskan untuk duduk dan menunggu Reza yang sedang membeli makanan. Dibenak Dewi sudah mulai terbayang saat ia akan memakan sate yang menggoda bersama dengan Reza, seperti saat kencan mereka waktu itu.


Sedikit senyum menghiasi Dewi hingga tiba-tiba suara seseorang yang telah dikenalinya itu mengejutkannya dengan duduk disampingnya.


"Nih minum dulu." Dewi mengernyitkan dahinya heran dengan keberadaan Reza saat ini. Bagaimana bisa dia begitu cepat membeli makanan dalam waktu 15 menit saja?


"Za, kamu beli makanan dimana? Kok cepet banget?" Reza tersenyum sedikit saat membukakan tutup botol air mineral dan menyerahkannya pada Dewi.


"Bukan aku yang beli, tapi Tomi." Dewi hanya menghela napas karena sudah pasti pemuda itu takkan mau membeli sate kesukaannya dengan alasan kesehatan.


Tapi, kalau memang Tomi yang pergi, berarti sedari tadi Reza pasti melihatnya berduet dengan band rock itu. Apa dia tidak ingin memberikan tanggapan apapun tentang aksi panggungnya tadi?


"Sudah, lebih baik kamu minum ini sekarang." Dewi mengambil tablet sakit kepala yang diberikan Reza.


"Tapi aku kan belum makan, nanti saja aku minum setelah makan." Reza menunjukkan wajah datarnya yang tak ingin dibantah.


Melihat itu Dewi langsung menelan tablet tersebut tanpa ba bi bu lagi. Reza hanya terkekeh pelan melihat Dewi yang sepertinya cukup patuh padanya. Tentu saja, dia kan "Guru Cinta" Dewi.


"Kamu tenang saja, obat itu aman diminum sebelum makan kok. Kalau tidak aman palingan kamu bentar lagi juga kejang-kejang."


Dewi hanya bisa menggerutu tak jelas dalam hatinya. Bagaimana bisa dia menyukai pemuda menyebalkan seperti Reza yang bahkan bisa mengatakan kata-kata kejam seperti itu dengan ekspresi datarnya.


"Kamu jahat banget Za." Reza hanya tertawa melihat Dewi yang mengerucutkan bibirnya.


"Oh, ya, kita makan dimana Dew? Kamu mau makan disini?” Dewi menggelengkan kepalanya pelan sembari menarik tangan Reza menuju suatu ruang terbuka yang ada dibagian belakang gedung ini.


Disebut “Terbuka” karena atapnya yang terbuat dari kaca sehingga membuat suasana yang ada di ruang itu tampak seperti berada di luar ruangan.


“Ayo Za, kita nunggu Tomi disana. Reza mengangguk dan menarik kursi untuk Dewi, membiarkannya duduk lalu Reza pun duduk di salah satu kursi dari empat kursi yang ada disatu meja.


Tak butuh waktu yang lama utuk melihat kedatangan Mawar yang tampak tergesa-gesa dan langsung menarik salah satu kursi disamping Dewi untuk duduk.


“Dew, loe lihat Tomi gak? Dari tadi gue cariin gak ada, malah dia sempat marah tadi gara-gara dicuekin. Apa jangan-jangan dia pulang duluan? Tapi kan…” ucapan Mawar langsung terheti karena tangan Dewi yang menutup mulutnya.


“Tomi gak pulang kok War, loe tenang saja, dia itu lagi beli makanan di luar.”


Mawar menghela napas lega. “Thanks ya Dew, loe itu memang sahabat gue yang paling baik.”

__ADS_1


Tanpa diduga, tiba-tiba dia mencium singkat pipi Dewi hingga membuat Reza bergumam pelan sambil menatap kesal ke arah Dewi.


“Dasar Mawar, seenaknya saja main cium-cium pacarku. Aku saja gak pernah.”


“Loe ngomong sesuatu Za?” Tanya Dewi yang melihat pergerakan bibir Reza saat sedang bergumam.


“Gak kok. Hmm si Tomi lama banget ya? Tahu gini mendingan aku saja yang beli.”


Mawar hanya menatap sinis ke arah Reza, entah mengapa, setiap kali mendengar Reza mengatakan sesuatu rasanya seperti ada aura dingin yang menakutkan dibalik wajah datarnya itu.


Namun melihat Dewi yang tampak senang saat bersama Reza membuat Mawar jadi tak berdaya dan tetap membiarkan hubungan diantara keduanya terjalin meskipun Mawar sendiri tidak yakin dengan keinginan Dewi untuk memulai hubungan dengan Reza.


Akhirnya setelah beberapa menit kemudian, Tomi pun langsung menghampiri mereka bertiga.


“Sorry ya guys, gue lama. Loe tahu sendiri kan macetnya Jakarta kalau sudah malam begini?” Tomi menatap Mawar sekilas, sepertinya gadis itu ingin mengatakan sesuatu, tapi Tomi langsung mengalihkan tatapannya ke arah Reza yang sudah menatapnya Tajam sedari kedatangannya tadi.


“Maaf Za. Nih punya loe sama Dewi.” Tomi memberikan dua bungkus makanan kepada Reza yang langsung ditanggapi Reza dengan memberikan sebungkus kepada Dewi.


“Maaf Tom, gue tahu loe pasti masih marah kan? Tapi sungguh, gue sama sekali gak bermaksud untuk membuat loe kesal.”


Tomi hanya tersenyum hangat kepada Mawar. “Loe lupa gue pernah bilang apa? Gue gak akan pernah bisa marah dengan Warrior kesayangan gue. Jadi jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting seperti itu. Gue ngerti kok kesibukan hari ini benar-benar menguras tenaga dan waktu kita, dan ini buat loe.”


“Hmm… Jadi baikan nih ceritanya?” Dewi tertawa melihat kelakuan pasangan yang tak pernah kehilangan kata “Romantis” dalam setiap saat kebersamaannya.


Bahkan di depan teman-temannya sekalipun, Tomi tak pernah segan-segan untuk merayu Mawar habis-habisan.


“Dasar pasangan alay.” Gumam Reza dalam hati. Sebenarnya Reza sedikit cemburu dengan kedekatan mereka. Bagaimana tidak, bahkan untuk memegang tangan Dewi saja sudah sangat sulit. Bagaimana lagi jika Reza meminta lebih? Mungkin Dewi akan mengira jika ia memanglah pemuda mesum.


Saat ini mereka sedang berada di salah satu ruang yang dipakai para kru untuk makan. Meskipun kecil, tapi tempat ini mampu menampung 8 meja kecil untuk 4 orang disetiap mejanya.


“Apa ini?” Dewi melihat nasi goreng yang dibeli Tomi dan memandang Reza dengan ekspresi kesalnya.


“Ya nasi gorenglah Dew, memangnya apa lagi?” Jawab Tomi sambil memutar bola matanya kesal.


“Sudah, lebih baik sekarang kamu makan saja Dew.” Reza megambil sendok diatas meja dan memberikannya pada Dewi. Namun Dewi tetap menolak untuk makan dan diam saja.


Melihat itu Mawar pun menjadi kesal.


“Ya ampun Dewi, kenapa dipandangin terus, ayo cepat makan. Dari siang tadi kamu juga belum makan kan?”

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan Mawar Dewi langsung memandang Reza yang terlihat seperti memendam emosinya. “Gue sudah makan siang tadi kok.” Jawab Dewi dengan pelan.


“Iya, makan siang dengan CRACKERS doang.” Astaga, dengan begitu mudah Mawar mengatakan semuanya didepan Reza tanpa memperdulikan seperti apa ekspresinya saat ini. Dia lebih mirip bom yang hanya menunggu waktu untuk meledak, dan sepertinya waktu itu telah mulai terhitung mundur dari sekarang karena mendengar perkataan Mawar.


“Hmm… jadi begitu ya?” Reza berkata dengan nada datarnya yang memiliki arti lain yang sangat mengintimidasi bagi Dewi.


“He he he Za, kayaknya gue sama Mawar mau makan disana saja ya. Ayo War.” Tomi menarik pergelangan Mawar sambil memberikan kode agar mereka tidak ikut campur dalam masalah ini.


Mawar pun langsung bangkit dan terdengarlah derap langkah dua orang yang menjauh dari arah meja Dewi.


Dewi hanya bisa menundukkan kepalanya karena merasa sangat bersalah dan terintimidasi oleh Reza, bahkan Mawar dan Tomi sepertinya hanya menambah masalah saja dengan pergi dari tempat mereka dan membiarkan dia berdua saja dengan Reza yang sepertinya akan segera meledakkan bomnya.


“Jadi masih tidak mau makan?”


“Hah? I-ini juga mau makan kok Za.” Dewi mengambil nasi dengan sendok ditangannya dengan cepat dan langsung memasukkannya kedalam mulut.


Ada rasa lucu tersendiri saat melihat tingkah Dewi yang kekanakan seperti ini, namun Reza berusaha menahan perasaannya yang ingin sekali tertawa saat ini demi memberikan pelajaran pada Dewi tentang pentingnya kesehatan bagi manusia.


“Uhuk-uhuk….” Dewi tersedak nasi gorengnya dan dengan sigap Reza segera mengambil air mineral diatas meja dan memberikannya pada Dewi.


“Nih minum dulu. Aku tahu kok kalau kamu lagi laper banget, tapi makannya gak perlu buru-buru juga dong.” Ada sedikit senyum yang terlihat di bibir Reza yang membuat Dewi sedikit lega karena sepertinya emosi Reza sudah mulai mereda. Namun ia juga kesal karena Reza.


Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu kepada Dewi, setelah membuatnya merasa takut, kini ia mulai berusaha membuat Dewi menjadi kesal.


“Dewi… kamu tahu kenapa aku lakuin semua ini?” Dewi mengernyitkan dahinya dan berpikir apakah Reza mampu membaca pikirannya saat ini?


“Tidak. Memangnya kenapa?” Reza menghela napasnya sejenak yang membuat Dewi jadi penasaran, namun Dewi tetap mencoba tenang dan tidak berbicara, karena dari raut wajah Reza saat ini sepertinya dia sangat serius.


“Aku gak mau kamu sampai sakit hanya karena ingin jadi profesional. Kamu benar jika mengatakan bahwa untuk menjadi profesional itu memang harus mengorbankan sesuatu, tapi bukan berarti itu adalah kesehatan kamu.


Coba sekarang kamu pikirkan, jika sampai kamu sakit hanya karena konser ini, apa yang akan dikatakan media nantinya? Dewi adalah penyanyi yang tidak professional karena tidak bisa menjaga kesehatannya untuk bisa tampil di konser besar. Atau Dewi adalah gadis lemah yang bisa sakit sewaktu-waktu saat sedang konser.”


Dewi hanya menundukkan kepalanya karena merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya. Reza yang melihat itu langsung tersenyum hangat dan menggenggam sebelah tangan Dewi.


“Dengar, aku tak pernah bermaksud untuk mencoba mengatur hidupmu ataupun menyinggung perasaanmu. Hanya saja sikapmu yang sepeti ini justru membuatku khawatir dan cemas.


Bagaimana kalau kita pergi ke dokter saja setelah konser ini selesai?” Dewi mendongak kepalanya tak percaya dengan apa yang baru saja Reza katakan.


Dokter? Bahkan kondisinya saat ini sudah sangat baik jika dibandingkan dengan tadi, dan pasti akan terlihat aneh jika ke dokter dalam keadaan sehat.

__ADS_1


__ADS_2