
Sementara itu, saat melihat ekspresi Reza yang datar, membuat Dewi benar-benar marah dan memutuskan untuk pergi ke kelas saja untuk menenangkan diri. Dewi pun bangkit dari tempat duduknya dan akan mulai berjalan meninggalkan Reza namun langkahnya langsung terhenti seketika saat ia merasa tangan kanannya ditarik oleh Reza. Ada rasa sesak dalam hati Dewi ketika ia merasa genggaman Reza yang tadinya kuat, kini semakin melemah seakan Reza ingin mengurungkan niatnya untuk menghalangi Dewi pergi dari situ.
Dewi berbalik dan melihat Reza yang sudah berdiri dihadapannya dengan tatapan mata yang sendu. Dewi benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. Seharusnya ia yang marah dan sedih karena perbuatan Reza, tapi kenapa malah Reza yang jadi sedih? Apa kata-kata yang ia ucapkan salah hingga membuat Reza jadi sedih? Atau Reza sedang memikirkan hal lain hingga membuatnya jadi begini? Dewi menghela napas lalu menatap Reza dengan penuh penyesalan. "Maaf Za, aku gak bermaksud untuk nyakitin kamu. Sebenarnya aku cuma kesal karena kamu gak menghargai usaha aku supaya bisa lebih dekat denganmu, hmm... maksudnya..." Dewi menjadi bingung tak tahu bagaimana menjelaskannya, hingga ia pun menjadi salah tingkah saat melihat Reza yang tersenyum ke arahnya. Dengan mengepalkan tangan kanannya Dewi berusaha untuk bersikap tenang. Melihat itu, Reza pun segera mengambil bungkusan yang ada di dekat bangku atap sekolah lalu menarik kepalan tangan Dewi dan langsung memberikan bungkusan itu di tangannya. "Ini... ini yang sejak tadi berusaha ku jelaskan padamu, tapi kamu malah jadi salah paham." Karena penasaran dengan sebab pertengkarannya dengan Reza, Dewi pun langsung melihat isi bungkusan itu dan ternyata isinya adalah 2 buah roti yang sama dengan yang Dewi beli di kantin dan 2 botol minuman teh rasa buah favorit Dewi. Entah apa yang ada di dalam pikiran Reza saat ini, karena senyuman kecil terukir indah diwajahya saat melihat wajah Dewi yang terlihat malu karena menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang bodoh. Tidak seharusnya Dewi marah tanpa mendengar penjelasan Reza terlebih dahulu. Ditambah lagi, ia malah mengatakan hal-hal yang mungkin telah menyakiti Reza. Sungguh, ini benar-benar memalukan sekali bagi Dewi karena telah bersikap kekanakan dan tidak mau mendengar penjelasan Reza. Kalau saja Reza tidak menariknya tadi, mungkin Dewi sudah berada di kelas dengan memendam kemarahan yang tak seharusnya diperdebatkan. Ia jadi merasa bersalah pada Reza karena tak mau mendengarkannya dulu. "Za, aku benar-benar minta maaf sama kamu. Harusnya aku mendengarkan penjelasan yang kamu coba jelasin, tapi... aku malah bersikap kekanakan dan tak mau mendengarkan kamu. Maaf ya. Padahal kamu sudah baik banget karena mau belikan sarapan buat aku, tapi yang kulakukan malah membuatmu sedih dan marah. Sekali lagi maaf..." "Sttt..." Omongan Dewi langsung terhenti ketika jari telunjuk Reza mendarat dibibirnya yang sepertinya tidak dapat berhenti bicara sejak tadi. Kini wajah yang terlihat bersalah itu telah berubah jadi sedikit merah merona karena malu dengan tindakan yang dilakukan Reza agar membuatnya berhenti bicara. "Sudah Dew, gak perlu minta maaf kok. Aku bisa mengerti dengan semua sikap yang kamu lakukan. Sebenarnya ini juga salah aku. Kalau saja aku bilang mau beli sarapan buat kita pasti kejadiaannya gak akan kayak gini. Dan kalau seandainya tadi aku langsung bilang yang sebenarnya pasti kamu gak akan salah paham dan marah kayak tadi."
__ADS_1
"Sudahlah, kok kita malah jadi maaf-maafan kayak gini? Lebaran kan masih jauh." Dewi tersenyum dan kembali duduk di bangku atap sekolah diikuti Reza yang duduk disebelahnya. Reza mulai membuka bungkusan plastik yang tadi diberikannya kemudian menatap isinya dengan ekspresi yang aneh. Dewi menjadi bingung dengan ekspresi Reza yang aneh ini. "Za, kamu kenapa? Kok aneh gitu tatapannya?" Reza melihat Dewi sekilas lalu melihat roti yang Dewi bawa. "Huuh rasanya sama dengan yang ku beli." Reza menunjukkan roti yang dibelinya kepada Dewi begitupun Dewi yang segera mengeluarkan 2 boah roti yang dibelinya di kantin. "Gimana dong Dew?" "Apanya yang gimana?" Dewi menatap Reza yang sepertinya terlihat gelisah. "Siapa yang akan menghabiskan semua ini?" Dewi memandang Reza dengan senyum jahilnya. "Hahaha... kamu gelisah cuma karena ini? Kita kan bisa makan bareng-bareng saja sampai habis." Reza kembali menatap kedua mata Dewi, "Kamu yakin mau menghabiskannya? Gak takut jadi gendut?" Reza memalingkan wajah dari Dewi sambil menahan senyum jahilnya, berharap Dewi akan merasa malu-malu, namun sepertinya hal itu tidak berpengaruh pada Dewi. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Za, bagiku gendut atau gak itu bukanlah hal yang penting. Kalau biasanya cewek-cewek pada diet karena ingin kurus, maka aku adalah kebalikannya. Hahaha..." Reza memandang Dewi dan mengelus puncak kepalanya. "Bagus Dew, aku juga gak terlalu suka cewek yang terlalu mementingkan penampilan fisik. Bagiku, seseorang dinilai dari hati dan perbuatannya, bukan penampilan yang baik atau buruk." Dewi membuka bungkusan plastik dan mengambil roti cokelat untuk diberikan kepada Reza. "Ini." "Kenapa kamu berikan kepadaku? Kamu berubah pikiran? Gak mau membantuku menghabiskannya?" Reza merasa bingung dengan sikap Dewi yang selalu berubah-ubah. Tiba-tiba Dewi meraih tangan Reza lalu meletakkan roti diatas telapak tangan Reza. "Mana roti cokelatmu? Berikan padaku!" Reza semakin bingung saja dibuat Dewi. "Hah, bukankah kita membeli roti yang sama? Lalu untuk apa kamu ingin menukarnya?" Dewi menghela napas lalu menatap Reza. "Kita kan harusnya sarapan bareng, tapi karena kesalahan kita semuanya harus ditanggung bersama. Tapi kita tetap tidak boleh melupakan niat awal masing-masing. Tadi aku berniat memberikanmu roti cokelat, jadi aku berikan padamu. Sekarang kamu harus berikan 1 rotimu untukku agar kita impas. "Hmm baiklah. Ini, kamu ambil juga yang rasa cokelat. Jadi kita sama-sama makan 1 roti cokelat dan 1 roti kacang merah." Dewi mengambil roti dari tangan Reza lalu mengambil 1 botol air mineral yang dibelinya untuk Reza. "Ini untukmu juga. Terimalah dan cepat habiskan sebelum bel berbunyi." Reza mengambil botol itu lalu memberikan minuman teh yang dibelinya untuk Dewi. "Ini Dew, kamu ambil juga." Dewi mengambil botol yang diberikan Reza lalu melihat Reza dengan tatapan tajam. Melihat itu Reza pun menjadi bingung. "Kenapa Dew? Kok kamu liatin aku kayak gitu sih? Ada yang salah ya?" Dewi memutar kedua bola matanya lalu menunjukkan botol yang ia ambil ke hadapan Reza. "Kamu memang beli ini?" "Iya." Reza langsung menjawab pertanyaan Dewi dengan cepat. "Untuk sarapan?" Dewi menaikkan alis kirinya dan menatap Reza yang terlihat gugup saat memandang mata Dewi yang memancarkan keseriusan dalam tatapannya. "I-iya. Memangnya kenapa Dew, kamu gak suka?" Reza mencoba mengambil botol itu dari Dewi, tapi Dewi segera menghalanginya. "Enggak kok, aku suka teh ini, tapi kalau untuk sarapan... rasanya pasti aneh, itu sebabnya aku hanya membeli air mineral untuk kita." Reza tersenyum lega karena ternyata dia memang tidak salah dalam menentukan kesukaan Dewi. "Ya ampun Dew, aku kira kamu gak suka sama teh botol. Huuh... lagipula bukannya roti itu temannya teh? Makanya aku beliin teh untuk sarapan. Tapi itu terserah kamu, kalau mau diminum sekarang atau nanti. Yang penting kamu sudah menerimanya." Dewi pun menyimpan minuman teh di dalam tasnya dan mulai memakan roti yang diberikan Reza. "Ayo cepat Za, nanti keburu bel nih." Dewi melihat jamnya yang menunjukkan jam 07.13 dan mencoba mempercepat kunyahannya. "Dewi, santai saja makannya. Ini masih belum terlambat, lagipula nanti kamu bisa tersedak kalau terlalu terburu-buru." Tanpa menjawab Reza, Dewi terus saja makan dengan cepat. Reza yang tadinya tenang kini mulai kesal dengan tingkah Dewi yang tidak memperdulikannya.
"Dewi..." Reza meraih tangan Dewi yang memegang roti cokelat dan menahannya sejenak agar Dewi bisa menghentikan kunyahannya dan bisa memperhatikan Reza saat bicara. Dewi pun menjadi diam terpaku dengan detak jantung yang tak menentu saat memandang kedua mata Reza yang mencoba menjelaskan sesuatu yang tak dimengerti Dewi. Cukup lama mereka memandang dalam keheningan pagi, hingga Reza tersadar dan melepas pegangannya pada Dewi. "Sekarang kamu boleh lanjut makan lagi, tapi ingat.... jangan terburu-buru. Mengerti?" Dewi menganggukkan kepalanya tanda setuju dan mulai makan kembali dengan lebih pelan. Melihat ekspresi Dewi saat ini benar-benar membuat Reza merasa sangat geli karena ia mirip sekali seperti anak kecil yang manja yang baru saja selesai dimarahi karena berbuat nakal. Reza memalingkan wajahnya dari Dewi dan tersenyum singkat sambil kembali memakan rotinya dengan santai. "Dew, nanti sore kamu sibuk gak?" Reza menatap Dewi yang terlihat sedang berpikir. "Dew..." "Hmm... sepertinya hari ini aku ada acara Za." Reza menghela napas sejenak dan mulai menatap Dewi kembali dengan serius. "Kalau besok sore gimana? Bisa gak kita jalan-jalan bareng?" "Maaf Za, besok aku manggung, jadi gak bisa." Reza terdiam dan mulai bergumam dalam pikirannya, "Apa ini? Aku sudah merendahkan diriku untuk mengajaknya jalan-jalan tapi dia malah menolak dengan alasan yang aneh seperti ini. Tidak bisa dibiarkan. Lihat saja nanti kalau dia mengajakku aku tidak akan mau." Sementara itu Dewi yang sudah menghabiskan kedua rotinya langsung membuka tutup botol air mineralnya dan langsung meminumnya sedikit. "Kamu boleh nolak aku kok Dew, tapi harusnya kamu bisa kasih alasan yang lebih masuk akal. Ini bukan permainan seperti yang kamu pikirkan. Aku serius dengan semua ini." Ada ekspresi kecewa yang benar-benar terlihat jelas di wajah Reza. Dewi pun jadi merasa bersalah karena menolak ajakan Reza, namun ia juga bingung dengan apa yang Reza katakan. Dewi pun tenggelam dalam lamunannya. "Alasan yang masuk akal? Apa menurutnya aku sedang berbohong saat ini? Tapi ini bukan kebohongan. Permainan? Dia kira aku sedang bermain-main? Bagaimana bisa dia berpikiran seperti itu? Sebaiknya aku jelaskan saja semuanya agar dia tidak salah paham dan berpikiran yang tidak-tidak tentang aku." Dewi pun menatap Reza degan wajah yang memelas. "Za, aku benar-benar sibuk saat ini, tapi kalau kamu gak keberatan 2 hari lagi aku gak sibuk kok." Dewi tersenyum kepada Reza yang sedang minum teh favoritnya itu. "Terserah kamu Dew, kalau kamu memang gak mau jangan dipaksa, entar malah jadi masalah buat kamu. Lagipula kan kamu mau manggung, mendingan kamu persiapkan diri saja untuk itu." Reza menepuk bahu kiri Dewi dengan tangan kanannya. Ada raut wajah yang benar-benar tidak bisa Dewi mengerti dari pemuda itu. Dia tersenyum, namun nada bicaranya benar-benar sinis dengan mata yang memancarkan rasa kecewa. Dewi tidak tahu harus berbuat apa lagi saat itu. Semua terasa membingungkan untuknya. Dia berikir dalam keheningan yang tercipta antara mereka. Di satu sisi, dia merasa bersalah terhadap kekecewaan Reza. Namun di sisi lain, dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja hanya untuk menemui Reza. Lagipula, Rezalah yang seharusnya mendukung dia saat ini karena ia mengetahui profesinya saat ini benar-benar penting. Saat ini dia bahkan bersedia mengajarkannya arti cinta untuk membuat lagu yang nantinya juga akan dinyanyikan saat manggung. Lalu kenapa dia harus marah? Dia kan tahu penyanyi itu pasti punya jadwal yang padat. Harusnya dia bisa mengerti.
__ADS_1
Pikiran dan hati Dewi terus bergelut karena hatinya yang tak pernah bisa senang saat melihat kekecewaan itu di mata Reza. Rasanya ia ingin membatalkan acara manggungnya lalu pergi jalan-jalan dengan Reza. Namun apa dayanya, karena ia merupakan anak yang bertanggung jawab sehingga ia memutuskan harus tetap manggung, namun ia juga ingin tetap bisa jalan-jalan juga dengan Reza. "Za, kamu marah sama aku?" Dewi bertanya dengan sangat berhati-hati karena takut Reza akan bertambah marah dengannya. "Gak. Buat apa aku marah sama kamu? Lagipula, semua ini tidak ada untungnya buat aku. Kan kamu yang ingin belajar tentang cinta. Kalau kamu memang gak niat seharusnya jangan libatkan aku dalam hal ini." Reza memalingkan wajahnya dari Dewi karena takut kemarahannya berubah saat melihat wajah Dewi yang mungkin terlihat sedih saat ini. "Tuh kan, kamu pasti marah. Aku bukannya gak mau jalan-jalan sama kamu. Tapi kan kamu juga harus mengerti kalau aku memang sangat sibuk selama 2 hari ini. Seharusnya sebagai laki-laki kamu itu harus lebih bisa bijaksana dalam memahami apa yang aku rasakan saat ini, bukannya malah mengancam dengan hal-hal yang semakin membuatku merasa lebih tertekan. Aku benar-benar punya banyak masalah akhir-akhir ini. Seharusnya kamu itu me....." Dewi terdiam karena Reza meletakkan jari telunjuknya lagi di bibir Dewi. Ada rasa keheningan yang sangat luar biasa diantara keduanya. Mata yang saling memandang berusaha mengungkapkan isi dalam hati masing-masing. Detak jantung yang tak menentu seakan menjadi irama musik romantis di pagi hari. Terlihat sebelah mata Dewi mulai penuh dengan genangan air mata yang segera menyadarkan Reza dari lamunannya itu. "Dew, aku mengerti. Aku gak akan menambah masalah kamu lagi. Kalau memang kamu gak bisa jalan sama aku besok atau lusa gak apa-apa. Aku juga gak akan pernah berusaha mengancam kamu ataupun membuat kamu merasa tertekan. Kapan kamu bilang kamu bisa ketemu aku?" "Dua hari lagi." Dewi mulai menaikkan tatapan matanya yang menunduk agar bisa memandang Reza dengan benar. "Ya, dua hari lagi. Kita akan ketemu dan jalan-jalan bareng dua hari lagi. Dan aku akan membuat kamu terus tersenyum karena aku gak suka kalau melihat kamu menangis. Jadi, jangan pernah melakukannya saat bersamaku."
"Ayo jawab Dew," lamunan Dewi terhenti karena perkataan Reza, dengan sedikit menahan emosi hatinya yang tak menentu Dewi pun mencoba menjawab Reza. "I-itu pasti cuma keringat Za, tangan kamu pasti berkeringat karena cuaca. Iya karena cuaca." Dewi memandang keadaan sekitar dan menyadari kalau cuaca masih belum panas. Pasti Reza akan menganggapnya berbohong untuk menutupi sesuatu. "Dew, aku bukan orang bodoh yang bisa kamu bohongi dengan mudah. Tapi kalau kamu gak mau jujur sama aku tak apa kok, aku bisa mengerti. Kita kan baru kenal dua hari dan mungkin kamu masih belum percaya sama aku. Huuuh aku harusnya lebih bisa memahami kamu agar tidak membuat kamu merasa tertekan seperti ini." Reza menjambak rambutnya sejenak lalu berjalan mendekati Dewi yang terus mundur sampai berhenti di pinggiran atap sekolah. Jantung Dewi sepertinya akan benar-benar lepas saat melihat Reza yang terus saja berjalan kearahnya, semakin mendekat dan semakin mendekat. Dewi yang panik berusaha untuk mundur namun ia takut terjatuh dari atap sekolah. Lagipula pikirannya saat ini benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih dengan situasi saat ini. Tiba-tiba Reza berhenti melangkah karena kini jarak antara mereka hanya tersisa dua langkah saja. Sebenarnya Reza takut kalau ia semakin mendekat Dewi mungkin akan melakukan hal-hal yang aneh dan tidak bisa dibayangkan olehnya. Namun, saat melihat ekspresi Dewi yang saat ini terukir diwajahnya sungguh membuat Reza tak kuasa untuk menahan tawanya. "Kamu kenapa Dew? Kok mundur sih? Takut ya? Awas jatuh loh." Dewi yang tadinya ketakutan langsung terlihat marah pada Reza. Dia memalingkan wajahnya dan berbalik untuk melihat pemandangan sekitar dari atap sekolah. Sebenarnya yang Dewi lakukan adalah mencoba menenangkan dirinya dari perasaan yang aneh dan mendebarkan ini. Reza yang menyadari hal itu langsung berjalan ke samping Dewi dan memegang dinding pinggiran atap. Dia menatap Dewi yang sepertinya kelihatan bingung dan tertekan. "Dew, kamu enggak apa-apa kan? Kamu mikirin apa sih?" Dewi segera memandang Reza dengan tatapan sendunya. "Kamu enggak apa-apa kan Za?" Reza benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran Dewi saat ini. "Loh Dew, kan tadi aku yang tanya sama kamu, kok jadi kamu yang nanya balik ke aku?" Dewi ingin mencoba berbicara namun ia sangat gugup karena takut kalau Reza akan semakin marah padanya. "Dew, kamu gak mau jawab?" "A-aku cuma gak mau kalau kamu marah karena penolakanku. Tapi sungguh, aku benar-benar sibuk. Please jangan marah." Dewi menutup kedua matanya karena tak kuasa untuk melihat apa yang akan Reza lakukan setelah ia bicara. Reza kini bisa mengerti kepanikan Dewi yang berlebihan. "Dew, aku gak marah kok, jadi jangan terlalu dipikirkan. Aku memang sedikit kesal, tapi aku tahu bagaimana cara untuk menghindari kekesalan ini." "Bagaimana?" Jawab Dewi dengan cepat hingga membuat Reza terkejut dan tersenyum. Sepertinya, ada ide menarik dalam pikiran Reza. Lalu Reza memegang kedua tangan Dewi sambil menatap matanya. "Dua hari lagi kamu harus mau pergi denganku. Tapi bukan untuk jalan-jalan biasa, melainkan kencan. Aku yang akan memilih tempatnya." Detak jantung Dewi seakan ingin berhenti saat mendengar ajakan Reza itu. Ditambah lagi, ia masih terus memegang tangan Dewi hingga membuat Dewi merasa tidak nyaman. "Kencan? Hmm..." Dewi mencoba melepaskan tangan Reza dengan pelan hingga membuat Reza kesal dan melepaskan tangan Dewi. "Kenapa? Jangan bilang kamu mau nolak ajakan aku lagi. Kamu mau aku marah beneran sama kamu?" Kali ini Reza benar-benar tidak bisa menahan diri lagi untuk mendengar jawaban Dewi. Ia maju satu langkah ke depan Dewi dan membuat Dewi terlihat sangat gugup. Dewi pun segera mendorong pelan Reza agar menjauh darinya agar detak jantungnya yang sedari tadi terus berdetak kencang itu bisa segera kembali normal. Dewi menarik napas panjang dan mulai mempersiapkan mental untuk menjawab ajakan Reza itu. "Aku akan pergi denganmu, tapi ada syaratnya." Reza diam sejenak mendengar yang Dewi katakan. "Hmm... katakanlah." Dewi memandang Reza dengan tatapan yang penuh dengan misteri hingga membuat Reza menjadi sedikit ragu untuk mendengar syaratnya itu. "Syaratnya adalah kamu tidak boleh dekat-dekat denganku ataupun melakukan kontak fisik seperti berpegangan tangan ataupun sebagainya." "Apa?"Emosi Reza langsung menaik seketika hingga membuat Dewi merasa takut untuk memandangnya. "Apa kamu pernah berkencan sebelumnya?" Reza tersenyum sambil menahan amarahnya. "Oh ya ampun aku lupa, kamu bahkan belum pernah pacaran dan tak tahu apa arti cinta. Bagaimana seseorang sepertimu bisa mengerti tentang kencan?" Reza memandang Dewi dengan tatapan intimidasinya yang semakin membuat Dewi merasa terpojok. "Apa maksudmu? Kenapa kamu berkata seperti itu padaku?"
__ADS_1
Dewi mulai menaikkan nada bicaranya. "Kamu tidak mengerti? Baiklah, akan aku jelaskan." Reza kembali maju mendekati Dewi yang mulai gelisah karena berpikiran yang macam-macam tentang Reza. Dewi terus berpikir dan mencari ide agar bisa segera menjauh dari Reza, namun terlambat. Reza sudah berada sangat dekat dengan Dewi dan memegang kedua bahunya. Dewi hanya diam mematung tak tahu harus berbuat apa lagi karena cengkraman Reza yang begitu kuat namun tidak kasar. Tapi tetap saja Dewi sendiri tidak mampu melepasnya karena tatapan Reza yang begitu tajam membuat Dewi terpaku menatapnya. Dewi hanya bisa menelan ludah saat Reza semakin dekat, dekat dan menjadi sangat dekat dengan Dewi yang masih diam mematung hingga tiba-tiba ia membisikkan sesuatu ke telinga Dewi. "Bagaimana kamu bisa merasakan cinta jika kamu tidak bisa melakukan kontak fisik? Cinta tidak hanya bisa dirasakan dari debaran hati saja, tapi juga dari genggaman tangan." Ia melepas cengkramannya dan memegang kedua tangan Dewi. Dewi melepas genggaman Reza dan berpaling darinya, "Aku mengerti." "Kamu mengerti?" Reza tersenyum dan mulai melangkah ke arah Dewi. "Aku tak yakin dengan hal itu. Kamu bisa mengerti begitu saja dengan apa yang aku katakan." Reza memegang kepalanya tak habis pikir terhadap apa yang Dewi katakan dan pikirkan hingga ia berani mengatakan kalau ia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Reza. "Berhenti disitu." Dewi mengacungkan jarinya ke arah Reza yang masih dalam keadaan bingung. "Ada apa? Kenapa kamu menyuruhku untuk berhenti? Aku ingin tahu alasanmu." "Iya, seperti tadi yang aku katakan, aku mengerti. Kamu gak perlu menyentuhku untuk membuatku merasakan cinta, cukup aku saja yang melakukannya." Dewi menatap langit dengan perasaan yang masih berdebar-debar, berharap Reza tidak dapat mendengar detak jantungnya yang benar-benar kuat dan cepat. "Apa kamu serius? Yang benar saja. Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?" "Semuanya terserah kamu, kalau kamu mau mengikuti syaratku itu maka anggap saja kita telah membuat kesepakatan. Tapi jika tidak, maka aku akan mencari orang lain yang mau menerima syarat dariku, dan yang pasti bukan laki-laki sepertimu yang hanya ingin mencari kesempatan untuk menyentuh wanita lain sesukamu." Reza diam mematung mendengar perkataan Dewi. Emosinya benar-benar tidak terkontrol. Dia tidak habis pikir orang yang selama ini dianggap sebagai wanita yang lugu itu ternyata bisa berpikiran serendah itu tentangnya. "Aku gak nyangka kamu ternyata seperti ini. Bisa-bisanya kamu menuduh aku yang macam-macam. Kamu pikir kamu siapa? Hah?" Dewi hanya diam saja tanpa menatap Reza sedikitpun hingga membuat emosi Reza semakin meluap-luap. Ia pun segera mendekati Dewi hingga jarak yang sangat dekat. Lalu ia menggenggam kedua tangan Dewi dengan paksa. Dewi benar-benar terkejut dengan sikap Reza yang seperti itu sampai-sampai ia merasa kalau orang yang berada di depannya ini bukanlah Reza tapi orang lain. Dewi berusaha melepas genggaman Reza, namun percuma saja karena Reza benar-benar menggenggamnya dengan erat. "Apa yang kamu rasakan saat ini? Apa jantungmu berdegup kencang?" Reza bertanya dengan nada yang sangat kasar seakan-akan ia sedang membentak Dewi. "Apa maksudmu menayakan itu?" Dewi mulai merasakan debaran jantungnya yang berdetak sangat cepat dan keras hingga ia berpikir dalam hatinya, "Apa dia bisa mendengar detak jantungku? Tapi ia tidak berada di posisi yang terlalu dekat untuk merasakannya. Apa yang terjadi padanya? Kenapa ia berubah secepat ini?" "Sudah ku duga." Raut wajah Reza langsung berubah seketika menjadi senyuman yang sangat lembut. Matanya memancarkan kehangatan yang membuat Dewi merasa terbuai saat menatapnya. Ada perasaan yang sedang bergulat dalam pikiran dan hati Dewi. Dia benar-benar merasa aneh dengan ekspresi Reza yang berubah-ubah seperti ini. Terkadang marah, terkadang senyum, terkadang tegang, dan terkadang tertawa. Dewi mulai memberanikan diri untuk menanyakan maksud dari semua tindakannya yang tak pernah jelas itu. "Apa yang sudah kamu duga? Ayo katakan!" Reza melepaskan tangan Dewi, namun masih menatapnya dengan tajam. "Ayo katakanlah. Aku butuh penjelasan sekarang." Dewi mengguncang kedua bahu Reza dengan refleks. Tiba-tiba bel sekolah berbunyi pertanda jam pelajaran dimulai. Dewi melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 07.30 WIB tepat dan mencoba untuk segera pergi dari tempat itu karena takut terlambat masuk kelas, namun tangannya ditahan oleh Reza. "Sudah ku bilang kan kamu tidak boleh menyentuhku. Kenapa kamu masih saja melakukannya? Cepat lepaskan atau aku akan terlambat masuk ke kelas." "Memangnya aku bilang kalau aku sudah setuju dengan persyaratanmu itu? Aku kan belum memberikan jawabannya." Dewi terlihat sangat kesal saat itu namun ia mencoba bersikap tenang untuk menghadapi Reza yang sepertinya tidak peduli dengan sekolahnya. "Baiklah, aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir tentang persyaratan itu. Kamu bisa menghubungiku nanti jika sudah mendapat jawabannya." Dewi langsung berbalik dan hendak ingin pergi sehingga Reza langsung melepas tangan Dewi. Dewi langsung berjalan menuju pintu atap sekolah, namun ia berhenti sejenak dan menatap Reza. "Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu. Aku ingin jawabannya sore ini, karena apabila kamu tidak setuju, aku kan harus mencari orang lain dan itu juga membutuhkan waktu. Mengerti?" Reza hanya mengangguk singkat dan memperhatikan Dewi yang sedang berjalan tergesa-gesa untuk menuruni anak tangga yang cukup banyak itu. "Huuh dasar cewek aneh, ada-ada saja persyaratannya. Dia kira ini kawin kontrak apa? Sudah syukur aku mau bantuin dia. Eh malah aku dituduh cowok gak bener." Reza menuju ke sudut atap sekolah karena ingin menikmati pemandangan dan udara segar disana, namun tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Oh iya, hari ini jam pertama kan Pak Joni. Bagaimana bisa aku berpikir untuk bolos hari ini? Gawat..." Reza pun segera berlari menuruni anak tangga dan langsung menuju kelasnya.
__ADS_1