
Setelah selesai mandi, Dewi langsung turun ke bawah dan mencari Bi Inem di ruang tamu. Saat sampai di ruang tamu, Dewi mencium wangi khas kesukaannya “ Hmm… ayam goreng.” Tanpa berpikir lama Dewi langsung menuju ke dapur dan mendapati Bi Inem yang sedang memasak ayam goreng yang hampir matang dengan bumbu krispi yang terlihat sangat enak. “ Masak ayam goreng ya Bi? ” Tanya Dewi tiba – tiba hingga membuat Bi Inem terkejut. “ Eh Non Dewi, iya non. Kan tadi Bibi udah tanya mau makan apa, non bilang kan terserah Bibi, jadi Bibi bikin ayam goreng sama sayur asem untuk makan malam nanti.” Bi Inem menjawab sambil mengangkat ayam goreng yang sudah matang dan meletakannya diatas piring yang sudah dialasi tisu di bawahnya agar dapat menyerap minyak yang ada pada ayam goreng itu.
__ADS_1
Tanpa sabar, Dewi langsung mengambil paha ayam goreng yang masih panas itu hingga membuat tangan Dewi dapat merasakan panasnya ayam yang baru di goreng itu. “ Aww… Panas banget Bi?” “ Ya iyalah non, ini kan baru siap di goreng, tunggu bentar lagi dong. Memangnya Non mau tangan sama bibir non melepuh cuman gara-gara ayam goreng panas?” Bi Inem tertawa melihat kelakuan majikan mudanya ini yang masih saja berlaku seperti anak – anak, padahal sudah berusia 17 tahun. “ Iya deh Bi, Dewi minta maaf. Abisnya sih, ayam gorengnya wangi banget. Kan Dewi jadi lapar pengen makan ayam goreng secepatnya.” Kata Dewi. Bi Inem memandang Dewi dan tersenyum. “ Terus, kalau Non Dewi makan sekarang, nanti Non Mawar makan sama siapa dong?” “Biarin aja dia makan sendiri,” ketus Dewi. “ Gak boleh gitu non, Non Mawar kan sahabatnya Non Dewi. Dia aja sampai mau ninggalin rumahnya untuk menginap di rumah non dan menemani non disaat sendiri. Masa non mau ninggalin Non Mawar makan cuma gara-gara ayam goreng saja.” Bi Inem memberikan nasehat panjang lebar kepada Dewi. Ya beginilah Bi Inem, bukan hanya sebagai pembantu rumah tangga saja, Bi Inem juga suka menasehati Dewi layaknya seperti ibunya sendiri. Dewi juga sangat patuh dengan apa yang dikatakan oleh orang tua, oleh karena itu Dewi hanya bisa mengangguk saja ketika diberikan nasehat oleh Bi Inem. “ Iya deh Bi, Dewi nungguin Mawar.” Jawab Dewi yang terlihat sedang berpikir. “ Nah gitu dong non, baru bisa jadi sahabat yang baik.” Kata Bi Inem. Lalu tiba-tiba Dewi menyela, “Tapi Bi, kalau Dewi ngambil paha ayamnya sekarang gak apa-apa dong.” Kata Dewi sambil mengambil paha ayam goreng yang sudah dingin karena panjangnya ceramah yang dikatakan oleh Bi Inem padanya lalu langsung memakannya dengan lahap tanpa ragu. Memang masakan Bi Inem merupakan masakan yang sangat enak bagi Dewi, walaupun masakan ibunya juga enak. Karena ia berpikir bahwa setiap orang dapat memasak, namun hanya beberapa orang yang tangannya terberkati dengan masakan yang enak, salah satunya adalah Bi Inem. Setelah selesai makan ayam goreng dan minum jus jeruk buatan Bi Inem, Dewi langsung naik ke kamarnya untuk melanjutkan mencari inspirasi untuk lagu barunya itu yang harus sudah selesai di akhir bulan ini sambil menunggu Mawar yang tak kunjung datang juga sampai pukul 17.15 WIB. Dewi yang bingung duduk di kursi belajarnya dan memegang pena hitam favoritnya yang diberikan oleh mamanya yang saat ini berada di Singapura untuk mengurus masalah bisnis. Sambil berpikir, Dewi sampai menggigit ujung penanya dan bergumam “ Apa aku bikin lagu tentang Bi Inem aja?, Ah tapi nanti apa kata Pak Wiryasono? Dewi seorang penyanyi terkenal cuma bisa buat lagu tentang pembantu doang. Ihh gak banget deh.
__ADS_1
Siapa lagi ya yang kira-kira cocok untuk dijadikan inspirasi untuk lagu baruku? Gak mungkin aku kan?” Saat sedang bergumam, tiba-tiba terlintas sebuah ide di pikiran Dewi hingga membuatnya berkata “ Eiittt, tunggu dulu. Aku rasa itu bukan ide yang buruk. Mungkin aja aku bisa mendapatkan inspirasi dari cerita hidupku sendiri. Tapi cerita apa ya? Hidup aja gak jelas kayak gini, kayaknya gak ada yang bisa diceritain dari hidupku, tapi... aku coba tulis aja dulu, siapa tahu ada sedikit kata-katanya yang dapat di tambahkan untuk lagu baruku.” Dewi lalu mengambil kertas berwarna hijau dan berusaha membuat sketsa lagu tentang dirinya yang dibuat menyerupai biodata yang aneh seperti berikut:
__ADS_1
Kemudian Dewi berkata “ Kok jadi kayak harapan gini?” karena merasa lagu yang dibuatnya terkesan aneh, Dewi meremas kertas hijau yang ditulisnya dan melemparkannya ke tempat sampah yang terletak di samping meja riasnya yang terbuat dari kayu dan berwarna coklat dengan kaca yang besar dan memiliki motif relief seperti daun-daun kecil pada batang pohon besar. Dewi membeli meja rias yang seperti itu karena ia adalah seorang pecinta alam yang selalu ikut dalam kegitan-kegiatan Go Green namun tidak pernah bergabung dalam organisasi Go Green apapun. Dewi sering ditawarkan untuk ikut dalam beberapa organisasi Go Green karena mengingat kepeduliannya terhadap alam yang benar-benar menginspirasi. Selain itu, Dewi juga merupakan siswi SMA yang cukup pintar karena selalu mendapat peringkat 3 besar, meskipun ia adalah seorang penyanyi. Hal itulah yang membuat organisasi apapun menjadi tertarik untuk merekrutnya menjadi anggota. Namun sangat disayangkan, Dewi selalu saja menolak semua tawaran itu dengan sejuta alasan, karena Dewi berprinsip bahwa kepedulian itu berasal dari diri sendiri, bukan dari organisasi. Dewi juga bukan orang yang suka membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak penting seperti mengikuti rapat organisasi dan berekreasi untuk keperluan bersenang-senang saja. Dewi lebih suka menghabiskan waktunya untuk bekerja dan memikirkan apa yang akan dilakukan di masa depan. Itu sebabnya banyak yang berpikir bahwa Dewi adalah orang yang sombong dan hanya memperdulikan diri sendiri, padahal Dewi adalah anak yang ramah, penuh sopan santun dan memiliki jiwa sosialisasi yang kuat. Namun, hanya keluarganya dan Mawar yang dapat mengerti seperti apa Dewi yang sesungguhnya. Meskipun sering dikatai yang aneh-aneh oleh tetangga-tetangga dan juga orang lain, Dewi tetap percaya pada diri sendiri tanpa menghiraukan cemohan mereka, karena Dewi percaya bahwa apa yang dia tanam, itulah yang akan dia tuai.
__ADS_1