Inspirasi

Inspirasi
Panggilan Suara


__ADS_3

Dewi masih sibuk mengerjakan tugas yang diberikan Pak Joni sambil terus memikirkan inspirasi yang tepat untuk lagunya yang kini harus dia selesaikan dalam 28 hari lagi. Tiba-tiba Dewi merasa ada yang memegang bahunya dari belakang."Non..." Sontak Dewi langsung bangkit dari kursi belajarnya dan membuat orang yang dibelakangnya merasa terkejut karena saat Dewi bangkit, kursinya terdorong kebelakang sedikit. "Bi Inem, ngagetin aja sih. Dewi pikir tadi hantu. Bikin orang deg-degan saja sih." Melihat ekspresi takut Dewi, Bi Inem malah tertawa terbahak-bahak yang semakin menambah kekesalan diwajah Dewi. "Non Dewi Non Dewi, lucu sekali sih. Mana ada hantu di jam segini? Lagian non serius banget ngelamunnya, bibi tadi sudah ngetuk-ngetuk pintu sampai tangan bibi sakit, tapi non diam saja, pas bibi datang mendekat dan manggil non, non juga gak dengar, eh pas bibi pegang bahunya malah non yang bikin bibi terkejut. Terus sekarang, non mau nyalahin bibi?" Bi Inem melihat Dewi dengan tatapan mengejeknya hingga membuat Dewi jadi malu sendiri dengan sikapnya. "Ya sudah, maaf ya bi sudah bikin terkejut. Dewi cuma lagi pusing aja mikirin lagu baru yang sampai saat ini belum bisa Dewi buat. Oh iya, bibi kenapa kemari?" Dewi melangkah ke kursi belajarnya, tetapi ketika akan duduk tiba-tiba tangannya ditarik oleh Bi Inem. Dewi melihat Bi Inem dengan tatapan heran namun langsung mengerti maksud Bi Inem ketika melihat isyarat Bi Inem untuk melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, yang artinya jam makan malam. "Ya ampun, ternyata sudah jam delapan. Bagaimana bisa? Padahal tugasku masih belum siap. Duuhh... kenapa sih waktu berputar sangat cepat?" Dewi memanyunkan bibirnya pertanda kesal dengan sang waktu yang sepertinya tidak bisa diajak berkompromi lagi dengannya. "Non, ayo makan dulu, nanti tugasnya disambung lagi setelah makan malam." "Tapi Bi, tugasnya masih banyak nih. Dewi mau siapin dulu semuanya baru makan." Dewi kembali duduk di kursi belajarnya yang langsung membuat Bi Inem menghela napas panjang, lalu menarik tangan Dewi agar bangun dari kursinya dan duduk di tempat tidur. Bi Inem lalu duduk disamping Dewi, memegang tangan kanannya dan memandang kedua matanya dengan penuh rasa kasih sayang seorang ibu yang selalu ingin untuk melindungi anaknya dari segala bahaya didunia ini. "Non, walaupun punya tugas sebanyak apapun tapi tetap harus memperhatikan kesehatan." Bi Inem mengelus lembut puncak kepala Dewi dan tersenyum hangat padanya. "Non ingat kan pesan nyonya? Jangan sampai lupa makan walaupun banyak pekerjaan. Setidaknya luangkanlah waktu setengah jam untuk makan. Mengerti..." Dewi hanya menganggukkan kepalanya mendengar nasihat Bi Inem yang bangkit dari tempat tidur lalu menarik tangan Dewi untuk pergi ke ruang makan.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Dewi langsung memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa agar bisa segera menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Pak Joni. Dia langsung duduk dikursinya dan mulai melanjutkan ringkasan yang mungkin akan selesai setengah jam lagi. Saat sedang fokus membaca, tiba-tiba smartphone Dewi berbunyi dan langsung membuat Dewi bangkit dan mengambil smartphone-nya yang diletakkan diatas tempat tidurnya yang besar. "Siapa yang nelepon malam-malam begini?" Dewi melihat ke layar smartphone-nya namun hanya menemukan nomor asing yang tak dikenalinya. Seperti biasa, Dewi tidak pernah mau menerima panggilan dari nomor-nomor asing karena biasanya hanya orang-orang iseng atau para haters-lah yang mencoba mengganggu dirinya. Jika memang telepon itu penting, maka Dewi akan menjawab telepon tersebut ketika penelepon sudah menelpon sebanyak 3 kali. Karena itu telepon pertama dan kedua dari nomor asing itu tak dijawabnya. Kemudian suasana kamar Dewi pun kembali hening. Dewi telah menyelesaikan tugasnya yang sangat banyak itu hingga membuat tubuhnya sangat lelah dan mungkin akan langsung tertidur ketika ia merebahkan diri di kasur. Tiba-tiba ia mendengar nada dering smartphone-nya yang cukup keras itu. Dengan sigap Dewi mengambil smartphone yang terletak di meja kecil disamping tempat tidurnya lalu kembali melihat nama si penelpon. Namun bukannya nama yang tertera disana, melainkan nomor yang sama yang sudah menelponnya sebanyak 2 kali tadi. "Apa ini penting? Haruskah ku angkat? Baiklah akan ku coba." Dewi mengusap tombol jawab di layar smartphone-nya dan mulai berbicara pada si penelepon. "Halo..." tak terdengar jawaban dari si penelepon. Lalu Dewi mencoba kembali berbicara, "Halo, ini dengan siapa ya?" Namun lagi-lagi si penelepon tak menjawab sapaan Dewi. Karena kesal dengan tingkah si penelepon, Dewi pun menarik napas panjang dan dengan cepat menghembuskannya lalu mencoba untuk memarahi orang yang benar-benar tidak bisa menghargai waktu yang dimiliki itu. "Aku tahu kamu pasti mendengar apa yang aku katakan. Jadi dengar ya, aku gak tahu kamu itu siapa tapi aku gak mau kamu itu buang-buang waktuku hanya untuk menelepon dengan maksud yang gak jelas kayak gini. Lebih baik kamu menelepon orang lain saja yang lebih bisa sabar menghadapi orang seperti kamu." Dewi hendak menekan tombol merah di layar smartphone-nya ketika terdengar suara sahutan dari seberang sana yang menggagalkan niatnya itu. "Dewi..." sontak suara itu langsung menusuk hati Dewi hingga membuat napas Dewi menjadi sesak. Dengan sedikit gemetar Dewi pun menjawab sapaan pemuda tersebut, "Re... Reza... itu kamu kan?" "Waah... kamu hebat banget Dew, langsung bisa ngenalin suara aku tanpa harus aku bilang dulu. Padahalkan kita baru ketemu satu hari. O ya, kenapa telepon ku gak diangkat?" Dewi benar-benar tidak menyangka dengan apa yang baru saja di dengarnya. Reza menelponnya? Bukannya tadi sore mereka baru bertengkar? Lalu kenapa secepat ini ia langsung menelepon? "Jadi ini beneran kamu Za? Aku kira tadi itu kamu orang iseng yang sering gangguin aku. Maaf ya... lagian kamunya sih nelepon tapi gak mau bicara. Gimana sih? Kan aku jadi marah. Kamu itu..." omongan Dewi yang panjang itu langsung terhenti ketika terdengar suara tawa dari seberang sana. "Hahaha... Dewi-Dewi, gimana aku mau jawab pertanyaan kamu kalau kamu ngomong terus? Kasih aku kesempatan dong. Kan aku yang nelepon kamu." Bukannya berhenti bicara, justru Dewi semakin kesal dibuat Reza. "Kamu bilang aku cerewet, tapi malah kamu yang lebih cerewet." Nada Reza yang semula lembut pun kini mulai terdengar sedikit lebih keras. "Hei hei hei siapa yang bilang kamu cerewet? Aku kan cuma bilang kalau kamu itu gak berhenti-berhenti ngomong." "Itu sih sama saja." Ketus Dewi. "Ya beda dong Dew, kamu saja yang gak ngerti." "Ya ya ya terserah kamu deh, aku gak peduli. Sekarang cepat jawab pertanyaan ku. Kenapa kamu nelepon aku malam-malam gini, terus pas dijawab kamunya gak ngomong?" Reza hanya terkekeh pelan mendengar pertanyaan Dewi yang dianggapnya aneh. "Kenapa tertawa? Ayo jawab." Kini nada Dewi lebih mirip seperti orang yang akan menghabisi orang saja. "Sabar Dew, jangan marah-marah entar kamu jadi cepat tua loh." Dewi mulai kesal dengan tingkah Reza yang sepertinya tidak bisa serius itu. Dewi pun menaikkan nada bicaranya. "Reza" "Oke-oke, aku jawab deh biar kamunya senang. Sebenarnya aku nelepon kamu cuma untuk mastiin kalau nomor yang kamu kasih itu benar nomor kamu atau gak. Aku udah coba nelepon kamu 2 kali tapi gak kamu jawab. Pas aku nelepon yang ketiga kalinya memang kamu jawab sih, tapi kan aku harus mastiin dulu itu beneran kamu atau gak. Jadi aku dengerin suara kamu dulu sampai benar-benar yakin kalau aku memang lagi ngomong sama kamu Dew.

__ADS_1


Sepertinya kekesalan Dewi yang tadinya terlihat kini mulai mereda ketika mendengar penjelasan Reza. Ini adalah salah satu sifat Dewi yang paling menarik bagi Reza. Walau dalam keadaan marah seperti apapun, namun Dewi tetap bersedia mendengarkan setiap penjelasan yang ia berikan. Sungguh, Dewi merupakan wanita yang sangat dewasa dalam bertindak. Benar-benar tidak sebanding dengan umurnya yang masih 17 tahun. "Dew, kamu masih dengerin aku kan?" "Tentu saja aku dengar." Jawab Dewi dengan ketus namun langsung ditepis oleh Reza. "Jadi bagaimana?" Dewi mengernyitkan dahinya karena bingung, "Bagaimana? Apanya yang bagaimana?" Reza melembutkan nada bicaranya "Penjelasanku... apa kamu percaya padaku? Atau kamu marah kepadaku?" Dewi diam sejenak mendengar pertanyaan Reza. "Marah? Percaya? Ada apa ini? Kenapa aku jadi seperti ini? Jantungku.... Tenanglah Dewi, kamu itu baru kenal sama dia. Kamu gak boleh mikir yang macam-macam. Ingat, Reza itu hanya ingin membantumu saja, gak lebih. Dan gak boleh lebih." Gumam Dewi dalam hati. "Enggak kok Za, buat apa aku marah? Penjelasan kamu masuk akal kok. Jadi gak perlu mikir yang macam-macam. Aku gak mungkin marah sama kamu. Kamu kan cuma mau bantuin aku doang, dan lagipula harusnya kamu yang marah sama aku karena sikapku yang kekanakan tadi. Maaf ya Za." "Gak perlu minta maaf Dew, kamu gak salah kok. Memang aku yang terlambat, dan maaf karena sudah ganggu kamu malam-malam begini." Dewi hanya mengangguk mendengar kata-kata Reza yang sebenarnya tidak dapat tersalurkan ke Reza karena mereka hanya berbicara dari panggilan suarah. "Dewi, kamu masih disitu? Kok kamu gak ngomong apa-apa sih?" Dewi terkejut mendengar pertanyaan Reza yang kemudian menyadarkannya dari tingkah bodohnya demgan menjawab Reza lewat anggukan. "Hmm... masih disini kok." "Baguslah... oh iya, besok pagi kita ketemu di kantin ya sebelum pelajaran dimulai?" "Ketemu? Buat apa?" Kata-kata Dewi ini benar-benar membuat Reza kesal namun ia mencoba mengatur emosinya dan berusaha menjelaskan maksudnya agar Dewi tidak salah paham dengannya. "Kamu lupa ya? Kamu kan mau tahu apa itu cinta, jadi aku akan mulai menjelaskan itu besok." "Jangan di kantin deh Za, kalau pagi kan kantin ramai banget." Reza berpikir sejenak kemudian ia tersenyum, "Oke, aku punya ide. Kita akan ketemuan di atap sekolah saja. Gak mungkin ada siswa yang kesana pagi-pagi. Jadi kita bisa berduaan disana tanpa diganggu orang lain." "Tunggu dulu, apa maksud kamu berduaan di atap sekolah?" Dewi mulai curiga terhadap sikap Reza yang dianggapnya terlalu berlebihan menanggapi semua ini. "Eeh.. jangan salah paham dulu Dew, maksud aku tuh kita kan jadi bisa bebas berbicara tanpa takut ada yang mendengar perbincangan kita. Jangan negative thinking dong Dew." Kata-kata itu benar-benar membuat Dewi merasa malu hingga ia tidak sanggup untuk berkata-kata. Reza pun mencoba mengakhiri pembicaraannya saat ini karena mengerti dengan sikap Dewi yang diam saja seperti ini sepertinya Dewi merasa dipermalukan olehnya. "Tenang saja Dew, kamu gak perlu malu sama aku kok. Hmm... ngomong-ngomong, sudah malam banget nih. Sampai ketemu besok pagi ya, aku tunggu. Good night..." Reza pun segera mengakhiri panggilannya dengan menekan tombol merah di layar smartphone-nya tanpa mendengar jawaban Dewi. Sementara itu disisi lain, Dewi yang diam mematung itu pun langsung meletakkan smartphone-nya dimeja dan mulai mempersiapkan buku-buku yang akan dibawanya esok hari. Ini merupakan kebiasaan Dewi sejak kecil yang diajarkan oleh ibunya agar Dewi tumbuh menjadi anak yang tidak ceroboh. Setelah itu Dewi pun bersiap untuk tidur. Dia mencoba memejamkan matanya namun sepertinya ia tidak bisa tidur hari ini. Ia kembali mengingat-ingat setiap kejadian yang dialaminya bersama Reza hari ini. Mulai dari pertemuan misteriusnya, perkenalannya, perdebatan, hingga percakapan yang dilakukannya tadi dengan Reza. Ia merasa jantungnya berdebar sangat kencang ketika bersama Reza ataupun saat mengingatnya. Dewi pun berkata sendiri dalam ruang yang hening itu. "Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku selalu memikirkannya? Dia memang cowok yang aneh sih, kata-katanya juga asal disebut saja tanpa dipikir terlebih dahulu, tapi aku? Aku bukan orang seperti itu yang langsung mengungkapkan begitu saja tentang semua yang kurasakan kepada orang lain, bahkan Mawar sekalipun. Tapi dengan dia.... ada apa ini? Kenapa aku jadi berubah begini? Aku tak bisa berpikir jernih, semua terasa aneh bagiku. Tatapannya, sikapnya, suaranya, bahkan genggamannya. Apa ini yang namanya cinta? Rasanya tak mungkin secepat ini untuk jatuh cinta. Enggak.... ini bukan cinta. Ini cuma obsesi agar aku bisa segera mengerti dan merasakan cinta dari Reza." Dewi menggelengkan kepalanya sejenak, "Mawar-Mawar, kenapa sih kamu milih dia untuk bantuin aku? Kenapa bukan orang lain saja? Aku benar-benar gak yakin dengan perasaan ini. Apa dia benar-benar akan membantuku untuk menulis lagu baru? Atau hanya akan membuang-buang waktuku saja dengan semua pertengkaran dan sikap anehnya yang tak ku mengerti." Dewi mengingat kata-kata Reza yang menyuruhnya agar tidak perlu malu dengan dirinya. "Apa dia orang yang tepat? Sudahlah, lebih baik sekarang aku tidur." Dewi kembali mencoba memejamkan matanya lagi hingga tak lama kemudian ia pun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2