Inspirasi

Inspirasi
Ketidakmungkinan


__ADS_3

Mawar hanya menatap pemuda yang bersama Dewi itu dengan bingung. Ia sama sekali tak mengenalnya, padahal Mawar merupakan anak yang cukup aktif di sekolah dalam berbagai organisasi dan extra kulikuler, rasanya tidak mungkin kalau ia tidak mengenal pemuda yang bernama Reza itu. Apalagi ia satu angkatan dengan Mawar dan Dewi. Eza yang sibuk memperhatikan Dewi dan Reza berpaling menatap Mawar yang sepertinya terhanyut dalam lamunannya. Dengan tiba-tiba Eza mengguncang bahu Mawar yang langsung sontak mengejutkan Mawar dari lamunanya. “Woi, mikirin apa sih loe? Serius amet. Si Amet aja gak serius kayak loe. Hahaha….” “Apaan sih loe, ganggu gue aja. Gue tuh lagi mikir tentang tuh cowok. Siapa namanya? Ah si Reza itu. Dia murid baru ya? Kok aku gak kenal sama dia sih? Perasaan, aku selalu mengenal setiap siswa yang ada disekolah ini yang merupakan satu angkatan dengan kita.” Tanya Mawar. “Bukan salah loe kok kalau loe gak kenal dia. Dia itu aneh, gak pernah bergaul, pendiam banget, bahkan wajahnya saja selalu datar. Benar-benar manusia tanpa ekspresi. Membuat orang jadi ngeri kalau didekatnya. Dia selalu menyendiri, tak pernah mau berteman dengan yang lainnya kecuali teman-teman sekelasnya. Dasar cowok aneh.” Eza melemparkan tatapan kebencian pada sosok Reza yang sedang bercengkrama dengan Dewi. Mawar kembali menatap Reza dari kejauhan. “Loe bilang dia itu pendiam dan tanpa ekspresi? Sekarang coba loe lihat, dia itu lagi bicara panjang lebar dengan senyuman yang manis.” “Mana? Wah gak mungkin. War, coba loe bilang kalau ini cuma mimpi. Gak mungkin banget kan kalau dia bisa berubah drastis dalam satu hari saja.” Eza menatapnya dengan tak percaya bahwa seorang Reza bisa tersenyum juga dibalik wajahnya yang datar. Mawar yang melihat ekspresi kagum dari Eza itu pun mulai heran dengan semua kejadian ini. Dewi belum pernah bertemu Eza sebelumnya. Apa mungkin dia menganggap kalau Reza itu adalah Eza? Tapi kalau memang begitu, harusnya Dewi bisa mengetahui kebenarannya hanya dengan mendengar namanya saja. Hmmm… tapi mungkin saja pemuda itu berpura-pura menjadi Eza demi mendekati Dewi, toh Dewi kan penyanyi terkenal, jadi mungkin saja dia ingin numpang nge-hits dari kedekatannya dengan Dewi. Dasar pemuda licik. Ini tidak bisa dibiarkan. Tapi kalau diperhatikan sepertinya Dewi sangat bersemangat dan bahagia bersama pemuda itu. Dan kalau dilihat-lihat sih sepertinya Dewi mengenal pemuda itu, bahkan mungkin juga menyukainya. Apalagi dengan sikapnya pagi tadi sudah cukup menyakinkan kalau ada sesuatu yang terjadi pada Dewi yang tidak diketahui oleh Mawar. Mawar harus segera mengetahui kebenarannya dari Dewi. Karena jujur saja, Mawar bukanlah orang yang bisa bertahan dengan rasa penasaran yang terlalu lama. Tapi sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat. Ia takut menggangu Dewi dan pemuda yang bernama Reza itu. Mawar kembali memalingkan wajahnya ke arah Eza yang seperti tiada hentinya untuk memandang kedua manusia itu dengan ekspresi yang aneh lalu menatap kembali kearah yang sama seperti yang Eza lakukan. Mawar merasa terkejut ketika tiba-tiba Eza mengguncang bahunya dan tersenyum kepadanya. “War, loe ngelamun? Entar kesambet loh.” Eza tertawa dan membuat Mawar merasa kesal. Tanpa sadar, Mawar melihat ke arah langit yang sepertinya sudah sangat gelap, pertanda hujan akan segera turun dengan derasnya. “Za, ayo kita turun. Kayaknya mau hujan nih, pasti si Dewi bakalan turun juga, kalau kita gak turun sekarang nanti takutnya ketahuan si Dewi dan dia pasti bakalan ngira kalau kita itu nguping. Ayoo…” Mawar menarik Eza sementara Eza berusaha melepaskan tangan Mawar dengan terburu-buru sambil melihat sekitar. “Loe mau gue dihajar sama si Tomi karena kesalahan loe sendiri? Tega ya loe War.” Eza melirik Mawar sejenak kemudian mulai melangkah menuruni anak tangga. Mawar pun mengikutinya dari belakang dengan tak habis pikir melihat tingkah Eza yang aneh seakan-akan memegang tangannya saja sudah menjadi sebuah kesalahan yang sangat fatal baginya. Memang sih harus diakui kalau Tomi itu sangatlah over protective terhadap Mawar. Tapi kalau cemburu dengan Eza? Rasanya sangatlah tidak mungkin. “Loe kenapa si Za? Gue gak bermaksud begitu tadi. Lagipula Tomi kan tahu hubungan kita kayak mana.” Eza diam sejenak mendengar perkataan Mawar. Ada sedikit kenangan yang terlintas dipikirannya tentang apa yang Tomi katakan kepadanya mengenai Mawar yang hanya bisa menjadi miliknya. Eza juga tidak mengerti dengan tingkah Tomi yang benar-benar berbeda dari biasanya. Yang awalnya biasa saja dengan kedekatannya dengan Mawar, tapi sekarang seperti sedang membangun tembok besar yang menghalangi hubungan pertemanan Mawar dengannya. “Sadar gak sih loe, loe itu udah ngebuat gue seakan-akan merasa kalau ada sesuatu antara loe dan Tomi yang gak gue ketahui.” Mawar menuruni tangga dengan perasaan yang sangat kesal diikuti dengan Eza yang masih memikirkan kata-kata Tomi itu. Saat sudah sampai di lantai tiga, keduanya pun berpisah menuju kelas masing-masing.

__ADS_1


***

__ADS_1


Lamunan Reza terhenti saat merasakan bulir-bulir air yang mulai membasahi tangannya. Sepertinya mendung yang sejak pagi menghiasi kota ini mulai meluncurkan aksinya dengan mengirimkan hujan yang cukup deras. Tanpa sadar, Reza menarik tangan Dewi dan berlari masuk ke pintu atap agar tidak terkena hujan. Dewi mencoba melepaskan tangan Reza dan merapikan pakaiannya yang kusut karena berlari. “Jadi gimana, bisa kan?” tanya Reza sekali lagi untuk memastikan jawaban Dewi. Dengan ragu Dewi pun menjawab, “Baiklah, aku akan datang tapi kamu harus menunggu 15 menit lagi disana, karena takutnya akan ada banyak siswa yang berlalu lalang dan memperhatikan kita. Aku tidak suka seperti itu. Oke?” Reza hanya menjawab dengan gelengan kepalanya saja dan mencoba untuk menuruni anak tangga dengan menarik tangan Dewi dengan lembut, namun Dewi menahannya. Reza berbalik dan menatap Dewi dengan bingung. “Kenapa? Kamu gak mau turun?” Dewi menatap kebawah tangga lalu berpaling ke arah Reza “Bukannya gak mau turun, tapi kita gak bisa turun bareng-bareng. Entar banyak gosip murahan disini. Udah kamu turun duluan aja.” Dewi melepaskan genggaman Reza dan membuat Reza terlihat kecewa. Namun Reza tersenyum dan mengatakan “Wanita duluan.” Dewi tersenyum dan langsung pergi tanpa menoleh ke belakang sementara Reza menatap Dewi dari atas tanpa henti hingga Dewi menghilang dari penglihatannya. Sebuah senyuman terukir indah di wajah tampan Reza. “Kamu sudah gila Reza. Benar-benar gila. Kok bisa kamu menunduk begitu saja di depan cewek aneh yang baru kamu kenal? Hebat. Lihat, sekarang kamu jadi terjebak menjadi guru cintanya. Guru cinta… Hmm… mari kita lihat seberapa besar kamu bisa merasakan cinta dariku.” Reza pun kembali menuruni anak tangga dengan wajah datarnya seakan tidak ada kejadian apapun yang terjadi dalam hidupnya hari ini. Huuh…Sungguh pemuda yang pandai memainkan emosi. Dengan mudahnya ia mengubah senyum hangatnya menjadi wajah datar yang terkesan sangat dingin yang dapat membekukan siapa saja yang melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2