Inspirasi

Inspirasi
Jomblo Sejati


__ADS_3

“Dewi, loe harus tampil sebentar lagi kan?” Mawar menghampiri Dewi yang sedang duduk menyudut di dekat panggung.


“Iya War, gue tahu kok.” Mawar duduk disamping Dewi dan menghela napas sejenak.


“Ada permintaan dari band rock itu untuk berduet dengan mereka. Katanya mereka ingin kamu menyanyikan lagu 'Jomblo Sejati.' Mereka sudah mengatur musik pengiringnya. Kamu hanya tinggal menyanyikan lagu itu saja seperti biasa.”


Dewi mengangguk lemah, sepertinya kepalanya mulai terasa berat saat ini.


“War, ayo cepat kemari! Loe masih belum jelasin ini bagaimana.”


Mawar segera bangkit dari kursinya dengan kesal. “Dew, gue kesana dulu ya, si Lily ngeselin banget hari ini, gue jadi gak bisa istirahat sejenak. Si Tomi kemana ya? Loe cepetan siap-siap ya Dew.”


Mawar menepuk pelan pundak Dewi dan melangkah menghampiri Lily yang terkenal “Lemot” itu.


Dewi menarik napas panjang sambil menutup matanya. “Aku harus kuat demi konser ini. Demi mereka.” Itulah kata-kata yang terus Dewi ingat untuk menenangkan dirinya yang sepertinya mulai merasa kurang sehat.


Dewi bangkit dan memegang dinding untuk menjaga keseimbangannya.


“Dew, loe lihat Mawar gak?” Tomi menjambak pelan rambut belakangnya dan terlihat frustasi.


“Tadi sepertinya dia kesana bersama lily. Ada apa Tom? Kok stress gitu?” Dewi tersenyum jahil melihat ekspresi Tomi yang cukup aneh baginya.


“Enak saja gue dibilang 'Stress'. Tadi ada yang nyariin dia, katanya dari tim keamanan gitu. Mungkin karena penonton yang mulai berdesakan mulai membuat kericuhan.”


Dewi maju dan menepuk bahu Tomi singkat. “Tenang Tom, loe gak boleh panik. Semuanya akan baik-baik saja. Sekarang lebih baik kamu segera mencari Mawar. Mungkin dia di ruang monitoring.”


Tomi segera menghela napas singkat. “Thanks Dew. Good luck untuk penampilan loe yang selanjutnya.” Tomi pun berlalu begitu saja dari hadapan Dewi.


Setidaknya kini ia masih bisa memberikan semangat ke teman-temannya meskipun ia sendiri benar-benar merasa sakit saat ini.


***


Dewi segera melangkah menuju ruang rias dengan perasaan yang sangat sulit untuk dimengerti.


Campuran antara takut, gugup dan bimbang membuatnya bertanya-tanya apakah dia sanggup untuk melanjutkan konser ini? Kondisinya sepertinya mulai memucat.


Dewi melihat wajahnya di cermin. Dia terlihat lesu dan penuh peluh karena udara yang cukup panas dipanggung, padahal hari sudah malam.


Mungkin karena terlalu banyak orang yang menonton konser ini, atau memang karena tempatnya yang kecil membuat suasana disini bagai di oven saja.


Suara dentuman dari drum dan alat musik lainnya pun masih bergema hingga ke ruang ini. Sepertinya saat ini ada band yang sedang menyanyikan lagu rock dengan keras hingga membuat kepala Dewi sedikit pusing.


Dewi memijit sedikit pelipisnya yang memang terasa sangat sakit. Dia duduk dengan kepala menunduk untuk menenangkan dirinya.


Entahlah, rasanya Dewi benar-benar kacau setelah mendapat tekanan dari Pak Wiryasono. Perasaannya yang sangat bersemangat bagaikan api langsung padam seketika bagai disiram air yang banyak. Bahkan bara yang tersisa pun tak memiliki kesempatan untuk tetap hidup.


Dewi menoleh untuk melihat orang yang sedang membuka pintu ruangan ini. Pandangan Dewi mulai berbayang ketika melihat seseorang yang melangkah masuk ke ruang rias.


Sepertinya itu mirip Reza, tapi Dewi tidak yakin karena matanya yang mulai meredup dan tanpa ia sadari ia pun pingsan.


Dengan sigap Reza memanggil Dewi dan menepuk-nepuk pelan pipi Dewi, namun sampai sekarang Dewi masih belum sadar juga.


"Dewi. Bangun Dewi. Ini aku Reza. Kamu harus bangun". Reza sungguh sangat khawatir saat ini, dia segera mengambil minyak angin yang ada di meja rias dan menyodorkan wanginya kearah Dewi, namun hal itu lagi-lagi gagal menyadarkannya.

__ADS_1


Reza menarik napas pelan dan mencoba untuk tetap tenang. Saat ini mereka hanya berdua saja di ruang rias ini. Bila Reza keluar dan memberitahu semua orang, pasti akan terjadi kekacauan di konser ini.


"Tidak, ini tidak boleh terjadi. Dewi ayo bangun." Reza kembali menepuk pipi Dewi hingga pandangannya tertuju pada sebotol air mineral yang ada diatas salah satu meja rias di dekat Dewi.


Reza berjalan cepat mengambil botol itu dan memercikkan air ke wajah Dewi. Tak butuh waktu lama karena Dewi langsung mengerjabkan matanya beberapa kali dan langsung memegang wajahnya yang basah.


"Reza..." Reza meletakkan botol dan langsung mengelus pipi Dewi pelan.


"Kamu kenapa? Aku sangat khawatir tahu....." Dewi hanya bisa tersenyum lemah sambil mendengar celotehan Reza yang cukup panjang. Sepertinya Reza benar-benar khawatir padanya.


"Za, sudah berapa lama aku pingsan?" Reza berpikir sejenak dan seperti sedang menggumamkan sesuatu.


"Sekitar kurang dari 5 menit. Ada apa?" Dewi teringat kembali akan gilirannya sebentar lagi dan berdiri untuk mengambil gaun berwarna hitamnya. Namun seketika kakinya langsung melemas dan membuatnya hampir jatuh kalau saja Reza tidak menahan bahunya.


"Tuh kan. Kamu itu masih sakit Dew, duduklah dan minum ini." Reza menyodorkan air mineral untuk Dewi. "Apa kamu sudah makan?"


Dewi hanya menggeleng sejenak. "Aku tidak punya banyak waktu, aku akan tampil sebentar lagi."


Reza hanya menggeram dan menahan amarahnya yang mulai memuncak. Bagaimana bisa dia belum makan? Padahal ini sudah hampir jam 20.00 WIB. Ia mengerti betapa penting konser ini bagi Dewi, tapi tak seharusnya ia mengesampingkan kesehatan hanya karena sebuah konser


."Dewi, kamu harus makan. Sekarang." Reza menarik pelan tangan Dewi, namun dihempaskan Dewi dengan pelan.


"Za, giliranku sebentar lagi. Aku masih harus bersiap-siap." Dewi hanya melihat Reza dengan tatapan sinisnya.


Sungguh Reza sudah membuatnya marah saat ini. Walau ia mengerti kondisinya yang sedang kurang baik, namun Dewi tidak bisa meninggalkan begitu saja tanggung jawabnya. Karena untuk menjadi profesional, terkadang seseorang harus banyak berkorban, dan mungkin itulah yang harus Dewi lakukan saat ini.


Reza diam dan memutar otaknya untuk mencari ide yang tepat untuk situasi ini. Sementara Dewi masuk ke kamar ganti untuk memakai gaun hitamnya.


Tak lama kemudian Dewi keluar dengan gaunnya yang telah dipadukan dengan celana panjang dan jaket kulit hitam seperti yang sering dipakai para rocker.


Tapi walaupun begitu, kecantikan Dewi tetaplah sama, begitu sederhana, namun bisa menggetarkan jiwa.


"Sepertinya aku harus menambah make-up agar tidak terlihat pucat." Dewi mengambil lipstick merah yang gelap dan menyapukannya di bibir pucatnya.


Sebenarnya Dewi kurang menyukai penampilannya yang terkesan “Punk” dan menor ini, namun karena ia akan berduet dengan salah satu band rock yang terkenal, maka ia tentu harus menyesuaikan diri dengan dandanan mereka.


Lagipula dengan keadaannya yang sedang pucat saat ini, rasanya tidak mungkin jika hanya menggunakan dandanan natural yang malah menambah kepucatan kulitnya.


Saat Dewi selesai berdandan, Reza langsung menghampiri Dewi dan duduk disampingnya.


"Dew, kamu sudah mendingan kan?" Dewi hanya mengangguk lemah. "Kalau begitu biar aku carikan kamu makanan. Setelah kamu nyanyi, kamu harus makan. Kalau tidak, maka aku akan menyeretmu dan menyuapimu dengan tanganku sendiri. Mengerti?"


Mendengar nada Reza yang berusaha untuk mengintimidasinya, Dewi langsung tertawa sambil memegang bahu Reza.


"Kamu tenang saja Za, aku tidak akan melawan kok. Aku tak ingin kamu merusak namaku dengan menyeretku di depan orang banyak."


Reza menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum. "Oh ya? baguslah kalau begitu jadi aku tidak perlu repot memaksamu. Ngomong-ngomong dimana Mawar dan Tomi? Bukannya aku sudah meminta mereka untuk menjagamu?


Lihat saja sekarang, kamu sedang sakit tapi mereka tidak peduli. Mungkin kalau tadi aku tidak datang pasti sampai sekarang kamu mungkin masih pingsan. Akan ku cari mereka dan memarahinya." Reza ingin melangkah menuju pintu namun tangannya ditahan oleh Dewi.


"Za, mereka gak salah kok. Dari tadi mereka juga temenin aku terus, tapi tadi aku menolak untuk ditemani karena aku rasa aku butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan diri dari rasa gugup ini. Selain itu mereka juga masih punya banyak pekerjaan disini."


Reza menggenggam tangan Dewi dan mengusapnya dengan ibu jarinya. "Tenanglah Dewi, tidak ada yang harus dikhawatirkan. Aku disini dan akan selalu menghiburmu disaat-saat terbaik dan terburuk dalam hidupmu.

__ADS_1


Hilangkan saja pikiran burukmu tentang rasa gugup itu, dan bersenang-senanglah di panggung yang menyenangkan. Ayo sekarang kamu keluar dulu, bukannya sekarang giliranmu? Mereka sudah selesai loh."


Dewi tersenyum dan keluar menuju panggung. Entah mengapa perasaan yang bercampur aduk itu hilang seketika karena kehadiran Reza.


Apalagi sikap dan perkataannya yang benar-benar menyentuh hati sungguh membuat Dewi merasa senang dan sedikit kembali bersemangat untuk menyanyikan lagunya yang berjudul "JOMBLO SEJATI".


Untung saja Reza akan keluar untuk membeli makanan, kalau tidak pasti rasanya akan aneh jika menyanyikan lagu itu di depan orang yang sudah bersamanya seperti kekasih selama beberapa hari itu.


Reza segera keluar dari ruang rias dengan terburu-buru untuk membeli makanan. Namun langkahnya langsung terhenti saat sosok itu menampakkan dirinya.


"Za, loe disini juga ternyata. Bukannya loe ada urusan penting?" Reza berusaha untuk bersikap tenang saat ini karena ini bukan waktu yang tepat untuk menuruti emosinya.


"Bukan urusan loe. Gue mau keluar sebentar buat beli makanan untuk Dewi. Dan sepertinya nanti kita perlu bicara."


Ketika Reza akan melangkah, tangannya dicekal oleh Tomi.


"Sini, biar gue saja yang beli makanannya. Loe disini saja menjaga Dewi. Sepertinya sebentar lagi gilirannya nyanyi. Loe gak boleh melewatkan itu, dan jangan lupa mendukungnya dari arah penonton.


Oh ya gue titip Mawar. Kalau dia tanya, bilang saja aku pergi untuk membeli makanan." Tanpa mendengar jawaban Reza Tomi langsung berlalu begitu saja.


"Tumben dia gitu." Reza langsung melangkah menuju bagian bawah panggung untuk melihat seperti apa Dewi saat bernyanyi.


Lagipula Reza belum pernah mendengar Dewi bernyanyi, ya mungkin ini bisa menjadi salah satu kesempatan yang baik untuk menyatakan cinta di panggung, sama seperti beberapa orang yang melamar pacarnya di konser.


Saat itu suara Dewi dapat terdengar hingga ke seluruh bagian penonton mulai dari depan panggung hingga bangku paling belakang berkat loadspeaker raksasa yang dipasang dimana-dimana.


"Oke Dewi Lover, gue akan menghibur kalian semua terutama para jomblo-jomblo yang galau dengan lagu 'Jomblo Sejati'. Ayo kita nyanyi sama-sama."


Reza mengernyitkan dahinya saat mendengar judul lagu yang akan Dewi nyanyikan. "Jomblo Sejati? Astaga Dewi, kamu ini memang sangat aneh ya. Kamu menyanyikan lagu seperti itu sementara kamu sendiri ingin memulai hubungan cinta denganku. " Gumaman Reza terhenti karena suara musik dan Dewi yang mulai bernyanyi.


"Sering dibilang ngiri, sering dibilang dengki, saat melihat orang yang jatuh hati.


Seringnya sakit hati, seringnya patah hati, saat mereka tak dapat cinta sejati.


Lebih baik ku sendiri, yang penting diriku happy.


Reff: Aku memanglah jomblo sejati, namun ku setia sampai mati,


cukup dengar kata hati, yang penting pasti.


Cinta sejati tak perlu dicari, karna pasti kan datang sendiri,


yang penting kita menanti, datangnya kekasih hati..."


Reza menikmati indahnya suara Dewi, namun ia sedikit khawatir dengan kondisinya saat ini. Mungkin saja karena Dewi yang terlihat terlalu memaksakan diri seakan-akan kondisinya saat ini sangatlah baik.


Reza mengerti bahwa Dewi melakukan ini pasti karena rasa profesionalismenya yang tinggi, hanya saja Reza takut kalau tiba-tiba Dewi pingsan lagi seperti tadi.


Dan kalau ia bisa memilih, maka ia akan mengajak Dewi makan saat ini juga dan mengantarkannya pulang agar bisa segera beristirahat. Namun sepertinya situasinya sungguh tak bisa mendukung saat ini.


Apalagi semua penonton tampak sangat antusias saat melihat Dewi manggung bersama band rock yang cukup terkenal di kalangan remaja baru-baru ini.


Terus terang, Reza kurang menyukai profesi Dewi saat ini karena membuatnya terus dikelilingi oleh berbagai macam orang yang tidak jelas tujuannya. Misalnya saja vokalis band yang tampan itu terus-terusan berada di samping Dewi hingga membuat Reza merasa cemburu.

__ADS_1


Namun mau bagaimana lagi jika ini memanglah profesi yang Dewi inginkan. Kini yang bisa dilakukan olehnya hanyalah menjaga Dewi dari segala pengganggu di dunia ini, termasuk si vokalis itu.


__ADS_2