Inspirasi

Inspirasi
Jadwal Pertemuan


__ADS_3

Sesampainya disekolah, Dewi langsung turun dari mobil dengan tergesa-gesa sambil melihat jam tangan hitamnya yang menunjukkan pukul 07.13 WIB dan bernapas lega karena mengetahui dirinya tidak terlambat tiba disekolah. Dewi memang takut sekali apabila sampai terlambat tiba di sekolah. Hal itu karena ia bersekolah di tempat yang cukup elit dan memiliki peraturan yang disiplin yaitu apabila tiba disekolah setelah bel masuk berbuyi maka para siswa/i tidak dapat memasuki gerbang sekolah dengan alasan apapun. Sebagai seorang penyanyi yang cukup nge-hitz, tentu tidak baik apabila melihatnya terlambat datang ke sekolah dan diusir satpam sekolah, kerena bisa saja ada yang merekam kejadian itu dan menyebarkannya ke media sosial dan entertainment yang dapat membuat image Dewi jadi rusak di mata publik. Apalagi saat ini semua berita bisa dengan mudah diakses dari internet menggunakan smartphone yang memang menjadi kebutuhan pokok masyarakat saat ini. “Dewi, tunggu dong.” Mawar langsung mengejar Dewi saat turun dari mobil dan mencoba untuk mensejajarkan posisi berjalannya dengan Dewi. Setelah itu mereka langsung menuju ke kelas XII-1 yang terletak di lantai 3 gedung B. saat sedang menaiki anak tangga tiba-tiba Mawar bertanya pada Dewi, “Dewi, loe kapan mau ketemu temennya Tomi?” “Ya tergantung dia bisanya kapan. O iya, memangnya si Tomi udah bilang sama temennya? Dan apa temennya itu setuju buat jadi pacar gue sampai pembuatan lagu gue selesai?” Dewi bertanya balik pada Mawar yang berhenti untuk berpikir sejenak. “Kan gue yang nanya sama loe, kok malah loe yang jadi nanya ke gue sih? Lagian kalau dia itu gak setuju, ngapain juga gue bilang sama loe.” Tatapan Mawar yang tadinya terihat kesal kini mulai normal kembali. “Tapi kalau masalah janji ketemunya sih gue bilang loe yang ngatur, soalnya kan jadwal loe padat, dan belum tentu loe bisa datang diwaktu yang ditentukan olehnya. Makanya gue minta kepastian dulu sama loe kapan loe mau ketemu biar gue nyuruh Tomi untuk menemuinya nanti.” Mawar mengambil smartphone-nya di saku roknya untuk menelepon Tomi agar dapat segera menghubungi temannya perihal rencananya dan Tomi untuk mendekatkan Dewi dengan seorang pria. Ya, itulah rencana Mawar yang sebenarnya, mencoba mendekatkan Dewi dengan seorang pria agar Dewi bisa merasakan indahnya sebuah cinta. Rencana ini juga semakin berhasil ketika Tomi juga ikut membantunya mencarikan pria yang dianggap cocok untuk Dewi. Eza, ya Eza adalah Teman Tomi yang cukup dekat dengannya, dipenuhi oleh rasa cinta serta orang yang sangat humoris, pasti akan mampu untuk membuat Dewi jatuh hati padanya serta selalu bahagia. Entah apa yang terjadi dalam dunia ini hingga rencana mereka berjalan dengan sangat mulus tanpa adanya hambatan dari Dewi. Dengan beralaskan merasakan cinta untuk membuat lagu, Mawar telah berhasil membujuk Dewi untuk memulai semua drama cinta ini di hidupnya. Sekarang yang ditunggu hanyalah pertemuan mereka dan sisanya akan dilakukan oleh sang waktu yang akan mulai mengisi hati Dewi dengan seseorang yang mencintainya. “Hari ini juga bisa kok War. Di kant… eh gak usah di kantin, di atap sekolah aja. Entar kalau ketemu di kantin, bukannya bikin lagu, entar yang ada malah bikin kasus di infotainment. O ya, siapa sih nama temennya si Tomi itu?” Kata Dewi sedikit penasaran. “Rahasia”, jawab Mawar. Dewi sedikit kesal dengan jawaban Mawar, namun seketika Dewi mempunyai ide yang cukup hebat untuk mengungkap nama pemuda itu langsung dari mulut Mawar sendiri. “Oh… namanaya Rahasia. Lucu ya… Dewi dan Rahasia. Hahaha….” Dewi tertawa dengan cukup keras dan alhasil itu justru membuat Mawar merasa sagat kesal dan emosi. Sungguh, Mawar adalah orang yang paling tidak bisa menahan emosinya, sangat berbanding terbalik dengan Dewi. Ia justru mampu mengendalikan emosinya dengan baik, itu sebabnya hubungan di antara mereka berdua sangatlah cocok dengan saling melengkapi satu sama lain. “Ihh Dewi loe itu lugu atau bodoh sih? Masa ada nama orang Rahasia. Namanya itu Eza bukan Rahasia. Tadi aku bilang Rahasia biar bikin kamu itu penasaran. Eh gak tahunya aku lupa kalau kamu itu lemotnya luar biasa.” “Hahaha… Mawar-Mawar, kena juga loe akhirnya. Gue tuh sengaja pura-pura bodoh biar loe ngaku siapa namanya. Hmm…oke, jadi namanya Eza toh. Bagus kok namanya.” Mendengar tanggapan Dewi yang seperti sedang meledeknya membuat Mawar ingin mengomelinya, namun Dewi langsung menarik tangan Mawar agar mau ikut dengannya ke kelas. “Ayo Mawar, kita udah telat nih entar keburu Pak Joni datang.” Mawar melepaskan tangan Dewi yang menariknya lalu berkata, “ Dew, loe duluan aja. Entar gue nyusul, oke. Gue mau nghubungin Tomi dulu buat ngasih tahu kabar baik ini sama Tomi.” Dewi diam sejenak sambil melihat jamnya yang sudah menunjukkan pukul 07.17 WIB, yang berarti mereka sudah terlambat masuk kedalam kelas selama 2 menit. “Ya udah deh kalau gitu, sampai ketemu di kelas ya”. Kata Dewi sambil menuju kelasnya. Saat di koridor, Dewi berpas-pasan dengan seorang pemuda yang tak dikenalnya, namun sangat menarik perhatiannya. Padahal Dewi tidak sempat melihat wajah pemuda itu karena hanya lewat sekilas saja seperti sebuah bayangan. Hal yang membuat Dewi merasa tertarik adalah saat sekilas melintas disampingnya, Dewi merasa seperti disetrum listrik oleh wangi parfum yang ia gunakan. Setidaknya, hanya itu yang dapat disimpulkan oleh Dewi dari perasaan anehnya ini. Karena merasa tak puas melihat wajah pemuda itu, Dewi akhirnya berhenti dan berbalik ke belakang agar dapat melihat pemuda itu dengan jelas. “Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?” Dewi bertanya dalam hatinya sambil memperhatikan dari belakang pemuda itu yang perlahan menjauh dari tempatnya berdiri saat ini. Tanpa sadar, Dewi lupa kalau ia sudah terlambat masuk ke kelas hari ini. “Ya ampun, udah telat 4 menit nih.” Dewi berlari menuju kelasnya yang hanya tinggal melewati 3 kelas lagi dari tempat ia berdiri. Saat sampai di kelas, Dewi mengetuk pintu 3 kali dan memeriksa apakah Pak Joni sudah masuk kelas atau belum. Karena saat ini Pak Joni belum masuk ke kelas, terdapat sedikit kelegaan di hati Dewi yang membuat rasa takut terlambat tadinya menghilang. Hal itu karena menurut Dewi, Pak Joni adalah guru yang cukup keras dalam mendidik siswa-siswinya agar dapat memacu tumbuhnya rasa kedisiplinan pada murid. Tapi tetap saja dibutuhkan rasa takut dari murid itu sendiri agar dapat mengikuti ketentuan yang dibuat oleh sang guru. Dewi lalu memasuki ruang kelas dan duduk dikursinya sambil menunggu Pak Joni datang. Tiba-tiba, terlintas lagi di pikiran Dewi tentang pemuda misterius itu. Setelah dipikir-pikir lagi oleh Dewi, ia yakin bahwa sepertinya ia pernah melihat pemuda itu, tapi dimana? Dalam hati Dewi muncul lagi pertanyaan besar, “ Buat apa aku tahu tentang pemuda itu? Lagian juga tidak ada untungnya untuk memikirkannya….” “Daarrr…” Tiba-tiba Mawar yang baru memasuki kelas menepuk pundak Dewi hingga membuatnya terkejut. “Ihh.. Mawar, ngeselin banget sih.” Gerutu Dewi. “Hehehe, lagian si loe pagi-pagi udah ngelamun aja. Ngelamunin siapa sih? Gue ya?” Mawar menoel hidung Dewi yang mancung. “Ih geer banget sih loe War, siapa juga yang mikirin loe. Gak penting banget kelez.” Dewi memalingkan wajahnya dari Mawar untuk menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah karena memikirkan pemuda itu. Melihat itu, Mawar pun jadi tak habis akal untuk menggoda Dewi, “Hmm… kesempatan bagus”, gumamnya dalam hati. “Ciieeee…. gue tau kok siapa yang loe pikirin, Eza ya?” Mawar menarik bahu Dewi hingga membuat wajah Dewi menghadap pada wajahnya, namun bukannya malu dan merona seperti tadi, wajah Dewi malah kelihatan seperti orang yang sedang bingung. Mawar menjadi bingung dengan temannya ini, kalau bukan memikirkannya ataupun Eza, lalu siapa yang sedang Dewi pikirkan? Karena sudah jelas dilihat dari ekspresi Dewi yang aneh kalau dia tidak sedang memikirkan Eza. “Gue gak mikirin Eza kok. Udahlah gak usah dibahas. Gak penting.” Kata-kata Dewi yang satu ini selalu bisa membuat Mawar yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Dewi, “Apa Dewi suka pada seseorang? Tapi mana mungkin? Bukannya Dewi sendiri yang meminta gue untuk mencarikannya pacar? Duuh… bingung gue jadinya. Tapi, kenapa dia menyembunyikan ini dari Gue? Ah… mungkin gue aja kali yang terlalu lebay. Mana mungkin Dewi suka sama orang lain. Udah deh lupain aja.” Gumam Mawar dalam hati. “Eh Mawar, loe kok lama banget sih? Untung Pak Joni belum datang. Gimana kalau loe itu telat? Bisa gawat deh urusannya.” Dewi memasang ekspresi yang serius saat itu, tapi sepertinya Mawar tidak mau mendengarkannya, dan yang lebih parahnya Mawar malah tertawa dengan cukup keras seakan-akan mengejek Dewi sampai-sampai membuat teman-teman sekelasnya memperhatikan mereka sejenak kemudian kembali melanjutkan kegiatannya masing-masing. Karena heran dengan sikapnya itu, Dewi pun langsung bertanya kepada Mawar, “ loe kok ketawa sih? Loe ngejek gue ya?” “Enggak kok. Siapa juga yang mau ngejek loe? Ngak penting banget kale.” Mawar membalikkan kata-kata gue tadi, uhh… dia itu memang gak kreatif banget, sampai-sampai kata-kata gue aja di copy paste-in sama dia. Mawar menarik kursinya dan menghadapkan kursinya ke kursi Dewi, lalu duduk diatasnya. “Loh, loh, loh, apa-apaan ini Mawar? Entar kalau Pak Joni datang gimana dong? Bisa kena marah kita.” Kata Dewi yang terlihat heran melihat tingkah laku temannya itu yang kembali tertawa lagi. Karena kesal dengan sikap Mawar yang seperti itu, Dewi kembali bertanya pada Mawar. “Ada apa sih War? Loe kok ketawa terus?” “Dewi-Dewi, loe gak tahu ya kalau hari ini Pak Joni gak datang?” Mawar kembali bertanya pada Dewi. “Gak masuk? Loe tahu darimana? Jangan ngarang-ngarang ya, emangnya Pak Joni nelepon kamu terus bilang kalau bapak itu gak masuk hari ini?” tanya Dewi terus-menerus seakan-akan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mawar. “Yee… kalau orang bicara itu dengerin dulu sampai selesai. Jangan nanya-nanya mulu. Entar gue kapan jawabnya dong?", ketus Mawar. “Iya-iya, sekarang loe jelasin semuanya sedetail-detailnya sama gue.” Pinta Dewi. “ Loe kan tahu kalau rumahnya Tomi sama Pak Joni itu dekat banget, jadi tadi waktu gue ketemu Tomi dia bilang kalau Pak Joni nitip pesan sama si Tomi untuk ngasih tahu kita kalau dia gak bisa masuk hari ini. Dan sebagai gantinya dia nitip tugas ke Tomi yaitu meringkas halaman 210–224 di buku catatan, dan harus dikumpul hari Rabu, siap gak siap jam 10.00 WIB, di meja Pak Joni.” Mawar lalu bangkit dan mengambil spidol di meja guru lalu menuliskan tugas yang diberikan oleh Pak Joni di papan tulis kemudian Mawar kembali duduk disamping Dewi. Tapi bukannya berbincang dengan Dewi, Mawar malah bergosip dengan teman-temannya yang duduk di belakang mereka. Dewi adalah orang yang paling tidak suka bergosip, apalagi tentang hubungan asmara orang lain. Oleh karena itu, Dewi hanya duduk diam saja disamping Mawar sambil menatap teman-temannya yang lain. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang bermain ponsel, berdandan, bergosip, bahkan tidur di kelas. Begitulah kelakuan anak SMA zaman sekarang, hanya membuang-buang waktu saja. Karena kesal tak dihiraukan oleh teman-temannya, Dewi pun keluar dari kelas menuju tempat favoritnya di sekolah. Jika biasanya para siswa suka menghabiskan waktu mereka di kantin saat jam pelajaran, beda halnya dengan Dewi. Dia tidak terlalu menyukai keramaian, padahal ia adalah penyanyi terkenal yang harus terbiasa dengan keramaian. Dewi lebih suka menghabiskan waktunya di atap sekolah saat jam makan siang atau tidak ada jam pelajaran karena guru yang tak datang. Kadang-kadang dia membaca buku yang di pinjam di perpustakaan, mengemil, atau hanya sekedar melihat-lihat saja pemandangan yang indah dari atap sekolah berlantai 4 ini. Betapa terkejutnya Dewi saat sampai di atap sekolah. Ia melihat ada seorang pemuda yang berdiri melihat pemandangan dari atap sekolah. Namun sepertinya karena menyadari kedatangan Dewi, pemuda itu langsung pergi dan melintas dari samping Dewi untuk menuju pintu dan langsung menuruni anak tangga meninggalkan Dewi yang berdiri kaku seperti patung. Sepertinya itu adalah pemuda yang sama dengan yang tadi ia lihat di koridor. Dewi merasa yakin sekali saat itu karena ia kembali merasakan setruman yang sama seperti tadi, tapi kali ini Dewi yakin kalau itu bukan karena parfum yang digunakannya, tapi sepertinya ada sesuatu yang aneh yang membuatnya ingin selalu melihat pemuda misterius itu. Dari pintu masuk atap sekolah, Dewi melihat pemuda itu menuruni anak tangga dengan cepat dan segera menghilang dari pandangannya. Tapi tanpa rasa ingin mengejar dan mengetahui siapa pemuda itu, Dewi berbalik dan duduk di kursi atap sekolah. Sepertinya Dewi yakin sekali kalau ia akan bertemu lagi dengan pemuda itu sehingga ia tidak perlu mengejarnya untuk berkenalan. Dewi membuka buku yang tadi ia bawa dan mulai mengerjakan tugas yang diberikan Pak Joni tadi. Sebagai seorang penyanyi, jadwal Dewi memang terbilang padat. Namun hal tersebut tak pernah membuatnya malas untuk mengerjakan tugas. Sebaliknya, Dewi malah sangat rajin mengerjakan tugas, apalagi di waktu senggang seperti ini. Ia jadi lebih leluasa mengerjakan tugasnya tanpa ada yang menggangu. Sambil menulis catatannya, pikiran Dewi pun berlari kesana kemari memikirkan pemuda itu. Rasanya ingin sekali ia melihat pemuda itu dengan jelas dan mengetahui namanya, tetapi seperti biasa, Dewi selalu memendam perasaannya. Itu merupakan salah satu kebiasaan Dewi sejak kecil. Mungkin ini adalah sebabnya mengapa sampai saat ini Dewi belum mendapatkan inspirasi apapun untuk menulis lagunya yang baru karena terlalu banyak memendam perasaan dalam hati dan pikirannya. Tiba-tiba Dewi teringat sesuatu dan langsung berkata sendiri. “Oh iya, kira-kira pemuda seperti apa ya yang akan membantu aku? Apakah seperti pemuda itu? Atau lebih parah darinya? Duh… ribet ah. Ngapain juga aku mikirin dia. Toh walaupun dia jelek atau gak, baik atau gak, aku gak peduli. Kan yang penting lagu aku bisa segera siap. Malah tinggal 29 hari lagi deadline-nya. Bisa-bisa aku di pecat sama pak Wiryasono. Tapi…. masa sih aku bakalan di pecat cuma karena hal sepele seperti ini? Hmm…, tapi sepertinya ini bukanlah masalah sepele, buktinya aja aku belum bisa bikin lagu sampai sekarang. Padahal, dulu bikin lagu itu cukup 1 atau 2 hari doang. Kenapa sekarang susah banget ya? Oh Tuhan, kenapa Engkau memberikan cobaan yang seperti ini? Aku tuh gak mau pacaran. Apalagi sama orang yang gak di kenal. Tapi mau gimana lagi? Cuma ini satu-satunya cara untuk bisa ngarang lagu dengan mudah, yaitu dengan mendapatkan pengalaman cinta itu sendiri. Ya, semoga saja ini segera usai agar kehidupan ku bisa berjalan normal kembali.” Dewi melihat jam tangan hitamnya yang sudah menunjukkan pukul 09.15 WIB. “Ya ampun, aku harus segera ke bawah nih. Jam pelajaran Pak Joni udah abis. Dan aku belum nyiapin tugasnya sampai selesai. Satu, dua, tiga, empat, lima. Huuh… masih 5 lembar, berarti masih ada 9 lembar lagi yang harus aku siapkan.” Dewi meutup bukunya lalu berjalan melewati pintu keluar atap sekolah dan menuruni anak tangga yang berukuran besar itu untuk sampai ke kelasnya yang berada di lantai 3 gedung B. saat sampai di kelas, Dewi memperhatikan seisi kelas yang ternyata masih sibuk dengan urusan masing-masing. Dewi kembali duduk di tempat duduknya yang paling depan di hadapan meja guru dan menunggu Bu Silvia, guru matematikanya datang. Tak lama kemudian, Mawar datang dan langsung duduk disamping Dewi. “Dew, tadi gue udah ngomong sama si Tomi. Katanya sih si Eza bisa kok ketemu kamu hari ini jam 10.00 WIB di atap sekolah.” Dewi heran mendengar kata-kata Mawar lalu tanpa ragu bertanya padanya, “Loe udah gila ya War? Bisa-bisanya loe mutusin waktu pertemuan gue di jam pelajaran sekolah. Gue kira loe bakalan ngusulin untuk ketemu di jam makan siang, tapi ternyata…” Kalimat Dewi langsung dipotong oleh Mawar. “Loe tenang aja Dew, gue udah atur semuanya kok. Hari ini Bu Silvia juga gak bisa ngajar, soalnya dia kan harus ngikutin rapat untuk pertukaran guru di sekolah lain sama Pak Anto.” Mawar tersenyum kepada Dewi. Rasanya sudah tak aneh lagi bagi Mawar untuk mengetahui semua jadwal guru yang ada di sekolah kami ini, karena Mawar cukup aktif dalam OSIS dan juga cukup dekat dengan beberapa guru yang mengajar disini. Bahkan ia sering dijadikan asisten guru apabila guru yang bersangkutan tidak dapat datang ke sekolah, seperti saat ini. Mawar kembali menuliskan beberapa kalimat di papan tulis putih yang letaknya berada di depan kelas, lebih tepatnya disamping meja guru. Tapi bukannya menuliskan tugas yang diberikan oleh Bu Silvia, eh si Mawar malah menulis kata-kata “SELAMAT BERSENANG-SENANG SEMUANYA. BU SILVIA TIDAK MASUK HARI INI DAN TIDAK ADA TUGAS.” Melihat apa yang ditulis oleh Mawar, sontak semua teman sekelas kami langsung bersorak kegirangan tak menentu, tentu saja, sejak pagi tadi mereka belum belajar apapun karena Pak Joni tidak datang dan kini Bu Silvia juga tidak datang. Mereka seperti mendapat rezeki nomplok saja. Ada yang berlari ke luar kelas untuk menuju kantin, ada yang bernyanyi sambil memainkan gitarnya, ada yang kembali berdandan dan menebalkan riasan menor di wajahnya, bahkan teman kami charlie, yang sedari tadi tidur dikelas memilih untuk melanjutkan tidurnya di sudut kelas yang cukup besar ini. Tentu saja, sekolah dengan nama dan prestasi yang cukup besar di Jakarta ini sudah pasti memiliki fasilitas gedung yang mewah, karena banyak juga siswanya yang merupakan anak-anak yang terpilih untuk memasuki sekolah karena nilai yang memuaskan, artis-artis cilik dan remaja, bahkan ada beberapa anak pejabat juga yang bersekolah di tempat ini. Walaupun demikian, tetap saja Dewi beranggapan bahwa dimanapun tempat kita bersekolah tidak menentukan kualitas dan kepintaran seseorang. Karena toh kemampuan dan kepintaran itu sebenarnya tergantug dari niat siswa itu sendiri untuk belajar. Percuma saja bersekolah di tempat yang elit kalau ternyata yang dilakukan hanyalah berdandan, membuang waktu di kantin, bahkan tidur di dalam kelas. Seperti tidak bisa tidur saja di rumahnya sendiri. Mawar kembali duduk di samping Dewi dengan senyumnya yang manis. Dewi berpikir sejenak saat melihat Mawar yang sedang tersenyum kepadanya. Mungkin inilah yang membuat Tomi sampai jatuh hati pada Mawar. Karena selain cantik dan memiliki senyum yang manis, Mawar juga mempunyai segudang prestasi dengan segala keramahtamahannya. Ah.. jika dibandingkan dengan Mawar, aku sih gak ada apa-apanya. Cuma menang terkenal doang, sementara temen aja gak punya. Eh…Punya sih, tapi cuma satu doang. Hehehe…. Dewi melamun dan mentap Mawar dengan senyum-senyum sendiri dan hal itu berhasil membuat Mawar jadi bergidik ngeri. “Woi, loe kenapa senyum-senyum sendiri? Dah gila ya?” Mawar mengguncang bahu Dewi dan sontak langsung membangunkan Dewi dari lamunannya tadi. “Kenapa War?” tanya Dewi heran. “Loe… loe suka sama gue ya?” “What???? Yang bener aja dong War. Masa gue suka sama loe. Walaupun gue gak punya cowok, tapi gue najis bila harus pacaran sama loe. Idih, mau jadi apa masa depan gue nanti kalau gue sampai suka sama loe?” Dewi memalingkan wajahnya dari Mawar dan Mawar pun kembali tertawa mendengar jawaban temannya itu. “Hahaha… Dewi Dewi. Gue cuma bercanda kale. Gak usah dipikirin sampai sejauh itu. Loe sih, ngeliat gue pakek senyum-senyum segala. Gue kan jadi curiga. Hmmm…. mendingan loe cepet-cepet ketemu deh sama si Eza. Gue takut entar loe malah menyimpang pula. Hahaha….” Ejek Mawar. “Ihhh… loe itu kurang ajar banget sih War. Masa iya loe doain temen loe sendiri supaya menyimpang. Huuhh…. Temen macem apa sih loe?” Dewi bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas. “Heh Dew, loe mau kemana? Jumpain si Eza? Masih lama keles. Udah sini aja sama gue.” Mawar mengejar Dewi dan menarik tangannya sementara Dewi memandang kesal kearah Mawar dan membuat Mawar terkekeh melihat pandangan mematikan dari Dewi. “Males gue sama loe. Ngejekin gue mulu. Udah mendingan loe ngegosip aja sana sama si Rina. Dia kan sahabat loe yang paling cantik dan paling baiikkk sedunia. Gue mau cabut dulu ok.” Dewi melepaskan tangan Mawar yang memegangnya lalu kembali berjalan dengan santai. “Loe mau kemana sih Dew?” Tanya Mawar yang masih penasaran melihat temannya yang aneh ini. “Perpus. Loe mau ikut?” Jawab Dewi tanpa berbalik dan terus berjalan menjauhi Mawar yang mulai menjadi patung saat mendengar kata “Perpus” itu dengan pelan. “Gak ah. Loe aja sana. O ya, jangan lupa nanti jam 10.00 WIB.” “Iya” Kata Dewi yang sudah semakin jauh melangkah dan mulai menghilang di belokan koridor. Mawar tak heran lagi jika melihat Dewi pergi ke perpustakaan, namun terdapat sedikit kejanggalan di hati Mawar saat membiarkan Dewi pergi ke perpustakaan. Ia takut kalau Dewi bisa-bisa melupakan temu janjinya dengan Eza karena keasyikan membaca buku. Ya, Dewi memang terlalu banyak menghayal saat membaca buku. Kalau ditanya, ia selalu menjawab agar bisa memahami isi buku, maka kita harus bisa menghayalkan apa yang ada di buku itu dan masuk ke dalam cerita ataupun topik yang dibahas dalam buku tersebut. Hal itu selalu membuat Dewi menjadi lupa akan dunianya yang nyata. Tapi rasanya kali ini Dewi tidak akan mungkin melupakan hal itu. Toh, kan dia yang sedari tadi sibuk memikirkan pertemuan itu. Mawar kembali masuk ke kelas dan duduk manis sambil memainkan ponselnya untuk ber-chatting-an dengan Tomi. Dewi berjalan menyusuri koridor lantai 2 di gedung B, tak lama ia melihat tulisan diatas pintu ruangan yang bertuliskan “PERPUSTAKAAN”, lalu ia masuk begitu saja dan mulai menyusuri area rak buku yang terbilang cukup banyak dan lengkap ini. Jika dilihat-lihat, sepertinya ada lebih dari 10.000 buku yang ada di perpustakaan ini. Maklum saja, sekolah ini kan cukup elit, jadi wajar saja apabila fasilitasnya juga sangat lengkap. Namun sungguh sangat di sayangkan, area ini mungkin hanya di penuhi oleh 10 orang saja. Tentu saja, walaupun memiiki perpustakaan yang lengkap, namun para siswa lebih mengandalkan media internet yang lebih praktis dan langsung menyuguhkan informasi yang dibutuhkan oleh siswa tersebut daripada menggunakan jasa perpustakaan. Tapi tak mengapa bagi Dewi, ia justru merasa senang karena tak perlu berada dalam keramaian dan berpikir bahwa ia akan lebih leluasa dalam memahami inti buku yang akan dibacanya di dalam perpustakaan ini. Saat sampai di ruang baca yang berada di sebelah ruang buku namun masih dalam satu lingkup ruang perpustakaan, Dewi melihat cukup banyak orang yang melakukan aktifitasnya disini, ada yang membaca buku, menulis sesuatu, bermain laptop, sibuk dengan ponsel, mengerjakan tugas-tugas sekolah dan jangan lupakan yang satu ini, tidur. Ya, ruang yang satu ini memang cukup banyak diminati siswa, tak tahu mengapa. Mungkin karena di ruang ini tiak ada guru pengawasnya yang setiap saat selalu memantau siswa layaknya sebuah CCTV saja, walaupun sebenarnya ruangan ini juga memilki CCTV di bagian sudut atas ruangan. Hampir semua ruang di sekolah ini memiliki CCTV, kecuali kamar mandi. Bahkan setiap ruang kelas juga dipasang agar para siswa tidak menyontek saat ujian. Namun rasanya percuma saja memasang CCTV. Toh siswanya lebih pintar dari CCTV nya sehingga dapat dengan mudah memanipulasi tindakannya saat ujian. Sungguh sesuatu yang tidak dapat disimpulkan apakah harus bangga dengan kemampuan siswanya yang pintar mengeles atau harus malu karena sudah melakukan tindakan yang tidak terpuji ini. Dewi kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang baca dan berhenti di meja sudut ruangan itu, meletakkan 2 buku diatas meja, menggeser kursi lalu mendudukinya dan ia pun siap untuk kembali menghayal di dalam dunia bukunya.


__ADS_2