
Sore itu Reza sedang duduk di taman sambil menunggu Dewi. Tapi bukannya merasa senang dengan kencan pertamanya dengan Dewi, Reza justru merasa sangat kesal dan benar-benar merasa aneh dengan sikap Dewi. Bisa-bisanya dia minta ketemuan di taman. Rasanya seperti dia tidak ingin kalau Reza tahu dimana rumahnya. Cukup lama dia menunggu, namun Dewi masih belum kelihatan juga, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menelepon Dewi. Reza merogoh saku celananya untuk mengambil smartphone-nya tapi sepertinya smartphone-nya tertinggal di dalam mobil. Reza pun segera masuk ke mobilnya yang di parkir tidak jauh dari tempat duduknya. Dari dalam mobil Reza melihat seseorang yang memakai pakaian serba hitam duduk ditempatnya duduk tadi. Dia melirik sekilas wanita itu lalu mengambil smartphone-nya dan menelepon nomor Dewi. Tak lama kemudian Dewi pun menjawab panggilannya. "Halo Za, kamu dimana? Aku sudah di taman nih." "Aku juga di taman, duduk dalam mobil hitam dekat bangku taman." Reza melihat wanita serba hitam itu melihat-lihat ke sekitar taman seperti sedang mencari sesuatu, wanita itu berdiri dan menghampiri mobil Reza lalu mengetuk kaca pintu mobilnya. Reza membuka sebagian kaca mobilnya dan melihat wanita itu. "Ada apa mbak?" Spontan wanita itu langsung tertawa dan membuat Reza menjadi heran namun kesal dengan tingkah lakunya. Reza keluar dari mobil dan menatap wanita itu dari bawah ke atas, sepertinya dia mengenalinya. Wanita itu tersenyum padanya dan Reza langsung mengetahui bahwa wanita itu adalah Dewi. "Dewi... ini kamu?" "Hahaha... iya Za, kamu bener." Reza membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Dewi masuk, lalu Reza pun kembali duduk di dalam mobil. Dewi hanya duduk diam menatap Reza yang diam saja sambil menatap ke depan. "Za, kok kamu diam saja? Ini sudah jam 5 loh. Ayo kita pergi!" Reza berbalik menghadap Dewi dan mendekatinya. Dewi yang tadinya diam kini mulai mundur sedikit karena menyadari bahwa hari ini Reza telah diberi kebebasan dari janjinya. Reza semakin mendekat dan membuka kacamata hitam yang Dewi kenakan, lalu menghela napas singkat. "Kamu itu gak punya teman ya Dew?" Dewi sedikit bingung dengan sikap Reza yang menanyakan hal yang tidak penting seperti itu. "Hah? Kenapa kamu tiba-tiba bertanya hal seperti itu? Tentu saja aku punya teman. Mawar adalah temanku dan kamu pasti tahu itu." "Aku heran kenapa Mawar bisa punya teman sepertimu. Aku tahu kalau kamu pasti belum pernah berkencan sebelumnya, tapi penampilan ini? Jaket seperti ini? Dan kacamata? Oh Dewi, kamu pikir kita mau naik gunung apa? Ingat, kita ini mau kencan, harusnya kamu tanya dulu ke Mawar bagaimana penampilan untuk kencan yang baik. Huh, yang benar saja. Apa kamu benar-benar berniat kencan denganku dengan penampilan ini?" Sedikit senyum ketus menghiasi bibir Dewi saat Reza menghinanya di depan matanya sendiri. Namun Dewi tetap mencoba bersikap tenang karena tidak ingin membuat kencan pertamanya berubah menjadi pertengkaran. "Za, aku kira tadi kamu ingin membawaku kencan dengan menggunakan sepeda motor. Awalnya aku juga sudah memakai gaun, tapi karena belum tahu tempatnya seperti apa jadi aku memutuskan untuk berpenampilan seperti ini. Lagipula kalau kamu mengajakku ke tempat yang ramai, aku takut akan ada yang mengenaliku dan merusak kencan kita." Dewi hanya bisa menatap sendu Reza dan mengalihkan perhatiaannya ke sekitar untuk menyembunyikan perasaan hatinya yang sedih karena sikap Reza yang cukup kasar saat menghinanya tadi. Tiba-tiba rasa sedih Dewi berubah jadi rasa deg-degan karena tangan Reza yang menggenggam lembut tangan kanannya. Saat Dewi memalingkan wajahnya, ia bisa melihat rasa penyesalan di mata Reza. "Dew, aku minta maaf ya, karena sudah berkata kasar padamu. Sebenarnya ini salahku juga karena tidak memberitahukan kondisi dan lokasinya hingga membuat kamu salah paham. Tapi kamu tenang saja, takkan ada yang bisa merusak kencan kita, karena yang dibutuhkan untuk kencan adalah hati yang penuh cinta dan juga rasa sayang, jadi seperti apapun penampilanmu akan tetap ku katakan kalau kamu terlihat cantik hari ini, tapi lebih cantik lagi kalau kamu...." Reza membuka penutup kepala jaket Dewi dan mendekatkan wajahnya ke arah Dewi. "Tampil apa adanya. Aku lebih suka melihatmu yang merasa nyaman dengan apa yang kamu pakai." Bisik Reza di telinga Dewi hingga hal itu sukses membuat jantung Dewi berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Dewi segera memalingkan wajahnya yang mulai merah karena terus diperhatikan Reza dengan tatapan tajamnya. Sepertinya baru kali ini Dewi benar-benar bisa melihat wajah Reza yang sedekat itu dengan jelas. Dua manik mata hitamnya yang tajam, hidungnya yang mancung, bibirnya yang terukir dengan indah, sungguh lelaki yang sangat tampan. Ditambah lagi dengan parfum maskulin yang membuatnya tampak dewasa. Lamunan Dewi segera buyar saat melihat telapak tangan Reza yang dihadapkan di depan matanya. Dia menoleh kearah Reza yang tengah senyum memperhatikannya. "Hayoo, kamu lagi melamunin aku ya?" Dewi menaikkan alis kirinya dan menatap Reza dengan pandangan mencelanya. "Ih gak penting banget ngelamunin kamu. Lagian kamu gak ganteng-ganteng amet buat dilamunin." "Hmm... kalau mau muji jangan setengah-setengah dong Dew, kalau ganteng bilang saja ganteng, aku gak keberatan kok." Dewi langsung menatap ke depan setelah menyadari kesalahannya dalam berbicara tadi. Bisa-bisanya dia bilang Reza itu ganteng, dan sekarang ia merasa sangat malu hingga tak bisa memandang wajah tampan Reza. Namun seperti biasa, Dewi selalu punya kata-kata untuk mengalihkan perhatian. "Sudah jangan ge-er dulu, lebih baik sekarang kita pergi, nanti keburu malam." Reza mengangguk sambil tersenyum lebar. "Hmm... baiklah tuan putriku." Dewi menatapnya dengan perasaan kesal bercampur malu, "Apaan sih." Reza tertawa dan menjalankan mobilnya dengan hati-hati. Sepanjang perjalanan, Dewi selalu memandangi Reza dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Dewi sendiri. Rasanya ia tidak ingin waktu berlalu dengan cepat dan menghilangkan pemandangan seindah wajah Reza itu. Namun sepertinya hal itu langsung berakhir saat Reza menyadari tingkah Dewi yang sedari tadi terus memperhatikannya. "Kalau mau lihat ya lihat saja Dew, gak usah berpaling gitu. Aku tahu kok kalau aku ganteng, tapi aku gak nyangka kalau ternyata kamu segitu tertariknya denganku." Reza tersenyum senang dengan tangan yang masih mengendarai mobil menyusuri jalanan kota Jakarta yang lumayan ramai itu. Dewi benar-benar salah tingkah dan tak tahu harus berbuat apa karena pada kenyataannya apa yang dikatakan Reza itu semuanya benar. Tapi sebagai seseorang yang selalu menilai tinggi harga dirinya, Dewi tidak mungkin mengakui hal itu kepada Reza. Hingga akhirnya terbersit sebuah alasan yang dapat mengalihkan semua tuduhan Reza itu padanya. "Siapa bilang aku tertarik padamu? Sebenarnya wajahmu kotor, itu sebabnya aku ingin memastikan noda apa yang ada di wajahmu itu." Dewi menarik napas sejenak lalu menghembuskannya dengan perlahan sambil berharap Reza tidak menyadari kebohongannya itu. "Benarkah? Perasaan wajahku tadi bersih kok." Reza berusaha untuk bercermin di kaca tengah mobilnya, namun sebelum ia sempat melihat kaca Dewi malah berkata hal lain untuk menutupi kebohongannya. "Eh, kamu ngapain? Kamu sadar gak sih kalau kamu itu lagi nyetir? Kamu harus fokus lihat ke depan, jangan lihat ke arah lain." Reza mulai curiga dengan sikap Dewi yang seakan-akan sedang berusaha menutupi sesuatu darinya. Tapi ternyata di pikiran pemuda itu juga muncul ide yang akan menambah kesan romantis di kencannya. "Tapi Dew, kan kamu yang bilang kalau di wajahku ada nodanya. Kalau aku tidak segera menghapusnya entar wajah gantengku berubah jadi jelek dong." Reza akan mengangkat sebelah tangannya dari setir untuk mengelap wajahnya, namun langsung dihalangi oleh Dewi dengan pegangan tangannya. "Jangan melepas setirnya, tidak aman berkendara dengan satu tangan." Dewi melepaskan pegangannya di tangan kiri Reza. "Tapi wajahku..." Reza menampilkan wajah memelasnya yang mau tidak mau membuat hati Dewi langsung luluh. "Biar aku saja yang menghapus noda di wajahmu." Terukir senyuman indah di wajah Reza saat Dewi mengusap-usap pipi kirinya dengan lembut. Tanpa disadari, Dewi kembali mengagumi wajah lelaki yang duduk disebelahnya itu. "Benar-benar halus dan tampan," gumam Dewi dalam hati. Dewi tersontak kaget saat Reza menahan tangan Dewi yang masih memegang pipinya itu. "Kenapa kamu lepas setirnya?" "Tuh lihat sendiri" Reza menunjukkan arah depan yang membuat Dewi menghela napas berat. Lagi-lagi kemacetan kini menyelimuti jalanan kota Jakarta. Mau tidak mau mobil ini juga harus berada diantara deretan panjang mobil-mobil yang menunggu untuk melaju di hari yang mulai gelap ini. Di tengah-tengah lamunannya Dewi teringat kalau tangannya masih menyentuh kulit halus Reza. Dewi berusaha melepas tangan Reza namun sia-sia saja karena tenaga Reza lebih kuat darinya. "Diam sebentar Dew, aku sedang merasakan sesuatu nih." Dewi menatap bingung Reza yang tersenyum. Reza lalu melepas tangan Dewi dari pipinya dan membuka lebar telapak tangan Dewi lalu melihatnya secara detail. "Ada apa? Kenapa kamu memandangi tanganku seperti itu?" Reza menunjukkan wajah bingungnya yang membuat Dewi semakin penasaran dengan tingkah pemuda yang satu ini. "Hmm... Dew, noda apa yang ada di wajahku tadi? Kok tangan kamu tetap bersih setelah mengusap pipiku? Atau jangan-jangan kamu modus ya biar bisa megang-megang pipi aku?" Reza menunjukkan cengiran khasnya yang langsung membuat Dewi mati kutu. "Sudah bersusah payah mengarang cerita, ternyata malah terjebak dalam cerita," gumam Dewi dalam hati. Sepertinya dia benar-benar harus berpikir keras untuk mencari jawaban yang tepat untuk di katakan pada Reza. "I-itu sebenarnya debu, ya, itu debu jadi gak kelihatan lah. Kan aku sudah menghapusnya, lagipula aku gak perlu modus untuk bisa megang-megang kamu. Kan kamu sendiri yang sudah ngijinin aku untuk bisa menyentuhmu. Bahkan jika aku mau, aku bisa saja memegang pipimu lagi seperti tadi." Dewi melepaskan tangannya dari Reza dan memalingkan wajahnya untuk melihat keluar kaca mobil. Sungguh ia benar-benar merasa malu saat ini. Untuk mengalihkan tuduhan Reza, ia sampai bisa berkata seperti itu. "Dasar Dewi bodoh, benar-benar memalukan." Gumam Dewi dalam hati. Sementara itu Reza yang sangat terkesima dengan ucapan yang baru saja didengarnya itu hanya bisa tersenyum senang melihat kemajuan Dewi yang benar-benar sangat pesat menurutnya. Ia sampai berani mengatakan hal itu demi menutupi kebohongannya. "Dasar drama queen, pintar sekali dia mengalihkan semua tuduhanku. Sudah jelas-jelas dia itu modus, tapi masih saja tidak mau mengaku. Hmm... Sepertinya dia sudah mulai tertarik padaku. Ini pasti akan menarik." Gumam Reza dalam hati sambil mulai memajukan mobilnya sedikit demi sedikit menyusuri jalanan yang mulai berkurang kemacetannya.