
Disisi lain, ternyata Mawar sudah naik ke atap sekolah sesuai janjinya untuk menemani Dewi. Namun langkahnya terhenti ketika melihat pemuda yang seharusnya bertemu Dewi itu bukanlah pemuda yang ia janjikan. Siapa dia? Kenapa dia bersikap seolah-olah mengenal Dewi dengan baik? Mereka terlihat seperti sedang mengobrol dan bercanda layaknya sepasang teman baik. Tapi apa mungkin? Mawar kembali mengingat-ingat kejadian tadi saat di kelas dimana Dewi sedang senyum-senyum sendiri saat memikirkan sesuatu. “Apa tadi Dewi lagi mikirin dia? Tapi siapa dia? Kok mereka kelihatan akrab banget ya? Kenapa Dewi gak ngasih tau gue kalau dia itu punya temen cowok? Dan kenapa dia malah ketemu dengan cowok itu, sementara dia kan harusnya ketemu sama si Eza.” Gumam Mawar dalam hati. Mawar mencoba untuk melihat lebih dalam lagi wajah pemuda itu untuk mengenalinya, tapi tetap saja tak kelihatan, karena ia berada disamping Dewi sehingga wajahnya tertutup oleh Dewi. Ia yakin kalau pemuda itu bukanlah Eza, karena jika dilihat dari postur tubuhnya, sepertinya Eza lebih sedikit berisi jika dibandingkan dengannya. Saat sedang sibuk memperhatikan mereka dari tangga paling atas atap sekolah, tiba – tiba “Darr….” Seseorang memegang pundak Mawar hingga membuatnya terkejut dan berbalik kebelakang. “Eh War, loe ngapain disin.....” Mawar langsung membekap mulut pemuda itu dengan tangannya agar suara besarnya tidak sampai di dengar oleh Dewi dan temannya itu. “Ihh.. berisik amet sih loe. Bisa diem gak sih? Kecilin dong volumenya biar gak kedengaran sama mereka.” Mawar kembali melirik pada Dewi, takutnya Dewi mendengar suara si Eza yang cukup keras itu, tapi sepertinya karena keasyikan berbincang dengan pemuda itu, Dewi seperti lupa dunia saja. Tunggu dulu… “Eza? Loe ngapain disini? Bukannya seharusnya loe itu ketemu sama si Dewi saat ini?“ tanya Mawar dengan ekspresi marah. “Ini juga gue mau ketemu, tapi kan loe yang narik gue, makanya gue jadi belum ketemu dia deh.” Mawar melihat jam berwarna pink yang melingkar di tangan kirinya dan kembali menatap Eza dengan tatapan intimidasi. “Tapi kan harusnya loe itu ketemu dia 30 menit yang lalu, tepatnya jam 10.00 WIB. Kenapa baru datang sekarang? Loe kira si Dewi itu main-main apa janjian sama loe? Loe anggep dia itu apa? Hah?” Mawar mendorong bahunya sehingga membuatnya mundur sedikit “ Hehehe… Mawar-Mawar, loe tuh udah kayak polisi aja yang lagi nangkep pencuri. Banyak amet pertanyaannya. Satu-satu dong, biar jawabnya gampang. Hmm…Oke, gue akui kalau gue telat karena tadi ada temen gue yang lagi berantem, jadi tadi gue ngebelain dia dulu dong. Masa temen lagi berantem, gue malah asyik-asyikan pacaran sama si Dewi. Lagian, loe sendiri kan tau gue itu kayak apa. Sama aja kayak loe, jam gue juga ngaret. Lagian kan si Dewi yang butuh gue, bukan gue yang butuh Dewi. Jadi ya wajarlah kalau dia harus nungguin gue.” Jawabnya dengan nada yang sombong dan meremehkan. Mendengar jawabannya itu Mawar menjadi bertambah emosi. “Eh, loe denger ya. Gue tuh mau deketin si Dewi sama loe itu bukan buat loe pacarin kayak cewek-cewek loe yang lain, tapi gue cuma mau loe itu bantuin dia buat nyari inspirasi buat lagu barunya. Gue gak nyangka ternyata loe itu kayak gini. Gue kira loe itu cowok baik-baik, tapi ternyata …. Loe sama aja kayak playboy jalanan. Udah pergi sana, perjanjian kita batal, dan loe gak usah ketemu sama si Dewi. Lagian kayaknya dia udah punya orang yang lebih tepat untuk ngebantuin dia.” Mawar melihat kembali kearah Dewi dan mendadak menjadi shock dengan apa yang dilakukan Dewi dan pemuda itu. Dia melihat pemuda itu menarik-narik tangan Dewi dan berbicara layaknya pacar yang sedang bertengkar saja. Pertanyaan-pertanyaan aneh mulai muncul kembali di pikiran Mawar. “Apa dia pacarnya Dewi? Tapi kan Dewi gak punya pacar? Terus kalau bukan pacar, kenapa dia berani banget narik-narik Dewi kayak gitu? Apa dia fans-nya Dewi? Ah tapi masa fans bisa seakrab itu pakek acara narik-narik tangan segala plus tatapan romantis pula tuh. Hmm… gak bener nih. Dewi, siap-siap gue introgasi loe.” Gumam Mawar. Mawar kembali menatap ke samping dan melihat Eza yang masih saja berada disampingnya dan mencoba melakukan hal yang sama seperti yang Mawar lakukan, yaitu memperhatikan Dewi dan juga pemuda itu. “Loe ngapain masih disini? Kan gue udah nyuruh loe pergi.” “Tunggu dulu War, kayaknya aku kenal deh cowok yang lagi sama Dewi itu. Tapi siapa ya? Hmm…O iya, itu Reza kan anak kelas XII–3?” Tunjuknya pada sosok yang duduk disamping Dewi saat itu.
__ADS_1
***
__ADS_1
“ Hmm… Jadi sekarang apa rencana kamu?” Reza mulai kembali menatap Dewi dengan tatapan yang santai, namun sepertinya tidak demikian dengan Dewi. Dia terlihat benar- benar gusar memikirkan apa yang akan dilakukannya dengan Reza. Ia belum merencanakan apapun hingga sampai ditahap ini. Reza sepertinya mengerti kegusaran Dewi dan kembali mencetuskan pertanyaan “Kamu belum punya rencana?” “Hmm… I- iya. Hehehe… aku gak nyangka bisa secepat itu sampai di tahap ini.” Dewi menggigit bibir bawahnya sambil menggenggam kedua tangannya sendiri dan berusaha untuk menyusun rencana. Reza yang melihat hal itu terlihat terkekeh pelan dan bergumam dalam hatinya “Dia terbuat dari apa sih? Masa mau bilang ketemuan aja susah banget. Pakek acara perencanaan segala. Padahalkan dia tinggal bilang mau ketemu dimana. Huuh… Dasar cewek aneh.” Reza kembali menatap Dewi yang masih mencoba berpikir untuk mencari ide. “Gimana kalau pulang sekolah nanti aku ke rumah kamu?” “Apa???.... Rumah??... Jangan deh, ntar Bi Inem mikir apa kalau aku bawa cowok ke rumah? Bisa ribet urusannya. Ada ide lain gak?” Dewi menatapnya dengan tatapan memohon supaya Reza bisa mengusahakan ide lain untuknya. “Oke, kalau gitu nanti kamu ketemu aku di taman belakang sekolah aja pas pulang biar kita bisa nentuin tempat yang tepat. Gimana? Bisa diterima gak idenya? Atau ada masalah lain lagi?” Reza mulai kelihatan kesal melihat tingkah Dewi yang sok-sok menolak ajakannya untuk mengunjungi rumahnya. Padahal, Reza sendiri sebenarnya bukanlah orang yang mudah berbicara kepada seseorang mengenai hal apapun juga, terutama perasaannya. Dia bahkan tidak tahu cara memamerkan ekspresi di wajahnya sehingga dia terkesan cuek dengan wajah datarnya. Namun entah apa yang terjadi dengannya hingga dalam sekejab saja semuanya seperti berubah drastis menjadi kebalikannya. Reza yang biasanya cuek abis malah jadi sangat cerewet saat berbicara dengan Dewi dan dengan mudahnya ia menampilkan semua ekspresi diwajahnya seperti tadi saat tersenyum menyapa Dewi, takut saat mengira Dewi akan bunuh diri, terkekeh melihat kelakuan Dewi yang aneh, bahkan kesal saat Dewi menolak ajakannya. Dan yang lebih parahnya, dia rela menjatuhkan harga dirinya untuk langsung meminta Dewi mengajaknya ke rumah Dewi, padahal biasanya malah ialah yang selalu dikejar-kejar sama banyak wanita yang mengantri untuk jadi pacarnya, tapi memang dasar si Rezanya saja yang terkesan cuek sehingga dia tidak pernah menerima satupun ajakan dari mereka. Dan saat ditembak beberapa kali oleh gadis-gadis dikelasnya, ia malah menolak mentah-mentah mereka semua. Lalu apa yang terjadi saat ini? Apakah Dewi memiliki pesona tertentu yang dengan begitu mudahnya membuat Reza merasa tertarik? Apalagi saat lewat sekilas di koridor gedung B, Reza tak henti-hentinya memandang wajah Dewi yang tidak sedang melihatnya hingga saat berpas-pasan dengan Dewi Reza jadi merasa canggung dan mempercepat langkahnya untuk menuju ujung koridor agar bisa dengan mudah melihat wajah Dewi dari balik dinding koridor. Dia menunggu hingga Dewi berbelok ke ujung koridor dan kembali melanjutkan langkahnya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Belum lagi saat dia sedang di atap sekolah, ia seperti menyadari kedatangan seseorang yang membuat jantungnya berdetak kencang. Dewi, lagi-lagi ia bertemu dengan Dewi yang jelas-jelas memandang wajahnya dengan tatapan yang tajam dan berdiri layaknya sebuah patung. Reza pun langsung pergi dari tempat itu karena tak tahu harus melakukan apa. Daripada terlihat salah tingkah di depan Dewi, lebih baik ia pergi saja dari tempat itu. Sebenarnya Reza ingin berbalik dan menatap Dewi dari anak tangga, namun hal itu langsung ia tepis karena melihat bayangan Dewi yang tampak sedang memperhatikannya dari atas. Tentu saja hal ini membuat Reza bertambah gugup dan semakin mempercepat langkahnya untuk menuruni anak tangga yang banyak itu. Sejak saat itu, pikirannya selalu saja dipenuhi oleh Dewi dan pertanyaan-pertanyaan aneh seperti : Apakah Dewi juga merasakan hal yang ia rasakan sehingga Dewi memperhatikannya seperti itu? Apakah Dewi itu sama saja dengan gadis-gadis menyebalkan yang ada di sekolah ini? Atau hanya perasaannya saja kalau Dewi juga diam-diam memperhatikannya saat ia berjalan menyusuri koridor dan menuruni anak tangga tadi? Hal-hal itu terus saja menghantui pikirannya hingga saat pelajaran Pak Anton yang kebetulan tidak masuk hari ini, Reza bermaksud untuk kembali ke atap sekolah untuk melihat-lihat pemandangan sekitar. Walaupun pemandangan disana sangat indah, namun tujuan Reza datang ke atap sekolah adalah untuk melihat Dewi… Ya, Dewi… dia ingin memastikan apakah Dewi benar-benar memperhatikannya atau tidak. Namun saat dia sampai disana, ternyata Dewi tidak ada di tempat itu. Tapi walaupun Dewi tidak ada disana, namun Reza masih saja berada disana, mungkin karena jarak yang memang cukup jauh dari kelas menuju ke atap sekolah, hingga membuatnya malas untuk kembali ke kelas secepat itu. Lagipula kelas sedang tidak ada guru, dan selain itu, pemandangan yang terlihat dari atap sekolah juga menarik hingga membuat Reza betah untuk berlama-lama di tempat itu. Cukup lama waktu yang ia habiskan disana dengan menikmati pemandangan taman sekolah, halaman belakang sekolah, dan danau buatan yang cukup besar dan indah yang berada tak jauh dari sekolahnya. Udara disana benar-benar menyejukkan dan mampu menenangkan pikiran dengan angin yang bertiup sepoi dan langit yang sedikit mendung, pertanda sang mentari enggan untuk memunculkan dirinya. Reza masih saja berada disana tanpa memiliki niat untuk kembali ke kelas walaupun ia tahu kalau sepertinya hujan akan segera turun. Sepertinya ada yang menarik dirinya untuk tetap berada di atap sekolah ini. Entahlah, mungkin itu karena ia sangat yakin kalau Dewi akan kembali lagi ke tepat ini. Dan ternyata, hal itu benar adanya. Sosok yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dengan sekejab Reza langsung berbalik dan melihat Dewi yang sangat ia tunggu selama 1 hari ini. Namun ia benar-benar merasa bingung harus melakukan apa, kalau ia langsung menyapanya itu akan terlihat aneh seakan – akan Reza adalah orang yang sudah mengenal Dewi. Sempat terlintas lagi di pikiran Reza kalau ia akan pergi saja dan tak mau menyapa Dewi, tapi kalau ia pergi, lalu buat apa ia menunggu Dewi disini? Lalu entah apa yang membuatnya beralih rencana yang tadinya berniat untuk menyapa Dewi, malah menunjuk ke arah Dewi dengan refleks dan malah menanyakan tentang kebenaran diri Dewi, yang membuat Reza jadi terkesan aneh. Sudah jelas-jelas ia mengetahui kalau Dewi lah orang yang ia temui di atap sekolah tadi, tapi masih saja dipertanyakan. Tapi kalau dipikir-pikir hal ini jauh lebih baik daripada harus pergi dan menghindar lagi. Reza benar-benar tak menyangka kalau jawaban yang Dewi berikan justru lebih aneh dari pertanyaan yang dia berikan, selain berkata dengan gugup, Dewi juga sepertinya sedang belajar menggunakan kata-kata “Loe-gue” dalam setiap kalimat yang ia sampaikan, hal itu sangatlah terlihat jelas karena sebelumnya Dewi justru menjawab dengan kata “Aku-kamu”. Jujur saja, Reza sebenarnya tidak terlalu menyukai kata-kata gaul seperti itu yang umumnya remaja gunakan, karena ia menganggap hal tersebut kurang sopan dan mengurangi nilai kecantikan dan ketampanan seseorang. Dewi sepertinya merasa tersiksa sekali saat menggunakan kata-kata itu, sehingga Reza langsung refleks saja mengatakan ketidaksukaannya terhadap pengunaan kata-kata itu pada Dewi. Dan tanpa disangka-sangka, ternyata ia sanggat senang jika dilihat dari senyumannya yang lebar dan manis itu. Syukurlah kalau Dewi ternyata orang yang sangat baik dalam berbahasa. Hmmm… hal ini semakin menambah nilai plus Dewi di mata Reza. Namun ada satu hal yang membuat Reza bingung dengan tingkah Dewi yang seakan-akan mengenalnya saja, padahal menyebutkan namanya saja salah. Tapi, tebakan namanya nyaris saja benar, tahu darimana dia ? Apa dia mengenalku? Rasanya tidak mungkin. O iya, tadi dia bilang kalau ini semua ada hubungannya dengan teman-temannya. Siapa temannya? Dan apa maksud mereka untuk mendekatkanku dengan Dewi? Sepertinya Reza mulai tenggelam lagi dalam pikirannya sehingga tidak menyadari adanya dua pasang mata yang sedang memperhatikannya dari jauh.
__ADS_1