Inspirasi

Inspirasi
Lagi-Lagi Sarapan


__ADS_3

Pagi itu Reza tiba di sekolah lebih awal agar bisa bertemu Dewi sebelum memulai pelajarannya hari ini. Seperti dugaannya, Dewi pasti akan ke atap sekolah pagi-pagi. Langkah Dewi langsung terhenti saat melihat sosok Reza yang sedang membelakanginya. Sepertinya Dewi belum bisa bertemu dengannya setelah kejadian kemarin. Rasanya hanya dengan melihat sosok Reza saja sudah membuat jantungnya berdetak tak karuan, hingga membuat Dewi memutuskan untuk kembali ke kelas saja. Tapi saat Dewi baru menuruni 1 anak tangga, Reza malah memanggilnya dan membuat Dewi kembali naik dan menemuinya. Reza tersenyum sambil menyodorkan sebuah roti kacang merah ukuran jumbo seperti yang dibelinya beberapa hari lalu untuk Dewi dan juga sebotol air mineral, namun Dewi tak kunjung mengambilnya sehingga membuat Reza menjadi bingung. "Kenapa tidak kamu ambil Dew?" "Hmm... kamu sudah sarapan Za?" Reza hanya menganggukan kepalanya dan kembali menyodorkan roti itu kehadapan Dewi. "Kalau ia sudah sarapan, lalu untuk apa dia membelikanku? Apa maksudnya semua ini?" Batin Dewi. "Dew, ayo cepat ambil." Dewi segera mengambil roti itu dan menatap Reza dengan tajam. "Hmm... Za, sebenarnya aku juga sudah sarapan, dan rasanya tidak mungkin kalau aku akan memakannya sekarang. Aku selalu sarapan dari rumah setiap hari." Reza menunjukkan ekspresi kecewanya yang langsung membuat Dewi jadi merasa bersalah. Tapi ini kan bukan kesalahan Dewi, kenapa ia harus merasa bersalah. Tiba-tiba saja tersirat di pikiran Dewi ide yang akan menguntungkan. "Za, aku akan memakannya, tapi dengan 1 syarat." Reza menaikkan sebelah alisnya. "Syarat? Katakanlah. Kamu mau aku suapin?" Dewi menatap kesal Reza yang sedang tertawa. "Kita akan menghabiskannya bersama, seperti waktu itu. Bagaimana?" Reza berjalan ke tempat duduk diikuti Dewi yang sedang memegang erat roti dan botol berisi air mineral itu. "Oke, kita akan habiskan bersama, tapi kamu harus menyuapiku. Bagaimana?" "Za..." Reza hanya tertawa melihat kekesalan Dewi. Dewi membuka bungkus roti itu dan secara tiba-tiba Reza langsung menggigit roti yang masih di pegang oleh Dewi. "Za, kamu apa-apaan sih?" Reza menelan roti itu dan terkekeh dengan perubahan ekspresi Dewi yang terbilang imut saat sedang marah. "Apa-apaan? Kan aku cuma makan roti yang kamu suapin Dew." Sontak wajah Dewi langsung memerah karena marah sekaligus malu. Sepertinya Reza benar-benar sudah membuatnya gila. "Aku kan belum bilang kalau aku mau nyuapin kamu atau gak? Kamu gak boleh seenaknya dong Za. Ingat perjanjian kita." Dewi mendengus kesal dengan sikap Reza yang terbilang selalu keterlaluan bagi Dewi, berbuat sesuka hatinya dan selalu berhasil membuat wajahnya memerah dengan jantung yang berdegup kencang diiringi kata hati yang berbunga karena bahagia. Rasanya seperti ada lantunan musik romantis yang sedang bermain di dalam hatinya. "Dew..." lamunan Dewi terhenti karena Reza yang melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Dewi. "Maaf Dew..." lirih Reza. "Hmm... sudah ku maafin kok." Dewi merobek roti itu menjadi dua bagian kemudian memberikan bagian yang telah digigit Reza itu padanya. Kemudian keduanya makan dengan tenang. Saat selesai makan, Dewi langsung meneguk air mineral yang diberikan Reza. Dia benar-benar sangat kenyang pagi ini setelah makan dari rumah, ditambah lagi dengan roti ukuran jumbo ini. Tapi Dewi tetap senang karena bisa memulai harinya bersama dengan Reza. Saat selesai makan roti, Reza langsung meneguk air mineral yang ada di tengah-tengahnya dan Dewi, tetapi kemudian dia menyadari sesuatu dan mulai tersenyum. Dewi yang melihat Reaksi aneh Reza itu pun mulai tergerak untuk menanyakan maksud dari pemuda itu. "Za, kamu kenapa? Kesambet ya? Kok senyum-senyum gak jelas gitu?" Reza hanya tertawa keras melihat ekspresi Dewi yang bergidik ngeri itu melihatnya. "Dew, kamu yakin mau tahu?" Nadanya kembali terdengar serius. "Hn", Dewi menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Sebenarnya secara tidak langsung aku sudah mencium kamu Dew?" "Apa maksudmu? Ka-kapan kamu melakukannya?" Dewi menaikkan sebelah alisnya untuk mengintimidasi Reza. "Jangan bohong, aku tidak mudah ditipu begitu saja oleh pemuda mesum sepertimu." Reza kembali tertawa dan menunjukkan senyum menjengkelkannya untuk Dewi. "Aku baru saja melakukannya. Kamu mau melihatnya lagi?" Reza kembali meneguk air dibotol itu. Dewi yang menatap Reza spontan langsung menunduk karena malu. Sekarang dia mengerti apa yang dimaksud Reza. Dia mencium Dewi melalui botol bekas Dewi tadi. Wajahnya langsung memerah ketika Reza kembali mendekatinya. "Ada apa Dew? Apa sekarang kamu mengerti?" Dewi segera berjalan meninggalkan Reza dengan wajahnya yang masih memerah. Bisa-bisanya pikiran Reza sampai kesitu. Dasar pemuda mesum. "Hei Dewi, mau kemana?" Dewi membuka pintu atap sekolah dan memandang Reza. "Ke kelaslah sudah jam masuk nih. Oh ya, thanks buat sarapannya." Dewi tersenyum hangat yang tak lupa dibalas Reza dengan cengiran khasnya yang menawan. "Dan thanks juga buat ciumannya." Dewi hanya bisa memelototi Reza dan segera berjalan menuruni anak tangga yang banyak itu, meninggalkan Reza dengan tawanya yang menggema dan masih dapat terdengar oleh Dewi. Dia tidak ingin berada lebih lama lagi dengan pemuda mesum yang terus-menerus mengganggunya dan membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari ritme yang seharusnya. Walau tak dapat di pungkiri, kalau Dewi telah tertarik dengan Reza. Mungkin sebentar lagi dia akan jatuh cinta padanya. "Sudah Dewi, jangan pikirkan dia terus, ayo fokus sekolah." Gumam Dewi dalam hatinya sambil berjalan menuju kelasnya.

__ADS_1


***

__ADS_1


Siang itu Dewi sangat sibuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya yang sempat menumpuk karena selalu menghabiskan waktu dengan Reza. Entah kenapa belakangan ini sangat sulit bagi Dewi dalam mengatur waktu belajarnya, padahal selama ini Dewi paling pintar dalam hal membagi waktu. Entah apa pengaruh yang telah diberikan Reza kepadanya hingga ia terus saja memikirkannya tanpa henti, sampai Dewi jadi selalu menunda untuk mengerjakan tugasnya. Saat sedang berpikir, tiba-tiba smartphone Dewi berdering, dan tertera disana nama manajernya, Adrian. Dengan sigap Dewi menjawab panggilan tersebut karena takut dengan sifatnya yang mudah marah, seperti Mawar kedua saja bagi Dewi. "Halo kak, ada apa?" "Dew, hari Rabu nanti loe kan ada jadwal manggung untuk acara amal, jadi kakak minta loe cek dulu tempatnya, kalau loe setuju dengan tempatnya loe tinggal bilang saja. Nanti gue kirimin alamatnya. Besok sore jam 4 loe bisa kan datang kesana?" Dewi mengerjabkan matanya sambil mendengarkan perkataan Adrian. Benar-benar panjang tanpa terputus, padahal jika bersama wanita-wanita lain sikapnya sangatlah dingin dan juga irit bicara, tapi kalau bicara dengan Dewi cerewetnya bisa melebihi ibu-ibu saja. "Bisa sih, tapi apa kakak gak ikut? Kita kan bisa pergi bareng." "Tentu saja gue ikut, tapi sepertinya kita gak bisa bareng, karena masih banyak urusan yang harus diselesaikan. Lebih baik loe cari teman yang bisa menemani loe kesana karena pulangnya juga gue gak bisa bareng. Gue tutup dulu ya Dew." Pemuda itu langsung memutuskan panggilannya tanpa mendengar jawaban Dewi. "Benar-benar menyebalkan. Selalu saja ditutup tanpa mendengar jawabanku. Apa dia sedang bad mood? Ya, pasti begitu. Dia akan selalu marah-marah dan melampiaskan kemarahannya kepadaku karena dia tidak punya pacar. Huh dasar cowok menyebalkan, pantas saja tidak punya pacar, kelakuannya seperti itu. Sudahlah itu bukan urusanku." Dewi pun kembali mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


__ADS_2