Inspirasi

Inspirasi
Makan Malam


__ADS_3

Reza masih terus mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan yang sudah tidak terlau macet. Disampingnya Dewi masih duduk diam memandang ke depan tanpa ada sepata katapun yag keluar dari mulutnya. Reza benar-benar tidak merasa nyaman dengan situasi yang mencekam seperti ini, apalagi Dewi sepertinya berusaha mengabaikannya karena masih kesal, meskipun raut wajahnya hanya datar tanpa ekpresi apapun. Reza mulai mencari ide untuk memecahkan keheningan yang tercipta diantara mereka.Ya, semoga saja Dewi bisa segera berbaikan dengannya, karena jika tidak maka dapat dipastikan kalau bukan hanya kencan saja yang gagal, tapi juga hubungan mereka yang akan gagal. “Hmm… Dew, aku sangat lapar saat ini, bisakah kita makan dulu sebelum pulang?” Reza melirik sekilas wajah Dewi yang seperti tidak peduli dengan apa yang dikatakannya, sehingga Reza pun menghela napas berat dan kembali memfokuskan diri untuk menyetir. Sepertinya Dewi benar-benar sudah sangat marah kepadanya. Baiklah, sebaiknya dia memang harus mengantar Dewi kembali ke rumah dan akan meminta maaf lagi besok pada Dewi. “Pinggirkan mobilnya!” Alangkah terkejutnya Reza saat mendengar suara tegas Dewi yang memerintahnya layaknya seorang supir pribadi saja. Namun bukan Reza namanya jika ia mau diperintah oleh seorang wanita. “Tida mau. Kamu tidak boleh turun di jalanan seperti ini, aku akan mengantarkanmu pulang sampai kedepan rumahmu.” Reza membantah Dewi dengan nada dinginnya yang membuat Dewi langsung menyatukan alisnya, “Za, hentikan dulu mobilnya. Ada yang mau aku sampaikan.” Kali ini suara lembut Dewi kembali terdengar dengan indah di telinganya, namun Reza masih saja tak mau berhenti. “Kamu bisa menyampaikannya saat di depan rumahmu saja.” Seketika tawa Dewi langsung terdengar memenuhi ruang dalam mobil Reza. “Kenapa kamu tertawa? Tidak ada yang lucu Dewi.” Reza mencemberutkan wajahnya dengan perasaan kesal sekaligus bingung dengan sikap Dewi. Bukankah tadi ia sangat kesal, kenapa sekarang ia malah tertawa seakan-akan Reza adalah badut? “Tentu saja ini lucu, Za. Aku memintamu berhenti agar kamu bisa makan, tapi kamu malah berpikir kalau aku akan meningalkanmu dijalan, dan bahkan kamu juga bersikeras ingin mengantarku sampai ke rumahku, padahal aku yakin sekali kalau saat ini kamu pasti sudah sangat lapar. Oh ya satu lagi, wajahmu itu… benar-benar lucu. Kamu jadi mirip anak-anak yang sedang merajuk Za, aku jadi gemas melihatnya.” Dewi kembali tertawa melihat wajah Reza yang memerah karena malu. Bisa-bisanya dia berpikir Dewi akan meninggalkannya di jalanan seperti itu. Dewi bukanlah orang yang bodoh, yang akan pergi keluar malam-malam seperti ini sendirian. Apalagi saat tahu kalau kota yang ditinggalinya ini memiliki banyak resiko tindak kriminal terhadap remaja seperti Dewi. Tapi apa yang Reza lakukan benar-benar sangat meneyentuh hatinya. Ya, meski terdengar gila, namun Dewi mengerti maksud dari kekhawatiran Reza yang mencoba melindunginya dari bahaya diluar sana, dia adalah lelaki yang sangat baik dan juga perhatian. Sejenak wajah Dewi mulai memerah karena memikirkan Reza, ada senyum kecil yang terbentuk di kedua ujung bibirnya. Namun tiba-tiba Dewi segera sadar dari lamunannya saat Reza menatapnya dengan jarak yang sangat dekat. Rasa aneh itu kembali mengikutinya dengan detak jantung yang semakin cepat. Reza masih memperhatikan Dewi dalam-dalam, entah apa yang ada dipikirannya saat ini tapi yang pasti gejolak dalam hati Dewi semakin tidak bisa ditahan saja, sepertinya Dewi harus segera memeriksakan diri ke dokter mengenai penyakit jantung yang dideritanya saat bersama dengan Reza. “Ke-kenapa kamu menatapku seperti itu?” Dewi akhirnya angkat bicara juga walau agak terbata. “Sebenarnya, kamu masih marah gak sama aku? Kalau masih marah bilang saja, kita bisa langsung pulang tanpa harus melanjutkan kencan ini.”


Reza kembali duduk dengan tenang menunggu jawaban dari Dewi, namun Dewi tak kunjung juga memberi jawaban, akhirnya Reza pun kembali mendekatkan wajahnya kearah Dewi yang sontak membuat Dewi terkejut dan langsung mundur dari tempat duduknya. Tapi Reza masih saja mendekatkan wajahnya hingga sangat dekat, lalu Reza pun segera membisikkan kalimat-kalimat yang akan membuat Dewi berdesir seperti biasanya. Karena dengan cara ini, dia tidak akan melanggar perjanjiannya dengan Dewi, tapi masih bisa dekat dengannya. “Maafkan aku Dew, aku mohon. Kamu sudah memaafkanku kan?” Ya, walau hanya dengan cara seperti ini, tapi Reza sudah cukup senang karena melihat rona merah yang ada di wajah Dewi menandakan perasaaanya yang mulai tumbuh pada Reza. Dewi sudah tidak sanggup lagi dengan detak jantung dan rasa aneh yang menyelimutinya saat ini, apalagi saat Reza mengucapkan kata-kata itu dengan lirih, langsung membuat Dewi seakan terbang ke langit karena merasa dipedulikan oleh Reza. Tapi karena merasa jarak diantara mereka yang mulai terlalu dekat, Dewi pun segera menjawab pertanyaan Reza dengan memutuskan untuk segera keluar dari mobil untuk sedikit menjauhi Reza. "Iya, sudah aku maafkan, Ayo kita keluar sekarang." Dewi segera mencoba untuk membuka pintu mobil namun tangannya langsung dicegah oleh Reza. "Dew, kamu di dalam saja ya." "Tapi Za...." Reza melepaskan tangan Dewi dan membuka pintu mobilnya. "Aku akan segera kembali Dew. Kita tidak akan makan disana. Aku hanya mau beli makanan disitu." Reza menunjuk kedai pedagang makanan yang berjajar di sepanjang jalan ini. "Lagipula aku yakin kamu tidak mau makan di pinggir jalan bukan? Jadi aku sudah punya rencana yang lebih baik untuk kencan kita ini. Tetap disini dan jangan keluar, mengerti?" Dewi hanya menganggukkan kepalanya dan melihat Reza yang langsung keluar dari mobil. Ada sedikit perasaan lega yang Dewi rasakan saat ini. Setelah duduk begitu lama dengan Reza berdua di dalam mobil dengan jarak yang sangat dekat, benar-benar sudah membuat Dewi gila. Dia bahkan memaafkan Reza dengan begitu mudahnya hanya karena tidak ingin terlalu dekat dengannya. Dewi pun bergumam dalam hatinya dengan tatapan kosong. "Mengapa dia selalu mendekat padaku dan membisikkan kata-kata yang menggetarkan hatiku? Apa yang kurasakan ini benar adalah cinta? Tapi bagaimana aku membuat rasa ini ke bentuk lagu? Ahh... aku pasti sudah gila karena terlalu tertekan dengan semua ini. Waktuku sudah tidak banyak lagi, dan bahkan aku masih belum bisa mendapatkan inspirasi. Kenapa semuanya harus seperti ini?" Lamunan Dewi langsung terhenti ketika pintu mobil Reza dibuka. Sepertinya dia sudah selesai membeli makanan. Dia telah memasang seatbealt-nya dan akan bersiap untuk menghidupkan mobilnya, namun Dewi mencegah tangannya yang akan menyentuh kunci mobil dengan menggenggamnya lembut. "Za, kamu gak makan dulu? Katanya lapar, nanti gak konsen loh nyetirnya." Tatapan cemas jelas terukir di wajah Dewi, sepertinya Dewi mulai mengkhawatirkan pemuda yang telah mengisi beberapa harinya belakangan ini. Entah apa yang ada dipikiran pemuda yang sedang cengar-cengir sendiri ini, dia begitu senang karena sang gadis yang memegang tangannya dan memandangnya dengan rasa khawatir. Reza tidak menyangka akan mendapat perlakuan yang seperti ini dari Dewi, karena biasanya Dewi sangatlah bersikap dingin terhadapnya seakan-akan dia tidak peduli terhadap keberadaannya, entah karena sadar atau tidak sadar, genggaman tangannya semakin erat sehingga membuat Reza menatapnya intens dan mulai tersenyum hangat. "Hmm.. ternyata kamu bisa khawatir juga sama aku." Dewi yang sadar dengan kelakuannya langsung melepas genggamannya dan berusaha menghindari tatapan Reza, namun dia malah ditarik semakin dekat oleh Reza, sontak Dewi langsung terkejut dan tak bisa menyembunyikan wajah merahnya lagi. "Dew, kan aku sudah bilang kalau aku sudah punya tempat yang cocok untuk kita makan, jadi tunggulah sebentar lagi. Lagipula aku belum terlalu lapar sehingga aku harus makan disini, mengerti." Dewi hanya menganggukkan kepalanya saat Reza melepaskan cengkraman dibahunya dan menatap ke luar jendela selama perjalanan. Tak lama kemudian, keduanya pun tiba di sebuah taman yang cukup sepi saat itu. Hampir tidak ada orang yang berlalu lalang di tempat ini. Dewi sedikit ngeri berada di tempat ini, tapi mengingat kalau saat ini dia sedang bersama Reza, hatinya jadi sedikit tenang karena Reza pasti akan menjaganya. “Ayo Dew, kita turun.” Reza mengambil makanan yang dibelinya tadi dan membawanya ke tempat duduk taman yang lumayan besar dan indah itu. Walaupun hari sudah sangat gelap, namun terdapat beberapa lampu yang mengelilingi taman tersebut sehingga pemandangannya cukup indah. Mereka duduk di bangku taman yang memiliki meja tersendiri di taman itu. Entah siapa yang meletakkan meja disana, tapi yang pasti mereka jadi punya tempat untuk makan malam sekarang. Keduanya makan dalam diam, dan hanya sesekali Reza membuat candaan yang membuat Dewi tersenyum. Setelah selesai makan Reza menarik tangan Dewi dan mengajaknya ke tepi taman. Dari tempat ini, mereka dapat melihat pemandangan yang belum pernah dilihat keduanya. Tebing tinggi yang mereka pijaki pun seakan menjadi saksi dari keindahan kota tempat mereka tinggal. Lampu-lampu yang menghiasi gedung pencakar langit tersebut menambah keindahan pemandangan itu. Malam yang bertabur bintang dengan cahaya bulan yang terangpun seakan ikut menikmati indahnya kencan pertama sepasang kekasih itu. Mereka duduk diatas rerumputan yang tumbuh subur diatas tebing. Tiba-tiba Reza meletakkan kepalanya dibahu Dewi yang sontak membuat Dewi langsung terkejut. “Biarkan sebentar saja Dew, aku ingin menikmati semua saat indah ini. Lagipula esok belum tentu aku bisa merasakannya lagi karena perjanjianmu itu.” Reza diam dan memejamkan matanya dengan senyum yang mengembang diwajahnya. “Sangat manis,” batin Dewi. Sebenarnya Dewi mengerti bahwa saat ini Reza sedang membutuhkan sandaran karena mungkin ia sudah terlalu lelah karena terlalu banyak menyetir tadi. Tapi rasa aneh yang dirasakannya benar-benar sudah membuat Dewi gila. Dia menikmati semua saat ini dengan senyuman sambil melihat tangannya yang digenggam Reza dengan lembut. Dewi memperhatikan Reza yang sedang mengelus-elus punggung tangan Dewi yang digenggamnya saat ini. "Za..." "Hn" Reza masih terus melakukan kegiatan yang membuatnya nyaman saat ini. "Apa kamu menikmati kencan kita ini?" Dewi memalingkan tatapannya ke sekitar mencoba menenangkan hatinya yang tak tenang karena terus memendam rasa yang aneh itu. "Tentu saja aku sangat menikmatinya." Reza mengangkat kepalanya dan menatap Dewi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Apa kamu tidak menikmatinya Dew?" Reza meraih kedua bahu Dewi dan menatapnya lekat-lekat, terlihat raut kesedihan di wajah Dewi. Entah apa yang dia pikirkannya saat ini, tapi yang jelas sudah menjadi tugas Reza untuk menghibur Dewi dan membuatnya kembali tersenyum saat ini. "Ti-tidak, aku menikmatinya. Hanya saja..." Dewi menundukkan kepalanya dan membuat Reza semakin bingung dengan tingkah 'cewek aneh' yang satu ini. "Hanya apa Dew?" "Hanya..." Reza mengangkat dagu Dewi untuk menatap matanya agar bisa membaca isi hati yang terus di pendam oleh Dewi. "Katakanlah Dew, tidak perlu terburu-buru, aku akan menunggumu mengatakan isi hatimu itu." Tatapan lembut itu membuat Dewi merasa sangat nyaman dan aman. "Za, apa menurutmu aku akan bisa jatuh cinta secepatnya?" Betapa terkejutnya Reza mendengar pertanyaan itu. "Gadis ini benar-benar gila. Sudah jelas-jelas kalau dia sudah jatuh cinta padaku tapi masih saja menganggap kalau dirinya belum bisa merasakan cinta. Seberapa aneh sebenarnya kamu Dew?" Hanya Batin Reza yang menjawab pertanyaan itu. Sementara Reza hanya bisa menghela napas saat Dewi menatapnya penuh harap akan jawaban yang harus diberikannya. "Dew, kenapa kamu berpikir kalau kamu tidak bisa jatuh cinta secepatnya? Bahkan kalau kamu mau, saat ini pun kamu bisa merasa jatuh cinta. Karena..." Reza mendekatkan wajahnya pada Dewi dan membuat wajahnya jadi memerah karena malu, tapi Reza sepertinya tidak peduli, dia terus mendekatkan wajahnya hingga akhirnya ia membisikkan kembali kata-kata di telinga Dewi. "Karena cinta tak pernah mengenal tempat dan waktu Dew. Bahkan kamu mungkin tidak dapat menyadari kedatangannya yang tiba-tiba." Dewi hanya diam mematung dengan wajahnya yang merona sementara Reza terkekeh melihat ekspresi itu dan kembali menyandarkan kepalanya di bahu Dewi. Keduanya diam dalam keheningan malam dengan irama detak jantung sebagai lantunan lagu cinta yang mulai tumbuh diantara mereka. Ya, cinta...


__ADS_2