
Sepanjang perjalanan, keduanya cukup menikmati indahnya lantunan lagu romantis yang di pasang Reza di mobil. Hanya sesekali keduanya saling bertatapan namun masih tak berbicara karena takut mengganggu aktivitas masing-masing, Reza dengan menyetir dan Dewi dengan menikmati pemandangan dari kaca pintu mobil. Cukup lama mereka berkendara dan kini mereka telah sampai di taman tempat awal Reza menjemput Dewi. Reza masih belum mengetahui tempat tinggal Dewi ada dimana, tapi Dewi masih saja melamun. Karena Dewi tak kunjung menyadari mobil yang telah berhenti, maka Reza pun memutuskan untuk menggenggam tangan Dewi untuk membuyarkan lamunannya. Dan benar saja, sontak Dewi langsung kaget dengan wajah yang merona merah. Ah sepertinya tadi Dewi sedang melamunkan sesuatu yang romantis hingga tanpa sadar wajah cantiknya kini telah merona merah alami. “Ada apa? Kenapa kamu berhenti?” Dewi menatap sekitarnya, ini bukan halaman rumahnya. Lalu mau kemana lagi mereka? “Dew, sebenarnya aku masih belum tahu dimana alamat rumahmu, jadi sekarang kamu harus memberitahu aku agar kita bisa segera kesana.” Dewi sedikit ragu untuk memberikan alamatnya pada Reza, bukan karena apa-apa, hanya saja Dewi takut kalau-kalau saat Reza ke rumahnya akan ada media yang menyorotnya dan pasti itu akan menimbulkan gossip-gossip murahan yang akan tersebar secepat kilat ke mata publik. Kalau Dewi pulang sendiri, sebenarnya ia berani-berani saja, tapi resiko itu akan selalu ada bukan? Apalagi ini sudah malam. Ya, mungkin tak masalah jika saat ini Reza mengantarkannya pulang. Lagipula rasanya tidak mungkin kalau media akan menyorot rumah Dewi di malam hari seperti ini. “Dewi… kok kamu melamun lagi sih? Ayo cepat beritahu aku dimana rumahmu.” “Um, lewat sana Za”, Dewi menunjuk ke arah jalan yang menuju kompleks perumahan tempat tinggalnya. Reza bergumam dalam hatinya, “Ternyata dia kaya juga, tapi tak kelihatan. Dasar cewek aneh.” Ya, jika dipikirkan nama panggilan itu memang cukup mengesalkan, tapi itu memang kenyataan sebenarnya dari seorang ‘Dewi’ yang memang cukup ‘Aneh’ dimata Reza. Coba bayangkan, dia berada disekolah yang cukup elit dengan teman-teman yang juga merupakan anak-anak orang kaya, tapi tetap saja dia berpakaian sederhana tanpa dandanan yang lumayan mencolok seperti kebanyakan gadis remaja di sekolahnya. Tapi entah mengapa justru hal itulah yang membuat Reza seakan ‘tertarik’ untuk mengenal gadis ini lebih jauh. Tak lama kemudian mereka pun tiba di depan rumah besar yang berpagar hitam. Terlihat arsitektur eksterior yang indah dari luar rumah itu. Reza mematikan mesin mobilnya dan melepas seatbealt-nya. Dewi melirik sekilas jam tangan yang melekat di tangannya, sudah pukul 20.00 WIB, sepertinya Reza berniat untuk mengunjungi rumah Dewi karena saat Dewi keluar dari mobil, Reza pun mengikutinya dan menarik tangan Dewi agar mendekat padanya. Dewi yang khawatir kalau-kalau ada orang yang melihatnya bersama Reza segera menepis tangan Reza dengan lembut. “Kamu mau mampir?” Ya, setidaknya kalau Reza ingin mengatakan sesuatu lebih baik di dalam saja daripada diluar. “Hmm… Orangtua kamu ada di rumah?” “Sebenarnya mereka sedang tidak ada di rumah. Mungkin yang ada di rumah saat ini hanya Bi Inem dan Pak Tarjo saja.” Reza terlihat sedang berpikir keras untuk mencerna semua kata-kata Dewi. “Bi Inem? Pak Tarjo? Siapa mereka?” tentu saja Reza tidak tahu, bahkan dia baru tahu Rumah Dewi hari ini. Duh Dewi yang bodoh, bisa-bisanya dia malah membuat Reza jadi bingung. “Sorry Za, lupa jelasinnya. Bi Inem itu asisten rumah tangga kami, dan Pak Tarjo itu supir papa aku. Gimana, jadi mampirnya?” Reza kembali bergelayut dalam pikirannya, sementara Dewi terus memandang ke sekitar takut ada yang melihat mereka. Reza ini, benar-benar lama sekali membuat keputusan. “Hmm… lain kali saja deh Dew, gak enak gak ada orangtuanya.” What? Yang benar saja, Sebenarnya apa niat dari lelaki yang satu ini, setelah kencan pertama dia ingin menemui orangtua teman kencannya? “Baiklah, kalau begitu. Aku masuk dulu ya?” Dewi hendak membuka pagar rumahnya, namun tangannya kembali ditahan oleh Reza. "Ada apa lagi Za?" Dewi kembali melepaskan tangan Reza, sementara Reza senyum-senyum tidak jelas entah sambil memikirkan apa. "Dew, kamu gak merasa melupakan sesuatu?" Dewi mengernyitkan dahinya, mencoba berpikir keras, tapi sepertinya dia tidak melupakan apapun juga. Lalu apa yang Reza maksud dengan 'melupakan sesuatu'? "Sepertinya aku tidak melupakan apapun." Reza menghela napas singkat lalu menunjuk-nunjuk pipinya dengan 1 jari sambil mendekatkan wajahnya ke arah Dewi. "Kamu kenapa Za? Sakit gigi?" Reza terlihat kesal seketika saat Dewi melontarkan pertanyaan itu. "Dew, kamu ini beneran lugu atau pura-pura lugu sih?" Dewi hanya mengangkat bahunya sedikit tanda tak mengerti dengan apa yang dimaksudkan Reza. "Oke, sekarang aku tanya sama kamu, tadi kita habis ngapain?" Dewi mengangkat sebelah alisnya, "Kencan. Kenapa kamu tanya itu?" Reza hanya tersenyum dan mengelus puncak kepala Dewi. "Nah, karena sekarang kita sudah selesai berkencan, aku ingin kamu memberikan salam perpisahan padaku." Dewi benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan Reza sebenarnya. Tapi dia tidak ingin berlama-lama lagi disini karena takut ada yang melihat mereka. "Oke, selamat malam Za." Reza hanya dapat mendengus kesal melihat tingkah aneh Dewi. "Dew, maksud aku itu kamu nyium pipi aku sebagai ucapan selamat malam. Masa yang begitu harus dijelasi juga?" Wajah Dewi langsung memerah karena malu bercampur marah. Dia tidak menyangka ternyata Reza itu mesum juga. "Gak mau. Kamu itu ternyata mesum ya?" Ketika Dewi hendak masuk, tangannya kembali di tahan oleh Reza. "Dew, kamu yang buat aku jadi begini. Aku hanya ingin meninkmati 1 hari tanpa perjanjian itu, karena pasti sampai kapanpun kamu tidak akan pernah melakukan itu padaku. Kamu itu terlalu takut dan gengsian." Amarah Dewi benar-benar sudah tidak tertahankan lagi. "Kenapa kamu berpikir kalau aku tak akan melakukannya? Pasti nanti aku lakukan." "Kalau begitu lakukan sekarang. Untuk apa menunggu nanti kalau kamu bisa sekarang?" Jantung Dewi rasanya berhenti berdetak begitu saja. Betapa bodoh dirinya hingga tak menyadari apa yang telah dikatakannya. "Dengar Za, ini sudah malam, sebaiknya kamu segera pulang sekarang. Tidak baik jika berada disini terlalu lama." "Aku juga mau pulang, tapi kamu saja yang membuatku jadi tidak bisa pulang." Reza menunjukkan cengirannya yang membuat Dewi sangat jengkel. Dewi ingin memarahinya lagi, namun tiba-tiba saja Reza melipat jari Dewi hingga menyisakan jari telunjuk dan tengah. Lalu menaruh tangan Dewi di bibir Dewi dan dengan cepat ia menarik kedua jari itu ke pipi kanannya. Dewi hanya bisa melongo melihat kejadian yang begitu cepat terjadi. Seketika wajah Dewi langsung memerah karena malu. Reza benar-benar pintar. Dia telah membuat Dewi mencium pipinya secara tidak langsung. Dasar mesum. "Aku tak peduli jika perjanjian itu kembali berlangsung besok, asal kamu selalu memberikan salam perpisahan seperti ini padaku. Selamat malam Dewi." Dewi hanya mengangguk sekali saat Reza beranjak dari tempatnya berdiri dan kembali masuk ke mobilnya yang kemudian berlalu meninggalkan Dewi yang sudah masuk melewati pagar rumahnya. Tanpa sadar, sebuah senyum kecil telah menghiasi bibir indahnya. Sepertinya dia akan mimpi indah hari ini.