
Tak terasa, waktu yang telah lama ditunggu-tunggu pun telah tiba. Saat ini Dewi sedang menghias dirinya dengan make-up yang natural di dalam ruang ruang rias yang lumayan luas itu bagi Dewi. Sepertinya sebentar lagi konsernya akan segera dimulai.
Dewi pergi dengan ditemani Adrian, Tomi dan juga Mawar yang tampil tak kalah cantik dari Dewi. Awalnya Dewi berniat mengajak Reza untuk pergi bersamanya, namun Reza menolak datang dengan beralasan memiliki urusan penting. Padahal Dewi sudah berharap banyak agar Reza bisa membantu untuk menenangkan hatinya yang sedang sangat kacau dan gelisah saat ini karena terlau banyak berpikir.
Sebenarnya ia takut kalau Pak Wiryasono mungkin akan kembali menanyakan lagu barunya, ditambah lagi, ada beberapa penonton yang merupakan orang-orang penting yang akan mendonasi penggalangan dana ini.
Dewi berusaha untuk tetap tenang dengan menarik napas dalam-dalam dan terus tersenyum sambil mengingat beberapa tingkah Reza yang dapat menghiburnya sedikit.
Lagu pertama sudah mulai dinyanyikan oleh penyanyi lain, dan sebentar lagi adalah giliran Dewi untuk tampil. Dengan gaun berwarna pink selutut ditemani lagging hitam yang mengkilat, Dewi sudah siap tampil dengan mempesona.
“Good Luck ya Dew, gue yakin loe pasti bisa menggetarkan panggung malam ini.” Tomi menepuk pelan bahu Dewi yang mendapat senyuman hangat sebagai balasannya.
“Gue yakin banget kalau Dewi akan mendapatkan banyak dana dari donatur. Gak kebayang deh sekolah seperti apa yang akan loe bangun nanti.” Mawar melambaikan tangannya ke udara karena melihat salah satu temannya yang memanggil namanya tadi.
“Dew, gue kesana bentar ya.” Mawar menunjuk kearah temannya yang sudah menunggunya di dekat ruang rias ini.
“Oke War, jangan lama-lama. Gue gak tenang nih ditinggalin sama Tomi. Entar repot ngejagain dia.” Dewi tertawa sambil menepuk pelan punggung Mawar.
“Ya ampun Dew, loe kira gue anak kecil apa? gini-gini gue bisa jaga diri sendiri dan Mawar tahu. Bahkan gue masih jauh lebih baik daripada pacar loe si Reza itu. Bukannya datang kesini, eh malah nitipin lo ke gue. Emangnya gue tempat penitipan anak bayi apa?”
Dewi hanya bisa menganga sambil memelototkan matanya kearah Tomi. Sungguh pemuda itu tidak pernah menyaring kata-katanya dulu sebelum bicara. Dan jangan lupakan segala cacian dan ejekan yang selalu diberikannya pada Dewi dalam hal apapun. Bahkan dia sudah mulai berani membawa-bawa nama Reza dalam ejekannya.
Sebagai orang yang humoris, Dewi bukanlah orang yang mudah tersinggung dengan segala ucapan Tomi. Sebaliknya, ia justru merasa terhibur dengan keberadaan Tomi. Karena hanya dengan dialah Dewi berani untuk mengungkapkan kata-kata ejekan, yang tentunya akan canggung jika diungkapkan kepada orang lain.
Bahkan Tomi sendiri merupakan teman yang cukup berarti bagi Dewi, sama halnya seperti Mawar dan juga Adrian, walaupun agak sedikit menyebalkan.
“Ah Tomi, kalau ngomong gak pernah mikir dulu. Siapa juga yang pacarnya Reza? Gue cuma temenan doang kok sama dia. Sudahlah gak penting dibahas sama loe, toh loe kan otaknya tipis, jadi gak mungkin ngerti.”
“Ye, biarin aja otak gue tipis, asal hati gue selalu tebal buat Mawar.” Tomi memasang tampang sok kerennya yang membuat Dewi memasang ekspresi pura-pura jijik terhadap pemuda itu.
__ADS_1
“Idih amit-amit deh si Mawar pacaran sama loe. Kok bisa ya dia mau sama loe. jangan-jangan loe pelet kali ya?” Dewi mengacungkan jari telunjuknya kearah Tomi.
“Enak aja gue pelet, emangnya si Mawar itu ikan apa? Oh ya, satu hal yang harus loe tahu, gue itu bukan pacarnya Mawar, tapi CALON SUAMINYA, mengerti ADIK IPAR DEWI?” Tomi sengaja menekankan kata-kata itu untuk memebuat Dewi menjadi jengkel.
Tomi selalu saja mengganggu Dewi dengan tingkah anehnya yang sangat lucu bagi Dewi. Rasanya sangat senang mendengar ucapan itu dari Tomi, walaupun sedikit menggelikan bagi Dewi, tapi setidaknya dia memiliki calon keluarga yang statusnya baru dengan wajah stok lama.
“Cih, ngarep aja terus.” Dewi mencibir Tomi, namun sepertinya yang dicibir justru menggelak tawanya dan tak peduli dengan orang-orang yang memperhatikan mereka.
“Bukan ngarep Dew, but that’s the reality. I will marry her, that’s my promise for you.” Dengan nada sombongnya, Tomi mengungkapkan janji di depan Dewi, hingga membuat Dewi merasakaan sesuatu yang aneh.
Apa ini? Kenapa ia malah memikirkan Reza? Harusnya ia tahu kalau Reza tak mungkin akan melakukan hal yang sama dengan Tomi. “You are crazy.”
Tomi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Yes, I crazy because her.”
Terdengar suara Adrian yang memanggil Dewi dari kejauhan dan menghampirinya. “Sebentar lagi giliran loe. Ayo cepat ke panggung.”
Dewi hanya mengangguk dan berjalan menuju panggung, namun baru beberapa langkah berjalan Dewi langsung berbalik dan menatap Tomi. “I will believe you and hold your promise.”
Dewi tersenyum singkat dan segera berjalan menuju panggung. Ini adalah saat pembukaan, jadi sebagai penyanyi utama di konser ini, bagian Dewi tampil memang lebih banyak dibanding penyanyi dan band lainnya, mungkin sekitar 5 kali tampil.
Dewi benar-benar sibuk mengurus hampir semua kepentingan di konser yang singkat ini, mulai dari mencari produser hingga menghubungi orang-orang yang mungkin akan mau menggalang dananya dalam acara ini.
Bahkan ia benar-benar bekerja keras selama beberapa hari ini membantu para kru untuk mengurus semua keperluan yang dibutuhkan, dan tentu saja Dewi melakukannya dengan semangat sukarelanya dan jangan lupakan juga bantuan dari teman-teman sekolahnya yang ikut membantu berkat Mawar dan Tomi.
Rencananya konser ini mungkin hanya akan berlangsung selama dua sampai tiga jam saja karena tempat konser yang sepertinya kurang aman jika di malam hari. Karena konser ini mulai pukul 18.00 WIB, mungkin selesainya paling lama hanya mencapai jam 21.00 WIB.
***
Setelah memulai konser dengan menyanyikan lagunya yang berjudul “Teman Sejati”, Dewi mulai membantu mengurus keperluan lainnya bersama Mawar dan yang lainnya sambil menunggu gilirannya untuk tampil. Begitulah seterusnya hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB.
__ADS_1
Ketika Dewi masih sibuk berbincang mengenai acara pelelangannya yang akan dimulai sekitar pukul 20.00 WIB, atau lebih tepatnya setelah acara duet Dewi yang terakhir, tiba-tiba saja sosok yang ingin sekali Dewi hindari itu datang menghampirinya.
“Dewi Sartika Evander… senang bertemu denganmu disini. Hmm… ngomong-ngomong ini adalah konser yang cukup bagus.” Pak Wiryasono menjabat tangan Dewi yang mulai terlihat gelisah saat ini.
“Pak Wiryasono, silahkan duduk dulu.” Dewi menarik salah satu kursi yang ada didekatnya untuk diduduki lelaki berumur kepala empat yang masih terlihat sangat tampan dan menarik dengan setelan jas hitamnya yang elegan itu.
“Terima kasih. To the point saja, bagaimana perkembangan lagunya, sudah ada kemajuan?” Seketika udara yang ada diparu-paru Dewi menhilang semua hingga membuat Dewi menjadi sesak karena gugup dan berkeringat di wajahnya.
“Sebenarnya saya sudah mulai menulis pak, tapi mungkin masih butuh waktu untuk bisa menyelesaikannya.” Lelaki itu hanya berdehem dan menaikkan kacamatanya yang turun hingga ke pangkal hidungnya.
“Ingat waktu kamu tinggal 15 hari lagi, Dewi. Dan saya TIDAK MAU TAHU bagaimanapun juga lagu baru itu harus sudah berada diatas meja kerja saya 15 HARI LAGI.” Pak Wiryasono bangkit dari duduknya dan memasukkan sebelah tangannya kedalam saku celananya.
Dia pun mulai melangkah menjauh, namun langsung terhenti karena ucapan Dewi. “Terima kasih Pak.”
Lelaki itu berbalik dan menaikkan sebelah alisnya. “Untuk?”
Dewi tersenyum melihat tingkah lelaki yang selalu bersikap datar itu. “Terima kasih karena Bapak mau menjadi donatur untuk konser ini. Saya sangat menghargai itu.”
Dia menghela napasnya pelan serta tersenyum sedikit dan sangat singkat. “Itu yang kamu inginkan bukan.”
Tanpa mendengar jawaban Dewi, dia langsung melangkah sambil berbicara di earphone yang terpasang ditelinganya sedari tadi.
Dewi hanya tertawa sinis melihat tingkah orangtua yang sangat menyebalkan itu. Tapi sebenarnya dia adalah orang yang sangat baik, hanya saja ia sangat pintar menutupinya dengan tampangnya yang datar dan dingin. Sama halnya seperti Reza.
Dewi kembali memasang wajah kesalnya karena lagi-lagi ia kembali teringat dengan pemuda itu. Entah mengapa ada ataupun tiada dia disamping Dewi tapi selalu saja kepikiran oleh Dewi. Mungkin ia sudah jadi gila saat ini karena Reza.
Dewi memegang kepalanya yang entah mengapa terasa sangat sakit. Apalagi keringat dingin yang terus membasahinya tak kian berhenti juga. Apa ia benar-benar terihat gugup tadi?
Seperti apa perasaan Pak Wiryasono setelah mengetahui bahwa lagunya masih belum selesai sampai saat ini? Walaupun telah mencoba setiap malam, namun tetap saja inspirasi itu enggan datang menghampiri pikiran Dewi yang sudah seperti benang kusut saat ini.
__ADS_1
"Oh inspirasi, dimanakah engkau berada saat ini?" gumam Dewi dalam hati. "Semoga aku bisa segera menemukannya."