Inspirasi

Inspirasi
Pertengkaran Pertama


__ADS_3

Di hari Senin, tepatnya siang yang panas itu, Dewi berusaha mengajak Mawar untuk ikut dengannya hari Rabu nanti, tapi Mawar sepertinya sedang menunggu seseorang dan lebih memilih untuk tidak memperhatikan Dewi.


Dewi yang mulai kesal dengan sikap temannya ini mulai menarik napas untuk menenangkan diri dan mencoba untuk bertanya lagi pada Mawar. “War, gimana? Bisa gak loe nemenin gue untuk ngecek tempat konser besok?”


Mawar masih saja memandang sekitar dan tak memperdulikan apa yang Dewi katakan hingga tiba-tiba dia tersenyum saat melihat kekasih pujaan hatinya datang menemuinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Tomi.


Mawar selalu saja bersikap cuek kalau sudah punya janji untuk bertemu Tomi, tapi sepertinya dia tidak begitu hari ini. Dia bahkan menarik tangan Dewi agar berhadapan dengannya. “Jam berapa loe pergi?”


“Hmm… mungkin sekitar jam empat sore. Gimana? Ayo dong War.”


Mawar menatap Tomi dan Dewi bergantian, membuat ekspresi keduanya bagaikan orang gugup yang sedang menunggu keputusan dari pengadilan. “Gue…. Ehem… gue udah memutuskan kalau gue bakalan…..”


Dewi benar-benar jadi tidak sabaran apabila Mawar menggantung ucapannya seperti itu.


“Loe bakalan ikut Gue kan?” Dewi tersenyum lega melihat mimik wajah Mawar yang sepertinya akan menganggukkan kepalanya pertanda persetujuannya ikut dengan Dewi. Namun tiba-tiba saja dengan cepat Mawar menggelengkan kepalanya.


“Sorry Dew, setelah gue pikir-pikir, ternyata gue ada rapat OSIS, jadi gak bisa nemenin loe kesana, he he he.”


Dewi hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah temannya yang satu ini. Kalau memang dia tidak ingin ikut, seharusnya dia kan bisa bilang langsung tanpa harus memberikan harapan palsu pada Dewi.


“Lebih baik loe pergi sama Reza saja Dew, pasti dia gak mungkin nolak.” Tomi menarik tangan Mawar agar mendekat padanya, sementara Dewi hanya terperangah dengan apa yang baru saja Tomi katakan.


Apa Tomi juga sudah tahu tentang hubungannya dengan Reza? Tentu saja dan tidak diragukan lagi kalau Mawar yang mengatakannya. Dasar Mawar, bagaimana mungkin dia mengatakan kejadian bodoh ini pada Tomi. Bersiaplah Dewi, Tomi yang jahil pasti akan selalu menggodamu dengan membawa-bawa Reza. Dewi hanya menghela napas dengan kelakuan dua temannya ini.


“Dew, mungkin gak ada salahnya loe ikutin saran dari Tomi.” Kali ini Mawar yang mulai menggodainya sambil tersenyum.

__ADS_1


Wajah Dewi yang memerah sontak membuat sepasang kekasih itu tertawa terbahak-bahak sambil berjalan meninggalkan Dewi yang sedang menahan rasa yang aneh. Rasa kesal, marah, senang, namun juga malu. Entahlah, yang jelas sekarang dia harus mengajak Reza untuk menemaninya. Tapi bagaimana? Sudahlah, daripada bertambah pusing lebih baik Dewi pulang dan memikirkan itu di jalan saja.


***


Dewi terus menggenggam smartphone-nya dengan cemas, sambil terus berjalan mondar-mandir di kamarnya.


“Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan? Apa dia mau ikut? Tapi bagaimana kalau dia tidak mau ikut? Ahh… ini benar-benar membingungkan.”


Dewi membaringkan tubuhnya di ranjang dan menatap layar smartphone-nya yang mati. “Apa aku telpon saja? Tapi apa reaksinya nanti?”


Dewi diam sejenak dalam keheningan. “Sedari tadi aku sudah berbicara sendiri seperti orang gila hanya karena Reza. Sekarang dia harus bertanggung jawab dengan ikut bersamaku. Aku akan memaksanya, hmm… mungkin sedikit mengancam.”


Dewi menyeringai dan memanggil nomor Reza. Tak lama Dewi menunggunya, karena telepon langsung diangkat dalam deringan kedua.


“Halo Za, maaf mengganggu tidurmu.” Dewi diam sejenak untuk menilai reaksi apa yang akan diberikan Reza karena sudah menggangu tidur siangnya.


“Kamu gak ganggu kok, aku baru saja bangun ketika kamu meneleponku. Sekarang katakan ada apa kamu meneleponku? Hmm… jangan bilang kalau kamu kangen sama aku. Ya kan?” Terdengar kekehan dari seberang sana yang membuat pipi Dewi memanas.


“Kangen? Yang benar saja. Gak mungkin kalau aku kangen sama pemuda mesum sepertimu. Sebenarnya aku berniat untuk membalas kencan pertama kita dengan membawamu untuk kencan yang kedua. Tapi kali ini aku yang akan mengatur tempatnya. Bagaimana?”


Reza tampak mencerna apa yang baru saja dikatakan Dewi, kencan kedua? Setelah kencan pertama yang menguras emosi dan ketegangan mungkin ide kencan kedua ini bukanlah hal yang baik.


“Kalau kamu gak mau tak apa kok. Mungkin aku harus mencari orang lain yang mau berkencan denganku tanpa ada masalah.”


“Kenapa kamu berpikir seperti itu? Tentu saja aku mau.” Dewi tersenyum senang karena rencananya berhasil.

__ADS_1


“Oh ya, jangan berpikir kalau aku setuju karena ancamanmu, karena itu sama sekali tak berlaku untukku. Jadi jangan coba-coba untuk mengancamku lagi. Lagipula kamu harus tahu dimana posisimu saat ini.”


“Posisi? Posisi apa, Za?” Dewi mengerutkan dahinya tak mengerti dengan kata-kata Reza yang diucapkan dengan nada dinginnya.


“Posisi dimana saat ini kamulah yang membutuhkan aku, bukan aku yang membutuhkan kamu.” Reza telah berhasil mengintimidasi Dewi dengan kata-katanya yang super duper dingin.


“Aku mengerti.” Jawab Dewi dengan nada lirih yang langsung membuat Reza merasa seperti ditusuk pisau yang tajam. “Dew, aku gak bermaksud…”


“Sampai ketemu hari Rabu sore jam 16.00 WIB.” Dewi segera mematikan smartphone-nya dan memejamkan kedua matanya. Dia membayangkan semua kebersamaannya selama ini dengan Reza. Tak banyak, namun sangat indah. Tapi sepertinya semuanya tak mungkin bisa sama lagi, setelah kata-kata itu terucap.


“Dia benar, akulah yang membutuhkannya, bukan dia.”


Entah mengapa rasanya sakit sekali mendengar kata-kata itu langsung dari Reza. Matanya memanas dan setetes bulir bening jatuh dari sudut mata Dewi.


“Ayolah Dewi, kamu gak boleh nangis gara-gara cowok. Ingat janji kamu untuk jadi cewek yang kuat.” Dewi menghapus air matanya dan berusaha tersenyum untuk menghibur dirinya sendiri.


Semenit kemudian Dewi merasakan smartphone-nya bergetar. Sepertinya Reza mengiriminya pesan singkat. Dewipun segera membaca pesan itu.


“Maaf Dew, aku gak bermaksud untuk bicara kasar ke kamu. Sebenarnya aku baru bangun tidur, jadi emosiku masih belum stabil. Sekali lagi maaf... Aku tunggu jawabanmu besok pagi di atap sekolah.”


Dewi hanya tersenyum kecut dengan pesan yang telah dibacanya itu dan langsung mengetikkan balasan untuk pesannya.


“Kamu gak perlu minta maaf, semua yang kamu katakan itu memang benar. Aku yang seharusnya minta maaf karena tak mengenali dimana posisiku. Jangan meminta maaf padaku, dan aku rasa kita tak perlu bertemu besok.”


Dewi menghela napas panjang setelah mengirim pesan itu pada Reza. “Ini adalah pertengkaran pertama kami yang serius, dan aku harap ini tak akan terulang lagi.”

__ADS_1


__ADS_2