
Siang itu Dewi pulang bersama Mawar dan Tomi karena Pak Tarjo sedang kurang sehat. Awalnya Pak Tarjo menolak untuk tidak menjemput Dewi karena ingin menjalani kewajibannya dengan baik, namun bukan Dewi namanya jika tidak bisa membuat Pak Tarjo setuju dengannya. Dengan beralasan akan pulang dengan Mawar, maka Pak Tarjo jadi lebih tenang karena pasti Mawar akan menjaganya.
Dewi sangat menyayangi setiap anggota keluarganya, termasuk Bi Inem dan Pak Tarjo. Mereka sudah seperti orangtua angkat Dewi karena merekalah yang selalu menjaga Dewi disaat orangtuanya ada ataupun tidak ada dirumah. Lagipula, setelah menikah cukup lama, mereka masih belum mempunyai anak, itu sebabnya Dewi sudah dianggap seperti anak sendiri oleh mereka. Dan seperti janjinya saat ini, Dewi sedang duduk di belakang sambil menyaksikan gurauan-gurauan manja ala Mawar dan Tomi yang membuatnya muak dan merasa seperti obat nyamuk. Bahkan beberapa kali mereka membawa-bawa Reza dalam candaannya hingga membuat Dewi menjadi kesal.
Dewi langsung berlari menuju kamarnya begitu keluar dari mobil tanpa menghiraukan panggilan Tomi dan Mawar yang masih meledeknya. Hari ini sepertinya hari yang cukup melelahkan bagi Dewi, namun juga membuatnya sangat senang karena nilai ujian bulanannya menunjukkan hasil yang memuaskan. Dan hari yang indah itu langsung berganti buruk begitu saja karena suara deringan smartphone Dewi yang menampilkan kontak dengan nama “Pak Wiryasono”. Lagi-lagi dia kembali mempertanyakan tentang lagu baru Dewi yang masih tak kunjung selesai jua. Tapi mau bagaimana lagi, Dewi masih mencari inspirasi lagunya yang saat ini entah berada dimana. Jadi dengan susah payah Dewi berusaha memberikan alasan-alasan terbaiknya yang tentu saja berakhir dengan Omelan Pak Wiryasono. Beginilah nasib Dewi sang pencari inspirasi.
***
Sore itu Dewi tampil sangat cantik, dengan gaun biru muda selutut, dan juga tas selempang berwarna hitam yang sangat sederhana namun terkesan manis.
Dia sudah berdiri di depan rumahnya sambil menunggu kedatangan Reza yang segera sampai saat itu juga. Ya, seperti itulah Reza yang selalu tepat waktu dan tak pernah melanggar janjinya. Benar-benar orang yang berprinsip.
Dewi segera masuk ke dalam mobil setelah Reza memberinya aba-aba. Dewi memasang sabuk pengaman dan menatap Reza yang sedari tadi memperhatikannya.
Cantik... itulah kata yang tepat untuk mengekspresikan penampilan Dewi hari ini. Jika dibandingkan penampilannya saat kencan pertama mereka, maka penampilannya kali ini sangatlah pas untuk kencan.
Reza yang sadar dari lamunannya segera menoleh kedepan dan menghidupkan mobilnya. "Hmm... sekarang kita mau kemana, tuan putri?"
Dewi mengernyitkan dahi melihat kelakuan Reza yang benar-benar tidak masuk akal. Sejak kapan dia menjadi 'tuan putri'? Dan apa-apaan ekspresi dinginnya itu? Dasar aneh. Karena Dewi masih tak menjawab pertanyaannya, Reza pun segera berbalik dan menatap Dewi dengan tajam.
"Dewi, jangan bilang kalau kamu belum menentukan tempat kencan kita yang kedua."
"A-aku sudah tahu tempat tujuan kita. Ini." Dewi menyerahkan smartphone-nya yang berisi alamat tempat manggungnya yang dikirim Adrian beberapa hari lalu.
Reza sedikit menernyitkan dahinya saat membaca alamat itu. "Kamu yakin ini alamatnya?"
Dewi menganggukkan kepalanya dengan yakin yang membuat Reza menaikan sebelah alisnya sambil menatap Dewi lekat-lekat. Gugup, satu kata yang tepat untuk mengekspresikan Dewi saat ini. Dewi menelan salivanya karena Reza menatapnya dengan sangat intens.
Saat wajah mereka sudah sangat dekat, tiba-tiba Reza kembali duduk tenang dan menjalankan mobilnya tanpa memandang lagi ke arah Dewi yang tengah terperangah dengan tingkahnya.
Saat kesadaran Dewi kembali pulih ia langsung mengeluarkan ekspresi marahnya untuk mengintimidasi Reza. "Kenapa kamu melakukan itu?"
"Apa?" Jawab Reza dengan datar tanpa memandang Dewi. Dewi yang kesal pun segera menghela napas untuk menahan emosinya. Sungguh pemuda itu benar-benar menyebalkan jika sudah berkata dingin.
"Mendekatiku... Kenapa kamu masih saja mendekatiku walau kita sudah membuat perjanjian?"
Reza melirik sekilas kearah Dewi lalu kembali fokus ke jalanan. "Aku hanya mendekatimu, tidak menyentuhmu. Lagipula perjanjiannya adalah tidak ada sentuhan, bukan kedekatan. Jadi ingat itu baik - baik tuan putri."
"Aku bukan tuan putri. Kenapa kamu suka sekali memanggilku begitu?" Reza tak mempedulikan Dewi sama sekali dan tetap fokus menyetir.
Melihat Dewi menghela napas membuat senyum kecil muncul di bibir Reza. "Bagaimana bukan tuan putri? Kamu bahkan sangat cantik saat sedang kesal." gumam Reza dalam hati.
"Aku memanggilmu tuan putri karena sikapmu yang suka menyuruh-nyuruh dan suka mengaturku seakan-akan aku ini pelayanmu saja."
Dewi hanya terperangah mendengar kata-kata itu yang membuatnya merasa aneh sekaligus bersalah. "Maaf..." hanya itu yang bisa Dewi ungkapkan tanpa memandang Reza yang menatapnya sesekali bergantian ke depan dan spion samping mobil.
"Maaf?" Reza masih sibuk memperhatikan spion mobilnya sementara Dewi tampak menyesali sesuatu.
"Ya, maaf...." Reza menghentikan mobilnya karena saat itu sedang lampu merah di persimpangan dan langsung menghadap Dewi. "Untuk apa kamu minta maaf?"
"Aku minta maaf karena sudah memperlakukan pangeran seperti pelayan." Dewi memutar bola matanya dan menghadap keluar jendela mobil.
Oh betapa bodohnya ia karena sudah mengatakan itu. Terlebih lagi Reza yang terus tertawa mengejeknya seakan menambah rasa malunya saja.
"Dew..." Dewi berbalik menatap Reza, dan alangkah terkejutnya Dewi melihat Reza yang memegang kedua telinganya dengan wajah yang imut.
"Sorry Dewi, please jangan marah sama aku. Jujur saja, aku sangat tidak suka saat kita bertengkar. Jadi lebih baik aku yang mengalah."
"Apaan sih Za? Kamu gak perlu minta maaf." Dewi menurunkan tangan Reza yang masih setia di telinganya.
"Jadi berangkat sekarang?" "Tentu". Reza segera menjalankan mobilnya karena saat ini lampu lalu lintas sudah berwarna hijau.
Dewi dan Reza menyusuri sepanjang jalan setapak yang semakin lama semakin sempit hingga mobil yang mereka naiki tidak muat lagi untuk terus berjalan.
"Dew, kamu yakin mau kencan di tempat seperti ini? Mobil kita gak bisa masuk lagi nih."
"Iya, hmm gimana kalau kamu parkir dulu mobilnya?" Reza melihat ke sekitar untuk mencari tempat yang cocok untuk parkir sementara Dewi terus sibuk dengan smartphone-nya hingga tanpa sadar Reza sudah memarkirkan mobil dan membuka pintu penumpang untuk Dewi.
__ADS_1
"Ayo." Dewi pun segera turun dari mobil dan melihat Reza yang sedang tersenyum geli padanya.
"Ada apa Za? Ada yang aneh ya dengan ku?" Dewi menunduk untuk memperhatikan tubuhnya, sepertinya tidak ada yang aneh. Apa jangan-jangan Reza sedang mengerjainya?
"Gak kok Dew, aku cuma geli aja pas ingat apa yang kamu pakai saat kencan pertama kita. Kamu yakin gak mau pakai itu hari ini? Cuacanya kan sedang terik." Reza berusaha menyembunyikan cengirannya agar Dewi tidak marah padanya. Namun percuma saja karena Dewi sepertinya bisa mengerti semua maksud dari senyum yang tertahan itu.
"Aku tak perlu menggunakannya sekarang karena ini adalah perkampungan, lagipula aku tidak terkenal disini. Jadi pakaianku bisa lebih bebas disini." Dewi berjalan diikuti oleh Reza yang menggerutu tak jelas dalam hati mengenai kata "terkenal" yang Dewi ucapkan.
Semakin lama jalan yang ditempuh semakin lebar hingga membuat Reza menjadi kesal. "Kamu kenapa Za? Kok wajahnya kesal?"
Dia hanya menghela napas singkat sambil terus berjalan. "Harusnya tadi kita cari jalan memutar saja kalau tahu ternyata tempatnya punya jalan yang lebar seperti ini."
"Justru disitulah letak kesenangannya Za. Aku jadi merasa lebih bebas saat berjalan disini. Lebih baik kamu coba nikmati saja perjalanannya." Dewi tertawa dengan lepas dan membuat perhatian Reza jadi tertarik untuk terus melihat Dewi yang menjadi sangat cantik saat sedang tertawa lepas.
Cukup lama dia tertawa dan tanpa sadar sebuah senyum kecil di wajah Reza membuat Dewi terhenti dari tawanya dan sedikit menjadi merah pada pipinya. Tatapan mata yang begitu intens seakan menghipnotis Dewi untuk terus menatap Reza saat sedang berjalan. Perlahan Reza mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Dewi, tapi niatnya terhenti karena mengingat perjanjian bodoh itu. Tatapan sendu langsung menghiasi mata Reza hingga membuat Dewi sadar dengan pergerakan Reza.
Dewi tersenyum kecil dan menggenggam tangan Reza hingga membuat pemuda itu terkejut namun langsung tersenyum senang karena sepertinya Dewi sudah mulai mengerti arti dari setiap ekspresinya yang sangat menginginkan Dewi.
Cukup jauh jarak yang ditempuh keduanya sambil bergandengan tangan, hingga terdengar panggilan dari anak kecil yang menghentikan langkah keduanya.
“Kak Dewi…” Dewi segera berbalik dan melihat siapa orang yang tengah memanggilnya.
"Waah sepertinya benar… Kakak Dewi Sartika Evander, kan?" Senyum anak perempuan yang sepertinya berumur 11 tahunan. Dewi terkejut karena ternyata ada orang yang mengenalinya disini. Namun Dewi tetap berusaha terlihat ramah seperti biasanya.
Sementara Reza benar - benar bingung karena ia bahkan tidak mengetahui nama lengkap Dewi hingga saat ini, lalu bagaimana bisa anak itu mengenalinya?
"Ya, kamu benar sekali dik. Bagaimana bisa kamu mengenali kakak?" Tanya Dewi dengan senyum manisnya.
"Itu." Anak itu menunjuk ke arah spanduk besar yang berisikan info konser amal Dewi yang lengkap dengan foto Dewi yang sangat cantik.
Reza yang melihat spanduk itu pun langsung membuka mulutnya tak menyangka dengan apa yang baru saja diketahuinya. Ternyata benar Dewi itu seorang penyanyi terkenal. Bagaimana bisa dia begitu bodoh hingga tidak percaya pada kata-kata Dewi sebelumnya tentang jati diri dan sejuta alasan manggungnya. Ya ampun benar-benar memalukan sekali.
Reza segera mengatur kembali ekspresi datarnya yang seakan-akan membuatnya sudah mengetahui hal ini sebelumnya.
Dewi sedang asyik berbicara dengan anak itu dan tak lama kemudian terlihat seorang remaja laki-laki yang terlihat terkejut saat melihat mereka, sebenarnya Dewi. Dia langsung berlari mendekati Dewi dan menjabat tangannya.
"Jadi ini abang kamu ya?" Dewi kembali bersikap ramah dengan anak-anak itu. Sejenak terbersit rasa hangat yang menjalari hati Reza saat melihat Dewi yang begitu penuh kasih sayang terhadap anak-anak.
Reza hanya bisa mengagumi Dewi dalam hati "Benar-benar calon istri idaman." gumamnya. Reza tersenyum saat Dewi kembali berjalan menghampirinya.
"Apa itu pacar kakak?" Tanya anak perempuan itu tiba-tiba hingga membuat Dewi terkejut dan jadi merona. "Tid..."
"Tentu saja adik manis." Dewi memandang Reza dengan sedikit marah. Bisa-bisanya Reza mengatakan itu di depan anak-anak kecil. Bagaimana kalau mereka mengatakan pada orang lain dan lalu gossip menyebar luas dengan cepat?
Dewi hanya bisa menghela napas singkat dan berusaha meralat perkataan Reza. Mudah-mudahan mereka percaya padaku. "Dia bukan pacar kakak. Kami hanya... berteman. Teman baik. Benarkan Za?"
Dewi memelototi Reza yang terkekeh ringan. Tapi bukannya menjawab, dia malah mendekati anak perempuan yang bernama Dini itu dan berlutut sambil mengelus puncak kepalanya seperti yang dilakukan Dewi tadi.
Lalu tanpa diduga, dia membisikkan sesuatu pada Dini hingga membuat Dewi dan Ari, abangnya Dini saling menatap tanpa bicara, namun sangat jelas pertanyaan yang tersirat dalam hati keduanya, Apa yang dikatakan Reza pada Dini?
Sekilas senyum muncul di wajah Dini lalu dia kembali membisikkan sesuatu pada Reza, memeluk Dewi singkat dan mengajak Ari untuk pergi dari situ segera.
"Ayo Dew, kamu mau disitu terus sampai pagi?" Reza mulai berjalan diikuti Dewi yang masih memiliki seribu pertanyaan dalam pikirannya.
"Za, kamu bilang apa tadi ke Dini? Kok dia senyum-senyum pas kamu bisikkin?" Reza terus berjalan sambil tersenyum hingga membuat Dewi kesal dan secara refleks menarik tangan Reza dan menggenggamnya erat.
"Ayo dong Za, kamu mau aku jadi penasaran terus?" Reza terkekeh melihat Dewi yang bersikap manja seperti ini. Rasa-rasanya baru kali ini Dewi terlihat sangat-sangat manis dengan puppy eyes-nya.
"Oke aku akan kasih tau tapi ada syaratnya." Dewi segera melepas tangannya karena menyadari sifat manjanya yang muncul begitu saja tanpa diundang.
Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu pada Reza. Ahh pasti ini semua karena rasa penasaran itu. Dewi selalu bisa kehilangan kendali jika sudah menyangkut tentang penasaran. Bahkan hal itu jugalah yang telah membuatnya memulai semua ide gila ini untuk mencari inspirasi. Dan lihatlah sekarang bagaimana Dewi sudah terjebak begitu jauh dengan Reza dalam permainan yang ia buat sendiri.
"Dew..." Reza melambaikan tangannya di depan wajah Dewi hingga membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Y- ya, katakan saja syaratnya, akan ku pertimbangkan keputusanku setelah mendengar syaratnya dulu."
Reza menampilkan wajah kesalnya. "Ahh gak seru nih. Masa harus dipertimbangkan segala."
__ADS_1
"Ya harus dong. Entar kalau syaratnya macam-macam kan bisa repot urusannya. Apa jangan-jangan dugaan aku bener ya?"
Merasa tersudutkan, Reza menampilkan kemampuan aktingnya dengan memasang muka datar yang dingin, namun sangat menarik. "Ngapain aku macam - macam sama kamu, yang ada ntar aku yang rugi."
Reza berjalan begitu saja meninggalkan Dewi yang masih tercengang dengan perkataannya. "Ayo, nanti telat loh."
Dewi mengerucutkan bibirnya dan ikut berjalan di belakang Reza yang tersenyum senang melihat tingkah Dewi yang kekanakan. Sangat berbanding terbalik dengan sikapnya selama ini saat di sekolah yang selalu menjaga image di mata masyarakat dengan bersikap datar namun tetap sopan.
"Za, ayo dong katakan semua yang kamu bilang ke Dini tadi... aku penasaran banget nih. Ntar aku jadi gak konsen ke kerjaan Za. Kamu mau aku jadi stress gara-gara kamu?"
Reza berhenti tiba-tiba hingga membuat Dewi menabrak punggungnya dari belakang. Hampir saja Dewi terjatuh namun tangan Reza menarik kuat tangan Dewi agar tak terjatuh dan mendekat kearahnya, sontak jantung Dewi berdetak kencang dengan napas yang terengah-engah karena terkejut dengan kejadian yang dialaminya sesaat yang lalu.
Sementara Reza terlihat sangat tenang walau tak dapat dipungkiri kalau jantungnya juga tak kalah cepat berdetak melawan detak jantung Dewi yang dapat dirasakannya lewat nadi Dewi yang digenggamnya kuat saat ini.
Sadar karena sudah melewati batas, Reza segera melepas genggamannya dan menatap Dewi untuk melihat reaksi apa yang akan Dewi berikan padanya. Dewi mulai terlihat tenang dengan menutup kedua matanya dan menarik napasnya dalam-dalam, dan saat membuka mata, wajah panik Reza adalah hal pertama yang terlihat oleh Dewi.
"Kamu gak apa-apa, Dew?" Dewi menggeleng cepat dan memegang lengan Reza dengan kuat untuk melampiaskan rasa terkejut sekaligus takut dalam dirinya. Sementara Reza hanya bisa tersenyum senang dengan tingkah Dewi saat ini.
Bagaimana tidak, saat ini Dewi sedang bergelayut manja di lengan Reza layaknya seorang kekasih saja. Tanpa sadar, Reza malah terkekeh pelan yang langsung membuat Dewi tersadar akan sikapnya yang sudah sangat BERLEBIHAN.
Dewi segera melepas tangan Reza dan berjalan didepan Reza untuk menutupi wajah malunya saat ini. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu pada Reza, padahal kejadian tadi tidak terlalu mengerikan jika dibandingkan kejadian 5 tahun lalu.
Saat itu Dewi sedang berjalan bersama dengan ayahnya, karena Dewi anak yang pemalu, jadi dia berjalan dibelakang ayahnya. Tiba-tiba, ayahnya berhenti mendadak karena smartphone-nya yang berdering, hingga Dewi menabrak punggung ayahnya yang membuatnya terjungkal ke belakang dan terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan.
Akibatnya, kepala Dewi terbentur batu dan harus mendapat 3 jahitan di pelipisnya. Hal itu juga yang membuatnya trauma sampai saat ini jika menabrak seseorang dari belakang.
"Tunggu Dewi..." Reza segera mensejajarkan langkah kakinya dengan Dewi dan menatap wajah Dewi yang terlihat sedikit pucat. "Kamu yakin kamu baik-baik saja? Wajah kamu pucat banget lho."
"Aku gak apa - apa kok Za, cuma sedikit terkejut aja karena kejadian tadi." Reza hanya mengangguk dan kembali melangkah hingga pandangan matanya tertuju ke arah panggung besar yang terbuat dari ukiran kayu berwarna cokelat.
"Dew, itu tempatnya?" Reza mengacungkan jari telunjuknya untuk menunjukkan tempat yang sangat indah itu jika dibandingkan kawasan kumuh tempat mereka berjalan saat ini.
"Hmm... sepertinya memang itu tempatnya. Ayo Za..." Dewi menarik pelan tangan Reza mendekati panggung yang sedang dihias oleh beberapa pekerja dengan seragam yang sama.
Mereka melewatinya dan memasuki sebuah pintu di belakang panggung yang cukup megah itu. Terlihat sangat padat di dalam sini. Semua orang berkumpul dengan pakaian kerja yang beragam. Dewi melepas tangan Reza dan celingak-celinguk seperti sedang mencari seseorang.
Lalu Dewi mengeluarkan smartphone dari saku gaunnya dan menelepon orang tersebut. Deringan smartphone terdengar semakin dekat dari tempat mereka berdiri dan tak lama, muncul pria jangkung yang sangat tampan yang langsung menjabat tangan Dewi saat itu juga, hingga membuat Reza menjadi kesal dan menggerutu dalam hatinya. "Apa cuma aku saja yang dilarang menyentuhnya? Dasar menyebalkan."
Dewi menatap Reza sekilas dan mengkodenya untuk mendekat. "Za, ini kak Adrian, manajerku." Lalu Dewi menghadap Adrian, "Ini Reza..."
"Pacarnya Dewi." Reza menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Adrian, sementara Dewi hanya bisa melotot mendengar perkataan Reza yang sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia bilang begitu di tengah keramaian ini? Bagaimana kalau ada orang yang mendengar lalu menyebar gossip?
"Hahaha, teman loe ini punya selera humor yang bagus ya, Dew." Adrian menepuk pelan bahu Reza, kembali tertawa dan berjalan menuju salah satu ruang lain yang mungkin akan menjadi ruang tata rias nantinya.
Reza hanya menatap Adrian sinis dari belakang sambil mengikuti langkah dua orang yang ada di depannya.
Dewi duduk di salah satu kursi diikuti oleh Reza dan juga Adrian yang duduk di sisi kiri dan kanannya.
"Jadi gimana Dewi? Apa tempatnya sudah sesuai? Atau masih ada yang mau loe tambahin lagi?" Reza menaikkan sebelah alisnya dan memandang heran pada Dewi yang masih sibuk melihat sekeliling tempat ini dari kursinya.
"Kayaknya sih semuanya sudah oke kak, hmm... tapi ada 1 hal yang ingin Dewi minta." Adrian mengernyitkan dahi dan menatap Dewi dengan horor.
Sungguh saat ini ingin sekali rasanya Dewi melemparkan tas yang dipakai ke wajah Adrian yang benar-benar menakutkan sekaligus menyebalkan.
"Jangan bilang kalau loe mau ngumumin pacar loe itu di depan umum pas konser." Alangkah terkejutnya Dewi dan juga Reza saat mendengar pernyataan itu.
Bukankah pria itu tidak percaya kalau Reza adalah pacar Dewi? Lalu mengapa dia bertanya hal seperti itu? Pasti benar-benar sulit untuk mengerti semua tentang pria itu.
"Astaga, kak, yang benar saja. aku sama Reza cuma berteman kok, gak lebih. Lagipula aku tahu setiap konsekuensinya, jadi tidak mungkin aku akan melakukan itu."
"Lalu apa yang kamu minta adik manisku?" Adrian mencubit pelan hidung Dewi yang langsung membuat Reza merasa cemburu tingkat tinggi.
Reza segera bangkit dari kursinya dan berjalan beberapa langkah menjauhi Dewi dan Adrian. Lalu ia duduk di salah satu kursi di sudut ruangan itu sambil sesekali memperhatikan dua orang yang sudah mirip seperti pasangan kekasih saja.
Entah mengapa rasanya terlihat aneh saat melihat mereka tertawa dan sesekali bicara serius tentang suatu hal. Bukannya ia tidak mau berada di samping Dewi terus, hanya saja rasanya pasti tidak sopan jika mendengar pembicaraan orang lain.
Selain itu, Reza juga berusaha menahan emosinya untuk tidak meninju pria yang telah berani terang-terangan menggoda Dewi di depan matanya dengan semua kata-kata yang mungkin saja akan membawa wanita-wanita terbang ke langit ketujuh, dengan catatan bukan untuk Dewi. Karena hanya Rezalah yang pantas membuat Dewi terbang ke langit ketujuh. Ya, hanya REZA ALDHINO NATHAN seorang.
__ADS_1